Penguntit Rahasia
Karya: Dhia Silmi
Kelas: 8E
Aku adalah Zemora oranglain memanggilku Mora, aku murid baru di sekolah SMA ternama di tempat tinggalku sekarang dan aku menduduki bangku kelas 11.
" Baik, anak-anak hari ini kita kedatangan murid baru silahkan masuk dan perkenalkan dirimu. " Ucap guru yang sedang mengajar di kelas baruku.
" Salam kenal semua, aku Zemora kalian bisa panggil aku Mora. " Ucapku sebari tersenyum tipis.
Semua murid langsung menatap ku, entah apa yang dibicarakan oleh mereka saat itu tapi, ada beberapa perempuan yang menyapaku.
" Baik, terimakasih Mora silahkan duduk di sebelah meja Ethan ya. " Guru itu menunjuk kursi dan meja kosong di sebelah jendela.
Tanpa menunggu waktu aku langsung duduk di kursi yang ditunjuk oleh guru itu dan jam pelajaran dimulai. Murid di sebelahku yang bernama Ethan, dia tampak sedikit berbeda aku merasa dia memperhatikanku tapi mungkin hanya sesaat memang sih, dari cara berpenampilannya sepertinya dia anak nakal aku kembali fokus pada pelajaran yang sedang berlangsung sampai waktu istirahat tiba beberapa perempuan datang pada mejaku.
" Hai anak baru, kenalin aku Rara sebagai ketua kelas. "
" Hai Mora, aku Viona sebagai sekretaris disini. "
Mereka datang padaku sembari tersenyum, aku membalas senyum mereka.
" Hai Rara, Viona, salam kenal juga. " Ucapku sembari tersenyum.
Akhirnya mereka duduk di depanku dan berkata.
" Eh kamu hati-hati ya sama Ethan. " Kata Rara.
" Iya, bener tuh jangan main-main sama dia. " Kata Viona.
Aku bingung sebentar, kenapa mereka mengatakan hal itu? apa mungkin mereka tau isi pikiranku yang sebenarnya?
" Memangnya dia kenapa?. " Tanyaku dengan sedikit ragu.
Viona dan Rara menghela nafas seolah takut dan ragu untuk berkata yang sebenarnya.
" Ya, pokonya dia anak nakal deh kamu kan murid baru cantik lagi saran kita berdua hati-hati kalo dia ada di dekat kamu ya. " Ucap Rara sembari menunjukan ketakutan di wajahnya.
Aku hanya mengiyakan saja perkataan mereka, aku mengikuti pelajaran dengan aman dan damai sampai ketika bel pulang berbunyi aku berpamitan dengan teman-temanku yang baru tapi saat aku akan melangkah ke gerbang tiba-tiba Ethan muncul dari samping dan menyodorkan tangannya.
" Salam kenal aku Ethan jangan dengerin kata mereka aku ga sejahat itu kok. " Ucap Ethan sembari tersenyum tipis.
Aku merasa ada yang aneh tapi aku membalas dengan senyum dan berjabat tangan dengannya.
" Aku Mora. " Singkatku.
Entah mengapa Ethan tiba-tiba pergi begitu saja seperti sedang terburu-buru tapu aku menghiraukannya. Saat aku sampai di rumah ponselku memberikan notifikasi puluhan chat dari nomor yang tak di kenal.
" Aih, siapa sih ini ganggu aja. " Malasku dan mengabaikannya.
Aku melanjutkan aktivitas ku sehari-hari seperti biasanya memang tidak ada yang aneh, aku bertemu teman-temanku, bermain bersama, belajar bersama.
Tapi, suatu malam ketika aku sedang tiduran di ranjangku dengan damai tiba-tiba nomor yang tidak di kenal mengirimkan pesan padaku.
" Jangan mengabaikanku Mora, aku tidak sedang bermain-main denganmu. " Isi pesan itu.
Aku belum ada rasa takut sama sekali mungkin itu hanya orang orang jahil saja pada nomorku. Sampai ketika dia mengirimkan sebuah foto saat aku buka fotonya ternyata itu fotoku yang sedang tiduran di ranjang detik itu juga. Aku terkejut dan mulai ada rasa takut aku mulai mencari dimana kamera kecil itu tapi, nomor itu mengirimkan pesan lagi padaku.
" Kamera kecilku takkan bisa di temukan olehmu. "
Seiring berjalannya waktu aku mulai tidak mempedulikannya lagi, meski sesekali nomor itu terus terusan mengirimkan foto pribadi ku dan mengirim pesan yang tidak jelas.
Ketika aku sedang pulang sendirian di jalan yang gelap dan sunyi aku merasa ada seseorang yang mengikutiku. Aku terus mempercepat langkahku tapi anehnya langkah itu rasanya semakin dekat dengan diriku dan akhirnya aku memberanikan diri untuk melihat kebelakang, tapi di belakangku jelas tidak ada siapapun hanya ada pepohonan besar dan jalan yang sunyi aku memutuskan untuk lanjut jalan saja tapi tiba-tiba seseorang yang entah darimana asalnya menarikku kesamping.
Seseorang itu mengenakan pakaian serba hitam dan memakai topeng di wajahnya tapi, aku salah fokus ketika melihat salah satu tangannya memegang pisau tajam di tangannya aku bingung siapa dia? dan apa yang akan dia lakukan?.
" S-siapa kamu?. " Ucapku dengan sedikit ragu dan takut.
Seseorang itu tersenyum tapi terus menggenggam tanganku dengan erat seolah olah dia tidak akan membiarkanku untuk pergi. Tapi akhirnya dia membuka topengnya yang gelap betapa terkejutnya aku ketika melihat seseorang di balik topeng itu.
" Ethan?. " Ucapku sembari takut.
Ethan hanya tersenyum dia mengangkat tangan yang satunya yang memegangi pisau.
" Tunggu! kamu mau ngapain?. " Aku berusaha menghindar.
Ethan hanya tersenyum dan berkata.
" Jangan kabur, aku cuma gasuka kalau kamu mengabaikanku terus. " Ucapnya dengan senyum jahat di wajahnya.
Aku semakin takut dan panik.
" Ethan! maksudnya apa?." Tanyaku sembari gemetar.
"Aku sudah bilang, banyak orang yang bilang aku berbahaya dan kamu mempercayainya? aku bakal bikin kamu tenang selamanya."
Setelah Ethan mengatakan itu, mendadak suasana menjadi hening. dan kembali sunyi.
0 Komentar:
Posting Komentar