Mading Digital

NESAMA

Luka Sesungguhnya

 Luka Sesungguhnya

Karya: Dhia Silmi

Kelas: 8e


Entah rumah mana yang benar benar milikku, aku tidak memiliki rumah yang nyaman rumah yang seharusnya aku gunakan untuk berteduh dan bersandar nyatanya aku harus menjadi garda terdepan untuk rumah itu. 


"Mora, kamu sudah besar tolong rubah sikap kamu ibu tidak suka kalau sikapmu terus menerus seperti ini kamu harus menjadi contoh yang baik bagi adik adikmu." Ucap seorang ibu kepada anak perempuan pertamanya.


"Ibu, Mora sudah berusaha sebaik mungkin untuk adik tapi terkadang juga Mora lelah." 


"Lelah darimana? Seharusnya kamu lihat perjuangan ayah dan ibu terlebih dahulu baru kamu mengeluh." Bentak seorang ayah pada putri pertamanya


Kata-kata itu begitu menyakitkan untukku. Memang, seharusnya anak pertama terlihat kuat untuk adiknya tetapi terkadang anak pertama juga butuh sandaran entah mereka yang tidak tahu atau tidak ingin tahu kalau seorang anak juga butuh untuk di dengar, butuh diperhatikan, butuh sandaran, bukanlah kritikan atau ancaman dari keluarganya sendiri.


"Mora, ibu sudah cukup kecewa padamu kenapa kamu kemarin pulang telat?." Ucap ibu.


"Pergi kemana kamu?Kamu harus menjadi contoh yang baik untuk adik adikmu yang lain Mora." Bentak seorang ayah. 


Mora yang sedang sarapan tiba-tiba dibentak itu sudah menjadi makanan sehari-harinya. Mora hanya bisa terdiam tanpa ada sepatah kata apapun. 


"Kalau orang tua berbicara atau menasehati jawab Mora jawab jangan diam saja!." Ucap ayahnya dengan amarah.


"Kamu ini memang berbeda, pantas saja kalau keluarga membicarakan tentang dirimu, kamu berbeda dengan adikmu dia pintar dan dia cantik tidak seperti dirimu apa yang kamu pikirkan selama ini Mora?." Teriak ibunya. 


Mora menelan makanannya dengan gemetar dan mata yang berkaca-kaca. 


"Ayah, Ibu, Mora sudah bilang terkadang Mora lelah menjaga sesuatu tapi Mora sudah berusaha sebaik mungkin untuk adik-adik Mora, apa kalian lupa kalau kalian juga yang membuat Mora seperti ini?." Ucap Mora dengan tatapan kosong tanpa melihat kearah orangtuanya sama sekali. 


"Kamu ini Mora, selalu mengatakan hal itu apa kami kurang memberikan semuanya?Kamu terlalu egois Mora." Tegas ayahnya dengan memukul meja makan.


Sontak, Mora terkejut akhirnya mora berdiri dihadapan mereka dan meluapkan segalanya yang dipendam.


"Kalian terkadang selalu menjadikan Mora sebagai garda terdepan untuk keluarga, tapi apa kalian lupa? Mora sebagai anak pertama juga butuh sandaran dan perhatian dari orangtua, kalian terlalu sibuk dengan pekerjaan, dan terlalu sibuk menyekolahkan adik sementara Mora? Mora rela tidak sekolah agar adik Mora bisa belajar bersama temannya dan bisa bersekolah, Ibu juga selalu membandingkan Mora dengan yang lain itu sudah cukup sabar untuk Mora setidaknya kalian jangan memandang mora dengan sebelah mata tapi lihatlah perjuangan Mora, Mora tau mora memang tidak pintar dan cantik karna Mora merelakan semuanya untuk adik-adik Mora jadi apa kalian pantas menyebut Mora egois?." 


Suasana rumah menjadi hening, Mora kembali ke kamarnya dan mengunci sementara orangtuanya merasa bersalah walau sedikit tapi orangtuanya kembali menghiraukan segalanya. 


Malam hari sudah tiba, Mora pergi keluar lewat jendela kamarnya ia mendatangi suatu hutan gelap yang jauh dari rumahnya. Kemudian ia bersimpuh di bebatuan besar, ia menatap langit malam dan menikmati udara yang sejuk ia merenungi semua yang ia pendam selama ini. 


Ditengah-tengah kesunyiannya itu, Mora mengeluarkan pisau dan mengarahkan pisau itu ke kepalanya. 


"Maafkan aku, aku sangat lelah." Lirihnya. 


Pada akhirnya, Mora menghabisi hidupnya di hutan gelap itu.


— Jika semua bersandar padaku, lalu aku bersandar pada siapa? 


–```silmi```

0 Komentar:

Posting Komentar