Mading Digital

NESAMA
  • Sarana dan Prasarana

    Sarana dan Prasarana SMPN 1 Malangbong

  • Home

    Mading Digital SMPN 1 Malangbong

  • Informasi

    Info Grafis SMPN 1 Malangbong

  • Informasi

    Program Unggulan SMPN 1 Malangbong

Lelah

 Lelah

Karya: Naira Hilmiyah 

Kelas: 9G 


Hujan turun membasahi bumi.

Aku mendongakkan Kapala ku,

untuk melihat langit - langit yang gelap.

Aku tersenyum lirih, saat mengingat 

banyak sekali hal yang sudah aku lewati

sejauh ini.


Namun nyatanya, aku malah terperangkap di 

antara banyaknya maslaah yang aku hadapi.

Ibarat kata, aku tengah berada di dalam 

lautan luas yang aku sendiri tidak tau bagaimana cara

keluar dan bahkan aku juga tidak tau dimana letak ujungnya.


Ya tuhan, sekuat itu kah diri ku?

Mengapa engkau memberikan aku ujian

yang seberat ini? Aku  benar-benar lelah ya tuhan.

Tolong, tolong peluk lah hamba mu ini walau hanya sebentar.


Ya tuhan, dimana letak kebahagiaan itu?

Aku benar-benar kehilangan arah, aku hanya ingin bahagia.

Aku hanyalah seorang gadis kecil yang terperangkap di tubuh ini.

Tolong, tolong berikan aku kebahagiaan itu untuk yang kesekian kalinya.


Ya tuhan, tolong, tolong bantu aku untuk berdiri.

Aku benar-benar binggung harus bagaimana.

Ya tuhan, apa hikmah dari semua ini? Tolong yakinkan aku jika aku

bisa melewati semua ini, tolong genggaman tangan ku dan peluklah hamba mu yang penuh dosa ini.

 

Aku berharap jika suatu saat nanti aku bisa menemukan kebahagiaan yang selalu aku ucapkan di setiap doa doaku.


Terimakasih sudah bertahan sejauh ini. I am proud of myself.

Cermin Luka yang Tak Kuinginkan

 Cermin Luka yang Tak Kuinginkan

Karya: Anisya

Kelas: 8H


   Gudang yang gelap, sunyi, dan tak terurus itu seolah menjadi rumah keduaku. Bukan karena aku menginginkannya, tapi karena Ibu selalu mengurungku di sana meskipun aku tidak melakukan kesalahan apa pun.


   "A-aku gak seperti itu, Bu," Seolah menulikan telinganya, ia malah menarik lenganku dan kembali mengunciku di gudang.


   Hiks..., hiks..., hiks...,


   Hanya isak tangisku yang menggema di ruangan pengap itu. Aku tak tahu kenapa Ibu membenciku. Apa salahku? Pertanyaan itu terus mengitari benakku dan tak pernah mendapat jawaban.


   Hingga pada akhirnya aku tumbuh bersama luka-luka yang ditorehkan oleh belahan jiwaku sendiri. Bahkan hanya mendengar suaranya, tubuhku langsung bergetar hebat. Telingaku refleks kututupi karena takut akan teriakan, makian, atau lemparan benda yang bisa datang kapan saja.


   "Nala! Apa yang kamu lakukan di sekolah, hah?" bentaknya,


   "Aku hanya membela diriku sendiri, Bu," jawabku pelan, seraya menahan tangis.


   "Alah! Itu juga kamu yang salah! Memang paling benar kalau kamu gak usah sekolah! Percuma sekolah kalau bisanya cuma ngelawan!"


 _Deg!_ 

   Hatiku serasa ditusuk ribuan pisau. Kenapa? Kenapa baginya aku selalu salah? Aku hanya mencoba bertahan, melindungi diriku dari para pembully yang tak segan-segan berlaku kasar. Apa itu salah?


   Pada suatu hari, aku nekat kabur dari rumah karena tak kuasa menahan luka yang terus-menerus tergores. Hingga akhirnya aku kalah, aku kembali lagi hanya karena tak tahu ke mana harus pergi. Tapi saat kutemukan Ibu tertidur di ruang tamu, kulihat satu album foto lama di tangannya yang terbuka. Di sana ada foto seorang laki-laki, dia adalah laki-laki yang tak sama sekali aku kenal. Anehnya, wajahnya sangat mirip denganku.


   "Apa itu, Ayah?" ucapku dengan bergetar,


   Aku pun mendengar suara Ibu mengigau lirih.


   "Kenapa harus wajah? Kenapa harus kamu yang lahir? Kalian sangat amat mirip,"


   Esok hari yg cerah, aku menatap Ibu dan memberanikan diri bertanya, 

   

   “Bu... kenapa Ibu membenciku?”


   Dia menatapku dengan mata merah. Untuk pertama kalinya, jawabannya keluar.


   "Karena kau terlalu mirip dia. Ayahmu. Laki-laki brengsek yang menghancurkan hidupku dengan perselingkuhannya... berkali-kali. Dan kau... kau hadir dengan wajah yang persis dengannya. Kau membuatku mengingat semua sakit itu lagi dan lagi."


   Aku tak bisa berkata apa-apa. Tubuhku seakan membeku.


   Ternyata, aku bukan anak yang dibenci karena salah. Tapi anak yang dibenci karena menjadi cermin dari masa lalu yang tak pernah bisa Ibu sembuhkan. Aku adalah luka berjalan, dalam bentuk daging dan darah.

Luka Sesungguhnya

 Luka Sesungguhnya

Karya: Dhia Silmi

Kelas: 8e


Entah rumah mana yang benar benar milikku, aku tidak memiliki rumah yang nyaman rumah yang seharusnya aku gunakan untuk berteduh dan bersandar nyatanya aku harus menjadi garda terdepan untuk rumah itu. 


"Mora, kamu sudah besar tolong rubah sikap kamu ibu tidak suka kalau sikapmu terus menerus seperti ini kamu harus menjadi contoh yang baik bagi adik adikmu." Ucap seorang ibu kepada anak perempuan pertamanya.


"Ibu, Mora sudah berusaha sebaik mungkin untuk adik tapi terkadang juga Mora lelah." 


"Lelah darimana? Seharusnya kamu lihat perjuangan ayah dan ibu terlebih dahulu baru kamu mengeluh." Bentak seorang ayah pada putri pertamanya


Kata-kata itu begitu menyakitkan untukku. Memang, seharusnya anak pertama terlihat kuat untuk adiknya tetapi terkadang anak pertama juga butuh sandaran entah mereka yang tidak tahu atau tidak ingin tahu kalau seorang anak juga butuh untuk di dengar, butuh diperhatikan, butuh sandaran, bukanlah kritikan atau ancaman dari keluarganya sendiri.


"Mora, ibu sudah cukup kecewa padamu kenapa kamu kemarin pulang telat?." Ucap ibu.


"Pergi kemana kamu?Kamu harus menjadi contoh yang baik untuk adik adikmu yang lain Mora." Bentak seorang ayah. 


Mora yang sedang sarapan tiba-tiba dibentak itu sudah menjadi makanan sehari-harinya. Mora hanya bisa terdiam tanpa ada sepatah kata apapun. 


"Kalau orang tua berbicara atau menasehati jawab Mora jawab jangan diam saja!." Ucap ayahnya dengan amarah.


"Kamu ini memang berbeda, pantas saja kalau keluarga membicarakan tentang dirimu, kamu berbeda dengan adikmu dia pintar dan dia cantik tidak seperti dirimu apa yang kamu pikirkan selama ini Mora?." Teriak ibunya. 


Mora menelan makanannya dengan gemetar dan mata yang berkaca-kaca. 


"Ayah, Ibu, Mora sudah bilang terkadang Mora lelah menjaga sesuatu tapi Mora sudah berusaha sebaik mungkin untuk adik-adik Mora, apa kalian lupa kalau kalian juga yang membuat Mora seperti ini?." Ucap Mora dengan tatapan kosong tanpa melihat kearah orangtuanya sama sekali. 


"Kamu ini Mora, selalu mengatakan hal itu apa kami kurang memberikan semuanya?Kamu terlalu egois Mora." Tegas ayahnya dengan memukul meja makan.


Sontak, Mora terkejut akhirnya mora berdiri dihadapan mereka dan meluapkan segalanya yang dipendam.


"Kalian terkadang selalu menjadikan Mora sebagai garda terdepan untuk keluarga, tapi apa kalian lupa? Mora sebagai anak pertama juga butuh sandaran dan perhatian dari orangtua, kalian terlalu sibuk dengan pekerjaan, dan terlalu sibuk menyekolahkan adik sementara Mora? Mora rela tidak sekolah agar adik Mora bisa belajar bersama temannya dan bisa bersekolah, Ibu juga selalu membandingkan Mora dengan yang lain itu sudah cukup sabar untuk Mora setidaknya kalian jangan memandang mora dengan sebelah mata tapi lihatlah perjuangan Mora, Mora tau mora memang tidak pintar dan cantik karna Mora merelakan semuanya untuk adik-adik Mora jadi apa kalian pantas menyebut Mora egois?." 


Suasana rumah menjadi hening, Mora kembali ke kamarnya dan mengunci sementara orangtuanya merasa bersalah walau sedikit tapi orangtuanya kembali menghiraukan segalanya. 


Malam hari sudah tiba, Mora pergi keluar lewat jendela kamarnya ia mendatangi suatu hutan gelap yang jauh dari rumahnya. Kemudian ia bersimpuh di bebatuan besar, ia menatap langit malam dan menikmati udara yang sejuk ia merenungi semua yang ia pendam selama ini. 


Ditengah-tengah kesunyiannya itu, Mora mengeluarkan pisau dan mengarahkan pisau itu ke kepalanya. 


"Maafkan aku, aku sangat lelah." Lirihnya. 


Pada akhirnya, Mora menghabisi hidupnya di hutan gelap itu.


— Jika semua bersandar padaku, lalu aku bersandar pada siapa? 


–```silmi```

Meja makan

 Meja makan

Karya: Dhia Silmi

Kelas: 8E


Pagi hari, rumah terasa sepi ayah dan ibu pergi bekerja hanya ada temanku yang menginap sejak 2 hari yang lalu. 


Aku terbangun dan memerintahkan temanku. Yusuf untuk pergi ke ruang makan.


"Yusuf, jangan lupa cuci muka dulu ya baru ke meja makan." Ucapku sambil berjalan mempersiapkan sarapan. 


Yusuf tak menjawab apapun, ia hanya mengangguk lalu pergi ke kamar mandi dengan tatapan kosongnya. Aku hanya berfikir mungkin dia sedang sakit? Dan mungkin ia sedang tidak ingin bicara padaku? Baiklah, itu bukan masalah besar bagiku aku sebagai teman harus menghargainya.


Aku kembali mempersiapkan makanan untuk sarapan, tapi hawa kali ini berbeda sangat suram dan mencekam padahal cuaca diluar sedang bagus. Akhirnya Yusuf datang ke meja makan lalu duduk, tatapannya sama masih tetap kosong dan wajahnya pucat. 


"Yusuf? Kamu gakpapa?." Tanyaku dengan sedikit khawatir.


"Aku gakpapa kok Reza." Jawabnya dengan suara serak. 


Aku hanya bisa kebingungan dan memaklumi hal itu mungkin dia hanya tidak ingin berbicara pada siapapun hari ini akhirnya kami makan bersama tapi tiba tiba handphone ku memberikan notif telfon panggilan dari temanku, namanya Ari. 


Karena merasa ini penting jadi aku pergi mendekati kompor dapur agar percakapan ku tidak terlalu didengar oleh Yusuf. 


"Yusuf, sebentar ya." Ucapku lalu pergi menjauh sedikit. 


"Kenapa Ari? ada apa?." Tanyaku dengan penasaran. 


"Reza, tolong Reza ini gawatt ini gawatt." Suara temanku Ari dengan gelisah. 


"Apasih? Gawat kenapa Ari? Yang jelas dong." Rasa penasaran mulai muncul di otakku. 


"Yusuf, Yusuf meninggal 2 hari yang lalu dia bunuh diri." Ucap Ari dengan terburu-buru. 


Tiba-tiba suasana semakin mencekam, hawa disekitar semakin merinding apa yang dikatakan Ari itu benar?. 


"Tunggu! Ari! Kamu jangan bercanda jelas jelas Yusuf ada disini dari 2 hari yang lalu dia nginep dirumah aku sejak 2 hari yang lalu." Ucapku dengan tegas tapi ada rasa takut. 


"Gawat, gawat itu bukan Yusuf itu mungkin hantu." Suara temanku Ari dengan ketakutan. 


Karna aku kurang percaya aku berbalik arah melihat kearah Yusuf yang sedang duduk, lalu aku membungkuk sedikit melihat kakinya dan ternyata benar kakinya tidak menyentuh lantai sama sekali. Suasana semakin merinding dan mencekam bagaimana ini? Apa yang harus ku lakukan? Apa aku harus lari? Atau diam saja? Akupun berbalik arah dan mematikan telfon dari temanku. 


Tiba-tiba saja Yusuf menepuk pundakku dan berkata. 


"Jadi, kamu udah tau semuanya?."

"Sekadar Manusia"

 "Sekadar Manusia"


Karya: Zahran 

Kelas :7f 


Chapter 1: Bayangan yang Hilang



Keesokan harinya, saat Lia tiba di sekolah, suasana terasa begitu berbeda. Nadia dan teman-temannya yang sering menertawakannya, kali ini hanya diam. Mereka melihatnya dengan tatapan kosong, seperti sesuatu yang hilang. Tidak ada tawa, tidak ada ejekan.


Lia merasa aneh. Sesuatu yang tak biasa. Tapi entah mengapa, ia merasa tak ada bedanya. Bangku tempatnya duduk selalu kosong, dan dunia di sekelilingnya seperti berhenti berputar.


Hari-hari berlalu. Lia tak pernah lagi mendengar suara tertawa atau ejekan yang dulu selalu mengisi hari-harinya. Namun, yang membuatnya lebih hancur, adalah ketidakpedulian yang lebih dalam. Tak ada yang mencari tahu, tak ada yang merasa kehilangan. Seakan-akan, kepergiannya tak pernah berarti apapun.


Sampai pada suatu pagi, Lia tidak datang ke sekolah. Semua orang menganggapnya biasa saja, seperti hari-hari sebelumnya. Tapi hari itu, Lia tak hanya menghilang dari sekolah, dia juga menghilang dari dunia.


Di rumah, ibunya hanya merespon dengan acuh ketika mendengar bahwa Lia tak pergi ke sekolah. Ayahnya bahkan tak mempedulikannya. Semua orang sibuk dengan hidup mereka sendiri, tanpa peduli pada kesunyian yang terus berkembang di dalam diri Lia.


Pada malam itu, Lia menulis surat terakhirnya, sebuah catatan yang mungkin tak akan dibaca oleh siapapun, namun bagi Lia, ini adalah cara untuk mengakhiri semua beban yang dipikulnya.


"Aku sudah berusaha. Aku sudah mencoba untuk terlihat kuat. Tapi aku tak bisa lagi. Aku terlalu lelah, dan dunia ini tak memberi ruang untuk orang-orang sepertiku. Aku tak berharap siapapun akan menangis, karena aku tahu tak ada yang benar-benar peduli. Aku hanya ingin pergi. Sekadar manusia yang lelah, yang akhirnya berhenti mencari tempat untuk bertahan."


Lia menutup surat itu dengan tangan gemetar. Ia menatap keluar jendela, melihat langit malam yang gelap, seolah mewakili hatinya yang sudah lama suram. Dengan perlahan, Lia mengakhiri semuanya.



---


Pesan Moral:


Kita tak pernah tahu seberapa berat beban yang dipikul seseorang. Satu kata kasar bisa menjadi pisau. Satu ejekan bisa menjadi luka yang tak sembuh. Jangan anggap sepele perasaan orang lain. Kadang, yang paling diam... adalah yang paling terluka.


Jangan menilai seseorang hanya dari penampilannya, karena kita tidak tahu cerita yang mereka bawa dalam hidup mereka. Jangan hanya melihat apa yang tampak di depan mata. Setiap orang memiliki perjuangannya sendiri, dan kadang, mereka hanya membutuhkan sedikit pengertian, bukan penilaian.



---

TAMAT