Mading Digital

NESAMA
  • Sarana dan Prasarana

    Sarana dan Prasarana SMPN 1 Malangbong

  • Home

    Mading Digital SMPN 1 Malangbong

  • Informasi

    Info Grafis SMPN 1 Malangbong

  • Informasi

    Program Unggulan SMPN 1 Malangbong

Menata Kembali Hidup

 Menata Kembali Hidup

Karya: Anisya Ramadhani

Kelas: 8H


   Berhari-hari Vio merasa dirinya kurang fokus dalam belajar. Entah dari segi manapun. Hanya raganya yang hadir, tapi tidak dengan hati dan pikirannya. Ia seperti hidup dalam kabut.


   "Kamu kenapa, Vio? Belakangan ini kamu kelihatan nggak fokus," tanya Qila, sahabat dekatnya.


   Vio terdiam, lalu bergumam dalam hati,


   "Iya juga, ya? Kenapa aku akhir-akhir ini nggak fokus sama sekali,"


   "Aku juga nggak tahu, Qil," jawab Vio,


   "Aku lihat kamu juga gampang capek. Ada yang kamu pikirin?" tanya Qila sekali lagi,


   "Nggak tahu," jawab Vio singkat,


   Bel istirahat berbunyi. Vio dan Qila langsung melipir ke kantin. Sesampainya di sana, mereka memesan makanan. Qila memilih sayur dan buah seperti biasanya. Sementara Vio mengambil semangkuk bakso super pedas, tanpa peduli perutnya yang sudah sering bermasalah.


   "Wah! Itu pedas banget, loh!" seru Qila,


   "Ah, ini mah nggak ada apa-apanya buat aku," sahut Vio santai,


   "Tapi itu nggak sehat, Vi. Kamu tuh harus jaga badan juga," ucap Qila mengingatkan,


   Tapi Vio tetap mengabaikannya dan mulai menyantap makanannya. Qila yang merasa diabaikan, hanya bisa menghela napas lalu fokus pada makanannya sendiri.



---


   Bel pulang berbunyi. Murid-murid berbondong-bondong meninggalkan sekolah. Vio merasa sangat lelah dan mengantuk. Badannya remuk, padahal jam olahraga hanya sebentar.


   Langit mulai gelap. Siang perlahan berganti malam. Vio yang seharusnya tidur justru sibuk bermain ponsel sambil tiduran. Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari, tapi ia tidak memedulikannya. Ia tak tidur semalaman, dan langsung berangkat ke sekolah.


   Saat pelajaran berlangsung, rasa kantuk menyerangnya hebat.


   "Vio! Apa-apaan kamu tidur di pelajaran saya? Keluar sekarang juga!" ucap Bu Lena dengan tegas.


   Vio tersentak dan meringis, lalu berjalan keluar kelas dengan lesu.


   Hari demi hari berlalu. Vio tetap sama. Tidak ada perubahan. Orang tuanya mulai kesal. Begitu juga Qila, yang hampir setiap hari menasihatinya. Tapi semua masuk telinga kiri, keluar telinga kanan.


   "Ini memang udah jalanku kali, Qil. Takdir aku kayak gini," ucap Vio suatu hari.


   Ucapan itu membuat Qila kecewa. Ia lelah. Ia pun berhenti mencoba, berhenti peduli.


---


   Beberapa hari setelahnya, saat di kantin..


    "Qila," panggil Vio dengan suara pelan,


    "Iya?" jawab Qila datar sambil menyuap makanannya,


    "Aku capek. Aku ingin berubah. Aku sadar… ini semua bukan takdir. Aku yang bikin semua ini jadi kebiasaan buruk,"


   Qila langsung menoleh, terkejut.


    "APA? Kamu serius, Vio?"


    "Iya, Qil. Tapi aku bingung harus mulai dari mana,"


   Qila tersenyum lega.


    "Kamu tinggal mulai dari Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat!" jawab Qila antusias.


    "Apa itu?" tanya Vio penasaran.


    "Yaitu bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur tepat waktu."


   Vio mengangguk ragu.


    "Tapi..., aku gak yakin bisa," ucap Vio,


    "Kamu pasti bisa! Aku percaya sama kamu. Yuk, mulai bareng-bareng!" ucap Qila sambil tersenyum.


   Hari itu, Vio pun berjanji untuk berubah. Ia mulai menerapkan tujuh kebiasaan itu dengan perlahan.



---


   Dua bulan berlalu...


   Fokusnya kembali. Semangatnya semakin menyala. Kebiasaan buruknya juga pelan-pelan mulai menghilang. Sekarang, ia menyadari bahwa perubahan itu nyata. Tujuh kebiasaan itu bukan hanya rutinitas, tapi fondasi yang penting untuk masa depan.


    “Aku sadar, kebiasaan baik bukan hanya membuatku sehat, tapi juga membuat hidupku lebih bermakna,” pikir Vio sambil tersenyum memandang langit pagi.

Karena Tembok Itu Terlalu Tinggi

 Karena Tembok Itu Terlalu Tinggi

Karya: zahran 

Kelas: 7f


Malam itu, langit mendung seolah tak ingin menampakkan sinarnya. Hujan pun mulai turun dengan pelan, membasahi jalanan kota kecil di pinggiran Jakarta yang sepi. Di sebuah sudut taman kota, di bawah pohon besar yang daunnya bergoyang lesu, iela dan Nathaniel duduk bersebelahan di bangku tua. Mereka pernah percaya bahwa hujan akan membawa kedamaian, namun malam ini, rintik hujan justru menghantam relung hati mereka yang rapuh.

iela, dengan jilbab melingkar anggun di kepalanya, menatap kosong ke arah genangan air di depan mereka. Di balik tatapan lembut itu, tersimpan luka yang tak kunjung sembuh—luka karena dua dunia yang terpisah oleh keyakinan, dan karena pilihan yang harus mereka ambil. Di sampingnya, Nathaniel memandangi langit yang remang, wajahnya menyimpan keputusasaan dalam hening yang mendalam.

"Kenapa ya, aku selalu merasa seolah ada sesuatu yang menghalangi kita, Niel?" tanya iela dengan suara pelan, hampir tersesat oleh suara hujan yang terus menetes.

Nathaniel menggenggam tangannya dengan erat, seolah mencoba menuliskan kata-kata agar tak segera hilang. "Aku pun sering bertanya pada diri sendiri. Tembok yang memisahkan kita bukan hanya sekadar perbedaan iman, tapi juga semua harapan yang pernah kita rajut bersama," jawabnya, air mata mulai menggenang di mata yang biasanya penuh semangat.

Mereka kemudian terdiam, seolah dunia berhenti berputar di sekeliling mereka. Dalam kesunyian itu, terbayang bayang kenangan masa lalu: tawa yang pernah mengisi hari-hari sederhana, canda yang terbang bersama angin, dan janji-janji yang dulu diucapkan di balik senyum. Kini, semua itu terasa bagai mimpi yang perlahan pudar.

iela menarik napas, mencoba menenangkan badai dalam hatinya. "Aku selalu berdoa, Niel. Berdoa agar Tuhan memberkati cinta ini, agar aku kuat menghadapi perpisahan yang mendekat. Tapi setiap kali aku berdoa, seakan ada bisikan halus yang bilang, 'Cinta kalian harus terpisah.'"

Nathaniel menggeleng perlahan. "Aku juga. Doa-doa itu tak hanya untuk menguatkan hati, tapi juga sebagai penyesalan karena kita harus hidup dalam dunia yang berbeda. Kadang aku merasa, meski cinta ini tulus, kita hanya bisa berharap pada keajaiban yang tak pernah datang."

Malam semakin larut. Hujan kian deras seolah ikut menambah kesedihan yang mereka rasakan. Di sela-sela rintik itu, mereka kembali teringat akan pertemuan pertama—di sebuah acara sosial untuk membantu korban bencana. Saat itulah, mereka merasa ada sinar yang mengusir kegelapan, meski hanya sekejap. Namun, jalan menuju kebahagiaan tersebut kini terhalang oleh tembok yang terlalu tinggi untuk dijinakkan bersama.

"Apakah kau masih ingat, saat kita pernah berbagi mimpi? Bahwa suatu hari, dunia akan mengerti, dan tak ada lagi perbedaan yang harus memisahkan kita?" bisik Nathaniel, seolah mencoba menggapai sisa-sisa keyakinan yang pernah ada.

iela menunduk, matanya menyimpan rintihan yang tak terdengar. "Aku ingat, dan aku ingin terus mengingatnya. Tapi kenyataan membuktikan bahwa kadang harapan itu harus digenggam sendiri, walaupun perih. Mungkin, cinta seperti kita memang hanya boleh terselip dalam kenangan yang penuh luka dan haru."

Dalam keheningan malam, kedua insan itu mengerti satu hal: meski mereka saling mencinta, takdir telah menetapkan jalan yang berbeda. Tembok perbedaan yang mereka bangun—atas dasar keyakinan, keluarga, dan tradisi—namun, meski tinggi dan berat, tak mampu menghapus jejak cinta yang pernah terukir. Ada harapan, kata mereka, meski harus berpisah secara fisik, cinta itu akan selalu hidup dalam doa dan kenangan.

Pada akhirnya, di bawah payung hujan dan sorot lampu temaram taman kota, mereka berpisah dengan pelukan yang mengandung janji—janji untuk terus mencintai meski dalam keheningan, untuk menyimpan sepotong harapan bahwa suatu hari, mungkin dunia akan membuka jalan bagi cinta yang dahulu terasa terlarang.




Penguntit Rahasia

 Penguntit Rahasia 

Karya: Dhia Silmi

Kelas: 8E

Aku adalah Zemora oranglain memanggilku Mora, aku murid baru di sekolah SMA ternama di tempat tinggalku sekarang dan aku menduduki bangku kelas 11. 

" Baik, anak-anak hari ini kita kedatangan murid baru silahkan masuk dan perkenalkan dirimu. " Ucap guru yang sedang mengajar di kelas baruku.

" Salam kenal semua, aku Zemora kalian bisa panggil aku Mora. " Ucapku sebari tersenyum tipis. 

    Semua murid langsung menatap ku, entah apa yang dibicarakan oleh mereka saat itu tapi, ada beberapa perempuan yang menyapaku. 

" Baik, terimakasih Mora silahkan duduk di sebelah meja Ethan ya. " Guru itu menunjuk kursi dan meja kosong di sebelah jendela. 

Tanpa menunggu waktu aku langsung duduk di kursi yang ditunjuk oleh guru itu dan jam pelajaran dimulai. Murid di sebelahku yang bernama Ethan, dia tampak sedikit berbeda aku merasa dia memperhatikanku tapi mungkin hanya sesaat memang sih, dari cara berpenampilannya sepertinya dia anak nakal aku kembali fokus pada pelajaran yang sedang berlangsung sampai waktu istirahat tiba beberapa perempuan datang pada mejaku. 

" Hai anak baru, kenalin aku Rara sebagai ketua kelas. " 

" Hai Mora, aku Viona sebagai sekretaris disini. " 

Mereka datang padaku sembari tersenyum, aku membalas senyum mereka. 

" Hai Rara, Viona, salam kenal juga. " Ucapku sembari tersenyum. 

Akhirnya mereka duduk di depanku dan berkata. 

" Eh kamu hati-hati ya sama Ethan. " Kata Rara.

" Iya, bener tuh jangan main-main sama dia. " Kata Viona. 

Aku bingung sebentar, kenapa mereka mengatakan hal itu? apa mungkin mereka tau isi pikiranku yang sebenarnya? 

" Memangnya dia kenapa?. " Tanyaku dengan sedikit ragu. 

Viona dan Rara menghela nafas seolah takut dan ragu untuk berkata yang sebenarnya. 

" Ya, pokonya dia anak nakal deh kamu kan murid baru cantik lagi saran kita berdua hati-hati kalo dia ada di dekat kamu ya. " Ucap Rara sembari menunjukan ketakutan di wajahnya. 

Aku hanya mengiyakan saja perkataan mereka, aku mengikuti pelajaran dengan aman dan damai sampai ketika bel pulang berbunyi aku berpamitan dengan teman-temanku yang baru tapi saat aku akan melangkah ke gerbang tiba-tiba Ethan muncul dari samping dan menyodorkan tangannya. 

" Salam kenal aku Ethan jangan dengerin kata mereka aku ga sejahat itu kok. " Ucap Ethan sembari tersenyum tipis. 

Aku merasa ada yang aneh tapi aku membalas dengan senyum dan berjabat tangan dengannya. 

" Aku Mora. " Singkatku. 

Entah mengapa Ethan tiba-tiba pergi begitu saja seperti sedang terburu-buru tapu aku menghiraukannya. Saat aku sampai di rumah ponselku memberikan notifikasi puluhan chat dari nomor yang tak di kenal. 

" Aih, siapa sih ini ganggu aja. " Malasku dan mengabaikannya. 

Aku melanjutkan aktivitas ku sehari-hari seperti biasanya memang tidak ada yang aneh, aku bertemu teman-temanku, bermain bersama, belajar bersama. 

Tapi, suatu malam ketika aku sedang tiduran di ranjangku dengan damai tiba-tiba nomor yang tidak di kenal mengirimkan pesan padaku. 

" Jangan mengabaikanku Mora, aku tidak sedang bermain-main denganmu. " Isi pesan itu. 

Aku belum ada rasa takut sama sekali mungkin itu hanya orang orang jahil saja pada nomorku. Sampai ketika dia mengirimkan sebuah foto saat aku buka fotonya ternyata itu fotoku yang sedang tiduran di ranjang detik itu juga. Aku terkejut dan mulai ada rasa takut aku mulai mencari dimana kamera kecil itu tapi, nomor itu mengirimkan pesan lagi padaku. 

" Kamera kecilku takkan bisa di temukan olehmu. " 

Seiring berjalannya waktu aku mulai tidak mempedulikannya lagi, meski sesekali nomor itu terus terusan mengirimkan foto pribadi ku dan mengirim pesan yang tidak jelas. 

Ketika aku sedang pulang sendirian di jalan yang gelap dan sunyi aku merasa ada seseorang yang mengikutiku. Aku terus mempercepat langkahku tapi anehnya langkah itu rasanya semakin dekat dengan diriku dan akhirnya aku memberanikan diri untuk melihat kebelakang, tapi di belakangku jelas tidak ada siapapun hanya ada pepohonan besar dan jalan yang sunyi aku memutuskan untuk lanjut jalan saja tapi tiba-tiba seseorang yang entah darimana asalnya menarikku kesamping.

Seseorang itu mengenakan pakaian serba hitam dan memakai topeng di wajahnya tapi, aku salah fokus ketika melihat salah satu tangannya memegang pisau tajam di tangannya aku bingung siapa dia? dan apa yang akan dia lakukan?. 

" S-siapa kamu?. " Ucapku dengan sedikit ragu dan takut. 

Seseorang itu tersenyum tapi terus menggenggam tanganku dengan erat seolah olah dia tidak akan membiarkanku untuk pergi. Tapi akhirnya dia membuka topengnya yang gelap betapa terkejutnya aku ketika melihat seseorang di balik topeng itu. 

" Ethan?. " Ucapku sembari takut. 

Ethan hanya tersenyum dia mengangkat tangan yang satunya yang memegangi pisau. 

" Tunggu! kamu mau ngapain?. " Aku berusaha menghindar. 

Ethan hanya tersenyum dan berkata. 

" Jangan kabur, aku cuma gasuka kalau kamu mengabaikanku terus. " Ucapnya dengan senyum jahat di wajahnya.

Aku semakin takut dan panik. 


" Ethan! maksudnya apa?." Tanyaku sembari gemetar. 


"Aku sudah bilang, banyak orang yang bilang aku berbahaya dan kamu mempercayainya? aku bakal bikin kamu tenang selamanya." 


Setelah Ethan mengatakan itu, mendadak suasana menjadi hening. dan kembali sunyi.