Mading Digital

NESAMA
  • Sarana dan Prasarana

    Sarana dan Prasarana SMPN 1 Malangbong

  • Home

    Mading Digital SMPN 1 Malangbong

  • Informasi

    Info Grafis SMPN 1 Malangbong

  • Informasi

    Program Unggulan SMPN 1 Malangbong

Tampilkan postingan dengan label Puisi SMPN 1 Malangbong. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi SMPN 1 Malangbong. Tampilkan semua postingan

Lelah

 Lelah

Karya: Naira Hilmiyah 

Kelas: 9G 


Hujan turun membasahi bumi.

Aku mendongakkan Kapala ku,

untuk melihat langit - langit yang gelap.

Aku tersenyum lirih, saat mengingat 

banyak sekali hal yang sudah aku lewati

sejauh ini.


Namun nyatanya, aku malah terperangkap di 

antara banyaknya maslaah yang aku hadapi.

Ibarat kata, aku tengah berada di dalam 

lautan luas yang aku sendiri tidak tau bagaimana cara

keluar dan bahkan aku juga tidak tau dimana letak ujungnya.


Ya tuhan, sekuat itu kah diri ku?

Mengapa engkau memberikan aku ujian

yang seberat ini? Aku  benar-benar lelah ya tuhan.

Tolong, tolong peluk lah hamba mu ini walau hanya sebentar.


Ya tuhan, dimana letak kebahagiaan itu?

Aku benar-benar kehilangan arah, aku hanya ingin bahagia.

Aku hanyalah seorang gadis kecil yang terperangkap di tubuh ini.

Tolong, tolong berikan aku kebahagiaan itu untuk yang kesekian kalinya.


Ya tuhan, tolong, tolong bantu aku untuk berdiri.

Aku benar-benar binggung harus bagaimana.

Ya tuhan, apa hikmah dari semua ini? Tolong yakinkan aku jika aku

bisa melewati semua ini, tolong genggaman tangan ku dan peluklah hamba mu yang penuh dosa ini.

 

Aku berharap jika suatu saat nanti aku bisa menemukan kebahagiaan yang selalu aku ucapkan di setiap doa doaku.


Terimakasih sudah bertahan sejauh ini. I am proud of myself.

Membentuk Cahaya Kasih

 Remang Bayang Cinta


Di bawah selimut malam

Nadi berbisik lirih dalam sunyi

Detaknya mengusik jiwaku

Membangunkan relung hati


Suaranya sederhana saja

Lontaran kata dari bibirnya

Mengalun menjadi melodi

Membentuk Cahaya Kasih

karya: Putri Dwi Indriyani

kelas: 8A




Namanya terlintas dalam benakku

Apakah dia yang ku rindu?


Parasnya tak perlu tampan

Untuk membuatku terlena

Senyuman yang manis

Melengkapi keindahan dunia


Cara bicaranya

Menunjukan hati yang lembut


Aku sadar, aku mengagumi nya

Bisikan Angin

 Bisikan Angin 

By : Naira Hilmiyah 9G 


Rindu yang terasa sukar

memenuhi seluruh hatiku.

Kasih sayang yang sangat aku

idamkan, kini tak lagi aku rasakan.


Angin...

Sampaikanlah rindu ini padanya,

sampaikanlah ucapan terima kasih 

padanya dan sampaikanlah doa 

terbaik ini padanya.


Angin...

Ingin sekali aku merasakan 

Pelukan hangat itu lagi.

Angin...

Bawalah aku padanya,

bisikan padanya, jika putri kecilnya

ini sangat merindukannya.


Angin...

Bisikan juga padanya bahwa

putri kecilnya ini benar-benar 

merindukan nya, rindu akan 

kasih sayangnya dan rindu akan

pelukan hangatnya.

Aku Rindu

 "aku rindu"

Karya    : Rika Anggraeno

Kelas    : 9C


Aku Rindu mawar,tanpa tangkai

Yang senantiasa menebarkan rumah

Di sinom sinom duri

Yang senantiasa menebarkan kasih

Di berhamburannya celah celah darah


Aku rindu kasur, tanpa kawat 

Agar aku terlentang di barisan bintang

Tak lagi mendongak menatapmu 

Yang berkaca kaca 

Melupakan impian 

Dan mendorongku menyanyikan sisa sisa lirih yang masih tersisa


Aku rindu gerimis,tanpa mendung 

Yang selalu mengeja akan datang lagi esok

Dan meninggalkan ku

Di Manyar sunyi

'agar aku datang lagi esok'

Baiklah

Tapi pertanda apa kau esok?

Hujan?

Badai?

Atau kau hanya mengeja bibirmu? 

Jangan kau sebutt lagii

Yang putih itu

Ingat 

Jangan kau ulang lagi

Yang putih itu

Aku sudah muak mengitari mulut mulut basimu

Kasih sayang

 Kasih sayang?

Karya    : Rika Angraeni

Kelas    : 9C


Dalam pelukan hati 

Ku merasa hangat di belai kasih

Bagai angin kepada alam

Yang tak ada lepasnya menjelma makna

"Saling menyatu"


Tapi,hati ini masih keliru

Masih tersesat di selubung pertanyaan

"kemana tatapan kasih sayang mu itu,tuann?"

Sebentar kau jadi rembulan 

Lalu, sebentar kau jadi langit malam

Haruskah aku,manjadi dinding pemandangan saja,

Biar hening tak di dengar

Di dendang kesunyian


"tapiii,..tuan?"

Apakah kau akan jadi rembulan lagi,

Aku merindukan gerimis rembulan mu itu

Nan sejuk mengantarkan kasih sayang...


"kenapa kau tak jadi gerimis saja?"

Biar kita yang menjelma di bulan purnama..

ya

Baik tuan,

[21.14, 29/4/2024] Fitri Nurbani: 👍🏼

RUMAH BARU, PENGGANTI RUMAH KENANGAN

 RUMAH BARU, PENGGANTI RUMAH KENANGAN

Karya    : Rika Angraeni

Kelas 9c

Lilir mataku melirik 

Sebuah bangunan kokoh berdiri

Diriku sedikit bertanya pada hati ku

"wahai gerangan siapa itu berdiri kokoh di hadapanku?"

Itulah rumah pekarangan baru

Rumah baru,di atas selimut tanah

"tuann,,dimana mesti sya taruh air mata langit ini?"

Tinggalkan saja di pipimu

Biar ia menyapu resah dukamu

Biarkan,,saja fatamorgana mu menatap mantra hatimu

Tak..tak..takk...

Tinggalkan..

Tinggalkan saja,, waktu mu dalam bongkahan batu itu

Beranjak lah kau dari ayat ayat kenangan

"dimana saya simpan benang benang rindu ini tuan"?

Simpan saja, di sela sela air matamu..

PANAH

 PANAH

Karya : Rika Anggraeni

Kelas : 9C


Panah,tak lagi bercakap pada ulat

Tentang ia yang berlumur darah

Tentang,,darah yang tak lagi abadi

Tanpa partitur

Membasahi kain tak bersalah


Keelokan tajamnya 

Kini tak lagi terdengar

Hanya semerbak darah saja 

Yang menetes butiran per butiran

Yang 10 jumlahnya 

Tak terhingga..


Ia melirikku dalam tatapan terkampar 

Memandang matanya, seakan cakrawala pun pecah dalam rintik air tak  terjawab

Kauu,,kauu mengubur bayanganku

Dengan sebuah cangkul tak berdosa..


Lihattlahh,, percikan darah ku larii

Ke selang selang rumputt

Ia bersembunyi dari genggaman kejii 


Kauu,kauu yang menghabisi nyawaku

Dengan jemari lentikmu,,yang tak kembali elok

Kau sentuh darah abadiku

Tanpa jejak rasa penyesalan


Wahaii kauu panahh..

Kenapa kau tega, melumuri kain tak berdosa 

Sungguh derana hatiku,panah

Melihat daksaku tertinggal dalam lorong tanahh...

Shyam dan sang chandra

 Shyam dan sang chandra

Karya : Rika Anggraeni

Kelas  : 9C


Lilir angin terus menepak angan ku 

Mengundang kampa jiwaku

Ia menyeruu jejak tangan,tuk syahdukan sebongkah lagu


Saat Shyam  tiada akhir 

Saat itu juga rembulan berseri pada ku

Rautnya gemilang sekali 

Bagai seribu Tirta air mata 

Yang  mengambarkan antariksa di manis nya sang Chandra 

Ohh, tiada dua manis nya 

Bahkan ,burung terus menepak butir per butir  sayap ,menatap rautnya


Bahkan,  ia kalahkan seribu bintang berkelap kelip 

Yang terus Menganti nyala  api 

Ada yang hijau 

Oranye 

Merah 

Bahkan kuning 

Iaa ,berjajar bergelayut di hentakkan sang Mega 


Saat itu bibir ku tersenyum 

Tangan ku memeluk tubuhku

Jantung ku tiada hentinya 

 Ia menarii,menari didalam denyut nadi


Tapi Shyam terus membentakku 

Malam 

Malam

Pergilah kau tidur!

Ia menyuruh ku tuk pergii 

Dari jeruji  rumput yang terus memelukku

Bahkan seribu bintang ia matikan dengan aksara api keji


Sang Chandra itu meratapi ku 

Dengan tangan kasihnya membelai lembut pipiku 

Ia mengusap tangisan ku

"pergilah, ini sudah malam"

Kusoroti jejak kaki mu dengan belai kasihku

Biar kau tak kehilangan titik titik arah perjalananmu 

Biar jalan itu berikan kau tanda tanda pulang

"tapii,tempat ini begitu, begitu berkilau tuan,,aku tak sanggup meningalkan memori ini"

Sang Chandra tak henti henti nya,ia menyinari rintik pipiku

Satu,dua ,tiga kali aku membasuh rintikan air ini

Tak gentar nya ia mengalir  membasuhi kainku


Sudahlahh,simpan saja aku di bingkai merah itu 

Simpan saja aku di ceruk itu

Simpan saja,,aku di kamar ituu

Biar aku selalu ada di sela sela denyut nadimu...

TAK BISA DI UCAPKAN

 TAK BISA DI UCAPKAN

Karya : Rika Anggraeni

Kelas : 9C


Derai mata tak terucap

Mataku  menangis dalam heningnya malam

Jiwa lelah telah berganti

Tanpa pernah hatiku di mengerti


Kemana harus ku pergi?

Tak kuasa ku menahan

Tetesan ini mengalir membasuh pipi

Menahan raga yang sudah melelapkan diri

Dalam irama angin yang berlari lari...


Sadarkah diriku ini?

Mengapa hatiku di Hujam tajamnya duri

Oleh orang tak tau diri

Sadarkah cemoohan mu?

Sungguh hatiku terkikis

Dalam lantunnan nada bengis mu...


Hati ini tak bisa terucap

Tentang kau yang sesal dan pahit

Biarkan angin itu mendesis

Menatap iba dalam tawa mereka...

BADAI KELABU

BADAI KELABU

Karya : Rika Anggraeni

Kelas : 9C


Merintih butiran debu

Dalam doa yang tak terucap

Melandai rindu menanti mu

Dalam sanjung hatiku menunggu...


Semua bagaikan badai di tengah soraknya angin

Memecah angan dalam sunyi yang merasuki

Ku melantunkan jejak kepada tanah

Berharap kau tahu

ku telah melepaskan mu dari belenggu jiwaku...


Kepada alam ku berpesan  

Dalam hati yang sudah mengelebu

Tak jelas ku harus mencarimu

Biarlah angan yang menantimu...


Dalam seruan badai

Ku sampaikan sudah membebaskan mu dari tangan harapanku

Biarlah, biarlah ku idamkan kau dalam setiap helai mimpi...

GETIR KEHIDUPAN

GETIR KEHIDUPAN

Karya : Naira Hilmiyah

Kelas : 8H


Perjalanan dengan penuh sebuah peluh

Yang membasahi tubuh ini

Dengan ke gentingan mentari

Yeng membuat diri ini terasa lengket


Rasa lapar yang membuat perut ini terasa sakit

Kering nya tenggorokan ini yang membuat diri ku

Terkulai lemas


Sebuah roti yang di genggam oleh sang ibunda

Yang dengan mata kepala ku sendiri ia

Terseret okeh sebuah kendara besar beroda 4

Sakit hati ini saat melihat sebuah cairan merah yang menyelimuti tubuh sang ibunda


Dengan perasaan getir.. Ku memeluk jasad sang ibunda dengan penuh kesenduan dalam hidup ku

Untuk yang terakhir kali nya dalam kehidupan ku

Akulah awan

 

Akulah awan

Karya : Rika
Kelas : 9C

Akulah awan

Atap bagi dunia 

Aku melihat pelik dunia begitu kejam

Dalam keheningan, tersirat tangisan yang tak henti


Akulah awan

Berlayar di samudra biru

Aku mengambang

Dengan badan kapasku ini

Aku menyimpan cerita,dalam pilu yang terpendam...


Aku menari

Menari dalamm gengaman langit

Aku bermuara di atas sinar mentari

Menyirat rindu yang tak bisa di ucapkan


Akulah awan

Bergerak perlahan

Dalam bijak nya Sujana 

Aku berjalan dalam cakrawala langit

Mengharapkan mimpi dalam indahnya Kirana


Aku membawa hujan 

Dengan rintikan ku yang Mala ini 

Dalam hirap nya sang bianglala

Aku menyimpan pesan dalam cerita yang tak terbendung


Akulah awan 

Dalam kesedihan yang membengkak

Tersimpan benalu dunia 

Dalam kekuatan yang tak terkira


Akulah awan..

Dengan kesendirianku

Aku menemukan kekuatan dalam irama angin

Membentuk keindahan dalam penantian..

Hujan

Karya    : Shaina Rosidah

Kelas    : 8E
 

Tatapan Terakhir Untukku

Karya : Naira Hilmiyah
Kelas : 8H

 

Rintikan Sendu


 Rintikan Sendu

Karya    : Naira Hilmiyah

Kelas    : 8H

Bintang di atas itu Ayahku


 Bintang di atas itu Ayahku

Karya    : Naira Hilmiyah
Kelas     : 8H

Senja Yang Sendu

 


GERIMIS MENGUNDANG"

 

"GERIMIS MENGUNDANG"

Karya : Rika Anggraeni

Kelas : 9C


Selubung  awan telah membuta

Menari diatas langit bayangan

Menggantikan simfoni  bersinar kilau...


Burung burung kecil berdesir...

Terbang dengan sayap nya dalam kesunyian

Mencari suaka di tengah bisikan hujan...


Percikan hujan berdansa di kolong awan

Melepaskan dekap dalam peluk anila 

Merendam peliknya semesta...

Ditemani dersik melodi angin

Memandu daksa ku membelai sentuhan dingin...


Deru petir menggelegar memecahkan benalu angan ku

Seolah meruntuhkan nuansa kalbu ku...

Ranting dahan berkelombak diatas tangkai

Mengekang urung dalam hantaran tak terbalas


Curahan hujan..

Dalam helaian hijau

Menghadirkan bayangan di atas butirannya..


Hamparan genteng berbalut basah 

Di balut oleh tarian butiran hujan

Sungguh Anindita dalam setiap rinai nya..


Lapisan lapisan bumi yang dulu  renjana butiran hujan

Kini telah lembab di lumuri gerimis...

Gerimis menari dalam dekap angin

Menghidupkan dunia tampak sejuk


Rumput rumput bersemu

Di atas melodi angin yang bergoyang...

Perhiasan alam tersenyum manis

Dengan paras nya yang gembira...


Sungguh sempurna...

Bagai seni alam yang baru selesai

Setiap tetesannya bagai abhati 

Mengulung asa dalam setiap langkahnya..

Rintikan Hujan di Siang Hari



Rintikan Hujan di Siang Hari

Karya : Delfan

Kelas : 9C


Di saat siang hari yang sangat cerah tiba-tiba menjadi gelap dan meneteskan air hujan yang sangat deras 

Akan ku penuhi jiwaku

Rintiknya air mataku ini terus mengalir

Disana aku melihat jendela dan aku merasa di peluk oleh kesunyian kehidupanku. 


Rintik hujan... 

Mengapa kau selalu datang bersamaan dengan air mataku

Kehidupanku sedang pilu, kau buat menjadi sangat pilu

Aku tak kuat menahan semua ini

 

Tolong... Tolong... Hentikan tetesan air mataku ini 

Tolong... Tolong... Buat aku tersenyum dalam syahdu ini

Tak bisa... Tak bisa... Berkata lagi


Rintik hujan selalu menemaniku di saat aku sedang mendekap erat dalam kesuyian

Terkadang aku harus terus bangkit beberapa langkah lagi untuk melewati rintangan-rintangan ini 

Cukup sudah aku hanya ingin tersenyum lebih lama lagi


Tolong... Tolong... Kabulkan doaku ya Tuhan. 

Aku enggak bisa mengahadapi cobaan ini 

Tolong... Tolong... Kuatkan aku untuk bisa menghadapi masalah ini. 


Rasanya aku ingin pergi ke sesuatu tempat yang jauh dari sini. 

Tetapi... Tetapi aku tidak bisa karena aku harus berjuang melewati masalah-masalah ini. 

Rintik hujan terima kasih kau sudah menemaniku di saat aku sedih dan di saat aku senang 

Engkaulah saksi di kehidupanku.

KEJAMNYA DUNIA DI 2016

 



KEJAMNYA DUNIA DI 2016

Karya : Khinara Meira Ayu

Kelas  : 9D

Tak ada yang lebih adil selain tuhan,dan tak ada yang kuasa selain tuhan..

Hidupku menjadi tak berarah karena melakukan kesalahan yang tak ku perbuat...

Mereka mengatakan aku lah penjahat,aku lah seorang yang keji..

Bagaimanapun tak pernah ku perbuat kesalahan itu dan tak ada alasan mereka memperlakukan ku seperti sampah..


Tuhan.. saya tidak tahu bagaimana mengugkapkan perasaan ini dengan kata kata..

Tak ada bisikan yang mengatakan bahwa setelah kejadian itu akan merubah hidup semua orang 

Semua hal yang tidak kulakukan dibesar kan oleh seluruh masyarakat untuk menyudutkan saya..

Semua tuduhan kejam tertuai yang tidak dimengerti sehingga seseorang percaya bahwa saya penjahat


Aduhai...

Sulit untuk menjelaskan apa yang saya rasakan dalam hal ini saya gelisah,saya putus asa..

Sering saya berfikir adakah satu hal yang dapat saya lakukan di hari itu..

Dan mengubah semuanya..


Aku yakin Tuhan akan mendengar doa orang yang tertindas...

setelah kejadian itu mimpi buruk saya dimulai...

Sejak itu saya dituduh sebagai penjahat lalu polisi tanpa senjata berdatangan untuk menangkap saya..

Tuhan saya yakin Engkau selalu ada di dekatku.