Mading Digital

NESAMA
  • Sarana dan Prasarana

    Sarana dan Prasarana SMPN 1 Malangbong

  • Home

    Mading Digital SMPN 1 Malangbong

  • Informasi

    Info Grafis SMPN 1 Malangbong

  • Informasi

    Program Unggulan SMPN 1 Malangbong

MELAMPAUI SENJA SMP: BUKU KENANGAN ENAM SAHABAT

 MELAMPAUI SENJA SMP: BUKU KENANGAN ENAM SAHABAT

By: Muhammad Fadhil Nurhikam

Kelas: 9K

Mentari pagi itu terasa lebih sayu dari biasanya bagi Fadhil. Sinar kekuningan yang biasanya membangkitkan semangat, kini justru menambah sendu hatinya. Ia menatap seragam putih birunya yang sudah sedikit lusuh, saksi bisu dari tiga tahun penuh cerita di bangku SMP Negeri 1 Malangbong. Sebentar lagi, seragam ini akan terlipat rapi di lemari, digantikan seragam putih abu-abu yang menandakan babak baru dalam kehidupannya. Namun, membayangkan perpisahan dengan teman-temannya membuat dadanya terasa sesak.

Di ruang makan, ibunya, seorang wanita paruh baya dengan senyum lembut, memperhatikan perubahan raut wajah Fadhil. "Fadhil, kok murung begitu? Sebentar lagi kan pengumuman kelulusan. Bukannya kamu senang?" tanyanya sambil meletakkan segelas susu hangat di hadapan putranya.

Fadhil menghela napas panjang. "Senang sih, Bu, tapi juga sedih. Sebentar lagi kan pisah sama Akbar, Ahmad, Fatimah, Faizhah, sama Syafira."

Ibunya tersenyum maklum. "Itu wajar, Nak. Enam tahun bukan waktu yang sebentar. Kalian sudah seperti saudara. Tapi, perpisahan bukan berarti akhir dari segalanya. Kalian masih bisa bertemu, kan?"

Kata-kata ibunya memang menenangkan, tapi tetap saja ada ganjalan di hati Fadhil. Kenangan-kenangan indah selama SMP berputar di benaknya seperti kaset rusak. Tawa riang saat bermain futsal di lapangan sekolah bersama Akbar dan Ahmad, diskusi seru tentang pelajaran di kantin bersama Fatimah dan Faizhah, hingga saling menyemangati saat menghadapi ulangan bersama Syafira. Semua itu akan segera menjadi kenangan.

Di sekolah, suasana terasa lebih ramai dari biasanya. Hari itu adalah hari terakhir mereka masuk sekolah sebelum pengumuman kelulusan. Di koridor, Fadhil melihat Akbar sedang bercanda dengan Ahmad. Mereka terlihat tertawa lepas, tapi Fadhil bisa melihat ada kesedihan yang tersembunyi di mata mereka.

"Fadhil!" seru Akbar, melambaikan tangan.

Fadhil menghampiri kedua sahabatnya itu. "Hai," sapanya dengan senyum tipis.

"Lo kenapa lesu gitu, Fad?" tanya Ahmad, menepuk pundak Fadhil.

"Gue... gue sedih aja bentar lagi lulus," jawab Fadhil jujur.

Akbar menghela napas. "Gue juga, Fad. Kayaknya baru kemarin kita MOS, ya? Sekarang udah mau lulus aja."

Mereka bertiga terdiam sejenak, larut dalam pikiran masing-masing. Kenangan akan masa-masa awal SMP, saat di lingkungan sekolah yang baru mereka hanya merasa nyaman dan akrab satu sama lain, membuat kebersamaan mereka terasa begitu lekat dan kini seolah sudah jauh berlalu.

Tak lama kemudian, Fatimah, Faizhah, dan Syafira menghampiri mereka. Wajah mereka juga terlihat murung.

"Hai semua," sapa Fatimah pelan.

"Kalian juga sedih?" tanya Ahmad.

Faizhah mengangguk. "Banget. Kayak mimpi aja gitu, udah mau pisah."

Syafira, yang biasanya paling ceria di antara mereka, kini terlihat lebih pendiam. Matanya tampak berkaca-kaca. "Gue nggak kebayang deh nanti nggak bisa ketemu kalian setiap hari lagi."

Suasana semakin terasa berat. Mereka berenam sudah seperti keluarga sejak kelas 3 SD. Mereka berbagi suka dan duka, saling mendukung dalam segala hal. Kebersamaan yang terjalin begitu lama inilah yang akan sangat mereka rindukan.

Bel masuk berbunyi, membuyarkan lamunan mereka. Mereka berjalan menuju kelas dengan langkah gontai. Pelajaran hari itu terasa hambar. Pikiran mereka melayang-layang, membayangkan hari-hari terakhir mereka bersama.

Saat jam istirahat, mereka berkumpul di taman belakang sekolah, tempat favorit mereka untuk berbagi cerita dan rahasia. Di bawah rindangnya pohon angsana, mereka duduk melingkar, mencoba mengusir kesedihan yang melanda.

"Kita harus tetap bersahabat ya, meskipun udah beda sekolah," kata Fatimah dengan suara bergetar.

"Iya! Kita harus sering-sering kumpul," timpal Faizhah penuh semangat, meskipun matanya masih terlihat sembab.

"Nanti kalau udah SMA, kita atur jadwal buat nongkrong bareng," usul Akbar.

"Main futsal bareng juga!" seru Ahmad.

Fadhil tersenyum mendengar ucapan teman-temannya. Ada sedikit kehangatan yang menyelimuti hatinya. Meskipun perpisahan itu pasti akan menyakitkan, ia tahu bahwa persahabatan mereka tidak akan berakhir begitu saja.

Syafira tiba-tiba mengeluarkan sebuah buku kecil dari tasnya. "Gue punya ide," katanya sambil tersenyum tipis. "Gimana kalau kita bikin buku kenangan? Setiap orang nulis pesan buat yang lain di sini."

Ide Syafira disambut dengan antusias. Mereka mulai menulis pesan di buku itu, mengungkapkan perasaan sayang dan harapan untuk masa depan persahabatan mereka. Setiap kata yang tertulis terasa begitu bermakna, menyimpan sejuta kenangan yang telah mereka lalui bersama.

Hari-hari menjelang pengumuman kelulusan terasa berjalan begitu lambat. Setiap momen di sekolah terasa begitu berharga, seolah mereka ingin mengabadikannya dalam ingatan mereka selamanya. Mereka menghabiskan waktu bersama sebanyak mungkin, mengenang tawa dan air mata yang telah mereka bagi.

Tibalah hari yang dinanti sekaligus ditakuti. Hari pengumuman kelulusan. Mereka berenam berkumpul di depan papan pengumuman dengan jantung berdebar-debar. Suasana di sekitar mereka dipenuhi oleh siswa lain dan orang tua yang juga merasakan ketegangan yang sama.

Satu per satu nama siswa dibacakan. Ketika nama Fadhil disebut, ia merasakan kelegaan yang luar biasa. Ia LULUS! Begitu juga dengan Akbar, Ahmad, Fatimah, Faizhah, dan Syafira. Mereka semua lulus!

Sorak sorai kegembiraan bercampur dengan isak tangis haru. Mereka berpelukan erat, meluapkan rasa bahagia dan lega. Namun, di balik kebahagiaan itu, terselip kesedihan yang mendalam karena mereka tahu, setelah ini, jalan mereka akan sedikit berbeda. Fadhil akan melanjutkan ke MA Ma'arif 1 Malangbong, Akbar ke SMA PGRI Malangbong, Ahmad ke SMK Al Ilyas, Faizhah ke SMA Negeri 9 Garut, dan Syafira ke SMK 7 Garut. Fadhil, Akbar, Ahmad, Faizhah, dan Syafira akan bersekolah di sekitar Malangbong dan Garut, meskipun di sekolah yang berbeda-beda. Hanya Fatimah yang akan melanjutkan sekolah jauh ke SMA Negeri 1 Ciawi Tasikmalaya.

Setelah pengumuman, mereka kembali berkumpul di taman belakang sekolah. Buku kenangan yang sudah penuh dengan pesan kini berpindah tangan dari satu ke yang lain. Mereka membacanya bersama-sama, sesekali tertawa dan tak jarang meneteskan air mata.

"Gue nggak nyangka waktu berlalu secepat ini," kata Fadhil sambil memeluk buku itu erat.

"Iya, kayaknya baru kemarin kita bingung nyari kelas," timpal Akbar.

"Semoga kita semua sukses ya di sekolah masing-masing nanti," ujar Ahmad dengan tulus.

Fatimah mengangguk. "Dan semoga kita bisa terus bersahabat sampai kapan pun, meskipun sekolah kita berjauhan. Apalagi aku yang di Ciawi."

Faizhah tersenyum. "Pasti! Kita kan sahabat selamanya."

Syafira menatap teman-temannya satu per satu. "Meskipun nanti kita nggak ketemu setiap hari lagi, tapi kenangan kita akan selalu ada di hati masing-masing. Dan kita harus janji buat tetap saling berkomunikasi."

Mereka terdiam sejenak, meresapi setiap kata yang terucap. Matahari sore mulai memancarkan warna jingga, menandakan akhir dari hari yang penuh emosi.

Fadhil berdiri, diikuti oleh teman-temannya. Mereka berjalan keluar dari gerbang sekolah bersama-sama, untuk terakhir kalinya sebagai siswa SMP Negeri 1 Malangbong. Di luar gerbang, mereka berpisah satu per satu, dengan janji untuk tetap menjaga komunikasi dan bertemu lagi di lain waktu. Fadhil, Akbar, Ahmad, Faizhah, dan Syafira akan melanjutkan pendidikan di berbagai sekolah di sekitar Malangbong dan Garut. Sementara Fatimah harus bersiap untuk pindah ke Ciawi, Tasikmalaya.

Saat Fadhil melangkah menjauhi sekolah, ia menoleh ke belakang. Gedung sekolah yang selama tiga tahun menjadi saksi bisu perjalanan hidupnya tampak berdiri kokoh di bawah langit senja. Ia menghela napas panjang. Perpisahan ini memang menyakitkan, tapi ia tahu bahwa kenangan indah bersama teman-temannya akan selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari dirinya. Dan di lubuk hatinya, ia yakin, persahabatan mereka akan tetap abadi, melampaui senja SMP ini, tersimpan dalam buku kenangan enam sahabat mereka.

YANG KATANYA CEMARA

 YANG KATANYA CEMARA

By: Muhammad Fadhil Nurhikam

Kelas: 9K

Di sebuah perumahan asri dengan pepohonan rindang yang menaungi jalanan, berdiri kokoh sebuah rumah bercat putih gading dengan taman depan yang selalu tertata rapi. Bunga-bunga berwarna-warni bermekaran silih berganti, seolah tak pernah lelah menyambut pagi. Rumah itu adalah kediaman keluarga Wijaya, sebuah keluarga yang di mata tetangga dan kerabat tampak begitu sempurna. Mereka adalah representasi dari keluarga cemara yang tenang, teduh, dan selalu tampak baik-baik saja.

Di balik fasad rumah yang menawan itu, tinggallah seorang gadis remaja bernama Anya. Dari luar, Anya adalah potret seorang anak yang beruntung. Parasnya ayu dengan mata bulat yang berbinar, selalu berpakaian sopan, dan tutur katanya lembut. Ia adalah murid berprestasi di sekolah, aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler, dan selalu tersenyum ramah kepada siapa saja yang berpapasan dengannya. Orang-orang selalu memujinya, menyebutnya anak yang manis, sopan, dan tentu saja, berasal dari keluarga yang harmonis.

Namun, di balik senyum manis Anya dan keharmonisan semua keluarganya, tersimpan sebuah rahasia besar yang perlahan-lahan menggerogoti hatinya. Orang tuanya, Risa dan Arya Wijaya, yang di mata publik adalah pasangan ideal, ternyata menyimpan bara perselingkuhan yang siap membakar habis rumah tangga mereka.

Anya pertama kali menyadari ada yang aneh beberapa bulan yang lalu. Saat itu, ia terbangun tengah malam karena haus. Langkah kakinya menuju dapur terhenti di depan pintu ruang kerja ayahnya yang sedikit terbuka. Samar-samar, ia mendengar suara ibunya yang meninggi, diikuti oleh suara ayahnya yang berusaha meredam emosi.

"Kamu pikir aku tidak tahu apa yang kamu lakukan di luar sana, Arya?" desis Risa dengan nada penuh amarah dan kekecewaan.

"Risa, jangan bicara seperti itu. Kamu salah paham," jawab Arya, suaranya terdengar tegang.

"Salah paham katamu? Sudah cukup lama aku memendam ini. Aku melihat sendiri pesan-pesan itu, panggilan-panggilan itu!"

Anya membeku di tempatnya. Jantungnya berdebar kencang. Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi, tetapi nada bicara ibunya dan pembelaan ayahnya membuatnya merasa ada sesuatu yang sangat buruk sedang terjadi. Malam itu, untuk pertama kalinya, Anya merasakan retakan halus dalam bangunan kokoh yang selama ini ia sebut keluarga.

Sejak malam itu, Anya menjadi lebih peka terhadap perubahan suasana di rumahnya. Ia memperhatikan tatapan kosong ibunya saat sarapan, kesibukan ayahnya yang semakin larut malam dengan alasan pekerjaan, dan komunikasi dingin yang terjalin di antara keduanya. Mereka masih berbicara, masih melakukan rutinitas keluarga seperti biasa, tetapi ada jarak tak kasatmata yang semakin melebar di antara mereka.

Di sekolah, Anya tetaplah Anya yang ceria dan berprestasi. Ia pandai menyembunyikan kegelisahan hatinya di balik senyum dan tawa. Teman-temannya tidak pernah curiga bahwa di balik tembok rumahnya, sedang terjadi badai yang siap menghancurkan segalanya. Mereka hanya melihat Anya sebagai anak yang beruntung, yang memiliki segalanya.

Namun, semakin lama, beban rahasia ini terasa semakin berat bagi Anya. Ia merasa seperti sedang memainkan peran dalam sebuah drama yang tidak pernah ia pilih. Ia benci kepura-puraan ini, tetapi ia juga takut untuk menghancurkan ilusi sempurna yang selama ini dijaga oleh orang tuanya.

Suatu sore, saat Anya sedang mengerjakan tugas sekolah di kamarnya, ia tidak sengaja mendengar percakapan telepon ibunya. Suara ibunya terdengar lirih dan penuh keputusasaan.

"Aku tidak tahu lagi harus bagaimana, Mira. Aku sudah tidak tahan lagi dengan semua ini," kata Risa kepada seseorang yang Anya yakini adalah sahabatnya. "Dia terus berbohong, terus menyakitiku. Rasanya aku ingin menyerah saja."

Anya terdiam. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Jadi, dugaannya benar. Orang tuanya tidak baik-baik saja. Mereka sedang berada di ambang kehancuran. Kenyataan ini menghantamnya dengan keras, membuatnya merasa sesak dan tak berdaya.

Malam harinya, saat makan malam bersama, suasana terasa begitu tegang. Ayah dan ibunya hanya berbicara seperlunya, menghindari tatapan satu sama lain. Anya hanya bisa menunduk, memainkan makanannya tanpa selera. Ia ingin bertanya, ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, tetapi lidahnya terasa kelu.

Setelah makan malam, Anya memberanikan diri mengetuk pintu kamar ibunya. Risa membukakan pintu dengan wajah yang tampak lelah.

"Ada apa, Sayang?" tanya Risa lembut, berusaha menyembunyikan kesedihannya.

Anya menatap mata ibunya, mencari kejujuran di sana. "Ibu... apa Ibu baik-baik saja?" tanyanya pelan.

Risa terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. Ia menarik Anya ke dalam pelukannya. "Ibu tidak apa-apa, Nak. Hanya sedikit lelah," jawabnya, meskipun suaranya terdengar bergetar.

Anya tahu ibunya berbohong. Ia bisa merasakan ketegangan di tubuh ibunya, bisa melihat kesedihan yang terpancar dari matanya. Namun, ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia merasa kecil dan tidak berdaya di tengah masalah besar yang sedang dihadapi keluarganya.

Hari-hari berikutnya terasa semakin berat bagi Anya. Ia melihat ibunya semakin sering melamun, tatapannya kosong dan penuh kesedihan. Ayahnya semakin sering menghabiskan waktu di luar rumah dengan alasan pekerjaan. Rumah yang dulunya terasa hangat dan nyaman, kini terasa dingin dan sunyi.

Di sekolah, Anya berusaha tetap tegar. Ia tidak ingin teman-temannya tahu tentang masalah keluarganya. Ia tidak ingin citra keluarga cemara yang selama ini mereka jaga hancur berantakan. Ia takut akan tatapan kasihan atau bisikan-bisikan di belakang punggungnya.

Namun, kepura-puraan ini semakin menguras energinya. Ia merasa seperti sedang membawa beban yang terlalu berat untuk pundaknya yang kecil. Ia merindukan kehangatan dan kebahagiaan yang dulu selalu ada di rumahnya. Ia merindukan tawa dan canda orang tuanya saat makan malam bersama. Ia merindukan keluarga yang utuh dan harmonis.

Suatu malam, Anya tidak bisa lagi menahan air matanya. Ia bersembunyi di balik selimutnya dan menangis terisak-isak. Ia merasa sendirian dan tidak tahu harus berbuat apa. Ia bertanya-tanya, mengapa semua ini harus terjadi pada keluarganya? Mengapa orang tuanya yang selama ini tampak begitu mencintainya, kini saling menyakiti?

Di tengah keputusasaannya, tiba-tiba terlintas di benaknya sebuah ide. Ia ingat pernah membaca sebuah artikel tentang bagaimana komunikasi yang jujur dan terbuka dapat menyelesaikan banyak masalah dalam keluarga. Mungkin, jika ia berbicara dengan orang tuanya, jika ia mengungkapkan perasaannya, mereka akan menyadari betapa hancurnya ia melihat keluarga mereka berada di ambang kehancuran.

Dengan tekad yang bulat, Anya memutuskan untuk berbicara dengan kedua orang tuanya. Ia memilih waktu yang tepat, yaitu pada hari Minggu pagi saat mereka biasanya berkumpul di ruang keluarga.

Saat Anya masuk ke ruang keluarga, ia melihat ayah dan ibunya sedang duduk berjauhan di sofa, membaca koran masing-masing. Suasana di ruangan itu terasa dingin dan canggung.

Anya menarik napas dalam-dalam dan memberanikan diri untuk berbicara. "Ayah, Ibu... boleh Anya bicara sebentar?"

Risa dan Arya menoleh ke arah Anya dengan ekspresi terkejut. Mereka jarang melihat Anya berbicara dengan nada seserius ini.

"Tentu, Sayang. Ada apa?" tanya Arya lembut.

Anya duduk di karpet di depan mereka dan menatap kedua orang tuanya bergantian. "Anya tahu... Anya tahu ada sesuatu yang tidak baik sedang terjadi di antara Ayah dan Ibu."

Risa dan Arya terdiam. Mereka saling bertukar pandang dengan ekspresi khawatir.

"Anya mendengar percakapan Ibu waktu itu... dan Anya juga melihat bagaimana Ayah dan Ibu jadi berbeda," lanjut Anya dengan suara bergetar. "Anya tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, tapi Anya sedih melihat Ayah dan Ibu seperti ini. Anya rindu keluarga kita yang dulu... yang selalu tertawa bersama, yang selalu bahagia."

Air mata mulai menetes di pipi Anya. Ia tidak bisa lagi menahan emosinya. Ia mengungkapkan semua kesedihan dan kekecewaan yang selama ini ia pendam.

Risa dan Arya terkejut melihat Anya menangis. Mereka tidak menyangka bahwa putri mereka yang selama ini tampak tegar ternyata menyimpan begitu banyak kesedihan.

Risa menghampiri Anya dan memeluknya erat. "Maafkan Ibu, Sayang. Maafkan kami karena membuatmu sedih," ucap Risa dengan suara tercekat.

Arya ikut mendekat dan mengusap lembut rambut Anya. "Kami juga minta maaf, Nak. Kami tidak bermaksud membuatmu khawatir."

Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, Anya merasakan kehangatan dan perhatian dari kedua orang tuanya secara bersamaan. Ia membalas pelukan ibunya dan menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca.

"Anya hanya ingin Ayah dan Ibu baik-baik saja. Anya tidak ingin keluarga kita hancur," ucap Anya lirih.

Setelah mendengar ucapan Anya, Risa dan Arya saling bertukar pandang. Mereka melihat kesungguhan dan ketakutan di mata putri mereka. Mereka menyadari betapa besar dampak masalah mereka terhadap Anya.

Dengan berat hati, Risa dan Arya akhirnya memutuskan untuk mengungkapkan kebenaran kepada Anya. Mereka menceritakan tentang perselingkuhan Arya, tentang rasa sakit dan kekecewaan Risa, dan tentang rencana mereka untuk berpisah.

Anya mendengarkan cerita orang tuanya dengan hati hancur. Air matanya terus mengalir tanpa bisa ia tahan. Kenyataan bahwa keluarganya yang selama ini ia banggakan akan segera hancur terasa seperti mimpi buruk yang menjadi kenyataan.

Namun, di tengah kesedihannya, Anya juga merasakan sedikit kelegaan. Setidaknya, ia tidak perlu lagi hidup dalam kepura-puraan. Setidaknya, ia tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Setelah orang tuanya selesai bercerita, Anya kembali berbicara. "Apakah... apakah tidak ada cara lain? Apakah Ayah dan Ibu tidak bisa mencoba lagi? Anya mohon..."

Risa dan Arya saling bertukar pandang lagi. Mereka melihat harapan di mata putri mereka. Mereka menyadari bahwa mereka tidak hanya bertanggung jawab atas kebahagiaan mereka sendiri, tetapi juga atas kebahagiaan Anya.

Setelah berpikir sejenak, Arya akhirnya berbicara. "Nak, ini adalah masalah yang sangat sulit. Ayah dan Ibu sudah sangat terluka. Tapi... demi kamu, demi keluarga kita, kami akan mencoba. Kami akan mencoba untuk memperbaiki semuanya. Tapi, ini tidak akan mudah dan membutuhkan waktu yang lama."

Risa mengangguk setuju. "Iya, Sayang. Kami akan berusaha. Tapi, kamu juga harus mengerti bahwa mungkin saja kami tidak berhasil. Mungkin saja kami memang harus berpisah."

Mendengar ucapan orang tuanya, Anya merasa sedikit lega. Setidaknya, mereka bersedia mencoba. Setidaknya, masih ada harapan untuk keluarganya.

Sejak hari itu, suasana di rumah keluarga Wijaya perlahan-lahan mulai berubah. Risa dan Arya mulai berkomunikasi lebih terbuka. Mereka mulai menceritakan perasaan dan kekhawatiran mereka satu sama lain. Mereka juga mulai meluangkan waktu lebih banyak untuk Anya, mendengarkannya, dan memberikan perhatian yang selama ini hilang.

Anya melihat perubahan itu dengan hati-hati. Ia tahu bahwa jalan di depan masih panjang dan sulit. Ia tahu bahwa luka yang ada di hati orang tuanya tidak akan sembuh dalam semalam. Namun, ia juga melihat adanya keinginan yang kuat dari keduanya untuk memperbaiki hubungan mereka.

Anya belajar untuk menerima kenyataan bahwa keluarganya tidak sesempurna yang terlihat dari luar. Ia belajar bahwa setiap keluarga pasti memiliki masalahnya masing-masing. Ia juga belajar bahwa kejujuran dan keterbukaan adalah kunci untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Meskipun proses pemulihan hubungan orang tuanya berjalan lambat, Anya tetap sabar dan memberikan dukungan semampunya. Ia menjadi pendengar yang baik bagi ibunya saat ia merasa sedih dan marah. Ia juga mencoba untuk memahami ayahnya dan memberikan semangat agar ia bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

Waktu terus berjalan. Badai yang sempat mengancam keluarga Wijaya perlahan-lahan mulai mereda. Risa dan Arya mulai menemukan kembali kehangatan dan kebersamaan yang sempat hilang. Mereka belajar untuk saling memaafkan dan membangun kembali kepercayaan yang retak.

Anya melihat perubahan itu dengan hati yang bahagia. Ia bersyukur karena keluarganya tidak jadi hancur. Ia bersyukur karena orang tuanya mau berjuang demi dirinya dan demi keutuhan keluarga mereka.

Kini, keluarga Wijaya memang tidak lagi tampak seperti keluarga cemara yang sempurna di mata orang lain. Mereka tidak lagi berusaha menyembunyikan masalah mereka di balik senyum dan kepura-puraan. Mereka belajar untuk menjadi keluarga yang jujur dan terbuka, yang saling mendukung dan menguatkan dalam suka maupun duka.

Anya menyadari bahwa keluarga cemara yang sebenarnya bukanlah keluarga yang tidak pernah memiliki masalah, tetapi keluarga yang mampu menghadapi masalah bersama-sama, dengan kasih sayang dan pengertian. Dan keluarganya, meskipun pernah hampir hancur, kini sedang berusaha untuk menjadi keluarga cemara yang sesungguhnya. Keluarga yang akarnya kuat, batangnya kokoh, dan daunnya rindang, meskipun pernah diterpa badai yang hebat.

AYAH, INI ARAHNYA KE MANA, YA?

 AYAH, INI ARAHNYA KE MANA, YA?

By: Muhammad Fadhil Nurhikam

Kelas: 9K

Mentari pagi menyapa lembut dari balik jendela, menerobos celah tirai usang dan jatuh tepat di wajah Arya. Ia menggeliat kecil, merasakan sengatan hangat yang perlahan membuyarkan sisa kantuknya. Aroma kopi dan gorengan samar-samar menusuk hidungnya, pertanda Ayah sudah beraktivitas di dapur. Sebuah rutinitas yang selalu menenangkan bagi Arya, seperti melodi familiar yang mengawali setiap harinya.

Dengan malas, Arya bangkit dari ranjangnya yang sederhana. Kamar berukuran tiga kali tiga meter itu terasa pengap meski jendelanya terbuka sedikit. Poster-poster band rock lawas dan coretan-coretan lirik lagu memenuhi dindingnya, saksi bisu imajinasinya yang kerap melayang jauh di tengah keterbatasan ruang.

Langkah Arya tertuju ke dapur, tempat Ayah – lelaki paruh baya dengan rambut mulai menipis dan kerutan di sudut mata yang menyimpan segudang cerita – tengah sibuk di depan kompor. Aroma kopi hitam pekat bercampur dengan bau harum tempe mendoan yang baru diangkat.

“Pagi, Le,” sapa Ayah tanpa menoleh, suaranya serak khas bangun tidur. “Sudah bangun rupanya anak lanang.”

“Pagi, Yah,” jawab Arya sambil menguap. Ia menghampiri meja makan kecil di sudut dapur dan duduk di salah satu kursi kayu yang sudah sedikit goyang. Di atas meja, sepiring nasi goreng sederhana dan beberapa potong tempe mendoan hangat sudah tertata rapi.

Ayah meletakkan secangkir kopi di hadapan Arya, lalu duduk di kursi seberangnya. Keheningan singkat menyelimuti mereka, hanya dipecah oleh suara gemericik minyak di wajan dan desahan napas Ayah yang terdengar sedikit berat.

Arya memperhatikan Ayahnya lekat-lekat. Ada guratan lelah yang lebih dalam dari biasanya di wajah itu. Pundaknya tampak sedikit membungkuk, seolah memikul beban yang tak terlihat. Arya tahu, kehidupan sebagai buruh pabrik tekstil tidaklah mudah. Upah yang pas-pasan seringkali membuat Ayah harus memutar otak untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

“Yah?” panggil Arya pelan, memecah keheningan.

Ayah mendongak, alisnya sedikit terangkat. “Ada apa, Le?”

Arya menunduk, memainkan ujung sendoknya. “Aku… bingung, Yah.”

“Bingung kenapa?” tanya Ayah lembut, meletakkan kembali koran yang baru dibacanya.

“Soal kuliah,” jawab Arya lirih. “Pengumuman SBMPTN sebentar lagi. Aku… tidak yakin.”

Ayah menghela napas pelan. Ia meraih tangan Arya dan menggenggamnya erat. “Kamu sudah berusaha semaksimal mungkin, Le. Soal hasil, kita serahkan saja pada Yang di Atas.”

“Tapi, Yah…” Arya mengangkat wajahnya, menatap mata Ayahnya yang penuh kasih. “Kalau aku tidak diterima… lalu bagaimana?”

Ayah tersenyum tipis. “Lalu kita cari jalan lain. Hidup ini panjang, Le. Banyak jalan menuju Roma, bukan?”

Arya tahu Ayahnya berusaha menenangkannya, tetapi ia tetap merasa gamang. Impiannya untuk kuliah di jurusan desain grafis terasa semakin jauh. Ia sadar betul, biaya kuliah tidaklah sedikit. Penghasilan Ayah sebagai buruh pabrik едва cukup untuk kebutuhan sehari-hari.

“Aku tidak ingin membebani Ayah,” ucap Arya jujur.

“Kamu tidak pernah menjadi beban, Le,” sanggah Ayah dengan nada tegas namun lembut. “Kamu adalah semangat Ayah. Kamu adalah harapan Ibu.”

Ibu. Nama itu selalu menghadirkan kehangatan sekaligus kesedihan di hati Arya. Ibunya telah meninggal dunia tiga tahun lalu karena sakit. Kepergiannya meninggalkan luka yang mendalam bagi Arya dan Ayah. Sejak saat itu, mereka berdua menjadi lebih dekat, saling menguatkan dalam kesunyian rumah kontrakan mereka.

“Ibu pasti ingin aku kuliah,” gumam Arya pelan.

Ayah mengangguk. “Ibumu selalu percaya pada potensi kamu, Le. Dia selalu bilang, kamu punya bakat menggambar yang luar biasa.”

Arya tersenyum getir. Bakat menggambar. Dulu, ia selalu menghabiskan waktu luangnya untuk mencoret-coret kertas, menciptakan dunia fantasinya sendiri melalui garis dan warna. Namun, seiring berjalannya waktu, kesibukan sekolah dan keterbatasan biaya membuatnya semakin jarang menyentuh pensil dan kuas.

“Tapi, Yah… kuliah itu mahal,” ulang Arya, keraguan masih menggelayuti hatinya.

Ayah terdiam sejenak, pandangannya menerawang jauh. “Ayah akan berusaha sekuat tenaga, Le. Mungkin Ayah bisa menambah jam kerja, atau mencari pekerjaan sampingan.”

Arya merasa terenyuh mendengar ucapan Ayahnya. Ia tahu betul, Ayahnya sudah bekerja keras selama ini. Menambah beban lagi rasanya tidak adil.

“Jangan, Yah,” tolak Arya pelan. “Aku bisa mencari pekerjaan setelah lulus SMA. Mungkin aku bisa bekerja di percetakan atau studio desain.”

“Itu juga pilihan yang baik, Le,” sahut Ayah. “Yang penting kamu tidak patah semangat. Apapun jalan yang kamu pilih, Ayah akan selalu mendukungmu.”

Percakapan mereka terhenti saat suara ketukan pintu terdengar. Ayah beranjak membukakan pintu, dan seorang lelaki paruh baya dengan wajah ramah menyapa dari ambang pintu.

“Pagi, Pak Slamet,” sapa lelaki itu.

“Pagi, Pak Jono,” jawab Ayah. “Ada apa gerangan?”

“Ini, Pak Slamet,” Pak Jono menyodorkan sebuah amplop cokelat kepada Ayah. “Ada sedikit rezeki dari proyek kemarin. Kebetulan, Arya juga ikut membantu.”

Arya mengerutkan kening, merasa bingung. Proyek apa? Ia tidak ingat pernah membantu Pak Jono dalam proyek apapun. Pak Jono adalah tetangga mereka yang memiliki usaha kecil di bidang desain grafis.

Ayah menerima amplop itu dengan tatapan heran. Ia membuka amplop tersebut dan mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah. Matanya membulat terkejut.

“Ini… banyak sekali, Pak Jono,” ucap Ayah terbata-bata.

Pak Jono tersenyum lebar. “Tidak seberapa, Pak Slamet. Arya kemarin sempat membantu saya membuat beberapa desain logo. Hasilnya lumayan bagus. Saya pikir, sudah sepantasnya ia mendapatkan bagiannya.”

Arya terkejut. Kapan ia membantu Pak Jono membuat desain logo? Ia sama sekali tidak ingat.

“Maaf, Pak Jono,” Arya angkat bicara. “Sepertinya ada kekeliruan. Saya tidak pernah…”

“Lho, Arya,” sela Pak Jono sambil menatap Arya dengan tatapan penuh arti. “Kamu lupa? Waktu itu kamu datang ke rumah saya malam-malam, membawa beberapa sketsa desain. Kamu bilang, itu ide-ide untuk proyek saya.”

Arya mencoba mengingat-ingat. Ia memang sering menghabiskan waktu malamnya untuk menggambar, tetapi ia tidak pernah menunjukkan sketsanya kepada siapapun, apalagi Pak Jono.

Ayah menatap Arya dengan tatapan penuh tanya. Arya menggelengkan kepalanya, mencoba memberi isyarat bahwa ia tidak tahu apa-apa.

“Sudahlah, Pak Slamet,” kata Pak Jono sambil menepuk pundak Ayah. “Anggap saja ini rezeki nomplok. Siapa tahu bisa membantu Arya untuk biaya kuliah.”

Ayah masih terlihat bingung, tetapi ia akhirnya mengangguk pelan. “Terima kasih banyak, Pak Jono. Kami sangat berterima kasih.”

Setelah Pak Jono pergi, Ayah menatap Arya dengan tatapan menyelidik. “Le, apa benar kamu membantu Pak Jono?”

Arya menghela napas. Ia tahu ia harus mengatakan yang sebenarnya. “Tidak, Yah. Aku tidak pernah membantu Pak Jono.”

Ayah mengerutkan kening. “Lalu… kenapa Pak Jono bilang begitu?”

Arya terdiam sejenak, mencoba merangkai kata-kata yang tepat. Ia ingat betul, beberapa minggu yang lalu, ia menemukan beberapa sketsa desain logo di meja belajarnya. Sketsa-sketsa itu bukan miliknya. Ia sempat bertanya kepada Ayah, tetapi Ayah juga tidak tahu menahu.

“Yah,” Arya memulai dengan hati-hati. “Beberapa minggu yang lalu, aku menemukan beberapa sketsa desain di kamarku. Sketsa-sketsa itu… bukan buatanku.”

Ayah terkejut. “Lalu… milik siapa?”

Arya mengangkat bahunya. “Aku tidak tahu. Tapi… gayanya mirip dengan desain-desain Pak Jono.”

Ayah terdiam, mencoba mencerna ucapan Arya. Tiba-tiba, matanya membulat, seolah ada sesuatu yang baru saja terlintas di benaknya.

“Tunggu sebentar, Le,” ucap Ayah sambil beranjak dari duduknya. Ia berjalan menuju lemari pakaiannya yang usang dan membuka laci paling bawah. Ia mengeluarkan sebuah buku gambar yang sudah terlihat lusuh.

Ayah membuka buku gambar itu dengan hati-hati dan menunjukkan sebuah halaman kepada Arya. Di halaman itu, terdapat sebuah sketsa desain logo yang sangat familiar bagi Arya. Itu adalah salah satu desain logo yang Pak Jono tunjukkan padanya tadi.

“Ini…” Arya menunjuk sketsa itu dengan jari gemetar. “Ini kan… desain yang Pak Jono bilang buatanku?”

Ayah mengangguk pelan. “Ini… ini gambarmu waktu kamu masih kecil, Le. Kamu pasti lupa.”

Arya menggelengkan kepalanya kuat-kuat. “Tidak, Yah. Aku ingat betul semua gambar-gambarku. Aku tidak pernah menggambar logo seperti ini.”

Ayah terdiam lagi, raut wajahnya menunjukkan kebingungan yang mendalam. Ia membolak-balik halaman buku gambar itu, seolah mencari jawaban di antara coretan-coretan masa lalu.

“Tapi… kalau bukan kamu yang menggambar… lalu siapa?” gumam Ayah lebih kepada dirinya sendiri.

Tiba-tiba, Arya teringat sesuatu. Beberapa bulan yang lalu, ia pernah melihat Ayah diam-diam menggambar di ruang tamu saat malam sudah larut. Ketika Arya bertanya, Ayah hanya tersenyum dan mengatakan bahwa ia sedang mengisi waktu luang.

Arya menatap Ayahnya dengan tatapan penuh kecurigaan. “Yah… apa Ayah yang menggambar desain-desain itu?”

Ayah tersentak kaget. Ia menatap Arya dengan mata memelas. “Le… sebenarnya…”

Ayah menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan. “Ayah… Ayah ingin membantu kamu, Le. Ayah tahu kamu sangat ingin kuliah. Ayah tidak punya banyak uang, jadi… Ayah mencoba membantu Pak Jono membuat desain logo di waktu luang.”

Arya terkejut mendengar pengakuan Ayahnya. Ia tidak menyangka Ayahnya akan melakukan hal sejauh itu demi dirinya.

“Tapi, Yah… kenapa Ayah tidak bilang padaku?” tanya Arya dengan nada tercekat.

Ayah menunduk, merasa bersalah. “Ayah… Ayah malu, Le. Ayah tidak pandai menggambar. Ayah takut kamu kecewa.”

Arya menghampiri Ayahnya dan memeluknya erat. Air mata tiba-tiba mengalir di pipinya. Ia merasa terharu dengan pengorbanan Ayahnya.

“Ayah…” ucap Arya dengan suara bergetar. “Terima kasih, Yah. Terima kasih banyak.”

Ayah membalas pelukan Arya dengan erat. “Ayah hanya ingin kamu bahagia, Le. Itu saja.”

Keheningan kembali menyelimuti mereka, namun kali ini keheningan yang penuh haru dan kehangatan. Arya menyadari betapa besar cinta Ayahnya padanya. Ayahnya rela melakukan apapun demi mewujudkan impiannya, bahkan sesuatu yang di luar kemampuannya.

Beberapa hari kemudian, pengumuman SBMPTN tiba. Dengan jantung berdebar-debar, Arya membuka hasil pengumuman di layar komputernya. Matanya terpaku pada satu kalimat yang tertera di sana: “Selamat! Anda dinyatakan lulus seleksi masuk program studi Desain Grafis, Universitas Negeri Jakarta.”

Arya tidak bisa menahan pekikan kegembiraan. Ia berhasil! Ia diterima di jurusan impiannya. Ia segera berlari menghampiri Ayahnya yang sedang membaca koran di ruang tamu.

“Yah! Aku diterima! Aku diterima!” seru Arya sambil memeluk Ayahnya erat.

Ayah tersenyum lebar, matanya berkaca-kaca. “Ayah sudah menduganya, Le. Kamu memang anak pintar.”

Namun, di tengah kebahagiaan itu, Arya kembali teringat pada pengorbanan Ayahnya. Ia tahu, perjuangan mereka belum berakhir. Biaya kuliah pasti akan sangat besar.

“Yah…” Arya melepaskan pelukannya dan menatap Ayahnya dengan tatapan serius. “Soal biaya kuliah… bagaimana?”

Ayah menghela napas pelan. “Ayah masih punya sedikit tabungan. Uang dari Pak Jono juga lumayan. Kita akan berusaha semaksimal mungkin, Le. Kamu jangan khawatir.”

Arya menggelengkan kepalanya. “Tidak, Yah. Aku tidak ingin Ayah berjuang sendirian. Aku akan mencari beasiswa sambil kuliah. Aku juga akan mencari pekerjaan paruh waktu.”

Ayah menatap Arya dengan bangga. “Kamu memang anak Ayah yang hebat. Ayah percaya kamu bisa.”

Hari-hari berikutnya dipenuhi dengan persiapan kuliah. Arya sibuk mencari informasi tentang beasiswa dan lowongan kerja paruh waktu. Ayah juga semakin giat bekerja di pabrik. Mereka berdua saling mendukung dan menguatkan.

Saat Arya mulai kuliah, ia merasakan dunia baru yang penuh dengan tantangan dan peluang. Ia bersemangat belajar dan mengembangkan bakatnya. Ia juga berhasil mendapatkan beasiswa yang sedikit meringankan beban biaya kuliah. Selain itu, ia juga bekerja paruh waktu sebagai desainer lepas.

Waktu terus berjalan. Arya semakin mahir dalam bidang desain grafis. Ia mendapatkan banyak proyek dan penghasilannya pun semakin meningkat. Ia tidak pernah melupakan pengorbanan Ayahnya. Setiap bulan, ia selalu menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membantu Ayah.

Suatu malam, Arya duduk berdua dengan Ayahnya di ruang tamu sederhana mereka. Arya baru saja menyelesaikan sebuah proyek besar dan mendapatkan bayaran yang cukup lumayan. Ia menyodorkan sebagian uang itu kepada Ayahnya.

“Ini, Yah,” kata Arya sambil tersenyum. “Untuk Ayah.”

Ayah menatap uang itu dengan mata berkaca-kaca. “Tidak perlu, Le. Kamu simpan saja untuk masa depanmu.”

“Ini juga untuk masa depan Ayah,” sanggah Arya lembut. “Ayah sudah bekerja keras selama ini. Sekarang saatnya Ayah sedikit beristirahat.”

Ayah menggenggam tangan Arya dengan erat. “Terima kasih, Le. Kamu memang anak yang berbakti.”

Arya tersenyum. Ia merasa bahagia bisa membahagiakan Ayahnya. Ia tahu, perjalanan mereka masih panjang. Akan ada banyak tantangan dan rintangan di depan sana. Namun, ia yakin, bersama Ayahnya, mereka bisa melewati semuanya.

Malam itu, sebelum tidur, Arya kembali melihat buku gambar lusuh milik Ayahnya. Ia membuka halaman yang berisi sketsa logo buatannya saat kecil. Ia tersenyum dalam hati. Ia menyadari, arah hidupnya mungkin tidak selalu lurus dan jelas. Ada belokan-belokan tak terduga, bahkan pengorbanan-pengorbanan yang tersembunyi. Namun, selama ada cinta dan dukungan dari orang-orang terdekat, terutama dari seorang ayah yang luar biasa, arah itu pasti akan membawa ke tempat yang lebih baik.

Arya memejamkan mata, mengingat pertanyaan yang pernah ia lontarkan kepada Ayahnya dulu: “Ayah, ini arahnya ke mana, ya?” Kini, ia tahu jawabannya. Arah hidupnya adalah ke mana pun cinta dan pengorbanan membawanya. Dan di setiap langkahnya, ia akan selalu mengingat sosok Ayah – pahlawan tanpa tanda jasa yang selalu menjadi kompas dalam hidupnya.

Lelah

 Lelah

Karya: Naira Hilmiyah 

Kelas: 9G 


Hujan turun membasahi bumi.

Aku mendongakkan Kapala ku,

untuk melihat langit - langit yang gelap.

Aku tersenyum lirih, saat mengingat 

banyak sekali hal yang sudah aku lewati

sejauh ini.


Namun nyatanya, aku malah terperangkap di 

antara banyaknya maslaah yang aku hadapi.

Ibarat kata, aku tengah berada di dalam 

lautan luas yang aku sendiri tidak tau bagaimana cara

keluar dan bahkan aku juga tidak tau dimana letak ujungnya.


Ya tuhan, sekuat itu kah diri ku?

Mengapa engkau memberikan aku ujian

yang seberat ini? Aku  benar-benar lelah ya tuhan.

Tolong, tolong peluk lah hamba mu ini walau hanya sebentar.


Ya tuhan, dimana letak kebahagiaan itu?

Aku benar-benar kehilangan arah, aku hanya ingin bahagia.

Aku hanyalah seorang gadis kecil yang terperangkap di tubuh ini.

Tolong, tolong berikan aku kebahagiaan itu untuk yang kesekian kalinya.


Ya tuhan, tolong, tolong bantu aku untuk berdiri.

Aku benar-benar binggung harus bagaimana.

Ya tuhan, apa hikmah dari semua ini? Tolong yakinkan aku jika aku

bisa melewati semua ini, tolong genggaman tangan ku dan peluklah hamba mu yang penuh dosa ini.

 

Aku berharap jika suatu saat nanti aku bisa menemukan kebahagiaan yang selalu aku ucapkan di setiap doa doaku.


Terimakasih sudah bertahan sejauh ini. I am proud of myself.

Cermin Luka yang Tak Kuinginkan

 Cermin Luka yang Tak Kuinginkan

Karya: Anisya

Kelas: 8H


   Gudang yang gelap, sunyi, dan tak terurus itu seolah menjadi rumah keduaku. Bukan karena aku menginginkannya, tapi karena Ibu selalu mengurungku di sana meskipun aku tidak melakukan kesalahan apa pun.


   "A-aku gak seperti itu, Bu," Seolah menulikan telinganya, ia malah menarik lenganku dan kembali mengunciku di gudang.


   Hiks..., hiks..., hiks...,


   Hanya isak tangisku yang menggema di ruangan pengap itu. Aku tak tahu kenapa Ibu membenciku. Apa salahku? Pertanyaan itu terus mengitari benakku dan tak pernah mendapat jawaban.


   Hingga pada akhirnya aku tumbuh bersama luka-luka yang ditorehkan oleh belahan jiwaku sendiri. Bahkan hanya mendengar suaranya, tubuhku langsung bergetar hebat. Telingaku refleks kututupi karena takut akan teriakan, makian, atau lemparan benda yang bisa datang kapan saja.


   "Nala! Apa yang kamu lakukan di sekolah, hah?" bentaknya,


   "Aku hanya membela diriku sendiri, Bu," jawabku pelan, seraya menahan tangis.


   "Alah! Itu juga kamu yang salah! Memang paling benar kalau kamu gak usah sekolah! Percuma sekolah kalau bisanya cuma ngelawan!"


 _Deg!_ 

   Hatiku serasa ditusuk ribuan pisau. Kenapa? Kenapa baginya aku selalu salah? Aku hanya mencoba bertahan, melindungi diriku dari para pembully yang tak segan-segan berlaku kasar. Apa itu salah?


   Pada suatu hari, aku nekat kabur dari rumah karena tak kuasa menahan luka yang terus-menerus tergores. Hingga akhirnya aku kalah, aku kembali lagi hanya karena tak tahu ke mana harus pergi. Tapi saat kutemukan Ibu tertidur di ruang tamu, kulihat satu album foto lama di tangannya yang terbuka. Di sana ada foto seorang laki-laki, dia adalah laki-laki yang tak sama sekali aku kenal. Anehnya, wajahnya sangat mirip denganku.


   "Apa itu, Ayah?" ucapku dengan bergetar,


   Aku pun mendengar suara Ibu mengigau lirih.


   "Kenapa harus wajah? Kenapa harus kamu yang lahir? Kalian sangat amat mirip,"


   Esok hari yg cerah, aku menatap Ibu dan memberanikan diri bertanya, 

   

   “Bu... kenapa Ibu membenciku?”


   Dia menatapku dengan mata merah. Untuk pertama kalinya, jawabannya keluar.


   "Karena kau terlalu mirip dia. Ayahmu. Laki-laki brengsek yang menghancurkan hidupku dengan perselingkuhannya... berkali-kali. Dan kau... kau hadir dengan wajah yang persis dengannya. Kau membuatku mengingat semua sakit itu lagi dan lagi."


   Aku tak bisa berkata apa-apa. Tubuhku seakan membeku.


   Ternyata, aku bukan anak yang dibenci karena salah. Tapi anak yang dibenci karena menjadi cermin dari masa lalu yang tak pernah bisa Ibu sembuhkan. Aku adalah luka berjalan, dalam bentuk daging dan darah.