Empty
Karya: Naira Hilmiyah
Kelas: 9G
" Iii maaa Eva beneran mau terawih kok."
Rengek ku dengan kedua tangan memeluk satu sajadah dan mukena. Mamah pun menghembuskan nafasnga gusar.
"Ck!! Yaudah sana, awas aja kalo kamu main petasan di jalan."
Ucapnya yang membuatku menggembangkan senyuman penuh kemenangan. Setelah berpamitan aku segera berlari ke jalanan untuk menemui teman-teman ku.
"Heii!!! Eva!! Ayooo kita main petasan."
Teriak Cahya sambil melambaikan tangannya. Dengan cepat aku berlari menghampirinya dan berbisik.
"Jangan kenceng-kenceng ngomongnya nanti kedengaran sama mama aku."
Mendengar itu Cahya segera menutup mulutnya menggunakan telapak tangannya.
"Yaudah ayoo kita beli petasan dulu, yang lain udah pada nunggu soalnya."
"Nunggu di mana mereka?"
"Di lapang depan rumah pa Endin."
Mendengar ucapan Cahya aku hanya mengganggukan kepalaku.
Setelah membeli banyak petasan dan korek api. Aku dan Cahya segera menuju ke lapangan untuk bertemu dengan teman-teman yang lain.
Di sana sudah banyak sekali anak-anak yang tengah asik bermain dengan mainan yang mereka bawa.
"Eva, Cahya!!! Sini!!!"
Panggil putri sambil melambaikan tangannya ke arah aku dan Cahya. Dengan cepat aku dan Cahya segera menghampiri putri yang tengah berkumpul dengan tiga anak laki-laki.
"Eh, ada Alden, Hiro sama Rafi juga ternyata."
Sapaku pada mereka.
"Iya pasti lahhh!!! Aku ga mau ketinggalan satu pun momen di bulan ramadhan ini."
Ucap Hiro sambil merebut korek api yang ada di tanganku.
"Iii Hiro!!! Itu punya aku!!!!"
Pyurrrr
Bledug
"AAAAAAAAA, HIRO!!!!!"
pekik semua anak-anak yang ada di sana, saat Hiro menyalakan Beberapa petasan.
"Hehe, kaget kah?"
Tanyanya dengan wajah polos. Melihat Hiro yang tidak merasa bersalah sedikitpun. Aku, Cahya dan putri segera menyalakan tiga petasan sekaligus.
"Alden, Rafi pegangin di Hiro. Kita mau balas dendam!!"
Ucap putri sambil melemparkan tiga buah petasan itu ke arah Hiro.
"Huaaaa!! Lepasinnn!!! MAMA!!!"
PYURRR
BLEDUG
"MAMAA!!!!"
Teriak Hiro yang ketakutan setengah mampus. Semua orang tertawa terbahak-bahak saat melihat Hiro yang kencing di celana.
Menyadari hal itu, Hiro hanya bisa menutupi wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.
"Hahaha, Hiro pipis di celana huuuh."
Sorak anak-anak di lapangan itu sambil menertawakan hiro yang tengah menahan malu.
Byurrr
"PERGI KALIAN!!! BRISIK TAU GA!!"
Bentak pa Endin sambil menyiramkan satu ember air ke arah anak-anak itu. Melihat pa endin yang mengamuk. Semua anak-anak itu langsung berlarian meninggalkan lapangan itu.
"Hos hos hos, duh cape banget."
Ucapku dengan nafas yang memburu. Begitupun dengan ke lima teman-temanku.
"Iya nih cape banget. Nyebelin banget sih pa Endin itu!!"
Kesal putri sambil memeras bajunya yang basah.
"Eh kalian ada yang cium bau aneh ga?"
Tanya Rafi sambil terus mengendus-endus. Melihat Rafi yang seperti itu, aku dan teman-teman ku yang lainya langsung mengikuti kelakuan Rafi.
"Lah iya anjir bau Pesing!!"
Ucap Alden sambil menutup lubang hidungnya menggunakan kerah bajunya.
"Huek!! Baunya kuat banget!!"
Pekik Cahya dan putri sambil menahan nafasnya. Sedangkan Hiro hanya bisa terdiam sambil tersenyum tipis. Menyadari hal itu, aku dan ke empat temanku yang lainnya langsung menatap ke arah Hiro dengan tatapan yang cukup tajam.
"Susu Hiro!! Kata gue mending lu ganti celana dulu deh. BAU PESING TAU GA!!"
Ucap Rafi yang membuat Hiro terkekeh.
"ehe, emang sebau itu yah? Btw aku juga cepirit tau."
Ucapnya tanpa rasa malu. Mendengar pengakuan dari Hiro aku dan temanku yang lain langsung melepaskan salah satu sendal yang kami gunakan dan melemparkannya ke arah Hiro.
"PANTES BAU CONGE!!!"
Pekik teman-teman ku dengan wajah yang memerah.
"KABURR!!!"
Pekik Hiro sambil berlari menghindari amukan dari teman-temannya.
"Sini Lo, gue pecel!!!"
"Gue jadiii ayam goreng lu Hiro!!"
Pekik anak-anak itu sambil berlari mengejar Hiro.
Flashback off
Air mataku mengalir deras membasahi pipi, senyuman manis itu terukir indah di wajahku. Memori-memori dulu terus berputar-putar di dalam ingatan ku. Canda dan tawa terus memenuhi isi kepalaku.
Kenangan di masa itu, benar-benar sangat berharga. Rasanya aku ingin kembali ke masa itu, masa di mana semua anak-anak menghabiskan waktunya dengan bermain.
"Di tahun ini, vibes ramadhannya ga terasa yah? Bahkan jalanan yang awalnya ramai dengan gelak tawa dari anak-anak kini hanya mengeluarkan suara jangkrik yang memenuhi suasana di setiap malam. Anak-anak di zaman sekarang sudah mulai fokus dengan handphone miliknya, suara petasan pun kini sudah tak lagi terdengar. "
Monologku sambil terus memandangi jalananan yang sepi itu.
Rintikan hujan terus membasahi bumi, seolah-olah ikut merasakan kesedihan yang aku rasakan.
Sesampainya di masjid, aku segera menggelarkam sejadah milikku. Suasana kali ini terasa begitu hampa. Entah mengapa ramadhan di tahun ini rasanya begitu sangat berbeda. Entah ini hanya perasaanku saja atau memang kenyataannya seperti ini.
"Semoga di ramadhan yang akan datang vibesnya jauh lebih terasa dari tahun ini. I really miss those memories."