Mading Digital

NESAMA
  • Sarana dan Prasarana

    Sarana dan Prasarana SMPN 1 Malangbong

  • Home

    Mading Digital SMPN 1 Malangbong

  • Informasi

    Info Grafis SMPN 1 Malangbong

  • Informasi

    Program Unggulan SMPN 1 Malangbong

The Allah Make Me Do It

 ​The Allah Make Me Do It


Karya: zahran 8c


​Dunia Raya adalah kehancuran yang bertubi-tubi. Ia mahasiswa hukum yang cerdas, namun dalam waktu singkat, ia kehilangan Ayahnya dan Kakak perempuannya, Laras. Kehilangan ini bukan hanya merenggut orang terkasih, tetapi juga jangkar spiritualnya. Raya merasa dikhianati oleh takdir, oleh Tuhannya sendiri.

​Ia memilih jalan terjauh dari imannya, meninggalkan salat dan nilai-nilai lama. Ia mencari pelarian yang ekstrem, hanya untuk terseret ke dalam kekacauan. Puncaknya, ia dituduh menyebabkan kematian seseorang saat mencoba melerai perkelahian.

​Di sel yang dingin, Raya diserang oleh bisikan kekufuran yang mencekik. Ia merasa seluruh kekuatan gelap di dunia bersatu untuk menekan dan menghakiminya. Setiap malam, ia berjuang melawan keinginan untuk menyerah total.

​Di luar, kasusnya disidangkan. Jaksa menggunakan masa lalu Raya yang kelam sebagai bukti karakternya yang buruk. Raya merasa tidak ada harapan.

​Namun, di tengah ketersesakan itu, sebuah Intervensi mulai bekerja.

​Pengacara umum Raya, Bu Ratna, menemukan kejanggalan dalam kasus ini. Bu Ratna, seorang wanita yang dikenal sangat logis, mulai merasa ada kekuatan asing yang mengarahkan penyelidikannya. Ia menemukan petunjuk yang datang secara misterius dan tepat waktu.

​Pertama, tanpa sengaja ia menemukan buku harian lama Laras yang berisi potongan ayat tentang kesabaran, yang juga menyebut nama seorang mantan ahli forensik digital. Kedua, ahli forensik digital itu, yang sudah pensiun dan hidup terisolasi, tiba-tiba merasa didatangi mimpi yang kuat yang membuatnya bersedia membantu kasus Raya. Pria itu berhasil memulihkan data dari CCTV yang sudah hancur total, menunjukkan bahwa Raya bertindak dalam kepanikan membela diri, bukan niat membunuh.

​"Ini gila, Raya," bisik Bu Ratna di ruang konsultasi. "Aku tidak percaya takhayul, tapi ada tangan tak terlihat yang bekerja. Ini seperti... seseorang ingin kau dibebaskan."

​Kalimat itu menampar Raya. Ia tersentak.

​Tangan tak terlihat.

​Ia menutup matanya dan akhirnya bersujud di atas lantai sel yang dingin. Saat itu, kebeningan Ilahi menembus jiwanya. Ia sadar, Allah tidak pernah meninggalkannya. Kematian Ayah dan Laras ternyata menjadi jalan untuk misi sosial besar yang Ayahnya persiapkan. Dan kasus hukum ini? Ini adalah benturan keras terakhir untuk menghentikan pelariannya menuju jurang.

​Semua kesulitan, semua kehilangan, semua petunjuk misterius yang menyelamatkannya di persidangan—semua adalah "The Allah Make Me Do It." Allah tidak membiarkannya binasa; Allah membuat serangkaian kejadian ekstrem untuk memaksanya kembali mencari Cahaya. Penjara dan kesakitan batin adalah proses pembersihan yang lebih cepat daripada jika ia dibiarkan bebas.

​Ketika Raya dinyatakan bebas dengan vonis bela diri, ia berjalan keluar dari gedung pengadilan dengan hati yang hancur namun tertambal oleh iman yang baru. Ia melihat ke langit, wajahnya dibasuh air mata syukur.

​"Aku mengerti," bisiknya pelan. "Ya Allah, terima kasih. Engkau membuatku melakukannya—membuatku kembali. Rencana-Mu memang lebih indah, karena ia menjamin kepulanganku."

​Raya tahu ia akan menggunakan hidupnya yang kedua ini sebagai seorang pembela keadilan, didorong oleh keyakinan bahwa di balik setiap kegelapan dan kehilangan, ada Rencana Ilahi yang sempurna yang selalu bekerja untuk menyelamatkan, bukan menghukum.


-TAMAT-

​Cahaya Terakhir di Kegelapan

 ​Cahaya Terakhir di Kegelapan


Karya: zahran 8c


​Angin malam itu selembut bisikan. Di halaman belakang rumah, kami tertawa. Aku, Kirana, dan Ibu. Ayah baru saja membawakan lampion kertas untuk kami. Kirana menatapku, senyumnya seperti kunang-kunang yang berpendar di tengah gelap. "Ayumi, tersenyumlah," bisiknya, "senyummu adalah hal terindah."

​Namun, di tengah tawa, kegelapan tiba-tiba merayap. Sebuah bayangan hitam, tinggi, dan mengerikan muncul dari balik pohon. Makhluk itu. Mata kami melebar, senyum di bibir kami membeku. Makhluk itu tak bersuara, hanya bergerak secepat kilat.

​Ayah muncul dari dalam rumah, tangannya mengayunkan pedang tua. Ia mencoba melawannya. Namun, pedang itu hanya menembus asap. Makhluk itu tak tersentuh. Ayah jatuh, tak bernapas.

​Ibu berteriak, air mata membanjiri wajahnya. Ia menarik tanganku, berusaha melindungiku. Tapi Kirana, kakakku, tak bisa diam. Ia melepaskan tanganku dan maju, mencoba mengalihkan perhatian makhluk itu. "Larilah, Ayumi!" teriaknya.

​Aku melihatnya. Aku melihat pedang yang ia pegang, mencoba melawan sesuatu yang tak bisa dilawan. Aku melihat darah membasahi bajunya, dan senyum terakhir yang ia paksa pertahankan di wajahnya. Makhluk itu mengayunkan cakar panjangnya, merobek tubuh Kirana. Kirana jatuh, dan cahaya kunang-kunang di matanya menghilang, berganti dengan kekosongan.

​Malam itu, dalam satu napas, aku kehilangan segalanya.

​Bukan rasa takut yang kurasakan. Tapi kemarahan yang membakar. Tangisku tak bersuara, tapi di hatiku, janji terukir: Aku akan membunuhmu. Makhluk yang membunuh keluargaku.

​Aku tidak memiliki kekuatan fisik seperti yang lain. Tubuhku kecil, dan pedang terasa terlalu berat. Tenagaku terlalu lemah untuk menebas kepala musuh. Tapi dendam adalah bahan bakar yang kuat. Aku belajar. Aku meracik racun. Aku mengubah kelemahan menjadi kekuatan, mengubah setiap gerakanku menjadi tarian maut yang menusuk tepat ke jantung musuh. Orang-orang lain bertarung dengan pedang, aku bertarung dengan akalku.

​Di tengah jalanku, aku bertemu Kiko, seorang adik angkat yang juga kehilangan segalanya. Aku melihat diriku di matanya yang kosong. Aku mengajaknya, memberinya harapan, dan menanamkan tekad di hatinya. Aku tahu, ia akan menjadi pedang yang menuntaskan dendamku.

​Pertarungan terakhir tiba. Makhluk bayangan itu menungguku. Aku menatap Kiko, wajahnya basah oleh air mata. Aku tersenyum, senyum terakhir yang akan kuberikan.

​Aku membiarkan makhluk itu merobek tubuhku. Racun yang telah kubangun selama bertahun-tahun kini mengalir ke dalam darahnya. Penderitaannya adalah kemenangan bagiku. Aku jatuh, tapi sebelum mataku terpejam, aku melihat Kiko. Ia mengayunkan pedangnya dengan sekuat tenaga, menuntaskan apa yang tidak bisa kulakukan.

​Kiko berhasil. Ia menang.

​Aku adalah kunang-kunang yang cahayanya dipadamkan. Aku tidak berjuang untuk hidup, tapi untuk mati dengan terhormat. Kematianku adalah bukti bahwa bahkan dari keputusasaan terdalam, bisa lahir kekuatan yang tak terkalahkan.

​Kisahku berakhir di sini. Namun, Kiko akan terus melangkah, membawa janji dan senyumku bersamanya. Dan itu sudah cukup bagiku.

​Ayumi.

_ _ _

​Bukan di medan perang, bukan di hadapan musuh terkuat, tapi di halaman rumah yang pernah hancur. Seorang gadis kecil kehilangan segalanya dalam satu malam.

​Dia tidak bawa pedang raksasa. Dia cuma bawa tubuh yang rapuh, senyum yang lembut, dan dendam yang tidak pernah padam. Orang-orang melihatnya tersenyum, seolah hidupnya ringan. Tapi di balik itu, ada tekad yang membakar.

​Tenaganya terlalu kecil, pedangnya terlalu tipis, tapi justru dari kelemahan itu, dia belajar meracik racun. Dia ubah setiap gerakannya jadi tarian, dia bikin kematian jadi terasa indah dan sunyi.

​Dia tidak pernah bilang dia kuat. Dia tahu dirinya rapuh, dia tahu tubuhnya terbatas, tapi justru itu yang bikin tekadnya jadi mutlak.

​Kalau orang lain bisa mengandalkan pedang, dia mengandalkan kecerdasannya. Dia bertarung dengan racun.

​Dia bukan cahaya terang, dia kunang-kunang di tengah gelap. Bukan benteng, tapi racun yang menusuk tepat ke inti.

​Dan itulah bukti kalau seorang pahlawan tidak selalu berdiri gagah. Kadang, pahlawan hadir dengan senyum paling lembut.


TAMAT