Mading Digital

NESAMA
  • Sarana dan Prasarana

    Sarana dan Prasarana SMPN 1 Malangbong

  • Home

    Mading Digital SMPN 1 Malangbong

  • Informasi

    Info Grafis SMPN 1 Malangbong

  • Informasi

    Program Unggulan SMPN 1 Malangbong

Membentuk Cahaya Kasih

 Remang Bayang Cinta


Di bawah selimut malam

Nadi berbisik lirih dalam sunyi

Detaknya mengusik jiwaku

Membangunkan relung hati


Suaranya sederhana saja

Lontaran kata dari bibirnya

Mengalun menjadi melodi

Membentuk Cahaya Kasih

karya: Putri Dwi Indriyani

kelas: 8A




Namanya terlintas dalam benakku

Apakah dia yang ku rindu?


Parasnya tak perlu tampan

Untuk membuatku terlena

Senyuman yang manis

Melengkapi keindahan dunia


Cara bicaranya

Menunjukan hati yang lembut


Aku sadar, aku mengagumi nya

Suara Takbiran di Malam Sunyi

 Suara Takbiran di Malam Sunyi

 

Karya: Zahran

Kelas: 7f 


Malam takbiran telah tiba. Rian duduk di teras rumahnya, mendengarkan suara takbir yang berkumandang dari masjid. Ia merasa sedih karena tahun ini adalah Idul Fitri pertama tanpa kehadiran ibu dan neneknya.


Ibu Rian telah meninggal beberapa bulan lalu, dan neneknya pindah ke kota lain untuk merawat saudara laki-lakinya yang sakit. Rian merasa kesepian dan merindukan kehangatan keluarganya.


Ayah Rian, yang menyadari kesedihan anaknya, duduk di sebelah Rian dan memeluknya. "Ayah tahu kamu merindukan ibu dan nenek, tapi kita bisa membuat malam takbiran ini spesial dengan cara kita sendiri."


Rian tersenyum sedikit. Ayahnya mengajaknya untuk memasak makanan favorit ibunya, ketupat dan sambal. Mereka bekerja sama di dapur, dan Rian merasa sedikit lebih baik.


Setelah selesai memasak, mereka pergi ke masjid untuk melakukan salat tarawih. Rian merasa bahagia karena bisa merayakan Idul Fitri bersama ayahnya dan komunitas Muslim lainnya.


Ketika kembali ke rumah, Rian dan ayahnya menikmati makanan yang mereka masak bersama. Rian merasa sedikit lebih bahagia, karena ia tahu bahwa ibu dan neneknya selalu bersamanya dalam hati.


"Terima kasih, Ayah," kata Rian sambil memeluk ayahnya. "Malam takbiran ini memang spesial."


Ayah Rian tersenyum dan memeluknya erat. "Saya juga cinta kamu, anakku. Selamat Idul Fitri."


Rian dan ayahnya menghabiskan malam takbiran dengan penuh kebahagiaan dan rasa syukur. Mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian, karena mereka memiliki Allah dan kehangatan keluarga mereka.


Keesokannya setelah solat idul Fitri Rian dan ayahnya pergi ziarah ke makam ibu Rian. Dan mendoakan yang terbaik untuk ibu Rian agar tenang di sana dan rian berharap bahwa suatu saat nanti dia bisa berkumpul lagi bersama ibunya. 


Saat, Rian sedang duduk bersantai dia melihat nenek dan adiknya sudah pulang. Rian sangat senang lalu langsung memeluk mereka berdua.


"Akhirnya kalian berdua pulang juga. Aku kangen kalian kenapa sangat lama sekali." Ucap Rian dengan nada gembira 


Mereka pun berpelukan lalu Rian mendengar nenek dan adiknya berbicara kepada Rian. 


"Jaga diri baik-baik yah cucu nenek Rian. Jadi anak yang pintar dan nurut sama ayah kamu.Nenek dan ibu serta adikmu sayang sekali sama kamu." Ucap nenek riyan dengan nada lembut.


"Iya jaga diri baik baik ya kak. Adek sayang Kaka." Ucap adik Rian.


Rian pun kebingungan dengan ucapan mereka.lalu ada ayah Rian yang mendatangi Rian lalu bertanya.


"Kamu ngomong sama siapa nak?." Tanya ayah Rian 


"Hah.ini ada nenek sama adik loh". Ucap rian. 


Pas berbalik ke arah pintu tidak ada siapa siapa dan Rian sangat kebingungan setelah itu ada telpon dari rumah sakit bahwa. Nenek dan adiknya Rian sudah meninggal dunia. Rian yang mendengar itu sangat bingung karna baru saja tadi bertemu. Lalu ia menyadari bahwa itu adalah arwah adik dan neneknya yang ingin berpamitan. 


Rian pun menangis setelah menyadari hal itu. 


bersyukur lah kalian karena bisa merayakan idul Fitri dengan kelurga. dan selalu sayangilah keluarga kalian. Bahkan banyak orang yang sulit bertemu keluarga mereka saat hari raya idul Fitri. Jadi bersyukur lah. Selamat hari raya idul Fitri mohon maaf lahir dan batin.


-TAMAT-

Tempat Aneh

 Tempat Aneh

Karya: Dhia Silmi

Kelas: 8e



Suatu hari Luna pulang sekolah dengan kondisi badannya tak berdaya karena hari ini disekolah sangat melelahkan. 


"Uhh nyebelin banget hari inii mending tidur ah." Ia pun tidur sambil membantingkan dirinya ke kasur. 


Luna tertidur pulas sampai ia terbangun di satu tempat aneh. Luna membuka matanya ia terkejut karena pakaiannya sudah berubah ia tadinya menggunakan pakaian sekolah tapi sekarang menjadi gaun putih kecil dan rambut blonde nya yang di pita, ia terbangun diatas rerumputan dan sandaran pohon. 


"Apa yang terjadi? dimana aku?." Tanya dirinya dengan kaget dan kebingungan.


"Hei kamu sepertinya bukan dari daerah sini nona." Ucap salah satu pria asing yang berada di depan Luna.


"EH EH SIAPA KAMU? JANGAN SENTUH AKU." Ucap Luna dengan keras. 


Pria itu hanya tertawa kecil dan berkata.


"Nona aku bukan orang jahat aku hanya penjaga kebun ayo ikut aku kita temui raja maka kamu akan tau jawabannya." Pria itu berjalan sedikit demi sedikit. 


Luna mengiyakan lalu ia mengikuti pria itu, mereka menyusuri banyak tempat dari mulai danau, kebun, bahkan hutan yang gelap. Setelah beberapa lama akhirnya mereka sampai dikerajaan. 


"Masuklah nona aku akan pergi kembali bekerja." Ucap pria itu lalu pergi.


"Eh tunggu dulu siapa namamu? agar aku mengingatnya." Tanya Luna.


Pria itu menoleh ke arah Luna.


"Namaku Riven nona." 


"Aku Luna terimakasih sudah mengantarkan diriku." Ucap Luna dengan membungkuk sebagai rasa hormat. 


Pria itu pergi akhirnya Luna memberanikan diri masuk kedalam kerajaan itu, saat Luna memasukinya disana terlihat raja yang sedang duduk dan beberapa pegawai di kerajaan itu mereka semua memandang luna dengan aneh seolah olah belum menemuinya. 


"Akhirnya kamu datang Luna." Ucap raja.


"B-bagaimana kamu tahu namaku?." Tanya Luna dengan penasaran.


Raja itu hanya tersenyum dan berkata.


" Pergilah ke hutan kegelapan disana kamu akan mengetahui jawabannya mengapa kamu bangun disini, tapi berhati hatilah karena ada sosok penjaga disana hanya orang tertentu yang bisa melewatinya." Ucap raja itu meyakinkan pada Luna. 


"Dimana hutan kegelapan itu?." Tanya Luna.


"Hutan kegelapan ada di samping kiri kerajaan ini." 


Luna langsung pergi tanpa mengatakan apapun lagi, ia mengikuti jalan sesuai yang diperintahkan oleh raja. Ia begitu terkagum-kagum karena ia belum pernah melihat tempat itu sebelumnya, tanpa basa basi akhirnya Luna memasuki dan menelusuri hutan itu ia merasa ada seseorang yang memperhatikan dirinya tapi ia tidak melihat siapapun, tiba tiba saja muncul sosok berbadan besar dan tinggi dihadapannya. 


"Siapa yang berani memasuki hutan ini?." Ucap sosok itu.


"Akuuu." Jawab luna dengan santai. 


"Apa tujuanmu?." Tanya sosok itu. 


"Aku hanya mencari ketenangan." 


"Kau tidak takut padaku?." Tanya sosok itu dengan kebingungan. 


"Mengapa harus takut?." Jawab Luna. 


"Kau!." Jawab sosok itu dengan tegas. 


"Apa? kamu mau ikut denganku?." Tanya Luna tanpa rasa takut. 


Sosok itu hanya bisa kebingungan dan bertanya-tanya. 


"Hei nona, disaat yang lain takut kepadaku kamu bisa bisanya santai." 


"Memangnya aku punya salah apa denganmu sehingga aku harus ketakutan? sudahlah aku ingin mencari ketenangan selamat tinggal , oh ya kalungmu bagus." Ucap Luna lalu pergi. 


Sosok itu ingin mencegah Luna pergi tapi ia menyadari sekarang bahwa dirinya adalah sosok misterius jadi salah besar kalau dia penasaran, tapi rasa penasarannya yang besar tak bisa ditahan akhirnya sosok itu mengikuti Luna dengan udara samar samar.

Our Memories

 Our Memories

Karya: Naira Hilmiyah 

Kealas: 9G 

Gerbang hitam itu terbuka lebar. Dengan hati yang berdebar-debar, aku memberanikan diriku untuk melangkahkan kakiku memasuki kawasan nesama. Sekolah menengah pertama yang menjadi sekolah ter favorit di kotaku. Dengan ratusan bahkan ribuan siswa dan siswi yang selalu meramaikan keheningan di sekolah ini. Fasilitas sekolah yang lengkap dan pendidikannya yang terjamin bahkan dengan lingkungannya yang positif membuat siapa pun yang berada di dalamnya merasa nyaman dan bangga.

Saat ini siswa dan siswi nesama kelas 9, tengah di sibukan oleh syuting bersama untuk menyambut kelulusan mereka. 

Tepatnya di hari kamis tanggal 20 Febuari 2025, para siswa dan siswi kelas 9 mengunakan seragam biru putih serta membawa baju hitam dengan kerudung berwarna hitam. 

"PENGUMUMAN KEPADA SELURUH SISWA DAN SISWI KELAS 9 MOHON SEGERA MENUJU KELAPANGAN UPACARA."

Mendengar pengumuman tersebut para siswa dan siswi segera menuju ke lapangan upacara.

Di saat aku memasuki lapangan upacara itu, entah mengapa ada perasaan tidak rela. Rasanya seperti ingin selalu berada di sekolah ini.

"Nai, ini beneran kita bakalan lulus? Nesama terlalu indah untuk kita tinggalkan."

Ucap salah satu teman ku sambil terus memandang deretan kursi yang sudah tersusun rapih di sana.

Pandanganku pun tak luput dari deretan kursi itu, membayangkan betapa hancurnya perasaan siswa dan siswi ketika harus berpisah dengan guru' hebat yang ada di sini.

Baru saja aku mendudukkan diriku di tepi lapangan, tiba' bapa kepala sekolah memberikan instruksi kepada seluruh siswa kelas 9 untuk berkumpul sesuai dengan kelasnya masing-masing.

Setelah memberikan pengumuman yang begitu penting, para siswa dan siswi di arahkan untuk membuat lingkaran. Di saat semua orang tengah asik dengan dunia mereka sendiri. Aku malah salfok dengan senyuman bapa dan ibu guru yang terukir indah di wajahnya, seketika hati ini berpikir apakah setelah kelulusan ini aku masih bisa melihat senyuman itu? Atau justru malah sebaliknya.

Tanpa aku sadari drone sudah berada di atas sana dengan lagu perpisahan yang sudah di putar. Seketika air mata ini luruh membasahi pipi. Terdengar suara Isak tangis dari kedua telinga ku.

Perasaan senang dan sedih menyelimuti seluruh siswa dan siswi kelas 9 di hari itu. 

" Kenangan kita akan tersimpan jelas di sini, suka dan duka kita lalui bersama di sini. Di masa putih biru ini, kita sudah banyak sekali menemukan kebahagiaan yang belum pernah kita temui di mana pun itu. Bersama nesama kita bahagia, bersama nesama juga kita berjaya."

Monologku sambil terus menatap drone yang berputar-putar di atas sana. Namun, suasana sedih itu berganti dengan gelak tawa dari para siswa yang menertawakan drone yang jatuh itu.

Singkat cerita, para siswa dan siswi sudah duduk di atas sana sesuai dengan posisi yang sudah di tentukan. 

Di mulai dari Poto bersama sampai membuat konten bersama, semuanya kita lalui dengan perasaan senang. 

Hingga terdengar suara sirine damkar, semua siswa dan siswi bersorak bahagia saat mendengar sirine damkar tersebut. 

"Woyy damkar datang!!! "

"HOREEEE!!!!!"

Sorak siswa dan siswi itu dengan begitu antusias. Huft.... Rasanya senang sekali saat melihat semua orang bahagia dan menikmati momen yang langka seperti ini. 

Dulu, aku hanya bisa melihat para siswa dan siswi kelas 9 yang tengah asik mempersiapkan perpisahannya, namun siapa sangka jika kini aku berada di posisi itu. 

Satu persatu para siswa dan siswi mulai turun dengan hati-hati. Kini para siswa sudah membuat lingkaran di tengah-tengah lapangan dengan menggunakan kaos hitam beserta kerudung hitam yang menutupi kepalanya. Genggam tangan mereka menjadi saksi bisu betapa bahagianya mereka bisa berada di momen ini.

Lagu perpisahan mulai di putar dan drone sudah berada di atas sana mengelilingi para siswa dan siswi nesama yang tengah asik menikmati alunan musik sambil menari kecil dan merangkul pundak satu sama lain.

Huftt.... Membuat kenangannya saja sudah sesakit ini, apalagi nanti saat hari kelulusan? Rasanya benar-benar mimpi bisa berada di fase terbaik di masa biru putih ini. Namun, apakah kami kuat melewati hari-hari kami tanpa dukungan serta partisipasi dari guru-guru hebat yang ada di sini? Membayangkannya saja sudah sesakit ini, harapan kami kedepannya bisa menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa serta bisa menyinarkan nesama agar semakin bersinar.

Kini firehose sudah mengeluarkan airnya yang siap untuk membasahi ratusan siswa dan siswi kelas 9. Kini suara gelak tawa dan kehebohan para siswa memenuhi lapangan di siang hari itu. Terlihat jika bapa dan ibu guru mengulum senyumnya. "Bahagia" hanya kata itu yang saat itu bisa aku ucapkan, entah harus dengan cara apa aku bisa berterima kasih kepada bapa dan ibu guru yang sudah sabar dalam mendidik dan mengajarkan kami ilmu-ilmu yang sangat berguna.

" Aku berharap kita semua bisa terus berbahagia, dimana pun dan bagaimana pun keadaannya. Hopefully we can meet again in a happier phase"

Empty

 Empty

Karya: Naira Hilmiyah 

Kelas: 9G 


" Iii maaa Eva beneran mau terawih kok."

Rengek ku dengan kedua tangan memeluk satu sajadah dan mukena. Mamah pun menghembuskan nafasnga gusar.

"Ck!! Yaudah sana, awas aja kalo kamu main petasan di jalan."

Ucapnya yang membuatku menggembangkan senyuman penuh kemenangan. Setelah berpamitan aku segera berlari ke jalanan untuk menemui teman-teman ku.

"Heii!!! Eva!! Ayooo kita main petasan."

Teriak Cahya sambil melambaikan tangannya. Dengan cepat aku berlari menghampirinya dan berbisik.

"Jangan kenceng-kenceng ngomongnya nanti kedengaran sama mama aku."

Mendengar itu Cahya segera menutup mulutnya menggunakan telapak tangannya.

"Yaudah ayoo kita beli petasan dulu, yang lain udah pada nunggu soalnya."

"Nunggu di mana mereka?"

"Di lapang depan rumah pa Endin."

Mendengar ucapan Cahya aku hanya mengganggukan kepalaku. 

Setelah membeli banyak petasan dan korek api. Aku dan Cahya segera menuju ke lapangan untuk bertemu dengan teman-teman yang lain.

Di sana sudah banyak sekali anak-anak yang tengah asik bermain dengan mainan yang mereka bawa.

"Eva, Cahya!!! Sini!!!"

Panggil putri sambil melambaikan tangannya ke arah aku dan Cahya. Dengan cepat aku dan Cahya segera menghampiri putri yang tengah berkumpul dengan tiga anak laki-laki.

"Eh, ada Alden, Hiro sama Rafi juga ternyata."

Sapaku pada mereka.

"Iya pasti lahhh!!! Aku ga mau ketinggalan satu pun momen di bulan ramadhan ini."

Ucap Hiro sambil merebut korek api yang ada di tanganku.

"Iii Hiro!!! Itu punya aku!!!!"

Pyurrrr

Bledug

"AAAAAAAAA, HIRO!!!!!"

pekik semua anak-anak yang ada di sana, saat Hiro menyalakan Beberapa petasan.

"Hehe, kaget kah?"

Tanyanya dengan wajah polos. Melihat Hiro yang tidak merasa bersalah sedikitpun. Aku, Cahya dan putri segera menyalakan tiga petasan sekaligus.

"Alden, Rafi pegangin di Hiro. Kita mau balas dendam!!"

Ucap putri sambil melemparkan tiga buah petasan itu ke arah Hiro.

"Huaaaa!! Lepasinnn!!! MAMA!!!"

PYURRR

BLEDUG

"MAMAA!!!!"

Teriak Hiro yang ketakutan setengah mampus. Semua orang tertawa terbahak-bahak saat melihat Hiro yang kencing di celana.

Menyadari hal itu, Hiro hanya bisa menutupi wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.

"Hahaha, Hiro pipis di celana huuuh."

Sorak anak-anak di lapangan itu sambil menertawakan hiro yang tengah menahan malu.

Byurrr

"PERGI KALIAN!!! BRISIK TAU GA!!"

Bentak pa Endin  sambil menyiramkan satu ember air ke arah anak-anak itu. Melihat pa endin yang mengamuk. Semua anak-anak itu langsung berlarian meninggalkan lapangan itu.

"Hos hos hos, duh cape banget."

Ucapku dengan nafas yang memburu. Begitupun dengan ke lima teman-temanku.

"Iya nih cape banget. Nyebelin banget sih pa Endin itu!!"

Kesal putri sambil memeras bajunya yang basah.

"Eh kalian ada yang cium bau aneh ga?"

Tanya Rafi sambil terus mengendus-endus. Melihat Rafi yang seperti itu, aku dan teman-teman ku yang lainya langsung mengikuti kelakuan Rafi.

"Lah iya anjir bau Pesing!!"

Ucap Alden sambil menutup lubang hidungnya menggunakan kerah bajunya.

"Huek!! Baunya kuat banget!!"

Pekik Cahya dan putri sambil menahan nafasnya. Sedangkan Hiro hanya bisa terdiam sambil tersenyum tipis. Menyadari hal itu, aku dan ke empat temanku yang lainnya langsung menatap ke arah Hiro dengan tatapan yang cukup tajam.

"Susu Hiro!! Kata gue mending lu ganti celana dulu deh. BAU PESING TAU GA!!"

Ucap Rafi yang membuat Hiro terkekeh.

"ehe, emang sebau itu yah? Btw aku juga cepirit tau."

Ucapnya tanpa rasa malu. Mendengar pengakuan dari Hiro aku dan temanku yang lain langsung melepaskan salah satu sendal yang kami gunakan dan melemparkannya ke arah Hiro.

"PANTES BAU CONGE!!!"

Pekik teman-teman ku dengan wajah yang memerah.

"KABURR!!!"

Pekik Hiro sambil berlari menghindari amukan dari teman-temannya.

"Sini Lo, gue pecel!!!"

"Gue jadiii ayam goreng lu Hiro!!"

Pekik anak-anak itu sambil berlari mengejar Hiro.

Flashback off 

Air mataku mengalir deras membasahi pipi, senyuman manis itu terukir indah di wajahku. Memori-memori dulu terus berputar-putar di dalam ingatan ku. Canda dan tawa terus memenuhi isi kepalaku.

Kenangan di masa itu, benar-benar sangat berharga. Rasanya aku ingin kembali ke masa itu, masa di mana semua anak-anak menghabiskan waktunya dengan bermain. 

"Di tahun ini, vibes ramadhannya ga terasa yah? Bahkan jalanan yang awalnya ramai dengan gelak tawa dari anak-anak kini hanya mengeluarkan suara jangkrik yang memenuhi suasana di setiap malam. Anak-anak di zaman sekarang sudah mulai fokus dengan handphone miliknya, suara petasan pun kini sudah tak lagi terdengar. "

Monologku sambil terus memandangi jalananan yang sepi itu.

Rintikan hujan terus membasahi bumi, seolah-olah ikut merasakan kesedihan yang aku rasakan. 

Sesampainya di masjid, aku segera menggelarkam sejadah milikku. Suasana kali ini terasa begitu hampa. Entah mengapa ramadhan di tahun ini rasanya begitu sangat berbeda.  Entah ini hanya perasaanku saja atau memang kenyataannya seperti ini.

"Semoga di ramadhan yang akan datang vibesnya jauh lebih terasa dari tahun ini. I really miss those memories."