Mading Digital

NESAMA
  • Sarana dan Prasarana

    Sarana dan Prasarana SMPN 1 Malangbong

  • Home

    Mading Digital SMPN 1 Malangbong

  • Informasi

    Info Grafis SMPN 1 Malangbong

  • Informasi

    Program Unggulan SMPN 1 Malangbong

Our Memories

 Our Memories

Karya: Naira Hilmiyah 

Kealas: 9G 

Gerbang hitam itu terbuka lebar. Dengan hati yang berdebar-debar, aku memberanikan diriku untuk melangkahkan kakiku memasuki kawasan nesama. Sekolah menengah pertama yang menjadi sekolah ter favorit di kotaku. Dengan ratusan bahkan ribuan siswa dan siswi yang selalu meramaikan keheningan di sekolah ini. Fasilitas sekolah yang lengkap dan pendidikannya yang terjamin bahkan dengan lingkungannya yang positif membuat siapa pun yang berada di dalamnya merasa nyaman dan bangga.

Saat ini siswa dan siswi nesama kelas 9, tengah di sibukan oleh syuting bersama untuk menyambut kelulusan mereka. 

Tepatnya di hari kamis tanggal 20 Febuari 2025, para siswa dan siswi kelas 9 mengunakan seragam biru putih serta membawa baju hitam dengan kerudung berwarna hitam. 

"PENGUMUMAN KEPADA SELURUH SISWA DAN SISWI KELAS 9 MOHON SEGERA MENUJU KELAPANGAN UPACARA."

Mendengar pengumuman tersebut para siswa dan siswi segera menuju ke lapangan upacara.

Di saat aku memasuki lapangan upacara itu, entah mengapa ada perasaan tidak rela. Rasanya seperti ingin selalu berada di sekolah ini.

"Nai, ini beneran kita bakalan lulus? Nesama terlalu indah untuk kita tinggalkan."

Ucap salah satu teman ku sambil terus memandang deretan kursi yang sudah tersusun rapih di sana.

Pandanganku pun tak luput dari deretan kursi itu, membayangkan betapa hancurnya perasaan siswa dan siswi ketika harus berpisah dengan guru' hebat yang ada di sini.

Baru saja aku mendudukkan diriku di tepi lapangan, tiba' bapa kepala sekolah memberikan instruksi kepada seluruh siswa kelas 9 untuk berkumpul sesuai dengan kelasnya masing-masing.

Setelah memberikan pengumuman yang begitu penting, para siswa dan siswi di arahkan untuk membuat lingkaran. Di saat semua orang tengah asik dengan dunia mereka sendiri. Aku malah salfok dengan senyuman bapa dan ibu guru yang terukir indah di wajahnya, seketika hati ini berpikir apakah setelah kelulusan ini aku masih bisa melihat senyuman itu? Atau justru malah sebaliknya.

Tanpa aku sadari drone sudah berada di atas sana dengan lagu perpisahan yang sudah di putar. Seketika air mata ini luruh membasahi pipi. Terdengar suara Isak tangis dari kedua telinga ku.

Perasaan senang dan sedih menyelimuti seluruh siswa dan siswi kelas 9 di hari itu. 

" Kenangan kita akan tersimpan jelas di sini, suka dan duka kita lalui bersama di sini. Di masa putih biru ini, kita sudah banyak sekali menemukan kebahagiaan yang belum pernah kita temui di mana pun itu. Bersama nesama kita bahagia, bersama nesama juga kita berjaya."

Monologku sambil terus menatap drone yang berputar-putar di atas sana. Namun, suasana sedih itu berganti dengan gelak tawa dari para siswa yang menertawakan drone yang jatuh itu.

Singkat cerita, para siswa dan siswi sudah duduk di atas sana sesuai dengan posisi yang sudah di tentukan. 

Di mulai dari Poto bersama sampai membuat konten bersama, semuanya kita lalui dengan perasaan senang. 

Hingga terdengar suara sirine damkar, semua siswa dan siswi bersorak bahagia saat mendengar sirine damkar tersebut. 

"Woyy damkar datang!!! "

"HOREEEE!!!!!"

Sorak siswa dan siswi itu dengan begitu antusias. Huft.... Rasanya senang sekali saat melihat semua orang bahagia dan menikmati momen yang langka seperti ini. 

Dulu, aku hanya bisa melihat para siswa dan siswi kelas 9 yang tengah asik mempersiapkan perpisahannya, namun siapa sangka jika kini aku berada di posisi itu. 

Satu persatu para siswa dan siswi mulai turun dengan hati-hati. Kini para siswa sudah membuat lingkaran di tengah-tengah lapangan dengan menggunakan kaos hitam beserta kerudung hitam yang menutupi kepalanya. Genggam tangan mereka menjadi saksi bisu betapa bahagianya mereka bisa berada di momen ini.

Lagu perpisahan mulai di putar dan drone sudah berada di atas sana mengelilingi para siswa dan siswi nesama yang tengah asik menikmati alunan musik sambil menari kecil dan merangkul pundak satu sama lain.

Huftt.... Membuat kenangannya saja sudah sesakit ini, apalagi nanti saat hari kelulusan? Rasanya benar-benar mimpi bisa berada di fase terbaik di masa biru putih ini. Namun, apakah kami kuat melewati hari-hari kami tanpa dukungan serta partisipasi dari guru-guru hebat yang ada di sini? Membayangkannya saja sudah sesakit ini, harapan kami kedepannya bisa menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa serta bisa menyinarkan nesama agar semakin bersinar.

Kini firehose sudah mengeluarkan airnya yang siap untuk membasahi ratusan siswa dan siswi kelas 9. Kini suara gelak tawa dan kehebohan para siswa memenuhi lapangan di siang hari itu. Terlihat jika bapa dan ibu guru mengulum senyumnya. "Bahagia" hanya kata itu yang saat itu bisa aku ucapkan, entah harus dengan cara apa aku bisa berterima kasih kepada bapa dan ibu guru yang sudah sabar dalam mendidik dan mengajarkan kami ilmu-ilmu yang sangat berguna.

" Aku berharap kita semua bisa terus berbahagia, dimana pun dan bagaimana pun keadaannya. Hopefully we can meet again in a happier phase"

Empty

 Empty

Karya: Naira Hilmiyah 

Kelas: 9G 


" Iii maaa Eva beneran mau terawih kok."

Rengek ku dengan kedua tangan memeluk satu sajadah dan mukena. Mamah pun menghembuskan nafasnga gusar.

"Ck!! Yaudah sana, awas aja kalo kamu main petasan di jalan."

Ucapnya yang membuatku menggembangkan senyuman penuh kemenangan. Setelah berpamitan aku segera berlari ke jalanan untuk menemui teman-teman ku.

"Heii!!! Eva!! Ayooo kita main petasan."

Teriak Cahya sambil melambaikan tangannya. Dengan cepat aku berlari menghampirinya dan berbisik.

"Jangan kenceng-kenceng ngomongnya nanti kedengaran sama mama aku."

Mendengar itu Cahya segera menutup mulutnya menggunakan telapak tangannya.

"Yaudah ayoo kita beli petasan dulu, yang lain udah pada nunggu soalnya."

"Nunggu di mana mereka?"

"Di lapang depan rumah pa Endin."

Mendengar ucapan Cahya aku hanya mengganggukan kepalaku. 

Setelah membeli banyak petasan dan korek api. Aku dan Cahya segera menuju ke lapangan untuk bertemu dengan teman-teman yang lain.

Di sana sudah banyak sekali anak-anak yang tengah asik bermain dengan mainan yang mereka bawa.

"Eva, Cahya!!! Sini!!!"

Panggil putri sambil melambaikan tangannya ke arah aku dan Cahya. Dengan cepat aku dan Cahya segera menghampiri putri yang tengah berkumpul dengan tiga anak laki-laki.

"Eh, ada Alden, Hiro sama Rafi juga ternyata."

Sapaku pada mereka.

"Iya pasti lahhh!!! Aku ga mau ketinggalan satu pun momen di bulan ramadhan ini."

Ucap Hiro sambil merebut korek api yang ada di tanganku.

"Iii Hiro!!! Itu punya aku!!!!"

Pyurrrr

Bledug

"AAAAAAAAA, HIRO!!!!!"

pekik semua anak-anak yang ada di sana, saat Hiro menyalakan Beberapa petasan.

"Hehe, kaget kah?"

Tanyanya dengan wajah polos. Melihat Hiro yang tidak merasa bersalah sedikitpun. Aku, Cahya dan putri segera menyalakan tiga petasan sekaligus.

"Alden, Rafi pegangin di Hiro. Kita mau balas dendam!!"

Ucap putri sambil melemparkan tiga buah petasan itu ke arah Hiro.

"Huaaaa!! Lepasinnn!!! MAMA!!!"

PYURRR

BLEDUG

"MAMAA!!!!"

Teriak Hiro yang ketakutan setengah mampus. Semua orang tertawa terbahak-bahak saat melihat Hiro yang kencing di celana.

Menyadari hal itu, Hiro hanya bisa menutupi wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.

"Hahaha, Hiro pipis di celana huuuh."

Sorak anak-anak di lapangan itu sambil menertawakan hiro yang tengah menahan malu.

Byurrr

"PERGI KALIAN!!! BRISIK TAU GA!!"

Bentak pa Endin  sambil menyiramkan satu ember air ke arah anak-anak itu. Melihat pa endin yang mengamuk. Semua anak-anak itu langsung berlarian meninggalkan lapangan itu.

"Hos hos hos, duh cape banget."

Ucapku dengan nafas yang memburu. Begitupun dengan ke lima teman-temanku.

"Iya nih cape banget. Nyebelin banget sih pa Endin itu!!"

Kesal putri sambil memeras bajunya yang basah.

"Eh kalian ada yang cium bau aneh ga?"

Tanya Rafi sambil terus mengendus-endus. Melihat Rafi yang seperti itu, aku dan teman-teman ku yang lainya langsung mengikuti kelakuan Rafi.

"Lah iya anjir bau Pesing!!"

Ucap Alden sambil menutup lubang hidungnya menggunakan kerah bajunya.

"Huek!! Baunya kuat banget!!"

Pekik Cahya dan putri sambil menahan nafasnya. Sedangkan Hiro hanya bisa terdiam sambil tersenyum tipis. Menyadari hal itu, aku dan ke empat temanku yang lainnya langsung menatap ke arah Hiro dengan tatapan yang cukup tajam.

"Susu Hiro!! Kata gue mending lu ganti celana dulu deh. BAU PESING TAU GA!!"

Ucap Rafi yang membuat Hiro terkekeh.

"ehe, emang sebau itu yah? Btw aku juga cepirit tau."

Ucapnya tanpa rasa malu. Mendengar pengakuan dari Hiro aku dan temanku yang lain langsung melepaskan salah satu sendal yang kami gunakan dan melemparkannya ke arah Hiro.

"PANTES BAU CONGE!!!"

Pekik teman-teman ku dengan wajah yang memerah.

"KABURR!!!"

Pekik Hiro sambil berlari menghindari amukan dari teman-temannya.

"Sini Lo, gue pecel!!!"

"Gue jadiii ayam goreng lu Hiro!!"

Pekik anak-anak itu sambil berlari mengejar Hiro.

Flashback off 

Air mataku mengalir deras membasahi pipi, senyuman manis itu terukir indah di wajahku. Memori-memori dulu terus berputar-putar di dalam ingatan ku. Canda dan tawa terus memenuhi isi kepalaku.

Kenangan di masa itu, benar-benar sangat berharga. Rasanya aku ingin kembali ke masa itu, masa di mana semua anak-anak menghabiskan waktunya dengan bermain. 

"Di tahun ini, vibes ramadhannya ga terasa yah? Bahkan jalanan yang awalnya ramai dengan gelak tawa dari anak-anak kini hanya mengeluarkan suara jangkrik yang memenuhi suasana di setiap malam. Anak-anak di zaman sekarang sudah mulai fokus dengan handphone miliknya, suara petasan pun kini sudah tak lagi terdengar. "

Monologku sambil terus memandangi jalananan yang sepi itu.

Rintikan hujan terus membasahi bumi, seolah-olah ikut merasakan kesedihan yang aku rasakan. 

Sesampainya di masjid, aku segera menggelarkam sejadah milikku. Suasana kali ini terasa begitu hampa. Entah mengapa ramadhan di tahun ini rasanya begitu sangat berbeda.  Entah ini hanya perasaanku saja atau memang kenyataannya seperti ini.

"Semoga di ramadhan yang akan datang vibesnya jauh lebih terasa dari tahun ini. I really miss those memories."

Laut dan Kenangan

 Laut dan Kenangan



Karya: Dhia Silmi
Kelas: 8E


Laut, mengapa kamu begitu indah? suara ombak yang damai, hembusan angin yang merdu, dan senja yang cantik seperti dirinya. Aku hampir setiap minggu datang ke laut, hanya untuk menghilangkan rindu. Aku bersimpuh di bibir pantai, membiarkan pasir menyentuh jemariku, sembari menikmati keindahanmu.

Aku menyimpan banyak kenangan bersamamu. Dulu, aku tak pernah datang sendiri. Selalu ada seseorang di sampingku, seseorang yang begitu spesial bagiku.

"Wah, angin laut selalu segar ya! boleh fotoin aku di sana?." Katanya riang.

Aku tersenyum.

"Kamu minta apapun bakal aku kasih."

Haha, mengingatnya lagi terasa begitu menggemaskan. Aku ingin masa itu terulang. Aku ingin dia di sini, tertawa bersamaku. Tapi aku tahu, itu tidak akan terjadi. Karena dirinya,  sudah hilang, ditelan semesta.

Aku menyayanginya, tapi mungkin semesta lebih menyayanginya. Jika memang tak bisa bersama selamanya, setidaknya aku berterima kasih karena semesta pernah mempertemukan kami walau hanya sebentar.

— Cintaku hanya abadi untukmu, Kanaya.

Misteri Dibalik Hilangnya Ibuku

 Misteri Dibalik Hilangnya Ibuku


Karya: Naira Hilmiyah 

Kelas: 9G 



Jalanan gelap menemani diriku. Gelapnya malam di hari ini cukup membuat hatiku terpuruk. Dengan langkah kecil aku terus berjalan menyelusuri germelap di malam ini. 

Samar-samar aku mendengar suara seorang anak kecil dari jalanan yang ada di depan sana. Dengan rasa penasaran yang membara, aku pun berlari untuk menemukan sumber suara tersebut. 



Langkah kaki ini berhenti saat mendengar suara seorang wanita paruh baya yang memanggilku.


" Gadis kecil!! Jangan kesana."

Ucap wanita paruh baya itu. Aku mengerutkan kening ku, binggung akan perkataan dari wanita paruh baya itu.



" Pergi dari sini gadis kecil !!"


"Tapi nek, aku ga tau jalan pulangnyaa."

Ucapku sambil mendekatkan diriku pada nenek tua itu.


"Lantas mengapa kamu bisa berada di sini, Rena!!"

Terdengar jika nada suara dari nenek tua itu meninggi. Aku terdiam selama beberapa saat, belum akhirnya aku memberanikan diriku untuk memberitahukan tujuan ku ke sini.


"A-aku, aku sedang mencari seorang gadis yang telah membunuh ibuku."

Ucapku dengan raut wajah penuh dengan kesedihan. Nenek tua itu membelai lembut rambutku dan menggenggam jemari tangan ku.


"Kalo begitu mari ikut nenek, ini sudah malam."

Ucapnya yang ku balas anggukan. 




Selang beberapa menit akhirnya aku sampai di rumah nenek tua itu. Tak ku sangka jika nenek tua ini memiliki rumah mewah di tengah hutan seperti ini.


"Nek? Ini beneran rumah Nenek?"

Tanyaku memastikan, terlihat jika nenek tua itu mengukir senyuman manisnya. 


"Iya cu, ini rumah nenek."

Aku tersenyum saat nenek tua itu mempersilahkan aku untuk masuk ke dalam rumahnya.


Suasana sepi itu mengiringi setiap ruangan yang ada di dalam rumah nenek tua ini.



"Cuu, kalo kamu mau tidur kamu bisa tidur di dalam kamar ini yah?"

Aku menganggukkan kepalaku dan masuk ke dalam salah satu kamar yang cukup besar.



Suara pintu kamar tertutup. Pandanganku menatap rinci setiap penjuru kamar ini. Mataku terpaku saat melihat sebuah buku tua yang tersimpan rapih di atas lemari tua itu.


Dengan susah payah aku mengambil buku tua itu. Rasa penasaran terus melanda diriku, hingga pada akhirnya aku memberanikan diri untuk membaca setiap hal yang tertulis di dalam buku tersebut.


***


Tepatnya di pukul 00:00 malam, aku masuk kedalam kamar nenek tua itu. 


"Ngapain kamu di sini cu?"

Tanya nenek tua itu yang membuatku bergejolak kaget. Aku tersenyum tipis saat melihat nenek tua itu mendekat ke arahku.



Brak


"Aww, APA APAAN KAMU!!"

Bentak nenek tua itu saat aku membanting tubuh nenek tua itu ke lantai. Tanpa menjawab pertanyaan dari nenek tua itu, aku tersenyum sambil menampilkan satu buku tua yang aku temukan di malam tadi.


Nenek tua itu membelototkan matanya, saat melihat buku tua itu berada di tanganku.


"K-kenapa buku itu bisa ada di kamu? S-siapa kamu sebenarnya!!"



"Aku? Aku adalah anak dari wanita yang pernah kamu bunuh!!"



Flashback on 



Di saat aku tengah asik membaca buku tua itu, aku di kejutkan oleh beberapa lembar Poto yang tercantum jelas di sana. Dimana Poto tersebut menampilkan seorang wanita cantik yang tengah asik berbincang bersama nenek tua itu.


Lalu di gambar selanjutnya, terlihat jika nenek tua itu tengah berusaha untuk membunuh wanita cantik itu yang ternyata ia adalah ibuku. 


Amarahku semakin memuncak saat melihat nenek tua itu yang tengah tertawa puas melihat ibuku yang sudah tak bernyawa. 



" SELANJUTNYA ANAKMU LAH YANG AKAN MENJADI KORBAN KU, KIRANTI."


Tulisan itu lah yang terpampang jelas di bawah Poto itu. 



Flashback off 



"Hahaha, ternyata kamu adalah anak dari wanita kupu-kupu itu. Siap-siap saja kamu akan menjadi korbanku selanjutnya."

Ucap nenek tua itu sambil menampilkan sorot mata tajam penuh dendam.


Srettt



"Ga semudah itu, nenek tua!!"

Ucapku sambil menggoreskan satu sayatan di pipi wanita tua bangka itu.



"ARGH!! SAMPAI KAPAN PUN AKU GA BAKALAN BIARIN KELUARGA KALIAN LEPAS BEGITU SAJA!! KAMU HARUS MATI DI TANGANKU!!"


Aku berjalan mendekat ke arahnya dan mengcengkram kuat rahangnya.


"Apa salah ibuku sampai-sampai kamu tega melakukan ini semua!!"

Ucapku sambil terus mencekram erat rahang nenek tua itu.


"Karna wanita itu yang pandai dalam memfitnah seseorang, aku harus merasakan bagaimana rasanya di siksa dan di usir oleh satu kampung!! Ibumu bukan wanita baik-baik cu!! Dia ga pantas hidup!!!"



Dor



"KAMU GA PANTES BUAT HINA IBU AKU!!"

Bentak ku sambil melepaskan satu peluru yang langsung menembus wajahnya. 


"K-kamu akan menyesal cu."

Tekan nenek tua itu sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.



BRUG



"Awww"

Ringisku saat ada seseorang wanita yang memukul kepala ku dari belakang. Aku mengalihkan pandangan ku untuk bisa lihat siapa wanita yang ada di belakang ku.



"Hai anakku, terima kasih karna sudah membantu ibumu untuk membunuh wanita tua bangka ini. Berkat mu akhirnya ibu bisa terus berkeliaran di dunia ini. Ternyata kamu bodo Rena, kamu telah menghabisi seseorang yang tidak berdosa itu. Haha tapi aku bahagia akan hal ini."

 Ucap ibuku sambil tersenyum licik dan melemparkan beberapa benda tajam yang mengenai tubuhku.


"Aww, apa yang ibu lakukan? Bagaimana bisa ibu hidup kembali?"



"Haha, aku tidak pernah mati, Rena. Jiwaku hanya terkurung di dalam tubuh wanita tua bangka itu. Oh ya, yang wanita tua bangka itu katakan semuanya benar, aku bukan orang baik Rena. HAHAHA"


Seluruh tubuhku membiru saat melihat ibuku mengeluarkan beberapa ramuan berwarna biru itu dan nyembur kannya kedalam tubuhku. Lama kelamaan aku kehilangan kesadaranku dan kini aku udah pergi dari dunia ini.



Ternyata penjahat yang selama ini aku cari-cari adalah ibuku sendiri. Ia yang selama ini membuat kericuhan dan kegaduhan di kampung itu.



Setelah kematian Rena, kampung tersebut kembali menjadi sunyi dan damai. Namun, ada sesuatu yang berbeda. Ibu Rena, yang telah membunuh banyak orang, tidak pernah ditemukan lagi. Beberapa orang mengatakan bahwa dia telah melarikan diri ke tempat yang jauh, sementara yang lain mengatakan bahwa dia telah mati bersama dengan Rena.


Tahun-tahun berlalu, dan kampung tersebut kembali menjadi tempat yang indah dan damai. Namun, ada satu hal yang tidak pernah berubah. Cerita tentang Rena dan ibunya masih hidup di hati masyarakat kampung tersebut. Cerita tentang cinta, kebencian, dan pengorbanan.


Dan di tengah-tengah kampung tersebut, ada sebuah makam yang sederhana namun indah. Makam itu adalah makam Rena, anak yang telah mati untuk membela kampungnya. Di atas makam itu, terdapat sebuah prasasti yang bertuliskan:


"Rena, Semoga cintamu dan pengorbananmu tidak pernah dilupakan."

RAMADAN PERTAMA TANPA ABI

 RAMADAN PERTAMA TANPA ABI

By : Muhammad Fadhil Nurhikam

Kelas: 9K

Desember kelabu menyelimuti Jakarta. Hujan deras mengguyur kota, seolah ikut merasakan duka tiga bersaudara itu. Abu, Ari, dan Zaky duduk berdekatan di ruang keluarga, mata mereka terpaku pada foto Abi yang tersenyum hangat. Tepat di malam pergantian tahun, 31 Desember 2024, Abi mereka berpulang untuk selamanya.

"Ini Ramadan pertama tanpa Abi," bisik Abu, si sulung, suaranya tercekat. Ari, anak tengah, hanya mengangguk pelan, sementara Zaky, si bungsu, menunduk dalam, air matanya menetes tanpa bisa ditahan.

Kepergian Abi meninggalkan luka yang menganga, terutama bagi Zaky yang masih duduk di bangku SMP. Abi adalah pahlawan bagi mereka, sosok yang selalu ada di setiap langkah, memberikan semangat dan perlindungan. Kini, semua itu tinggal kenangan yang menyakitkan.

"Ingat, Umi selalu bilang, kita harus kuat," ucap Ari, berusaha tegar. Ia teringat pesan Umi yang telah lebih dulu berpulang enam tahun lalu. "Kita harus saling menjaga, seperti Abi dan Umi menjaga kita."

Ramadan kali ini terasa sangat berbeda. Tak ada lagi suara Abi yang membangunkan mereka untuk sahur, tak ada lagi canda tawa saat berbuka. Biasanya, Abi selalu mengajak mereka salat tarawih berjamaah di masjid dekat rumah. Kini, semua itu hanya bayangan yang berputar di kepala mereka.

"Kita harus tetap menjalankan Ramadan dengan sebaik-baiknya," kata Abu, berusaha menyemangati adik-adiknya. "Ini pasti berat, tapi kita tidak sendiri. Allah selalu bersama kita."

Malam pertama Ramadan, mereka bertiga salat tarawih di masjid. Suasana masjid yang ramai biasanya terasa menyenangkan, kini terasa sunyi dan hampa. Mereka merindukan kehadiran Abi di samping mereka, merindukan senyum teduh dan nasihat bijaknya.

Usai salat, mereka berziarah ke makam Abi dan Umi. Di sana, mereka berdoa, memohon ampunan dan rahmat bagi kedua orang tua mereka. Zaky tak kuasa menahan tangis, ia merindukan pelukan hangat Umi, senyum teduh Abi.

"Abi, Umi, kami merindukan kalian," bisiknya di antara isak tangis.

Sepanjang Ramadan, mereka berusaha mengisi hari-hari dengan kegiatan positif. Mereka membantu tetangga yang membutuhkan, berbagi takjil di masjid, dan membaca Al-Qur'an bersama. Mereka ingin membuat Abi dan Umi bangga di sana.

Di malam Lailatul Qadar, mereka bertiga bermunajat di kamar, memohon ampunan dan petunjuk dari Allah. Mereka berjanji akan menjaga amanah Abi dan Umi, untuk selalu rukun dan saling menyayangi.

Hari raya Idulfitri tiba. Mereka bertiga mengenakan baju baru, pemberian dari kerabat. Mereka saling bermaaf-maafan, berusaha memaafkan segala kesalahan.

"Ini Idulfitri pertama tanpa Abi," kata Abu, matanya berkaca-kaca. "Tapi kita harus tetap bersyukur, karena kita masih memiliki satu sama lain."

Mereka bertiga berziarah ke makam Abi dan Umi, lalu berkumpul bersama keluarga besar. Meski tanpa kehadiran orang tua, mereka tetap merasakan kehangatan dan kasih sayang dari keluarga.

Ramadan kali ini mengajarkan mereka tentang arti kehilangan, kesabaran, dan ketegaran. Mereka belajar bahwa hidup terus berjalan, dan mereka harus tetap kuat menghadapinya.

"Abi dan Umi selalu ada di hati kita," kata Aru, menatap kedua adiknya. "Kita akan selalu menjaga kenangan indah bersama mereka."

Mereka bertiga berpelukan, saling menguatkan. Mereka tahu, meski tanpa Abi dan Umi, mereka tidak sendiri. Mereka memiliki satu sama lain, dan mereka memiliki Allah yang selalu menyayangi mereka.

Enam tahun berlalu sejak kepergian Umi, dan kini Abi menyusulnya. Meski waktu telah berlalu, rindu mereka tak pernah padam. Kenangan tentang Umi dan Abi selalu hadir dalam setiap langkah mereka.

Abu, Ari, dan Zaky telah tumbuh menjadi pemuda yang mandiri dan bertanggung jawab. Mereka berusaha mewujudkan impian Abi dan Umi, untuk menjadi anak-anak yang saleh dan sukses.

Setiap Ramadan, mereka selalu mengenang kebersamaan mereka bersama Abi dan Umi. Mereka ingat bagaimana Umi selalu menyiapkan hidangan sahur dan berbuka yang lezat, bagaimana Abi selalu mengajak mereka salat tarawih berjamaah, dan bagaimana mereka selalu berkumpul bersama keluarga besar di hari raya Idulfitri.

"Umi selalu mengajarkan kita untuk selalu bersyukur dan berbagi," kata Abu, mengenang Umi.

"Abi selalu mengajarkan kita untuk selalu jujur dan bertanggung jawab," timpal Ari, mengenang Abi.

"Aku merindukan pelukan hangat Umi dan nasihat bijak Abi," kata Zaky, matanya berkaca-kaca.

Meski rindu, mereka tidak larut dalam kesedihan. Mereka berusaha mengisi hari-hari mereka dengan kegiatan positif, seperti yang diajarkan Abi dan Umi. Mereka aktif dalam kegiatan sosial, membantu sesama yang membutuhkan, dan menjaga silaturahmi dengan keluarga dan teman-teman.

Setiap malam, mereka selalu berdoa untuk Abi dan Umi, memohon ampunan dan rahmat bagi mereka. Mereka yakin, Abi dan Umi selalu mengawasi mereka dari sana, dan mereka ingin membuat Abi dan Umi bangga.

Ramadan kali ini, mereka bertekad untuk menjalankan ibadah puasa dengan sebaik-baiknya. Mereka ingin merasakan keberkahan Ramadan, seperti yang selalu diajarkan Abi dan Umi.

"Kita harus menjaga amanah Abi dan Umi," kata Abu, menyemangati adik-adiknya. "Kita harus menjadi anak-anak yang saleh dan sukses, seperti yang mereka harapkan."

Ari dan Zaky mengangguk setuju. Mereka berjanji akan selalu menjaga amanah Abi dan Umi, dan mereka akan selalu menyayangi satu sama lain.

"Kita akan selalu bersama, seperti Abi dan Umi selalu bersama," kata Zaky, tersenyum.

Mereka bertiga berpelukan, saling menguatkan. Mereka tahu, meski tanpa Abi dan Umi, mereka tidak sendiri. Mereka memiliki satu sama lain, dan mereka memiliki Allah yang selalu menyayangi mereka.