Mading Digital

NESAMA

Meja makan

 Meja makan

Karya: Dhia Silmi

Kelas: 8E


Pagi hari, rumah terasa sepi ayah dan ibu pergi bekerja hanya ada temanku yang menginap sejak 2 hari yang lalu. 


Aku terbangun dan memerintahkan temanku. Yusuf untuk pergi ke ruang makan.


"Yusuf, jangan lupa cuci muka dulu ya baru ke meja makan." Ucapku sambil berjalan mempersiapkan sarapan. 


Yusuf tak menjawab apapun, ia hanya mengangguk lalu pergi ke kamar mandi dengan tatapan kosongnya. Aku hanya berfikir mungkin dia sedang sakit? Dan mungkin ia sedang tidak ingin bicara padaku? Baiklah, itu bukan masalah besar bagiku aku sebagai teman harus menghargainya.


Aku kembali mempersiapkan makanan untuk sarapan, tapi hawa kali ini berbeda sangat suram dan mencekam padahal cuaca diluar sedang bagus. Akhirnya Yusuf datang ke meja makan lalu duduk, tatapannya sama masih tetap kosong dan wajahnya pucat. 


"Yusuf? Kamu gakpapa?." Tanyaku dengan sedikit khawatir.


"Aku gakpapa kok Reza." Jawabnya dengan suara serak. 


Aku hanya bisa kebingungan dan memaklumi hal itu mungkin dia hanya tidak ingin berbicara pada siapapun hari ini akhirnya kami makan bersama tapi tiba tiba handphone ku memberikan notif telfon panggilan dari temanku, namanya Ari. 


Karena merasa ini penting jadi aku pergi mendekati kompor dapur agar percakapan ku tidak terlalu didengar oleh Yusuf. 


"Yusuf, sebentar ya." Ucapku lalu pergi menjauh sedikit. 


"Kenapa Ari? ada apa?." Tanyaku dengan penasaran. 


"Reza, tolong Reza ini gawatt ini gawatt." Suara temanku Ari dengan gelisah. 


"Apasih? Gawat kenapa Ari? Yang jelas dong." Rasa penasaran mulai muncul di otakku. 


"Yusuf, Yusuf meninggal 2 hari yang lalu dia bunuh diri." Ucap Ari dengan terburu-buru. 


Tiba-tiba suasana semakin mencekam, hawa disekitar semakin merinding apa yang dikatakan Ari itu benar?. 


"Tunggu! Ari! Kamu jangan bercanda jelas jelas Yusuf ada disini dari 2 hari yang lalu dia nginep dirumah aku sejak 2 hari yang lalu." Ucapku dengan tegas tapi ada rasa takut. 


"Gawat, gawat itu bukan Yusuf itu mungkin hantu." Suara temanku Ari dengan ketakutan. 


Karna aku kurang percaya aku berbalik arah melihat kearah Yusuf yang sedang duduk, lalu aku membungkuk sedikit melihat kakinya dan ternyata benar kakinya tidak menyentuh lantai sama sekali. Suasana semakin merinding dan mencekam bagaimana ini? Apa yang harus ku lakukan? Apa aku harus lari? Atau diam saja? Akupun berbalik arah dan mematikan telfon dari temanku. 


Tiba-tiba saja Yusuf menepuk pundakku dan berkata. 


"Jadi, kamu udah tau semuanya?."

0 Komentar:

Posting Komentar