Mading Digital

NESAMA
  • Sarana dan Prasarana

    Sarana dan Prasarana SMPN 1 Malangbong

  • Home

    Mading Digital SMPN 1 Malangbong

  • Informasi

    Info Grafis SMPN 1 Malangbong

  • Informasi

    Program Unggulan SMPN 1 Malangbong

The Allah Make Me Do It

 ​The Allah Make Me Do It


Karya: zahran 8c


​Dunia Raya adalah kehancuran yang bertubi-tubi. Ia mahasiswa hukum yang cerdas, namun dalam waktu singkat, ia kehilangan Ayahnya dan Kakak perempuannya, Laras. Kehilangan ini bukan hanya merenggut orang terkasih, tetapi juga jangkar spiritualnya. Raya merasa dikhianati oleh takdir, oleh Tuhannya sendiri.

​Ia memilih jalan terjauh dari imannya, meninggalkan salat dan nilai-nilai lama. Ia mencari pelarian yang ekstrem, hanya untuk terseret ke dalam kekacauan. Puncaknya, ia dituduh menyebabkan kematian seseorang saat mencoba melerai perkelahian.

​Di sel yang dingin, Raya diserang oleh bisikan kekufuran yang mencekik. Ia merasa seluruh kekuatan gelap di dunia bersatu untuk menekan dan menghakiminya. Setiap malam, ia berjuang melawan keinginan untuk menyerah total.

​Di luar, kasusnya disidangkan. Jaksa menggunakan masa lalu Raya yang kelam sebagai bukti karakternya yang buruk. Raya merasa tidak ada harapan.

​Namun, di tengah ketersesakan itu, sebuah Intervensi mulai bekerja.

​Pengacara umum Raya, Bu Ratna, menemukan kejanggalan dalam kasus ini. Bu Ratna, seorang wanita yang dikenal sangat logis, mulai merasa ada kekuatan asing yang mengarahkan penyelidikannya. Ia menemukan petunjuk yang datang secara misterius dan tepat waktu.

​Pertama, tanpa sengaja ia menemukan buku harian lama Laras yang berisi potongan ayat tentang kesabaran, yang juga menyebut nama seorang mantan ahli forensik digital. Kedua, ahli forensik digital itu, yang sudah pensiun dan hidup terisolasi, tiba-tiba merasa didatangi mimpi yang kuat yang membuatnya bersedia membantu kasus Raya. Pria itu berhasil memulihkan data dari CCTV yang sudah hancur total, menunjukkan bahwa Raya bertindak dalam kepanikan membela diri, bukan niat membunuh.

​"Ini gila, Raya," bisik Bu Ratna di ruang konsultasi. "Aku tidak percaya takhayul, tapi ada tangan tak terlihat yang bekerja. Ini seperti... seseorang ingin kau dibebaskan."

​Kalimat itu menampar Raya. Ia tersentak.

​Tangan tak terlihat.

​Ia menutup matanya dan akhirnya bersujud di atas lantai sel yang dingin. Saat itu, kebeningan Ilahi menembus jiwanya. Ia sadar, Allah tidak pernah meninggalkannya. Kematian Ayah dan Laras ternyata menjadi jalan untuk misi sosial besar yang Ayahnya persiapkan. Dan kasus hukum ini? Ini adalah benturan keras terakhir untuk menghentikan pelariannya menuju jurang.

​Semua kesulitan, semua kehilangan, semua petunjuk misterius yang menyelamatkannya di persidangan—semua adalah "The Allah Make Me Do It." Allah tidak membiarkannya binasa; Allah membuat serangkaian kejadian ekstrem untuk memaksanya kembali mencari Cahaya. Penjara dan kesakitan batin adalah proses pembersihan yang lebih cepat daripada jika ia dibiarkan bebas.

​Ketika Raya dinyatakan bebas dengan vonis bela diri, ia berjalan keluar dari gedung pengadilan dengan hati yang hancur namun tertambal oleh iman yang baru. Ia melihat ke langit, wajahnya dibasuh air mata syukur.

​"Aku mengerti," bisiknya pelan. "Ya Allah, terima kasih. Engkau membuatku melakukannya—membuatku kembali. Rencana-Mu memang lebih indah, karena ia menjamin kepulanganku."

​Raya tahu ia akan menggunakan hidupnya yang kedua ini sebagai seorang pembela keadilan, didorong oleh keyakinan bahwa di balik setiap kegelapan dan kehilangan, ada Rencana Ilahi yang sempurna yang selalu bekerja untuk menyelamatkan, bukan menghukum.


-TAMAT-

​Cahaya Terakhir di Kegelapan

 ​Cahaya Terakhir di Kegelapan


Karya: zahran 8c


​Angin malam itu selembut bisikan. Di halaman belakang rumah, kami tertawa. Aku, Kirana, dan Ibu. Ayah baru saja membawakan lampion kertas untuk kami. Kirana menatapku, senyumnya seperti kunang-kunang yang berpendar di tengah gelap. "Ayumi, tersenyumlah," bisiknya, "senyummu adalah hal terindah."

​Namun, di tengah tawa, kegelapan tiba-tiba merayap. Sebuah bayangan hitam, tinggi, dan mengerikan muncul dari balik pohon. Makhluk itu. Mata kami melebar, senyum di bibir kami membeku. Makhluk itu tak bersuara, hanya bergerak secepat kilat.

​Ayah muncul dari dalam rumah, tangannya mengayunkan pedang tua. Ia mencoba melawannya. Namun, pedang itu hanya menembus asap. Makhluk itu tak tersentuh. Ayah jatuh, tak bernapas.

​Ibu berteriak, air mata membanjiri wajahnya. Ia menarik tanganku, berusaha melindungiku. Tapi Kirana, kakakku, tak bisa diam. Ia melepaskan tanganku dan maju, mencoba mengalihkan perhatian makhluk itu. "Larilah, Ayumi!" teriaknya.

​Aku melihatnya. Aku melihat pedang yang ia pegang, mencoba melawan sesuatu yang tak bisa dilawan. Aku melihat darah membasahi bajunya, dan senyum terakhir yang ia paksa pertahankan di wajahnya. Makhluk itu mengayunkan cakar panjangnya, merobek tubuh Kirana. Kirana jatuh, dan cahaya kunang-kunang di matanya menghilang, berganti dengan kekosongan.

​Malam itu, dalam satu napas, aku kehilangan segalanya.

​Bukan rasa takut yang kurasakan. Tapi kemarahan yang membakar. Tangisku tak bersuara, tapi di hatiku, janji terukir: Aku akan membunuhmu. Makhluk yang membunuh keluargaku.

​Aku tidak memiliki kekuatan fisik seperti yang lain. Tubuhku kecil, dan pedang terasa terlalu berat. Tenagaku terlalu lemah untuk menebas kepala musuh. Tapi dendam adalah bahan bakar yang kuat. Aku belajar. Aku meracik racun. Aku mengubah kelemahan menjadi kekuatan, mengubah setiap gerakanku menjadi tarian maut yang menusuk tepat ke jantung musuh. Orang-orang lain bertarung dengan pedang, aku bertarung dengan akalku.

​Di tengah jalanku, aku bertemu Kiko, seorang adik angkat yang juga kehilangan segalanya. Aku melihat diriku di matanya yang kosong. Aku mengajaknya, memberinya harapan, dan menanamkan tekad di hatinya. Aku tahu, ia akan menjadi pedang yang menuntaskan dendamku.

​Pertarungan terakhir tiba. Makhluk bayangan itu menungguku. Aku menatap Kiko, wajahnya basah oleh air mata. Aku tersenyum, senyum terakhir yang akan kuberikan.

​Aku membiarkan makhluk itu merobek tubuhku. Racun yang telah kubangun selama bertahun-tahun kini mengalir ke dalam darahnya. Penderitaannya adalah kemenangan bagiku. Aku jatuh, tapi sebelum mataku terpejam, aku melihat Kiko. Ia mengayunkan pedangnya dengan sekuat tenaga, menuntaskan apa yang tidak bisa kulakukan.

​Kiko berhasil. Ia menang.

​Aku adalah kunang-kunang yang cahayanya dipadamkan. Aku tidak berjuang untuk hidup, tapi untuk mati dengan terhormat. Kematianku adalah bukti bahwa bahkan dari keputusasaan terdalam, bisa lahir kekuatan yang tak terkalahkan.

​Kisahku berakhir di sini. Namun, Kiko akan terus melangkah, membawa janji dan senyumku bersamanya. Dan itu sudah cukup bagiku.

​Ayumi.

_ _ _

​Bukan di medan perang, bukan di hadapan musuh terkuat, tapi di halaman rumah yang pernah hancur. Seorang gadis kecil kehilangan segalanya dalam satu malam.

​Dia tidak bawa pedang raksasa. Dia cuma bawa tubuh yang rapuh, senyum yang lembut, dan dendam yang tidak pernah padam. Orang-orang melihatnya tersenyum, seolah hidupnya ringan. Tapi di balik itu, ada tekad yang membakar.

​Tenaganya terlalu kecil, pedangnya terlalu tipis, tapi justru dari kelemahan itu, dia belajar meracik racun. Dia ubah setiap gerakannya jadi tarian, dia bikin kematian jadi terasa indah dan sunyi.

​Dia tidak pernah bilang dia kuat. Dia tahu dirinya rapuh, dia tahu tubuhnya terbatas, tapi justru itu yang bikin tekadnya jadi mutlak.

​Kalau orang lain bisa mengandalkan pedang, dia mengandalkan kecerdasannya. Dia bertarung dengan racun.

​Dia bukan cahaya terang, dia kunang-kunang di tengah gelap. Bukan benteng, tapi racun yang menusuk tepat ke inti.

​Dan itulah bukti kalau seorang pahlawan tidak selalu berdiri gagah. Kadang, pahlawan hadir dengan senyum paling lembut.


TAMAT

Menata Kembali Hidup

 Menata Kembali Hidup

Karya: Anisya Ramadhani

Kelas: 8H


   Berhari-hari Vio merasa dirinya kurang fokus dalam belajar. Entah dari segi manapun. Hanya raganya yang hadir, tapi tidak dengan hati dan pikirannya. Ia seperti hidup dalam kabut.


   "Kamu kenapa, Vio? Belakangan ini kamu kelihatan nggak fokus," tanya Qila, sahabat dekatnya.


   Vio terdiam, lalu bergumam dalam hati,


   "Iya juga, ya? Kenapa aku akhir-akhir ini nggak fokus sama sekali,"


   "Aku juga nggak tahu, Qil," jawab Vio,


   "Aku lihat kamu juga gampang capek. Ada yang kamu pikirin?" tanya Qila sekali lagi,


   "Nggak tahu," jawab Vio singkat,


   Bel istirahat berbunyi. Vio dan Qila langsung melipir ke kantin. Sesampainya di sana, mereka memesan makanan. Qila memilih sayur dan buah seperti biasanya. Sementara Vio mengambil semangkuk bakso super pedas, tanpa peduli perutnya yang sudah sering bermasalah.


   "Wah! Itu pedas banget, loh!" seru Qila,


   "Ah, ini mah nggak ada apa-apanya buat aku," sahut Vio santai,


   "Tapi itu nggak sehat, Vi. Kamu tuh harus jaga badan juga," ucap Qila mengingatkan,


   Tapi Vio tetap mengabaikannya dan mulai menyantap makanannya. Qila yang merasa diabaikan, hanya bisa menghela napas lalu fokus pada makanannya sendiri.



---


   Bel pulang berbunyi. Murid-murid berbondong-bondong meninggalkan sekolah. Vio merasa sangat lelah dan mengantuk. Badannya remuk, padahal jam olahraga hanya sebentar.


   Langit mulai gelap. Siang perlahan berganti malam. Vio yang seharusnya tidur justru sibuk bermain ponsel sambil tiduran. Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari, tapi ia tidak memedulikannya. Ia tak tidur semalaman, dan langsung berangkat ke sekolah.


   Saat pelajaran berlangsung, rasa kantuk menyerangnya hebat.


   "Vio! Apa-apaan kamu tidur di pelajaran saya? Keluar sekarang juga!" ucap Bu Lena dengan tegas.


   Vio tersentak dan meringis, lalu berjalan keluar kelas dengan lesu.


   Hari demi hari berlalu. Vio tetap sama. Tidak ada perubahan. Orang tuanya mulai kesal. Begitu juga Qila, yang hampir setiap hari menasihatinya. Tapi semua masuk telinga kiri, keluar telinga kanan.


   "Ini memang udah jalanku kali, Qil. Takdir aku kayak gini," ucap Vio suatu hari.


   Ucapan itu membuat Qila kecewa. Ia lelah. Ia pun berhenti mencoba, berhenti peduli.


---


   Beberapa hari setelahnya, saat di kantin..


    "Qila," panggil Vio dengan suara pelan,


    "Iya?" jawab Qila datar sambil menyuap makanannya,


    "Aku capek. Aku ingin berubah. Aku sadar… ini semua bukan takdir. Aku yang bikin semua ini jadi kebiasaan buruk,"


   Qila langsung menoleh, terkejut.


    "APA? Kamu serius, Vio?"


    "Iya, Qil. Tapi aku bingung harus mulai dari mana,"


   Qila tersenyum lega.


    "Kamu tinggal mulai dari Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat!" jawab Qila antusias.


    "Apa itu?" tanya Vio penasaran.


    "Yaitu bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur tepat waktu."


   Vio mengangguk ragu.


    "Tapi..., aku gak yakin bisa," ucap Vio,


    "Kamu pasti bisa! Aku percaya sama kamu. Yuk, mulai bareng-bareng!" ucap Qila sambil tersenyum.


   Hari itu, Vio pun berjanji untuk berubah. Ia mulai menerapkan tujuh kebiasaan itu dengan perlahan.



---


   Dua bulan berlalu...


   Fokusnya kembali. Semangatnya semakin menyala. Kebiasaan buruknya juga pelan-pelan mulai menghilang. Sekarang, ia menyadari bahwa perubahan itu nyata. Tujuh kebiasaan itu bukan hanya rutinitas, tapi fondasi yang penting untuk masa depan.


    “Aku sadar, kebiasaan baik bukan hanya membuatku sehat, tapi juga membuat hidupku lebih bermakna,” pikir Vio sambil tersenyum memandang langit pagi.

Karena Tembok Itu Terlalu Tinggi

 Karena Tembok Itu Terlalu Tinggi

Karya: zahran 

Kelas: 7f


Malam itu, langit mendung seolah tak ingin menampakkan sinarnya. Hujan pun mulai turun dengan pelan, membasahi jalanan kota kecil di pinggiran Jakarta yang sepi. Di sebuah sudut taman kota, di bawah pohon besar yang daunnya bergoyang lesu, iela dan Nathaniel duduk bersebelahan di bangku tua. Mereka pernah percaya bahwa hujan akan membawa kedamaian, namun malam ini, rintik hujan justru menghantam relung hati mereka yang rapuh.

iela, dengan jilbab melingkar anggun di kepalanya, menatap kosong ke arah genangan air di depan mereka. Di balik tatapan lembut itu, tersimpan luka yang tak kunjung sembuh—luka karena dua dunia yang terpisah oleh keyakinan, dan karena pilihan yang harus mereka ambil. Di sampingnya, Nathaniel memandangi langit yang remang, wajahnya menyimpan keputusasaan dalam hening yang mendalam.

"Kenapa ya, aku selalu merasa seolah ada sesuatu yang menghalangi kita, Niel?" tanya iela dengan suara pelan, hampir tersesat oleh suara hujan yang terus menetes.

Nathaniel menggenggam tangannya dengan erat, seolah mencoba menuliskan kata-kata agar tak segera hilang. "Aku pun sering bertanya pada diri sendiri. Tembok yang memisahkan kita bukan hanya sekadar perbedaan iman, tapi juga semua harapan yang pernah kita rajut bersama," jawabnya, air mata mulai menggenang di mata yang biasanya penuh semangat.

Mereka kemudian terdiam, seolah dunia berhenti berputar di sekeliling mereka. Dalam kesunyian itu, terbayang bayang kenangan masa lalu: tawa yang pernah mengisi hari-hari sederhana, canda yang terbang bersama angin, dan janji-janji yang dulu diucapkan di balik senyum. Kini, semua itu terasa bagai mimpi yang perlahan pudar.

iela menarik napas, mencoba menenangkan badai dalam hatinya. "Aku selalu berdoa, Niel. Berdoa agar Tuhan memberkati cinta ini, agar aku kuat menghadapi perpisahan yang mendekat. Tapi setiap kali aku berdoa, seakan ada bisikan halus yang bilang, 'Cinta kalian harus terpisah.'"

Nathaniel menggeleng perlahan. "Aku juga. Doa-doa itu tak hanya untuk menguatkan hati, tapi juga sebagai penyesalan karena kita harus hidup dalam dunia yang berbeda. Kadang aku merasa, meski cinta ini tulus, kita hanya bisa berharap pada keajaiban yang tak pernah datang."

Malam semakin larut. Hujan kian deras seolah ikut menambah kesedihan yang mereka rasakan. Di sela-sela rintik itu, mereka kembali teringat akan pertemuan pertama—di sebuah acara sosial untuk membantu korban bencana. Saat itulah, mereka merasa ada sinar yang mengusir kegelapan, meski hanya sekejap. Namun, jalan menuju kebahagiaan tersebut kini terhalang oleh tembok yang terlalu tinggi untuk dijinakkan bersama.

"Apakah kau masih ingat, saat kita pernah berbagi mimpi? Bahwa suatu hari, dunia akan mengerti, dan tak ada lagi perbedaan yang harus memisahkan kita?" bisik Nathaniel, seolah mencoba menggapai sisa-sisa keyakinan yang pernah ada.

iela menunduk, matanya menyimpan rintihan yang tak terdengar. "Aku ingat, dan aku ingin terus mengingatnya. Tapi kenyataan membuktikan bahwa kadang harapan itu harus digenggam sendiri, walaupun perih. Mungkin, cinta seperti kita memang hanya boleh terselip dalam kenangan yang penuh luka dan haru."

Dalam keheningan malam, kedua insan itu mengerti satu hal: meski mereka saling mencinta, takdir telah menetapkan jalan yang berbeda. Tembok perbedaan yang mereka bangun—atas dasar keyakinan, keluarga, dan tradisi—namun, meski tinggi dan berat, tak mampu menghapus jejak cinta yang pernah terukir. Ada harapan, kata mereka, meski harus berpisah secara fisik, cinta itu akan selalu hidup dalam doa dan kenangan.

Pada akhirnya, di bawah payung hujan dan sorot lampu temaram taman kota, mereka berpisah dengan pelukan yang mengandung janji—janji untuk terus mencintai meski dalam keheningan, untuk menyimpan sepotong harapan bahwa suatu hari, mungkin dunia akan membuka jalan bagi cinta yang dahulu terasa terlarang.




Penguntit Rahasia

 Penguntit Rahasia 

Karya: Dhia Silmi

Kelas: 8E

Aku adalah Zemora oranglain memanggilku Mora, aku murid baru di sekolah SMA ternama di tempat tinggalku sekarang dan aku menduduki bangku kelas 11. 

" Baik, anak-anak hari ini kita kedatangan murid baru silahkan masuk dan perkenalkan dirimu. " Ucap guru yang sedang mengajar di kelas baruku.

" Salam kenal semua, aku Zemora kalian bisa panggil aku Mora. " Ucapku sebari tersenyum tipis. 

    Semua murid langsung menatap ku, entah apa yang dibicarakan oleh mereka saat itu tapi, ada beberapa perempuan yang menyapaku. 

" Baik, terimakasih Mora silahkan duduk di sebelah meja Ethan ya. " Guru itu menunjuk kursi dan meja kosong di sebelah jendela. 

Tanpa menunggu waktu aku langsung duduk di kursi yang ditunjuk oleh guru itu dan jam pelajaran dimulai. Murid di sebelahku yang bernama Ethan, dia tampak sedikit berbeda aku merasa dia memperhatikanku tapi mungkin hanya sesaat memang sih, dari cara berpenampilannya sepertinya dia anak nakal aku kembali fokus pada pelajaran yang sedang berlangsung sampai waktu istirahat tiba beberapa perempuan datang pada mejaku. 

" Hai anak baru, kenalin aku Rara sebagai ketua kelas. " 

" Hai Mora, aku Viona sebagai sekretaris disini. " 

Mereka datang padaku sembari tersenyum, aku membalas senyum mereka. 

" Hai Rara, Viona, salam kenal juga. " Ucapku sembari tersenyum. 

Akhirnya mereka duduk di depanku dan berkata. 

" Eh kamu hati-hati ya sama Ethan. " Kata Rara.

" Iya, bener tuh jangan main-main sama dia. " Kata Viona. 

Aku bingung sebentar, kenapa mereka mengatakan hal itu? apa mungkin mereka tau isi pikiranku yang sebenarnya? 

" Memangnya dia kenapa?. " Tanyaku dengan sedikit ragu. 

Viona dan Rara menghela nafas seolah takut dan ragu untuk berkata yang sebenarnya. 

" Ya, pokonya dia anak nakal deh kamu kan murid baru cantik lagi saran kita berdua hati-hati kalo dia ada di dekat kamu ya. " Ucap Rara sembari menunjukan ketakutan di wajahnya. 

Aku hanya mengiyakan saja perkataan mereka, aku mengikuti pelajaran dengan aman dan damai sampai ketika bel pulang berbunyi aku berpamitan dengan teman-temanku yang baru tapi saat aku akan melangkah ke gerbang tiba-tiba Ethan muncul dari samping dan menyodorkan tangannya. 

" Salam kenal aku Ethan jangan dengerin kata mereka aku ga sejahat itu kok. " Ucap Ethan sembari tersenyum tipis. 

Aku merasa ada yang aneh tapi aku membalas dengan senyum dan berjabat tangan dengannya. 

" Aku Mora. " Singkatku. 

Entah mengapa Ethan tiba-tiba pergi begitu saja seperti sedang terburu-buru tapu aku menghiraukannya. Saat aku sampai di rumah ponselku memberikan notifikasi puluhan chat dari nomor yang tak di kenal. 

" Aih, siapa sih ini ganggu aja. " Malasku dan mengabaikannya. 

Aku melanjutkan aktivitas ku sehari-hari seperti biasanya memang tidak ada yang aneh, aku bertemu teman-temanku, bermain bersama, belajar bersama. 

Tapi, suatu malam ketika aku sedang tiduran di ranjangku dengan damai tiba-tiba nomor yang tidak di kenal mengirimkan pesan padaku. 

" Jangan mengabaikanku Mora, aku tidak sedang bermain-main denganmu. " Isi pesan itu. 

Aku belum ada rasa takut sama sekali mungkin itu hanya orang orang jahil saja pada nomorku. Sampai ketika dia mengirimkan sebuah foto saat aku buka fotonya ternyata itu fotoku yang sedang tiduran di ranjang detik itu juga. Aku terkejut dan mulai ada rasa takut aku mulai mencari dimana kamera kecil itu tapi, nomor itu mengirimkan pesan lagi padaku. 

" Kamera kecilku takkan bisa di temukan olehmu. " 

Seiring berjalannya waktu aku mulai tidak mempedulikannya lagi, meski sesekali nomor itu terus terusan mengirimkan foto pribadi ku dan mengirim pesan yang tidak jelas. 

Ketika aku sedang pulang sendirian di jalan yang gelap dan sunyi aku merasa ada seseorang yang mengikutiku. Aku terus mempercepat langkahku tapi anehnya langkah itu rasanya semakin dekat dengan diriku dan akhirnya aku memberanikan diri untuk melihat kebelakang, tapi di belakangku jelas tidak ada siapapun hanya ada pepohonan besar dan jalan yang sunyi aku memutuskan untuk lanjut jalan saja tapi tiba-tiba seseorang yang entah darimana asalnya menarikku kesamping.

Seseorang itu mengenakan pakaian serba hitam dan memakai topeng di wajahnya tapi, aku salah fokus ketika melihat salah satu tangannya memegang pisau tajam di tangannya aku bingung siapa dia? dan apa yang akan dia lakukan?. 

" S-siapa kamu?. " Ucapku dengan sedikit ragu dan takut. 

Seseorang itu tersenyum tapi terus menggenggam tanganku dengan erat seolah olah dia tidak akan membiarkanku untuk pergi. Tapi akhirnya dia membuka topengnya yang gelap betapa terkejutnya aku ketika melihat seseorang di balik topeng itu. 

" Ethan?. " Ucapku sembari takut. 

Ethan hanya tersenyum dia mengangkat tangan yang satunya yang memegangi pisau. 

" Tunggu! kamu mau ngapain?. " Aku berusaha menghindar. 

Ethan hanya tersenyum dan berkata. 

" Jangan kabur, aku cuma gasuka kalau kamu mengabaikanku terus. " Ucapnya dengan senyum jahat di wajahnya.

Aku semakin takut dan panik. 


" Ethan! maksudnya apa?." Tanyaku sembari gemetar. 


"Aku sudah bilang, banyak orang yang bilang aku berbahaya dan kamu mempercayainya? aku bakal bikin kamu tenang selamanya." 


Setelah Ethan mengatakan itu, mendadak suasana menjadi hening. dan kembali sunyi.