Mading Digital

NESAMA

Our Memories

 Our Memories

Karya: Naira Hilmiyah 

Kealas: 9G 

Gerbang hitam itu terbuka lebar. Dengan hati yang berdebar-debar, aku memberanikan diriku untuk melangkahkan kakiku memasuki kawasan nesama. Sekolah menengah pertama yang menjadi sekolah ter favorit di kotaku. Dengan ratusan bahkan ribuan siswa dan siswi yang selalu meramaikan keheningan di sekolah ini. Fasilitas sekolah yang lengkap dan pendidikannya yang terjamin bahkan dengan lingkungannya yang positif membuat siapa pun yang berada di dalamnya merasa nyaman dan bangga.

Saat ini siswa dan siswi nesama kelas 9, tengah di sibukan oleh syuting bersama untuk menyambut kelulusan mereka. 

Tepatnya di hari kamis tanggal 20 Febuari 2025, para siswa dan siswi kelas 9 mengunakan seragam biru putih serta membawa baju hitam dengan kerudung berwarna hitam. 

"PENGUMUMAN KEPADA SELURUH SISWA DAN SISWI KELAS 9 MOHON SEGERA MENUJU KELAPANGAN UPACARA."

Mendengar pengumuman tersebut para siswa dan siswi segera menuju ke lapangan upacara.

Di saat aku memasuki lapangan upacara itu, entah mengapa ada perasaan tidak rela. Rasanya seperti ingin selalu berada di sekolah ini.

"Nai, ini beneran kita bakalan lulus? Nesama terlalu indah untuk kita tinggalkan."

Ucap salah satu teman ku sambil terus memandang deretan kursi yang sudah tersusun rapih di sana.

Pandanganku pun tak luput dari deretan kursi itu, membayangkan betapa hancurnya perasaan siswa dan siswi ketika harus berpisah dengan guru' hebat yang ada di sini.

Baru saja aku mendudukkan diriku di tepi lapangan, tiba' bapa kepala sekolah memberikan instruksi kepada seluruh siswa kelas 9 untuk berkumpul sesuai dengan kelasnya masing-masing.

Setelah memberikan pengumuman yang begitu penting, para siswa dan siswi di arahkan untuk membuat lingkaran. Di saat semua orang tengah asik dengan dunia mereka sendiri. Aku malah salfok dengan senyuman bapa dan ibu guru yang terukir indah di wajahnya, seketika hati ini berpikir apakah setelah kelulusan ini aku masih bisa melihat senyuman itu? Atau justru malah sebaliknya.

Tanpa aku sadari drone sudah berada di atas sana dengan lagu perpisahan yang sudah di putar. Seketika air mata ini luruh membasahi pipi. Terdengar suara Isak tangis dari kedua telinga ku.

Perasaan senang dan sedih menyelimuti seluruh siswa dan siswi kelas 9 di hari itu. 

" Kenangan kita akan tersimpan jelas di sini, suka dan duka kita lalui bersama di sini. Di masa putih biru ini, kita sudah banyak sekali menemukan kebahagiaan yang belum pernah kita temui di mana pun itu. Bersama nesama kita bahagia, bersama nesama juga kita berjaya."

Monologku sambil terus menatap drone yang berputar-putar di atas sana. Namun, suasana sedih itu berganti dengan gelak tawa dari para siswa yang menertawakan drone yang jatuh itu.

Singkat cerita, para siswa dan siswi sudah duduk di atas sana sesuai dengan posisi yang sudah di tentukan. 

Di mulai dari Poto bersama sampai membuat konten bersama, semuanya kita lalui dengan perasaan senang. 

Hingga terdengar suara sirine damkar, semua siswa dan siswi bersorak bahagia saat mendengar sirine damkar tersebut. 

"Woyy damkar datang!!! "

"HOREEEE!!!!!"

Sorak siswa dan siswi itu dengan begitu antusias. Huft.... Rasanya senang sekali saat melihat semua orang bahagia dan menikmati momen yang langka seperti ini. 

Dulu, aku hanya bisa melihat para siswa dan siswi kelas 9 yang tengah asik mempersiapkan perpisahannya, namun siapa sangka jika kini aku berada di posisi itu. 

Satu persatu para siswa dan siswi mulai turun dengan hati-hati. Kini para siswa sudah membuat lingkaran di tengah-tengah lapangan dengan menggunakan kaos hitam beserta kerudung hitam yang menutupi kepalanya. Genggam tangan mereka menjadi saksi bisu betapa bahagianya mereka bisa berada di momen ini.

Lagu perpisahan mulai di putar dan drone sudah berada di atas sana mengelilingi para siswa dan siswi nesama yang tengah asik menikmati alunan musik sambil menari kecil dan merangkul pundak satu sama lain.

Huftt.... Membuat kenangannya saja sudah sesakit ini, apalagi nanti saat hari kelulusan? Rasanya benar-benar mimpi bisa berada di fase terbaik di masa biru putih ini. Namun, apakah kami kuat melewati hari-hari kami tanpa dukungan serta partisipasi dari guru-guru hebat yang ada di sini? Membayangkannya saja sudah sesakit ini, harapan kami kedepannya bisa menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa serta bisa menyinarkan nesama agar semakin bersinar.

Kini firehose sudah mengeluarkan airnya yang siap untuk membasahi ratusan siswa dan siswi kelas 9. Kini suara gelak tawa dan kehebohan para siswa memenuhi lapangan di siang hari itu. Terlihat jika bapa dan ibu guru mengulum senyumnya. "Bahagia" hanya kata itu yang saat itu bisa aku ucapkan, entah harus dengan cara apa aku bisa berterima kasih kepada bapa dan ibu guru yang sudah sabar dalam mendidik dan mengajarkan kami ilmu-ilmu yang sangat berguna.

" Aku berharap kita semua bisa terus berbahagia, dimana pun dan bagaimana pun keadaannya. Hopefully we can meet again in a happier phase"

0 Komentar:

Posting Komentar