Mading Digital

NESAMA

Tiada

 Tiada


Karya: Naira Hilmiyah 

Kelas: 9G 


"selamat ulang tahun putri kecil mama"

Ucap seorang wanita paruh baya sambil memegang satu loyang kue ulang tahun dengan api lilin yang menyala di atasnya.

Rena terdiam dengan air mata yang membasahi pipinya. Gadis itu berjalan menghampiri sang ibu dengan tatapan yang sulit di artikan. Bu vemi selaku ibu dari Rena terdiam akan ekspresi sedih yang Rena tampilkan.

" Rena kamu kenapa sayang? Kamu ga seneng yah mama beliin kue buat Rena? Apa Rena mau beli yang lain?"

Rena menggelengkan kepalanya pelan dan melangkahkan kakinya keluar dari rumah. Vemi yang minat gelagat aneh dari Rena hanya bisa terdiam sambil memikirkan apa yang sebenernya putrinya pikirkan.

Sementara itu Rena terduduk di taman belakang rumahnya sambil memegangi satu tangkai bunga mawar. Kini di pikirannya begitu banyak pertanyaan yang dirinya tau jika pertanyaan itu tidak akan pernah mendapatkan jawaban. 

"Rena, kamu kenapa?"

Tanya zio yang merupakan sahabat kecil Rena. Rena menggelengkan kepalanya dan tersenyum lirih. Zio yang tau jika suasana hati Rena sedang tidak baik-baik saja hanya bisa menemani Rena di dalam keheningannya.

"Aku mau pulang dulu, makasih"

Zio tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Rena berjalan memasuki rumahnya di sana vemi masih setia menunggu kepulangan Rena. 

"Kamu udah pulang sayang?"

Rena menganggukkan kepalanya dan berjalan melewati vemi.

"Rena, kamu kenapa sayang?"

Ucap vemi sambil mencengkram lembut pergelangan tangan Rena. Seketika Rena menangis sejadi-jadinya di hadapan vemi. Vemi yang melihat itu langsung membawa Rena duduk di sampingnya dan memeluknya dengan erat.

" Apa yang sebenernya terjadi padamu sayang? Ceritakan semuanya pada mama."

Rena melepaskan pelukannya dari vemi. Gadis itu menghapus air matanya dan menatap datar ke arah vemi.

"Kamu bukan ibu ku."

Deg

Vemi membulatkan matanya terkejut akan ucapan yang Rena berikan kepadanya.

" Mama sudah tiada!! Kenapa mama tega ninggalin Rena?"

Vemi meneteskan air matanya. Vemi menggenggam kedua tangan Rena dengan erat.

"Jadi kamu beneran bisa melihat arwah sayang?"

Rena menganggukkan kepalanya dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.

"Maaf, mama benar-benar tidak tau jika nasib mama akan berakhir seperti ini."

"D-dimana jasad mama sekarang?"

Vemi menarik nafasnya dalam-dalam dan hembuskannya dengan gusar. 

"Mama ada di rumah sakit ****, sebentar lagi pihak rumah sakit akan segera menelepon dirimu dan menyuruh mu untuk datang ke sana. Mama harap kamu tidak membenci mama sedikitpun."

Rena hanya menangis tanpa menjawab sepatah kata pun itu. Vemi memeluk tubuh sang putri dengan begitu erat.

"Sayangg, jangan nangis lagi. Mama selalu ada di hati kamu, oke?"

Rena menganggukkan kepalanya dan melepaskan pelukan itu.

"Mama harus pergi sekarang, i love you rena putri."

Ucap vemi sambil pergi meninggalkan Rena. 

🤍🕊

Setibanya di rumah sakit Rena langsung memeluk jasad sang ibu yang berada di atas berlangkar rumah sakit.

"Kenapa harus secepat ini ma? Rena udah ga punya siapa-siapa lagi di sini."

Ucap Rena di sela-sela tangisanya. Zio yang melihat itu hanya bisa terdiam sambil menatap sendu ke arah Rena. Di usia rena yang masih menginjak 14 tahun dirinya sudah harus kehilangan segalanya. 

" Aku bakal selalu ada buat kamu Rena."

Monolog zio sambil pergi meninggalkan rena di ruangan itu untuk mencari makanan. Setelah membeli beberapa makanan zio datang menghampiri Rena.

"Ren, kapan Tante vemi di makam kan?"

Rena menatap ke arah zio dan berkata " besok pagi" 

Zio menganggukkan kepalanya pelan dan mendudukkan dirinya di samping Rena.

"Makan lah"

Rena menatap berbagai jenis makanan di hadapannya.

"Aku ga nafsu makan zio"

Zio tersenyum dan membukakan satu bungkus roti.

"Makan lah, Tante vemi bisa marah jika kamu mogok makan seperti ini."

"T-tapi"

"Sudahi tapi tapi mu itu dan makan lah, kamu butuh energi untuk menghadapi dunia ini."

Rena menganggukkan kepalanya dan memakan makanan yang zio berikan kepadanya.

Di keesokan harinya jasad vemi sudah di makam kan di salah satu pemakaman di sana. Suara tangisan memenuhi sunyinya di pagi hari itu.

Pria yang berusia 15 tahun itu berusaha untuk menenangkan rena yang masih menangis sambil memeluk batu nisan milik Bu vemi.

"Sudah lah, jangan menangis. Aku tau ini berat untuk mu, tapi kamu jangan terlalu larut dalam kesedihan ini. Masih ada aku dan keluarga ku yang akan selalu bersama mu, Rena."

Jelas zio yang membuat Rena tersenyum.

"M-makasih buat semua kebaikan yang kamu dan keluarga kamu berikan."

Bu ana berjalan menghampiri Rena dan memeluk gadis itu dengan erat.

"Jangan menangis lagi Rena, kamu masih punya ibu dan ayah di sini, kamu bisa anggap kita keluarga kamu"

Ucap Bu ana selaku ibu dari zio. Rena tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan.

"Makasihh buat semuanya, Rena janji akan membalas semua kebaikan ibu dan ayah di suatu saat nanti." 

"Mama, papah, bahagia terus yah di sana. Rena di sini baik-baik aja kok. I love you forever mama, papa."

0 Komentar:

Posting Komentar