Mading Digital

NESAMA
  • Sarana dan Prasarana

    Sarana dan Prasarana SMPN 1 Malangbong

  • Home

    Mading Digital SMPN 1 Malangbong

  • Informasi

    Info Grafis SMPN 1 Malangbong

  • Informasi

    Program Unggulan SMPN 1 Malangbong

AYAH, INI ARAHNYA KE MANA, YA?

 AYAH, INI ARAHNYA KE MANA, YA?

By: Muhammad Fadhil Nurhikam

Kelas: 9K

Mentari pagi menyapa lembut dari balik jendela, menerobos celah tirai usang dan jatuh tepat di wajah Arya. Ia menggeliat kecil, merasakan sengatan hangat yang perlahan membuyarkan sisa kantuknya. Aroma kopi dan gorengan samar-samar menusuk hidungnya, pertanda Ayah sudah beraktivitas di dapur. Sebuah rutinitas yang selalu menenangkan bagi Arya, seperti melodi familiar yang mengawali setiap harinya.

Dengan malas, Arya bangkit dari ranjangnya yang sederhana. Kamar berukuran tiga kali tiga meter itu terasa pengap meski jendelanya terbuka sedikit. Poster-poster band rock lawas dan coretan-coretan lirik lagu memenuhi dindingnya, saksi bisu imajinasinya yang kerap melayang jauh di tengah keterbatasan ruang.

Langkah Arya tertuju ke dapur, tempat Ayah – lelaki paruh baya dengan rambut mulai menipis dan kerutan di sudut mata yang menyimpan segudang cerita – tengah sibuk di depan kompor. Aroma kopi hitam pekat bercampur dengan bau harum tempe mendoan yang baru diangkat.

“Pagi, Le,” sapa Ayah tanpa menoleh, suaranya serak khas bangun tidur. “Sudah bangun rupanya anak lanang.”

“Pagi, Yah,” jawab Arya sambil menguap. Ia menghampiri meja makan kecil di sudut dapur dan duduk di salah satu kursi kayu yang sudah sedikit goyang. Di atas meja, sepiring nasi goreng sederhana dan beberapa potong tempe mendoan hangat sudah tertata rapi.

Ayah meletakkan secangkir kopi di hadapan Arya, lalu duduk di kursi seberangnya. Keheningan singkat menyelimuti mereka, hanya dipecah oleh suara gemericik minyak di wajan dan desahan napas Ayah yang terdengar sedikit berat.

Arya memperhatikan Ayahnya lekat-lekat. Ada guratan lelah yang lebih dalam dari biasanya di wajah itu. Pundaknya tampak sedikit membungkuk, seolah memikul beban yang tak terlihat. Arya tahu, kehidupan sebagai buruh pabrik tekstil tidaklah mudah. Upah yang pas-pasan seringkali membuat Ayah harus memutar otak untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

“Yah?” panggil Arya pelan, memecah keheningan.

Ayah mendongak, alisnya sedikit terangkat. “Ada apa, Le?”

Arya menunduk, memainkan ujung sendoknya. “Aku… bingung, Yah.”

“Bingung kenapa?” tanya Ayah lembut, meletakkan kembali koran yang baru dibacanya.

“Soal kuliah,” jawab Arya lirih. “Pengumuman SBMPTN sebentar lagi. Aku… tidak yakin.”

Ayah menghela napas pelan. Ia meraih tangan Arya dan menggenggamnya erat. “Kamu sudah berusaha semaksimal mungkin, Le. Soal hasil, kita serahkan saja pada Yang di Atas.”

“Tapi, Yah…” Arya mengangkat wajahnya, menatap mata Ayahnya yang penuh kasih. “Kalau aku tidak diterima… lalu bagaimana?”

Ayah tersenyum tipis. “Lalu kita cari jalan lain. Hidup ini panjang, Le. Banyak jalan menuju Roma, bukan?”

Arya tahu Ayahnya berusaha menenangkannya, tetapi ia tetap merasa gamang. Impiannya untuk kuliah di jurusan desain grafis terasa semakin jauh. Ia sadar betul, biaya kuliah tidaklah sedikit. Penghasilan Ayah sebagai buruh pabrik едва cukup untuk kebutuhan sehari-hari.

“Aku tidak ingin membebani Ayah,” ucap Arya jujur.

“Kamu tidak pernah menjadi beban, Le,” sanggah Ayah dengan nada tegas namun lembut. “Kamu adalah semangat Ayah. Kamu adalah harapan Ibu.”

Ibu. Nama itu selalu menghadirkan kehangatan sekaligus kesedihan di hati Arya. Ibunya telah meninggal dunia tiga tahun lalu karena sakit. Kepergiannya meninggalkan luka yang mendalam bagi Arya dan Ayah. Sejak saat itu, mereka berdua menjadi lebih dekat, saling menguatkan dalam kesunyian rumah kontrakan mereka.

“Ibu pasti ingin aku kuliah,” gumam Arya pelan.

Ayah mengangguk. “Ibumu selalu percaya pada potensi kamu, Le. Dia selalu bilang, kamu punya bakat menggambar yang luar biasa.”

Arya tersenyum getir. Bakat menggambar. Dulu, ia selalu menghabiskan waktu luangnya untuk mencoret-coret kertas, menciptakan dunia fantasinya sendiri melalui garis dan warna. Namun, seiring berjalannya waktu, kesibukan sekolah dan keterbatasan biaya membuatnya semakin jarang menyentuh pensil dan kuas.

“Tapi, Yah… kuliah itu mahal,” ulang Arya, keraguan masih menggelayuti hatinya.

Ayah terdiam sejenak, pandangannya menerawang jauh. “Ayah akan berusaha sekuat tenaga, Le. Mungkin Ayah bisa menambah jam kerja, atau mencari pekerjaan sampingan.”

Arya merasa terenyuh mendengar ucapan Ayahnya. Ia tahu betul, Ayahnya sudah bekerja keras selama ini. Menambah beban lagi rasanya tidak adil.

“Jangan, Yah,” tolak Arya pelan. “Aku bisa mencari pekerjaan setelah lulus SMA. Mungkin aku bisa bekerja di percetakan atau studio desain.”

“Itu juga pilihan yang baik, Le,” sahut Ayah. “Yang penting kamu tidak patah semangat. Apapun jalan yang kamu pilih, Ayah akan selalu mendukungmu.”

Percakapan mereka terhenti saat suara ketukan pintu terdengar. Ayah beranjak membukakan pintu, dan seorang lelaki paruh baya dengan wajah ramah menyapa dari ambang pintu.

“Pagi, Pak Slamet,” sapa lelaki itu.

“Pagi, Pak Jono,” jawab Ayah. “Ada apa gerangan?”

“Ini, Pak Slamet,” Pak Jono menyodorkan sebuah amplop cokelat kepada Ayah. “Ada sedikit rezeki dari proyek kemarin. Kebetulan, Arya juga ikut membantu.”

Arya mengerutkan kening, merasa bingung. Proyek apa? Ia tidak ingat pernah membantu Pak Jono dalam proyek apapun. Pak Jono adalah tetangga mereka yang memiliki usaha kecil di bidang desain grafis.

Ayah menerima amplop itu dengan tatapan heran. Ia membuka amplop tersebut dan mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah. Matanya membulat terkejut.

“Ini… banyak sekali, Pak Jono,” ucap Ayah terbata-bata.

Pak Jono tersenyum lebar. “Tidak seberapa, Pak Slamet. Arya kemarin sempat membantu saya membuat beberapa desain logo. Hasilnya lumayan bagus. Saya pikir, sudah sepantasnya ia mendapatkan bagiannya.”

Arya terkejut. Kapan ia membantu Pak Jono membuat desain logo? Ia sama sekali tidak ingat.

“Maaf, Pak Jono,” Arya angkat bicara. “Sepertinya ada kekeliruan. Saya tidak pernah…”

“Lho, Arya,” sela Pak Jono sambil menatap Arya dengan tatapan penuh arti. “Kamu lupa? Waktu itu kamu datang ke rumah saya malam-malam, membawa beberapa sketsa desain. Kamu bilang, itu ide-ide untuk proyek saya.”

Arya mencoba mengingat-ingat. Ia memang sering menghabiskan waktu malamnya untuk menggambar, tetapi ia tidak pernah menunjukkan sketsanya kepada siapapun, apalagi Pak Jono.

Ayah menatap Arya dengan tatapan penuh tanya. Arya menggelengkan kepalanya, mencoba memberi isyarat bahwa ia tidak tahu apa-apa.

“Sudahlah, Pak Slamet,” kata Pak Jono sambil menepuk pundak Ayah. “Anggap saja ini rezeki nomplok. Siapa tahu bisa membantu Arya untuk biaya kuliah.”

Ayah masih terlihat bingung, tetapi ia akhirnya mengangguk pelan. “Terima kasih banyak, Pak Jono. Kami sangat berterima kasih.”

Setelah Pak Jono pergi, Ayah menatap Arya dengan tatapan menyelidik. “Le, apa benar kamu membantu Pak Jono?”

Arya menghela napas. Ia tahu ia harus mengatakan yang sebenarnya. “Tidak, Yah. Aku tidak pernah membantu Pak Jono.”

Ayah mengerutkan kening. “Lalu… kenapa Pak Jono bilang begitu?”

Arya terdiam sejenak, mencoba merangkai kata-kata yang tepat. Ia ingat betul, beberapa minggu yang lalu, ia menemukan beberapa sketsa desain logo di meja belajarnya. Sketsa-sketsa itu bukan miliknya. Ia sempat bertanya kepada Ayah, tetapi Ayah juga tidak tahu menahu.

“Yah,” Arya memulai dengan hati-hati. “Beberapa minggu yang lalu, aku menemukan beberapa sketsa desain di kamarku. Sketsa-sketsa itu… bukan buatanku.”

Ayah terkejut. “Lalu… milik siapa?”

Arya mengangkat bahunya. “Aku tidak tahu. Tapi… gayanya mirip dengan desain-desain Pak Jono.”

Ayah terdiam, mencoba mencerna ucapan Arya. Tiba-tiba, matanya membulat, seolah ada sesuatu yang baru saja terlintas di benaknya.

“Tunggu sebentar, Le,” ucap Ayah sambil beranjak dari duduknya. Ia berjalan menuju lemari pakaiannya yang usang dan membuka laci paling bawah. Ia mengeluarkan sebuah buku gambar yang sudah terlihat lusuh.

Ayah membuka buku gambar itu dengan hati-hati dan menunjukkan sebuah halaman kepada Arya. Di halaman itu, terdapat sebuah sketsa desain logo yang sangat familiar bagi Arya. Itu adalah salah satu desain logo yang Pak Jono tunjukkan padanya tadi.

“Ini…” Arya menunjuk sketsa itu dengan jari gemetar. “Ini kan… desain yang Pak Jono bilang buatanku?”

Ayah mengangguk pelan. “Ini… ini gambarmu waktu kamu masih kecil, Le. Kamu pasti lupa.”

Arya menggelengkan kepalanya kuat-kuat. “Tidak, Yah. Aku ingat betul semua gambar-gambarku. Aku tidak pernah menggambar logo seperti ini.”

Ayah terdiam lagi, raut wajahnya menunjukkan kebingungan yang mendalam. Ia membolak-balik halaman buku gambar itu, seolah mencari jawaban di antara coretan-coretan masa lalu.

“Tapi… kalau bukan kamu yang menggambar… lalu siapa?” gumam Ayah lebih kepada dirinya sendiri.

Tiba-tiba, Arya teringat sesuatu. Beberapa bulan yang lalu, ia pernah melihat Ayah diam-diam menggambar di ruang tamu saat malam sudah larut. Ketika Arya bertanya, Ayah hanya tersenyum dan mengatakan bahwa ia sedang mengisi waktu luang.

Arya menatap Ayahnya dengan tatapan penuh kecurigaan. “Yah… apa Ayah yang menggambar desain-desain itu?”

Ayah tersentak kaget. Ia menatap Arya dengan mata memelas. “Le… sebenarnya…”

Ayah menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan. “Ayah… Ayah ingin membantu kamu, Le. Ayah tahu kamu sangat ingin kuliah. Ayah tidak punya banyak uang, jadi… Ayah mencoba membantu Pak Jono membuat desain logo di waktu luang.”

Arya terkejut mendengar pengakuan Ayahnya. Ia tidak menyangka Ayahnya akan melakukan hal sejauh itu demi dirinya.

“Tapi, Yah… kenapa Ayah tidak bilang padaku?” tanya Arya dengan nada tercekat.

Ayah menunduk, merasa bersalah. “Ayah… Ayah malu, Le. Ayah tidak pandai menggambar. Ayah takut kamu kecewa.”

Arya menghampiri Ayahnya dan memeluknya erat. Air mata tiba-tiba mengalir di pipinya. Ia merasa terharu dengan pengorbanan Ayahnya.

“Ayah…” ucap Arya dengan suara bergetar. “Terima kasih, Yah. Terima kasih banyak.”

Ayah membalas pelukan Arya dengan erat. “Ayah hanya ingin kamu bahagia, Le. Itu saja.”

Keheningan kembali menyelimuti mereka, namun kali ini keheningan yang penuh haru dan kehangatan. Arya menyadari betapa besar cinta Ayahnya padanya. Ayahnya rela melakukan apapun demi mewujudkan impiannya, bahkan sesuatu yang di luar kemampuannya.

Beberapa hari kemudian, pengumuman SBMPTN tiba. Dengan jantung berdebar-debar, Arya membuka hasil pengumuman di layar komputernya. Matanya terpaku pada satu kalimat yang tertera di sana: “Selamat! Anda dinyatakan lulus seleksi masuk program studi Desain Grafis, Universitas Negeri Jakarta.”

Arya tidak bisa menahan pekikan kegembiraan. Ia berhasil! Ia diterima di jurusan impiannya. Ia segera berlari menghampiri Ayahnya yang sedang membaca koran di ruang tamu.

“Yah! Aku diterima! Aku diterima!” seru Arya sambil memeluk Ayahnya erat.

Ayah tersenyum lebar, matanya berkaca-kaca. “Ayah sudah menduganya, Le. Kamu memang anak pintar.”

Namun, di tengah kebahagiaan itu, Arya kembali teringat pada pengorbanan Ayahnya. Ia tahu, perjuangan mereka belum berakhir. Biaya kuliah pasti akan sangat besar.

“Yah…” Arya melepaskan pelukannya dan menatap Ayahnya dengan tatapan serius. “Soal biaya kuliah… bagaimana?”

Ayah menghela napas pelan. “Ayah masih punya sedikit tabungan. Uang dari Pak Jono juga lumayan. Kita akan berusaha semaksimal mungkin, Le. Kamu jangan khawatir.”

Arya menggelengkan kepalanya. “Tidak, Yah. Aku tidak ingin Ayah berjuang sendirian. Aku akan mencari beasiswa sambil kuliah. Aku juga akan mencari pekerjaan paruh waktu.”

Ayah menatap Arya dengan bangga. “Kamu memang anak Ayah yang hebat. Ayah percaya kamu bisa.”

Hari-hari berikutnya dipenuhi dengan persiapan kuliah. Arya sibuk mencari informasi tentang beasiswa dan lowongan kerja paruh waktu. Ayah juga semakin giat bekerja di pabrik. Mereka berdua saling mendukung dan menguatkan.

Saat Arya mulai kuliah, ia merasakan dunia baru yang penuh dengan tantangan dan peluang. Ia bersemangat belajar dan mengembangkan bakatnya. Ia juga berhasil mendapatkan beasiswa yang sedikit meringankan beban biaya kuliah. Selain itu, ia juga bekerja paruh waktu sebagai desainer lepas.

Waktu terus berjalan. Arya semakin mahir dalam bidang desain grafis. Ia mendapatkan banyak proyek dan penghasilannya pun semakin meningkat. Ia tidak pernah melupakan pengorbanan Ayahnya. Setiap bulan, ia selalu menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membantu Ayah.

Suatu malam, Arya duduk berdua dengan Ayahnya di ruang tamu sederhana mereka. Arya baru saja menyelesaikan sebuah proyek besar dan mendapatkan bayaran yang cukup lumayan. Ia menyodorkan sebagian uang itu kepada Ayahnya.

“Ini, Yah,” kata Arya sambil tersenyum. “Untuk Ayah.”

Ayah menatap uang itu dengan mata berkaca-kaca. “Tidak perlu, Le. Kamu simpan saja untuk masa depanmu.”

“Ini juga untuk masa depan Ayah,” sanggah Arya lembut. “Ayah sudah bekerja keras selama ini. Sekarang saatnya Ayah sedikit beristirahat.”

Ayah menggenggam tangan Arya dengan erat. “Terima kasih, Le. Kamu memang anak yang berbakti.”

Arya tersenyum. Ia merasa bahagia bisa membahagiakan Ayahnya. Ia tahu, perjalanan mereka masih panjang. Akan ada banyak tantangan dan rintangan di depan sana. Namun, ia yakin, bersama Ayahnya, mereka bisa melewati semuanya.

Malam itu, sebelum tidur, Arya kembali melihat buku gambar lusuh milik Ayahnya. Ia membuka halaman yang berisi sketsa logo buatannya saat kecil. Ia tersenyum dalam hati. Ia menyadari, arah hidupnya mungkin tidak selalu lurus dan jelas. Ada belokan-belokan tak terduga, bahkan pengorbanan-pengorbanan yang tersembunyi. Namun, selama ada cinta dan dukungan dari orang-orang terdekat, terutama dari seorang ayah yang luar biasa, arah itu pasti akan membawa ke tempat yang lebih baik.

Arya memejamkan mata, mengingat pertanyaan yang pernah ia lontarkan kepada Ayahnya dulu: “Ayah, ini arahnya ke mana, ya?” Kini, ia tahu jawabannya. Arah hidupnya adalah ke mana pun cinta dan pengorbanan membawanya. Dan di setiap langkahnya, ia akan selalu mengingat sosok Ayah – pahlawan tanpa tanda jasa yang selalu menjadi kompas dalam hidupnya.

Lelah

 Lelah

Karya: Naira Hilmiyah 

Kelas: 9G 


Hujan turun membasahi bumi.

Aku mendongakkan Kapala ku,

untuk melihat langit - langit yang gelap.

Aku tersenyum lirih, saat mengingat 

banyak sekali hal yang sudah aku lewati

sejauh ini.


Namun nyatanya, aku malah terperangkap di 

antara banyaknya maslaah yang aku hadapi.

Ibarat kata, aku tengah berada di dalam 

lautan luas yang aku sendiri tidak tau bagaimana cara

keluar dan bahkan aku juga tidak tau dimana letak ujungnya.


Ya tuhan, sekuat itu kah diri ku?

Mengapa engkau memberikan aku ujian

yang seberat ini? Aku  benar-benar lelah ya tuhan.

Tolong, tolong peluk lah hamba mu ini walau hanya sebentar.


Ya tuhan, dimana letak kebahagiaan itu?

Aku benar-benar kehilangan arah, aku hanya ingin bahagia.

Aku hanyalah seorang gadis kecil yang terperangkap di tubuh ini.

Tolong, tolong berikan aku kebahagiaan itu untuk yang kesekian kalinya.


Ya tuhan, tolong, tolong bantu aku untuk berdiri.

Aku benar-benar binggung harus bagaimana.

Ya tuhan, apa hikmah dari semua ini? Tolong yakinkan aku jika aku

bisa melewati semua ini, tolong genggaman tangan ku dan peluklah hamba mu yang penuh dosa ini.

 

Aku berharap jika suatu saat nanti aku bisa menemukan kebahagiaan yang selalu aku ucapkan di setiap doa doaku.


Terimakasih sudah bertahan sejauh ini. I am proud of myself.

Cermin Luka yang Tak Kuinginkan

 Cermin Luka yang Tak Kuinginkan

Karya: Anisya

Kelas: 8H


   Gudang yang gelap, sunyi, dan tak terurus itu seolah menjadi rumah keduaku. Bukan karena aku menginginkannya, tapi karena Ibu selalu mengurungku di sana meskipun aku tidak melakukan kesalahan apa pun.


   "A-aku gak seperti itu, Bu," Seolah menulikan telinganya, ia malah menarik lenganku dan kembali mengunciku di gudang.


   Hiks..., hiks..., hiks...,


   Hanya isak tangisku yang menggema di ruangan pengap itu. Aku tak tahu kenapa Ibu membenciku. Apa salahku? Pertanyaan itu terus mengitari benakku dan tak pernah mendapat jawaban.


   Hingga pada akhirnya aku tumbuh bersama luka-luka yang ditorehkan oleh belahan jiwaku sendiri. Bahkan hanya mendengar suaranya, tubuhku langsung bergetar hebat. Telingaku refleks kututupi karena takut akan teriakan, makian, atau lemparan benda yang bisa datang kapan saja.


   "Nala! Apa yang kamu lakukan di sekolah, hah?" bentaknya,


   "Aku hanya membela diriku sendiri, Bu," jawabku pelan, seraya menahan tangis.


   "Alah! Itu juga kamu yang salah! Memang paling benar kalau kamu gak usah sekolah! Percuma sekolah kalau bisanya cuma ngelawan!"


 _Deg!_ 

   Hatiku serasa ditusuk ribuan pisau. Kenapa? Kenapa baginya aku selalu salah? Aku hanya mencoba bertahan, melindungi diriku dari para pembully yang tak segan-segan berlaku kasar. Apa itu salah?


   Pada suatu hari, aku nekat kabur dari rumah karena tak kuasa menahan luka yang terus-menerus tergores. Hingga akhirnya aku kalah, aku kembali lagi hanya karena tak tahu ke mana harus pergi. Tapi saat kutemukan Ibu tertidur di ruang tamu, kulihat satu album foto lama di tangannya yang terbuka. Di sana ada foto seorang laki-laki, dia adalah laki-laki yang tak sama sekali aku kenal. Anehnya, wajahnya sangat mirip denganku.


   "Apa itu, Ayah?" ucapku dengan bergetar,


   Aku pun mendengar suara Ibu mengigau lirih.


   "Kenapa harus wajah? Kenapa harus kamu yang lahir? Kalian sangat amat mirip,"


   Esok hari yg cerah, aku menatap Ibu dan memberanikan diri bertanya, 

   

   “Bu... kenapa Ibu membenciku?”


   Dia menatapku dengan mata merah. Untuk pertama kalinya, jawabannya keluar.


   "Karena kau terlalu mirip dia. Ayahmu. Laki-laki brengsek yang menghancurkan hidupku dengan perselingkuhannya... berkali-kali. Dan kau... kau hadir dengan wajah yang persis dengannya. Kau membuatku mengingat semua sakit itu lagi dan lagi."


   Aku tak bisa berkata apa-apa. Tubuhku seakan membeku.


   Ternyata, aku bukan anak yang dibenci karena salah. Tapi anak yang dibenci karena menjadi cermin dari masa lalu yang tak pernah bisa Ibu sembuhkan. Aku adalah luka berjalan, dalam bentuk daging dan darah.

Luka Sesungguhnya

 Luka Sesungguhnya

Karya: Dhia Silmi

Kelas: 8e


Entah rumah mana yang benar benar milikku, aku tidak memiliki rumah yang nyaman rumah yang seharusnya aku gunakan untuk berteduh dan bersandar nyatanya aku harus menjadi garda terdepan untuk rumah itu. 


"Mora, kamu sudah besar tolong rubah sikap kamu ibu tidak suka kalau sikapmu terus menerus seperti ini kamu harus menjadi contoh yang baik bagi adik adikmu." Ucap seorang ibu kepada anak perempuan pertamanya.


"Ibu, Mora sudah berusaha sebaik mungkin untuk adik tapi terkadang juga Mora lelah." 


"Lelah darimana? Seharusnya kamu lihat perjuangan ayah dan ibu terlebih dahulu baru kamu mengeluh." Bentak seorang ayah pada putri pertamanya


Kata-kata itu begitu menyakitkan untukku. Memang, seharusnya anak pertama terlihat kuat untuk adiknya tetapi terkadang anak pertama juga butuh sandaran entah mereka yang tidak tahu atau tidak ingin tahu kalau seorang anak juga butuh untuk di dengar, butuh diperhatikan, butuh sandaran, bukanlah kritikan atau ancaman dari keluarganya sendiri.


"Mora, ibu sudah cukup kecewa padamu kenapa kamu kemarin pulang telat?." Ucap ibu.


"Pergi kemana kamu?Kamu harus menjadi contoh yang baik untuk adik adikmu yang lain Mora." Bentak seorang ayah. 


Mora yang sedang sarapan tiba-tiba dibentak itu sudah menjadi makanan sehari-harinya. Mora hanya bisa terdiam tanpa ada sepatah kata apapun. 


"Kalau orang tua berbicara atau menasehati jawab Mora jawab jangan diam saja!." Ucap ayahnya dengan amarah.


"Kamu ini memang berbeda, pantas saja kalau keluarga membicarakan tentang dirimu, kamu berbeda dengan adikmu dia pintar dan dia cantik tidak seperti dirimu apa yang kamu pikirkan selama ini Mora?." Teriak ibunya. 


Mora menelan makanannya dengan gemetar dan mata yang berkaca-kaca. 


"Ayah, Ibu, Mora sudah bilang terkadang Mora lelah menjaga sesuatu tapi Mora sudah berusaha sebaik mungkin untuk adik-adik Mora, apa kalian lupa kalau kalian juga yang membuat Mora seperti ini?." Ucap Mora dengan tatapan kosong tanpa melihat kearah orangtuanya sama sekali. 


"Kamu ini Mora, selalu mengatakan hal itu apa kami kurang memberikan semuanya?Kamu terlalu egois Mora." Tegas ayahnya dengan memukul meja makan.


Sontak, Mora terkejut akhirnya mora berdiri dihadapan mereka dan meluapkan segalanya yang dipendam.


"Kalian terkadang selalu menjadikan Mora sebagai garda terdepan untuk keluarga, tapi apa kalian lupa? Mora sebagai anak pertama juga butuh sandaran dan perhatian dari orangtua, kalian terlalu sibuk dengan pekerjaan, dan terlalu sibuk menyekolahkan adik sementara Mora? Mora rela tidak sekolah agar adik Mora bisa belajar bersama temannya dan bisa bersekolah, Ibu juga selalu membandingkan Mora dengan yang lain itu sudah cukup sabar untuk Mora setidaknya kalian jangan memandang mora dengan sebelah mata tapi lihatlah perjuangan Mora, Mora tau mora memang tidak pintar dan cantik karna Mora merelakan semuanya untuk adik-adik Mora jadi apa kalian pantas menyebut Mora egois?." 


Suasana rumah menjadi hening, Mora kembali ke kamarnya dan mengunci sementara orangtuanya merasa bersalah walau sedikit tapi orangtuanya kembali menghiraukan segalanya. 


Malam hari sudah tiba, Mora pergi keluar lewat jendela kamarnya ia mendatangi suatu hutan gelap yang jauh dari rumahnya. Kemudian ia bersimpuh di bebatuan besar, ia menatap langit malam dan menikmati udara yang sejuk ia merenungi semua yang ia pendam selama ini. 


Ditengah-tengah kesunyiannya itu, Mora mengeluarkan pisau dan mengarahkan pisau itu ke kepalanya. 


"Maafkan aku, aku sangat lelah." Lirihnya. 


Pada akhirnya, Mora menghabisi hidupnya di hutan gelap itu.


— Jika semua bersandar padaku, lalu aku bersandar pada siapa? 


–```silmi```

Meja makan

 Meja makan

Karya: Dhia Silmi

Kelas: 8E


Pagi hari, rumah terasa sepi ayah dan ibu pergi bekerja hanya ada temanku yang menginap sejak 2 hari yang lalu. 


Aku terbangun dan memerintahkan temanku. Yusuf untuk pergi ke ruang makan.


"Yusuf, jangan lupa cuci muka dulu ya baru ke meja makan." Ucapku sambil berjalan mempersiapkan sarapan. 


Yusuf tak menjawab apapun, ia hanya mengangguk lalu pergi ke kamar mandi dengan tatapan kosongnya. Aku hanya berfikir mungkin dia sedang sakit? Dan mungkin ia sedang tidak ingin bicara padaku? Baiklah, itu bukan masalah besar bagiku aku sebagai teman harus menghargainya.


Aku kembali mempersiapkan makanan untuk sarapan, tapi hawa kali ini berbeda sangat suram dan mencekam padahal cuaca diluar sedang bagus. Akhirnya Yusuf datang ke meja makan lalu duduk, tatapannya sama masih tetap kosong dan wajahnya pucat. 


"Yusuf? Kamu gakpapa?." Tanyaku dengan sedikit khawatir.


"Aku gakpapa kok Reza." Jawabnya dengan suara serak. 


Aku hanya bisa kebingungan dan memaklumi hal itu mungkin dia hanya tidak ingin berbicara pada siapapun hari ini akhirnya kami makan bersama tapi tiba tiba handphone ku memberikan notif telfon panggilan dari temanku, namanya Ari. 


Karena merasa ini penting jadi aku pergi mendekati kompor dapur agar percakapan ku tidak terlalu didengar oleh Yusuf. 


"Yusuf, sebentar ya." Ucapku lalu pergi menjauh sedikit. 


"Kenapa Ari? ada apa?." Tanyaku dengan penasaran. 


"Reza, tolong Reza ini gawatt ini gawatt." Suara temanku Ari dengan gelisah. 


"Apasih? Gawat kenapa Ari? Yang jelas dong." Rasa penasaran mulai muncul di otakku. 


"Yusuf, Yusuf meninggal 2 hari yang lalu dia bunuh diri." Ucap Ari dengan terburu-buru. 


Tiba-tiba suasana semakin mencekam, hawa disekitar semakin merinding apa yang dikatakan Ari itu benar?. 


"Tunggu! Ari! Kamu jangan bercanda jelas jelas Yusuf ada disini dari 2 hari yang lalu dia nginep dirumah aku sejak 2 hari yang lalu." Ucapku dengan tegas tapi ada rasa takut. 


"Gawat, gawat itu bukan Yusuf itu mungkin hantu." Suara temanku Ari dengan ketakutan. 


Karna aku kurang percaya aku berbalik arah melihat kearah Yusuf yang sedang duduk, lalu aku membungkuk sedikit melihat kakinya dan ternyata benar kakinya tidak menyentuh lantai sama sekali. Suasana semakin merinding dan mencekam bagaimana ini? Apa yang harus ku lakukan? Apa aku harus lari? Atau diam saja? Akupun berbalik arah dan mematikan telfon dari temanku. 


Tiba-tiba saja Yusuf menepuk pundakku dan berkata. 


"Jadi, kamu udah tau semuanya?."