Mading Digital

NESAMA

AYAH, INI ARAHNYA KE MANA, YA?

 AYAH, INI ARAHNYA KE MANA, YA?

By: Muhammad Fadhil Nurhikam

Kelas: 9K

Mentari pagi menyapa lembut dari balik jendela, menerobos celah tirai usang dan jatuh tepat di wajah Arya. Ia menggeliat kecil, merasakan sengatan hangat yang perlahan membuyarkan sisa kantuknya. Aroma kopi dan gorengan samar-samar menusuk hidungnya, pertanda Ayah sudah beraktivitas di dapur. Sebuah rutinitas yang selalu menenangkan bagi Arya, seperti melodi familiar yang mengawali setiap harinya.

Dengan malas, Arya bangkit dari ranjangnya yang sederhana. Kamar berukuran tiga kali tiga meter itu terasa pengap meski jendelanya terbuka sedikit. Poster-poster band rock lawas dan coretan-coretan lirik lagu memenuhi dindingnya, saksi bisu imajinasinya yang kerap melayang jauh di tengah keterbatasan ruang.

Langkah Arya tertuju ke dapur, tempat Ayah – lelaki paruh baya dengan rambut mulai menipis dan kerutan di sudut mata yang menyimpan segudang cerita – tengah sibuk di depan kompor. Aroma kopi hitam pekat bercampur dengan bau harum tempe mendoan yang baru diangkat.

“Pagi, Le,” sapa Ayah tanpa menoleh, suaranya serak khas bangun tidur. “Sudah bangun rupanya anak lanang.”

“Pagi, Yah,” jawab Arya sambil menguap. Ia menghampiri meja makan kecil di sudut dapur dan duduk di salah satu kursi kayu yang sudah sedikit goyang. Di atas meja, sepiring nasi goreng sederhana dan beberapa potong tempe mendoan hangat sudah tertata rapi.

Ayah meletakkan secangkir kopi di hadapan Arya, lalu duduk di kursi seberangnya. Keheningan singkat menyelimuti mereka, hanya dipecah oleh suara gemericik minyak di wajan dan desahan napas Ayah yang terdengar sedikit berat.

Arya memperhatikan Ayahnya lekat-lekat. Ada guratan lelah yang lebih dalam dari biasanya di wajah itu. Pundaknya tampak sedikit membungkuk, seolah memikul beban yang tak terlihat. Arya tahu, kehidupan sebagai buruh pabrik tekstil tidaklah mudah. Upah yang pas-pasan seringkali membuat Ayah harus memutar otak untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

“Yah?” panggil Arya pelan, memecah keheningan.

Ayah mendongak, alisnya sedikit terangkat. “Ada apa, Le?”

Arya menunduk, memainkan ujung sendoknya. “Aku… bingung, Yah.”

“Bingung kenapa?” tanya Ayah lembut, meletakkan kembali koran yang baru dibacanya.

“Soal kuliah,” jawab Arya lirih. “Pengumuman SBMPTN sebentar lagi. Aku… tidak yakin.”

Ayah menghela napas pelan. Ia meraih tangan Arya dan menggenggamnya erat. “Kamu sudah berusaha semaksimal mungkin, Le. Soal hasil, kita serahkan saja pada Yang di Atas.”

“Tapi, Yah…” Arya mengangkat wajahnya, menatap mata Ayahnya yang penuh kasih. “Kalau aku tidak diterima… lalu bagaimana?”

Ayah tersenyum tipis. “Lalu kita cari jalan lain. Hidup ini panjang, Le. Banyak jalan menuju Roma, bukan?”

Arya tahu Ayahnya berusaha menenangkannya, tetapi ia tetap merasa gamang. Impiannya untuk kuliah di jurusan desain grafis terasa semakin jauh. Ia sadar betul, biaya kuliah tidaklah sedikit. Penghasilan Ayah sebagai buruh pabrik едва cukup untuk kebutuhan sehari-hari.

“Aku tidak ingin membebani Ayah,” ucap Arya jujur.

“Kamu tidak pernah menjadi beban, Le,” sanggah Ayah dengan nada tegas namun lembut. “Kamu adalah semangat Ayah. Kamu adalah harapan Ibu.”

Ibu. Nama itu selalu menghadirkan kehangatan sekaligus kesedihan di hati Arya. Ibunya telah meninggal dunia tiga tahun lalu karena sakit. Kepergiannya meninggalkan luka yang mendalam bagi Arya dan Ayah. Sejak saat itu, mereka berdua menjadi lebih dekat, saling menguatkan dalam kesunyian rumah kontrakan mereka.

“Ibu pasti ingin aku kuliah,” gumam Arya pelan.

Ayah mengangguk. “Ibumu selalu percaya pada potensi kamu, Le. Dia selalu bilang, kamu punya bakat menggambar yang luar biasa.”

Arya tersenyum getir. Bakat menggambar. Dulu, ia selalu menghabiskan waktu luangnya untuk mencoret-coret kertas, menciptakan dunia fantasinya sendiri melalui garis dan warna. Namun, seiring berjalannya waktu, kesibukan sekolah dan keterbatasan biaya membuatnya semakin jarang menyentuh pensil dan kuas.

“Tapi, Yah… kuliah itu mahal,” ulang Arya, keraguan masih menggelayuti hatinya.

Ayah terdiam sejenak, pandangannya menerawang jauh. “Ayah akan berusaha sekuat tenaga, Le. Mungkin Ayah bisa menambah jam kerja, atau mencari pekerjaan sampingan.”

Arya merasa terenyuh mendengar ucapan Ayahnya. Ia tahu betul, Ayahnya sudah bekerja keras selama ini. Menambah beban lagi rasanya tidak adil.

“Jangan, Yah,” tolak Arya pelan. “Aku bisa mencari pekerjaan setelah lulus SMA. Mungkin aku bisa bekerja di percetakan atau studio desain.”

“Itu juga pilihan yang baik, Le,” sahut Ayah. “Yang penting kamu tidak patah semangat. Apapun jalan yang kamu pilih, Ayah akan selalu mendukungmu.”

Percakapan mereka terhenti saat suara ketukan pintu terdengar. Ayah beranjak membukakan pintu, dan seorang lelaki paruh baya dengan wajah ramah menyapa dari ambang pintu.

“Pagi, Pak Slamet,” sapa lelaki itu.

“Pagi, Pak Jono,” jawab Ayah. “Ada apa gerangan?”

“Ini, Pak Slamet,” Pak Jono menyodorkan sebuah amplop cokelat kepada Ayah. “Ada sedikit rezeki dari proyek kemarin. Kebetulan, Arya juga ikut membantu.”

Arya mengerutkan kening, merasa bingung. Proyek apa? Ia tidak ingat pernah membantu Pak Jono dalam proyek apapun. Pak Jono adalah tetangga mereka yang memiliki usaha kecil di bidang desain grafis.

Ayah menerima amplop itu dengan tatapan heran. Ia membuka amplop tersebut dan mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah. Matanya membulat terkejut.

“Ini… banyak sekali, Pak Jono,” ucap Ayah terbata-bata.

Pak Jono tersenyum lebar. “Tidak seberapa, Pak Slamet. Arya kemarin sempat membantu saya membuat beberapa desain logo. Hasilnya lumayan bagus. Saya pikir, sudah sepantasnya ia mendapatkan bagiannya.”

Arya terkejut. Kapan ia membantu Pak Jono membuat desain logo? Ia sama sekali tidak ingat.

“Maaf, Pak Jono,” Arya angkat bicara. “Sepertinya ada kekeliruan. Saya tidak pernah…”

“Lho, Arya,” sela Pak Jono sambil menatap Arya dengan tatapan penuh arti. “Kamu lupa? Waktu itu kamu datang ke rumah saya malam-malam, membawa beberapa sketsa desain. Kamu bilang, itu ide-ide untuk proyek saya.”

Arya mencoba mengingat-ingat. Ia memang sering menghabiskan waktu malamnya untuk menggambar, tetapi ia tidak pernah menunjukkan sketsanya kepada siapapun, apalagi Pak Jono.

Ayah menatap Arya dengan tatapan penuh tanya. Arya menggelengkan kepalanya, mencoba memberi isyarat bahwa ia tidak tahu apa-apa.

“Sudahlah, Pak Slamet,” kata Pak Jono sambil menepuk pundak Ayah. “Anggap saja ini rezeki nomplok. Siapa tahu bisa membantu Arya untuk biaya kuliah.”

Ayah masih terlihat bingung, tetapi ia akhirnya mengangguk pelan. “Terima kasih banyak, Pak Jono. Kami sangat berterima kasih.”

Setelah Pak Jono pergi, Ayah menatap Arya dengan tatapan menyelidik. “Le, apa benar kamu membantu Pak Jono?”

Arya menghela napas. Ia tahu ia harus mengatakan yang sebenarnya. “Tidak, Yah. Aku tidak pernah membantu Pak Jono.”

Ayah mengerutkan kening. “Lalu… kenapa Pak Jono bilang begitu?”

Arya terdiam sejenak, mencoba merangkai kata-kata yang tepat. Ia ingat betul, beberapa minggu yang lalu, ia menemukan beberapa sketsa desain logo di meja belajarnya. Sketsa-sketsa itu bukan miliknya. Ia sempat bertanya kepada Ayah, tetapi Ayah juga tidak tahu menahu.

“Yah,” Arya memulai dengan hati-hati. “Beberapa minggu yang lalu, aku menemukan beberapa sketsa desain di kamarku. Sketsa-sketsa itu… bukan buatanku.”

Ayah terkejut. “Lalu… milik siapa?”

Arya mengangkat bahunya. “Aku tidak tahu. Tapi… gayanya mirip dengan desain-desain Pak Jono.”

Ayah terdiam, mencoba mencerna ucapan Arya. Tiba-tiba, matanya membulat, seolah ada sesuatu yang baru saja terlintas di benaknya.

“Tunggu sebentar, Le,” ucap Ayah sambil beranjak dari duduknya. Ia berjalan menuju lemari pakaiannya yang usang dan membuka laci paling bawah. Ia mengeluarkan sebuah buku gambar yang sudah terlihat lusuh.

Ayah membuka buku gambar itu dengan hati-hati dan menunjukkan sebuah halaman kepada Arya. Di halaman itu, terdapat sebuah sketsa desain logo yang sangat familiar bagi Arya. Itu adalah salah satu desain logo yang Pak Jono tunjukkan padanya tadi.

“Ini…” Arya menunjuk sketsa itu dengan jari gemetar. “Ini kan… desain yang Pak Jono bilang buatanku?”

Ayah mengangguk pelan. “Ini… ini gambarmu waktu kamu masih kecil, Le. Kamu pasti lupa.”

Arya menggelengkan kepalanya kuat-kuat. “Tidak, Yah. Aku ingat betul semua gambar-gambarku. Aku tidak pernah menggambar logo seperti ini.”

Ayah terdiam lagi, raut wajahnya menunjukkan kebingungan yang mendalam. Ia membolak-balik halaman buku gambar itu, seolah mencari jawaban di antara coretan-coretan masa lalu.

“Tapi… kalau bukan kamu yang menggambar… lalu siapa?” gumam Ayah lebih kepada dirinya sendiri.

Tiba-tiba, Arya teringat sesuatu. Beberapa bulan yang lalu, ia pernah melihat Ayah diam-diam menggambar di ruang tamu saat malam sudah larut. Ketika Arya bertanya, Ayah hanya tersenyum dan mengatakan bahwa ia sedang mengisi waktu luang.

Arya menatap Ayahnya dengan tatapan penuh kecurigaan. “Yah… apa Ayah yang menggambar desain-desain itu?”

Ayah tersentak kaget. Ia menatap Arya dengan mata memelas. “Le… sebenarnya…”

Ayah menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan. “Ayah… Ayah ingin membantu kamu, Le. Ayah tahu kamu sangat ingin kuliah. Ayah tidak punya banyak uang, jadi… Ayah mencoba membantu Pak Jono membuat desain logo di waktu luang.”

Arya terkejut mendengar pengakuan Ayahnya. Ia tidak menyangka Ayahnya akan melakukan hal sejauh itu demi dirinya.

“Tapi, Yah… kenapa Ayah tidak bilang padaku?” tanya Arya dengan nada tercekat.

Ayah menunduk, merasa bersalah. “Ayah… Ayah malu, Le. Ayah tidak pandai menggambar. Ayah takut kamu kecewa.”

Arya menghampiri Ayahnya dan memeluknya erat. Air mata tiba-tiba mengalir di pipinya. Ia merasa terharu dengan pengorbanan Ayahnya.

“Ayah…” ucap Arya dengan suara bergetar. “Terima kasih, Yah. Terima kasih banyak.”

Ayah membalas pelukan Arya dengan erat. “Ayah hanya ingin kamu bahagia, Le. Itu saja.”

Keheningan kembali menyelimuti mereka, namun kali ini keheningan yang penuh haru dan kehangatan. Arya menyadari betapa besar cinta Ayahnya padanya. Ayahnya rela melakukan apapun demi mewujudkan impiannya, bahkan sesuatu yang di luar kemampuannya.

Beberapa hari kemudian, pengumuman SBMPTN tiba. Dengan jantung berdebar-debar, Arya membuka hasil pengumuman di layar komputernya. Matanya terpaku pada satu kalimat yang tertera di sana: “Selamat! Anda dinyatakan lulus seleksi masuk program studi Desain Grafis, Universitas Negeri Jakarta.”

Arya tidak bisa menahan pekikan kegembiraan. Ia berhasil! Ia diterima di jurusan impiannya. Ia segera berlari menghampiri Ayahnya yang sedang membaca koran di ruang tamu.

“Yah! Aku diterima! Aku diterima!” seru Arya sambil memeluk Ayahnya erat.

Ayah tersenyum lebar, matanya berkaca-kaca. “Ayah sudah menduganya, Le. Kamu memang anak pintar.”

Namun, di tengah kebahagiaan itu, Arya kembali teringat pada pengorbanan Ayahnya. Ia tahu, perjuangan mereka belum berakhir. Biaya kuliah pasti akan sangat besar.

“Yah…” Arya melepaskan pelukannya dan menatap Ayahnya dengan tatapan serius. “Soal biaya kuliah… bagaimana?”

Ayah menghela napas pelan. “Ayah masih punya sedikit tabungan. Uang dari Pak Jono juga lumayan. Kita akan berusaha semaksimal mungkin, Le. Kamu jangan khawatir.”

Arya menggelengkan kepalanya. “Tidak, Yah. Aku tidak ingin Ayah berjuang sendirian. Aku akan mencari beasiswa sambil kuliah. Aku juga akan mencari pekerjaan paruh waktu.”

Ayah menatap Arya dengan bangga. “Kamu memang anak Ayah yang hebat. Ayah percaya kamu bisa.”

Hari-hari berikutnya dipenuhi dengan persiapan kuliah. Arya sibuk mencari informasi tentang beasiswa dan lowongan kerja paruh waktu. Ayah juga semakin giat bekerja di pabrik. Mereka berdua saling mendukung dan menguatkan.

Saat Arya mulai kuliah, ia merasakan dunia baru yang penuh dengan tantangan dan peluang. Ia bersemangat belajar dan mengembangkan bakatnya. Ia juga berhasil mendapatkan beasiswa yang sedikit meringankan beban biaya kuliah. Selain itu, ia juga bekerja paruh waktu sebagai desainer lepas.

Waktu terus berjalan. Arya semakin mahir dalam bidang desain grafis. Ia mendapatkan banyak proyek dan penghasilannya pun semakin meningkat. Ia tidak pernah melupakan pengorbanan Ayahnya. Setiap bulan, ia selalu menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membantu Ayah.

Suatu malam, Arya duduk berdua dengan Ayahnya di ruang tamu sederhana mereka. Arya baru saja menyelesaikan sebuah proyek besar dan mendapatkan bayaran yang cukup lumayan. Ia menyodorkan sebagian uang itu kepada Ayahnya.

“Ini, Yah,” kata Arya sambil tersenyum. “Untuk Ayah.”

Ayah menatap uang itu dengan mata berkaca-kaca. “Tidak perlu, Le. Kamu simpan saja untuk masa depanmu.”

“Ini juga untuk masa depan Ayah,” sanggah Arya lembut. “Ayah sudah bekerja keras selama ini. Sekarang saatnya Ayah sedikit beristirahat.”

Ayah menggenggam tangan Arya dengan erat. “Terima kasih, Le. Kamu memang anak yang berbakti.”

Arya tersenyum. Ia merasa bahagia bisa membahagiakan Ayahnya. Ia tahu, perjalanan mereka masih panjang. Akan ada banyak tantangan dan rintangan di depan sana. Namun, ia yakin, bersama Ayahnya, mereka bisa melewati semuanya.

Malam itu, sebelum tidur, Arya kembali melihat buku gambar lusuh milik Ayahnya. Ia membuka halaman yang berisi sketsa logo buatannya saat kecil. Ia tersenyum dalam hati. Ia menyadari, arah hidupnya mungkin tidak selalu lurus dan jelas. Ada belokan-belokan tak terduga, bahkan pengorbanan-pengorbanan yang tersembunyi. Namun, selama ada cinta dan dukungan dari orang-orang terdekat, terutama dari seorang ayah yang luar biasa, arah itu pasti akan membawa ke tempat yang lebih baik.

Arya memejamkan mata, mengingat pertanyaan yang pernah ia lontarkan kepada Ayahnya dulu: “Ayah, ini arahnya ke mana, ya?” Kini, ia tahu jawabannya. Arah hidupnya adalah ke mana pun cinta dan pengorbanan membawanya. Dan di setiap langkahnya, ia akan selalu mengingat sosok Ayah – pahlawan tanpa tanda jasa yang selalu menjadi kompas dalam hidupnya.

0 Komentar:

Posting Komentar