Mading Digital

NESAMA

Karena Tembok Itu Terlalu Tinggi

 Karena Tembok Itu Terlalu Tinggi

Karya: zahran 

Kelas: 7f


Malam itu, langit mendung seolah tak ingin menampakkan sinarnya. Hujan pun mulai turun dengan pelan, membasahi jalanan kota kecil di pinggiran Jakarta yang sepi. Di sebuah sudut taman kota, di bawah pohon besar yang daunnya bergoyang lesu, iela dan Nathaniel duduk bersebelahan di bangku tua. Mereka pernah percaya bahwa hujan akan membawa kedamaian, namun malam ini, rintik hujan justru menghantam relung hati mereka yang rapuh.

iela, dengan jilbab melingkar anggun di kepalanya, menatap kosong ke arah genangan air di depan mereka. Di balik tatapan lembut itu, tersimpan luka yang tak kunjung sembuh—luka karena dua dunia yang terpisah oleh keyakinan, dan karena pilihan yang harus mereka ambil. Di sampingnya, Nathaniel memandangi langit yang remang, wajahnya menyimpan keputusasaan dalam hening yang mendalam.

"Kenapa ya, aku selalu merasa seolah ada sesuatu yang menghalangi kita, Niel?" tanya iela dengan suara pelan, hampir tersesat oleh suara hujan yang terus menetes.

Nathaniel menggenggam tangannya dengan erat, seolah mencoba menuliskan kata-kata agar tak segera hilang. "Aku pun sering bertanya pada diri sendiri. Tembok yang memisahkan kita bukan hanya sekadar perbedaan iman, tapi juga semua harapan yang pernah kita rajut bersama," jawabnya, air mata mulai menggenang di mata yang biasanya penuh semangat.

Mereka kemudian terdiam, seolah dunia berhenti berputar di sekeliling mereka. Dalam kesunyian itu, terbayang bayang kenangan masa lalu: tawa yang pernah mengisi hari-hari sederhana, canda yang terbang bersama angin, dan janji-janji yang dulu diucapkan di balik senyum. Kini, semua itu terasa bagai mimpi yang perlahan pudar.

iela menarik napas, mencoba menenangkan badai dalam hatinya. "Aku selalu berdoa, Niel. Berdoa agar Tuhan memberkati cinta ini, agar aku kuat menghadapi perpisahan yang mendekat. Tapi setiap kali aku berdoa, seakan ada bisikan halus yang bilang, 'Cinta kalian harus terpisah.'"

Nathaniel menggeleng perlahan. "Aku juga. Doa-doa itu tak hanya untuk menguatkan hati, tapi juga sebagai penyesalan karena kita harus hidup dalam dunia yang berbeda. Kadang aku merasa, meski cinta ini tulus, kita hanya bisa berharap pada keajaiban yang tak pernah datang."

Malam semakin larut. Hujan kian deras seolah ikut menambah kesedihan yang mereka rasakan. Di sela-sela rintik itu, mereka kembali teringat akan pertemuan pertama—di sebuah acara sosial untuk membantu korban bencana. Saat itulah, mereka merasa ada sinar yang mengusir kegelapan, meski hanya sekejap. Namun, jalan menuju kebahagiaan tersebut kini terhalang oleh tembok yang terlalu tinggi untuk dijinakkan bersama.

"Apakah kau masih ingat, saat kita pernah berbagi mimpi? Bahwa suatu hari, dunia akan mengerti, dan tak ada lagi perbedaan yang harus memisahkan kita?" bisik Nathaniel, seolah mencoba menggapai sisa-sisa keyakinan yang pernah ada.

iela menunduk, matanya menyimpan rintihan yang tak terdengar. "Aku ingat, dan aku ingin terus mengingatnya. Tapi kenyataan membuktikan bahwa kadang harapan itu harus digenggam sendiri, walaupun perih. Mungkin, cinta seperti kita memang hanya boleh terselip dalam kenangan yang penuh luka dan haru."

Dalam keheningan malam, kedua insan itu mengerti satu hal: meski mereka saling mencinta, takdir telah menetapkan jalan yang berbeda. Tembok perbedaan yang mereka bangun—atas dasar keyakinan, keluarga, dan tradisi—namun, meski tinggi dan berat, tak mampu menghapus jejak cinta yang pernah terukir. Ada harapan, kata mereka, meski harus berpisah secara fisik, cinta itu akan selalu hidup dalam doa dan kenangan.

Pada akhirnya, di bawah payung hujan dan sorot lampu temaram taman kota, mereka berpisah dengan pelukan yang mengandung janji—janji untuk terus mencintai meski dalam keheningan, untuk menyimpan sepotong harapan bahwa suatu hari, mungkin dunia akan membuka jalan bagi cinta yang dahulu terasa terlarang.




0 Komentar:

Posting Komentar