Mading Digital

NESAMA

Cermin Luka yang Tak Kuinginkan

 Cermin Luka yang Tak Kuinginkan

Karya: Anisya

Kelas: 8H


   Gudang yang gelap, sunyi, dan tak terurus itu seolah menjadi rumah keduaku. Bukan karena aku menginginkannya, tapi karena Ibu selalu mengurungku di sana meskipun aku tidak melakukan kesalahan apa pun.


   "A-aku gak seperti itu, Bu," Seolah menulikan telinganya, ia malah menarik lenganku dan kembali mengunciku di gudang.


   Hiks..., hiks..., hiks...,


   Hanya isak tangisku yang menggema di ruangan pengap itu. Aku tak tahu kenapa Ibu membenciku. Apa salahku? Pertanyaan itu terus mengitari benakku dan tak pernah mendapat jawaban.


   Hingga pada akhirnya aku tumbuh bersama luka-luka yang ditorehkan oleh belahan jiwaku sendiri. Bahkan hanya mendengar suaranya, tubuhku langsung bergetar hebat. Telingaku refleks kututupi karena takut akan teriakan, makian, atau lemparan benda yang bisa datang kapan saja.


   "Nala! Apa yang kamu lakukan di sekolah, hah?" bentaknya,


   "Aku hanya membela diriku sendiri, Bu," jawabku pelan, seraya menahan tangis.


   "Alah! Itu juga kamu yang salah! Memang paling benar kalau kamu gak usah sekolah! Percuma sekolah kalau bisanya cuma ngelawan!"


 _Deg!_ 

   Hatiku serasa ditusuk ribuan pisau. Kenapa? Kenapa baginya aku selalu salah? Aku hanya mencoba bertahan, melindungi diriku dari para pembully yang tak segan-segan berlaku kasar. Apa itu salah?


   Pada suatu hari, aku nekat kabur dari rumah karena tak kuasa menahan luka yang terus-menerus tergores. Hingga akhirnya aku kalah, aku kembali lagi hanya karena tak tahu ke mana harus pergi. Tapi saat kutemukan Ibu tertidur di ruang tamu, kulihat satu album foto lama di tangannya yang terbuka. Di sana ada foto seorang laki-laki, dia adalah laki-laki yang tak sama sekali aku kenal. Anehnya, wajahnya sangat mirip denganku.


   "Apa itu, Ayah?" ucapku dengan bergetar,


   Aku pun mendengar suara Ibu mengigau lirih.


   "Kenapa harus wajah? Kenapa harus kamu yang lahir? Kalian sangat amat mirip,"


   Esok hari yg cerah, aku menatap Ibu dan memberanikan diri bertanya, 

   

   “Bu... kenapa Ibu membenciku?”


   Dia menatapku dengan mata merah. Untuk pertama kalinya, jawabannya keluar.


   "Karena kau terlalu mirip dia. Ayahmu. Laki-laki brengsek yang menghancurkan hidupku dengan perselingkuhannya... berkali-kali. Dan kau... kau hadir dengan wajah yang persis dengannya. Kau membuatku mengingat semua sakit itu lagi dan lagi."


   Aku tak bisa berkata apa-apa. Tubuhku seakan membeku.


   Ternyata, aku bukan anak yang dibenci karena salah. Tapi anak yang dibenci karena menjadi cermin dari masa lalu yang tak pernah bisa Ibu sembuhkan. Aku adalah luka berjalan, dalam bentuk daging dan darah.

0 Komentar:

Posting Komentar