Mading Digital

NESAMA
  • Sarana dan Prasarana

    Sarana dan Prasarana SMPN 1 Malangbong

  • Home

    Mading Digital SMPN 1 Malangbong

  • Informasi

    Info Grafis SMPN 1 Malangbong

  • Informasi

    Program Unggulan SMPN 1 Malangbong

Tidak bertambah

 Tidak bertambah

Karya: Dhia silmi

Kelas: 8E

Hari ini, april tanggal 12. besok, april tanggal 13. Umurku menginjak 18 tahun. Aku sudah dewasa, tapi aku tidak merasa ada yang berbeda sama sekali. Semuanya terasa sama. mungkin kedengarannya aneh—umurku sudah 18 tahun, tapi belum pernah sekalipun dirayakan sejak kecil. Tapi itu hal yang nyata bagiku.


Aku hanya bisa merayakan ulangtahunku sendiri. Tanpa teman, tanpa sahabat, tanpa keluarga, tanpa seseorang yang spesial. Kemana mereka semua? entahlah. Aku juga tidak tahu. Kurasa mereka sibuk dengan urusan masing-masing.


Sore harinya, aku mendengar ibuku berteriak dari dapur.


"Astaga! siapa yang menyimpan kue di kulkas?!."


"Ahh, itu punya luna, bu." ucapku santai sambil terus makan.


"Buat apa kamu beli kue?." tanya ayahku.


"Luna kan besok ulangtahun. Emang kenapa?."


Mereka semua tertawa bersamaan ayah, ibu, dan kakakku. Tawa yang membuatku kebingungan, sekaligus terasa menyakitkan.


"Kamu bercanda?." Ucap kakakku dengan nada mengejek.


"jangan berharap dirayain deh, haha," kata ayah sambil tertawa.


"ibu buang kue ini ya," ucap ibu sambil mengambil kue dari kulkas.


sontak aku berdiri, terkejut, dan cepat-cepat merebut kue itu dari tangan ibu.


"Ibu! jangan lakuin itu!."


Apa yang mereka lakukan? mereka cuma menertawakanku, seolah-olah aku ini konyol. Seolah aku nggak pantas dapet semua itu. Aku masuk ke kamar, mengunci pintu, dan air mataku mulai jatuh.


"Kenapa aku selalu dianggap sepele sama mereka semua?." bisikku sambil menangis, suara tangisanku kututupi dengan bantal.


Malam harinya, saat semua sudah tertidur lelap, aku keluar diam-diam dari rumah. Tanpa pamit. Tanpa suara. Hanya aku dan langkah kaki. Aku pergi ke tempat yang paling sering aku datangi saat aku lelah yaitu laut.


Angin malam berhembus kencang. Ombak menggulung, tapi rasanya damai. Aku duduk di bibir pantai, membuka tas, dan mengeluarkan kue kecil. Lilinnya kutancapkan. Aku coba menyalakannya, meski angin terus memadamkannya. Tapi aku sudah terbiasa dengan dingin. Aku sudah terbiasa dengan rasa sakit.


Tepat pukul 00.00. aku resmi 18 tahun.


"Selamat ulangtahun, diriku. Terima kasih, sudah kuat menjalani semua ini. Sekarang semua yang kutakuti sudah berakhir."


Lilin kecil itu kutiup. Lalu aku keluarkan kertas kecil, kutuliskan satu kalimat yang sudah lama ingin aku katakan.


“Jangan pernah mencari diriku hanya untuk menyakiti. aku sudah tenang bersama alam.”


Surat itu kutaruh di samping kue. Setelah itu, aku berdiri. Berjalan pelan ke arah laut yang dalam. Airnya dingin. Anginnya kencang. Hanya suara tangis, suara ombak, dan desir angin yang terdengar malam itu.


Perlahan-lahan aku masuk ke air. Dan saat aku merasa semuanya sudah cukup, aku tenggelamkan diriku sendiri di laut itu.

Tiada

 Tiada


Karya: Naira Hilmiyah 

Kelas: 9G 


"selamat ulang tahun putri kecil mama"

Ucap seorang wanita paruh baya sambil memegang satu loyang kue ulang tahun dengan api lilin yang menyala di atasnya.

Rena terdiam dengan air mata yang membasahi pipinya. Gadis itu berjalan menghampiri sang ibu dengan tatapan yang sulit di artikan. Bu vemi selaku ibu dari Rena terdiam akan ekspresi sedih yang Rena tampilkan.

" Rena kamu kenapa sayang? Kamu ga seneng yah mama beliin kue buat Rena? Apa Rena mau beli yang lain?"

Rena menggelengkan kepalanya pelan dan melangkahkan kakinya keluar dari rumah. Vemi yang minat gelagat aneh dari Rena hanya bisa terdiam sambil memikirkan apa yang sebenernya putrinya pikirkan.

Sementara itu Rena terduduk di taman belakang rumahnya sambil memegangi satu tangkai bunga mawar. Kini di pikirannya begitu banyak pertanyaan yang dirinya tau jika pertanyaan itu tidak akan pernah mendapatkan jawaban. 

"Rena, kamu kenapa?"

Tanya zio yang merupakan sahabat kecil Rena. Rena menggelengkan kepalanya dan tersenyum lirih. Zio yang tau jika suasana hati Rena sedang tidak baik-baik saja hanya bisa menemani Rena di dalam keheningannya.

"Aku mau pulang dulu, makasih"

Zio tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Rena berjalan memasuki rumahnya di sana vemi masih setia menunggu kepulangan Rena. 

"Kamu udah pulang sayang?"

Rena menganggukkan kepalanya dan berjalan melewati vemi.

"Rena, kamu kenapa sayang?"

Ucap vemi sambil mencengkram lembut pergelangan tangan Rena. Seketika Rena menangis sejadi-jadinya di hadapan vemi. Vemi yang melihat itu langsung membawa Rena duduk di sampingnya dan memeluknya dengan erat.

" Apa yang sebenernya terjadi padamu sayang? Ceritakan semuanya pada mama."

Rena melepaskan pelukannya dari vemi. Gadis itu menghapus air matanya dan menatap datar ke arah vemi.

"Kamu bukan ibu ku."

Deg

Vemi membulatkan matanya terkejut akan ucapan yang Rena berikan kepadanya.

" Mama sudah tiada!! Kenapa mama tega ninggalin Rena?"

Vemi meneteskan air matanya. Vemi menggenggam kedua tangan Rena dengan erat.

"Jadi kamu beneran bisa melihat arwah sayang?"

Rena menganggukkan kepalanya dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.

"Maaf, mama benar-benar tidak tau jika nasib mama akan berakhir seperti ini."

"D-dimana jasad mama sekarang?"

Vemi menarik nafasnya dalam-dalam dan hembuskannya dengan gusar. 

"Mama ada di rumah sakit ****, sebentar lagi pihak rumah sakit akan segera menelepon dirimu dan menyuruh mu untuk datang ke sana. Mama harap kamu tidak membenci mama sedikitpun."

Rena hanya menangis tanpa menjawab sepatah kata pun itu. Vemi memeluk tubuh sang putri dengan begitu erat.

"Sayangg, jangan nangis lagi. Mama selalu ada di hati kamu, oke?"

Rena menganggukkan kepalanya dan melepaskan pelukan itu.

"Mama harus pergi sekarang, i love you rena putri."

Ucap vemi sambil pergi meninggalkan Rena. 

🤍🕊

Setibanya di rumah sakit Rena langsung memeluk jasad sang ibu yang berada di atas berlangkar rumah sakit.

"Kenapa harus secepat ini ma? Rena udah ga punya siapa-siapa lagi di sini."

Ucap Rena di sela-sela tangisanya. Zio yang melihat itu hanya bisa terdiam sambil menatap sendu ke arah Rena. Di usia rena yang masih menginjak 14 tahun dirinya sudah harus kehilangan segalanya. 

" Aku bakal selalu ada buat kamu Rena."

Monolog zio sambil pergi meninggalkan rena di ruangan itu untuk mencari makanan. Setelah membeli beberapa makanan zio datang menghampiri Rena.

"Ren, kapan Tante vemi di makam kan?"

Rena menatap ke arah zio dan berkata " besok pagi" 

Zio menganggukkan kepalanya pelan dan mendudukkan dirinya di samping Rena.

"Makan lah"

Rena menatap berbagai jenis makanan di hadapannya.

"Aku ga nafsu makan zio"

Zio tersenyum dan membukakan satu bungkus roti.

"Makan lah, Tante vemi bisa marah jika kamu mogok makan seperti ini."

"T-tapi"

"Sudahi tapi tapi mu itu dan makan lah, kamu butuh energi untuk menghadapi dunia ini."

Rena menganggukkan kepalanya dan memakan makanan yang zio berikan kepadanya.

Di keesokan harinya jasad vemi sudah di makam kan di salah satu pemakaman di sana. Suara tangisan memenuhi sunyinya di pagi hari itu.

Pria yang berusia 15 tahun itu berusaha untuk menenangkan rena yang masih menangis sambil memeluk batu nisan milik Bu vemi.

"Sudah lah, jangan menangis. Aku tau ini berat untuk mu, tapi kamu jangan terlalu larut dalam kesedihan ini. Masih ada aku dan keluarga ku yang akan selalu bersama mu, Rena."

Jelas zio yang membuat Rena tersenyum.

"M-makasih buat semua kebaikan yang kamu dan keluarga kamu berikan."

Bu ana berjalan menghampiri Rena dan memeluk gadis itu dengan erat.

"Jangan menangis lagi Rena, kamu masih punya ibu dan ayah di sini, kamu bisa anggap kita keluarga kamu"

Ucap Bu ana selaku ibu dari zio. Rena tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan.

"Makasihh buat semuanya, Rena janji akan membalas semua kebaikan ibu dan ayah di suatu saat nanti." 

"Mama, papah, bahagia terus yah di sana. Rena di sini baik-baik aja kok. I love you forever mama, papa."

Membentuk Cahaya Kasih

 Remang Bayang Cinta


Di bawah selimut malam

Nadi berbisik lirih dalam sunyi

Detaknya mengusik jiwaku

Membangunkan relung hati


Suaranya sederhana saja

Lontaran kata dari bibirnya

Mengalun menjadi melodi

Membentuk Cahaya Kasih

karya: Putri Dwi Indriyani

kelas: 8A




Namanya terlintas dalam benakku

Apakah dia yang ku rindu?


Parasnya tak perlu tampan

Untuk membuatku terlena

Senyuman yang manis

Melengkapi keindahan dunia


Cara bicaranya

Menunjukan hati yang lembut


Aku sadar, aku mengagumi nya

Suara Takbiran di Malam Sunyi

 Suara Takbiran di Malam Sunyi

 

Karya: Zahran

Kelas: 7f 


Malam takbiran telah tiba. Rian duduk di teras rumahnya, mendengarkan suara takbir yang berkumandang dari masjid. Ia merasa sedih karena tahun ini adalah Idul Fitri pertama tanpa kehadiran ibu dan neneknya.


Ibu Rian telah meninggal beberapa bulan lalu, dan neneknya pindah ke kota lain untuk merawat saudara laki-lakinya yang sakit. Rian merasa kesepian dan merindukan kehangatan keluarganya.


Ayah Rian, yang menyadari kesedihan anaknya, duduk di sebelah Rian dan memeluknya. "Ayah tahu kamu merindukan ibu dan nenek, tapi kita bisa membuat malam takbiran ini spesial dengan cara kita sendiri."


Rian tersenyum sedikit. Ayahnya mengajaknya untuk memasak makanan favorit ibunya, ketupat dan sambal. Mereka bekerja sama di dapur, dan Rian merasa sedikit lebih baik.


Setelah selesai memasak, mereka pergi ke masjid untuk melakukan salat tarawih. Rian merasa bahagia karena bisa merayakan Idul Fitri bersama ayahnya dan komunitas Muslim lainnya.


Ketika kembali ke rumah, Rian dan ayahnya menikmati makanan yang mereka masak bersama. Rian merasa sedikit lebih bahagia, karena ia tahu bahwa ibu dan neneknya selalu bersamanya dalam hati.


"Terima kasih, Ayah," kata Rian sambil memeluk ayahnya. "Malam takbiran ini memang spesial."


Ayah Rian tersenyum dan memeluknya erat. "Saya juga cinta kamu, anakku. Selamat Idul Fitri."


Rian dan ayahnya menghabiskan malam takbiran dengan penuh kebahagiaan dan rasa syukur. Mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian, karena mereka memiliki Allah dan kehangatan keluarga mereka.


Keesokannya setelah solat idul Fitri Rian dan ayahnya pergi ziarah ke makam ibu Rian. Dan mendoakan yang terbaik untuk ibu Rian agar tenang di sana dan rian berharap bahwa suatu saat nanti dia bisa berkumpul lagi bersama ibunya. 


Saat, Rian sedang duduk bersantai dia melihat nenek dan adiknya sudah pulang. Rian sangat senang lalu langsung memeluk mereka berdua.


"Akhirnya kalian berdua pulang juga. Aku kangen kalian kenapa sangat lama sekali." Ucap Rian dengan nada gembira 


Mereka pun berpelukan lalu Rian mendengar nenek dan adiknya berbicara kepada Rian. 


"Jaga diri baik-baik yah cucu nenek Rian. Jadi anak yang pintar dan nurut sama ayah kamu.Nenek dan ibu serta adikmu sayang sekali sama kamu." Ucap nenek riyan dengan nada lembut.


"Iya jaga diri baik baik ya kak. Adek sayang Kaka." Ucap adik Rian.


Rian pun kebingungan dengan ucapan mereka.lalu ada ayah Rian yang mendatangi Rian lalu bertanya.


"Kamu ngomong sama siapa nak?." Tanya ayah Rian 


"Hah.ini ada nenek sama adik loh". Ucap rian. 


Pas berbalik ke arah pintu tidak ada siapa siapa dan Rian sangat kebingungan setelah itu ada telpon dari rumah sakit bahwa. Nenek dan adiknya Rian sudah meninggal dunia. Rian yang mendengar itu sangat bingung karna baru saja tadi bertemu. Lalu ia menyadari bahwa itu adalah arwah adik dan neneknya yang ingin berpamitan. 


Rian pun menangis setelah menyadari hal itu. 


bersyukur lah kalian karena bisa merayakan idul Fitri dengan kelurga. dan selalu sayangilah keluarga kalian. Bahkan banyak orang yang sulit bertemu keluarga mereka saat hari raya idul Fitri. Jadi bersyukur lah. Selamat hari raya idul Fitri mohon maaf lahir dan batin.


-TAMAT-

Tempat Aneh

 Tempat Aneh

Karya: Dhia Silmi

Kelas: 8e



Suatu hari Luna pulang sekolah dengan kondisi badannya tak berdaya karena hari ini disekolah sangat melelahkan. 


"Uhh nyebelin banget hari inii mending tidur ah." Ia pun tidur sambil membantingkan dirinya ke kasur. 


Luna tertidur pulas sampai ia terbangun di satu tempat aneh. Luna membuka matanya ia terkejut karena pakaiannya sudah berubah ia tadinya menggunakan pakaian sekolah tapi sekarang menjadi gaun putih kecil dan rambut blonde nya yang di pita, ia terbangun diatas rerumputan dan sandaran pohon. 


"Apa yang terjadi? dimana aku?." Tanya dirinya dengan kaget dan kebingungan.


"Hei kamu sepertinya bukan dari daerah sini nona." Ucap salah satu pria asing yang berada di depan Luna.


"EH EH SIAPA KAMU? JANGAN SENTUH AKU." Ucap Luna dengan keras. 


Pria itu hanya tertawa kecil dan berkata.


"Nona aku bukan orang jahat aku hanya penjaga kebun ayo ikut aku kita temui raja maka kamu akan tau jawabannya." Pria itu berjalan sedikit demi sedikit. 


Luna mengiyakan lalu ia mengikuti pria itu, mereka menyusuri banyak tempat dari mulai danau, kebun, bahkan hutan yang gelap. Setelah beberapa lama akhirnya mereka sampai dikerajaan. 


"Masuklah nona aku akan pergi kembali bekerja." Ucap pria itu lalu pergi.


"Eh tunggu dulu siapa namamu? agar aku mengingatnya." Tanya Luna.


Pria itu menoleh ke arah Luna.


"Namaku Riven nona." 


"Aku Luna terimakasih sudah mengantarkan diriku." Ucap Luna dengan membungkuk sebagai rasa hormat. 


Pria itu pergi akhirnya Luna memberanikan diri masuk kedalam kerajaan itu, saat Luna memasukinya disana terlihat raja yang sedang duduk dan beberapa pegawai di kerajaan itu mereka semua memandang luna dengan aneh seolah olah belum menemuinya. 


"Akhirnya kamu datang Luna." Ucap raja.


"B-bagaimana kamu tahu namaku?." Tanya Luna dengan penasaran.


Raja itu hanya tersenyum dan berkata.


" Pergilah ke hutan kegelapan disana kamu akan mengetahui jawabannya mengapa kamu bangun disini, tapi berhati hatilah karena ada sosok penjaga disana hanya orang tertentu yang bisa melewatinya." Ucap raja itu meyakinkan pada Luna. 


"Dimana hutan kegelapan itu?." Tanya Luna.


"Hutan kegelapan ada di samping kiri kerajaan ini." 


Luna langsung pergi tanpa mengatakan apapun lagi, ia mengikuti jalan sesuai yang diperintahkan oleh raja. Ia begitu terkagum-kagum karena ia belum pernah melihat tempat itu sebelumnya, tanpa basa basi akhirnya Luna memasuki dan menelusuri hutan itu ia merasa ada seseorang yang memperhatikan dirinya tapi ia tidak melihat siapapun, tiba tiba saja muncul sosok berbadan besar dan tinggi dihadapannya. 


"Siapa yang berani memasuki hutan ini?." Ucap sosok itu.


"Akuuu." Jawab luna dengan santai. 


"Apa tujuanmu?." Tanya sosok itu. 


"Aku hanya mencari ketenangan." 


"Kau tidak takut padaku?." Tanya sosok itu dengan kebingungan. 


"Mengapa harus takut?." Jawab Luna. 


"Kau!." Jawab sosok itu dengan tegas. 


"Apa? kamu mau ikut denganku?." Tanya Luna tanpa rasa takut. 


Sosok itu hanya bisa kebingungan dan bertanya-tanya. 


"Hei nona, disaat yang lain takut kepadaku kamu bisa bisanya santai." 


"Memangnya aku punya salah apa denganmu sehingga aku harus ketakutan? sudahlah aku ingin mencari ketenangan selamat tinggal , oh ya kalungmu bagus." Ucap Luna lalu pergi. 


Sosok itu ingin mencegah Luna pergi tapi ia menyadari sekarang bahwa dirinya adalah sosok misterius jadi salah besar kalau dia penasaran, tapi rasa penasarannya yang besar tak bisa ditahan akhirnya sosok itu mengikuti Luna dengan udara samar samar.