Mading Digital

NESAMA
  • Sarana dan Prasarana

    Sarana dan Prasarana SMPN 1 Malangbong

  • Home

    Mading Digital SMPN 1 Malangbong

  • Informasi

    Info Grafis SMPN 1 Malangbong

  • Informasi

    Program Unggulan SMPN 1 Malangbong

Suara Takbiran di Malam Sunyi

 Suara Takbiran di Malam Sunyi

 

Karya: Zahran

Kelas: 7f 


Malam takbiran telah tiba. Rian duduk di teras rumahnya, mendengarkan suara takbir yang berkumandang dari masjid. Ia merasa sedih karena tahun ini adalah Idul Fitri pertama tanpa kehadiran ibu dan neneknya.


Ibu Rian telah meninggal beberapa bulan lalu, dan neneknya pindah ke kota lain untuk merawat saudara laki-lakinya yang sakit. Rian merasa kesepian dan merindukan kehangatan keluarganya.


Ayah Rian, yang menyadari kesedihan anaknya, duduk di sebelah Rian dan memeluknya. "Ayah tahu kamu merindukan ibu dan nenek, tapi kita bisa membuat malam takbiran ini spesial dengan cara kita sendiri."


Rian tersenyum sedikit. Ayahnya mengajaknya untuk memasak makanan favorit ibunya, ketupat dan sambal. Mereka bekerja sama di dapur, dan Rian merasa sedikit lebih baik.


Setelah selesai memasak, mereka pergi ke masjid untuk melakukan salat tarawih. Rian merasa bahagia karena bisa merayakan Idul Fitri bersama ayahnya dan komunitas Muslim lainnya.


Ketika kembali ke rumah, Rian dan ayahnya menikmati makanan yang mereka masak bersama. Rian merasa sedikit lebih bahagia, karena ia tahu bahwa ibu dan neneknya selalu bersamanya dalam hati.


"Terima kasih, Ayah," kata Rian sambil memeluk ayahnya. "Malam takbiran ini memang spesial."


Ayah Rian tersenyum dan memeluknya erat. "Saya juga cinta kamu, anakku. Selamat Idul Fitri."


Rian dan ayahnya menghabiskan malam takbiran dengan penuh kebahagiaan dan rasa syukur. Mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian, karena mereka memiliki Allah dan kehangatan keluarga mereka.


Keesokannya setelah solat idul Fitri Rian dan ayahnya pergi ziarah ke makam ibu Rian. Dan mendoakan yang terbaik untuk ibu Rian agar tenang di sana dan rian berharap bahwa suatu saat nanti dia bisa berkumpul lagi bersama ibunya. 


Saat, Rian sedang duduk bersantai dia melihat nenek dan adiknya sudah pulang. Rian sangat senang lalu langsung memeluk mereka berdua.


"Akhirnya kalian berdua pulang juga. Aku kangen kalian kenapa sangat lama sekali." Ucap Rian dengan nada gembira 


Mereka pun berpelukan lalu Rian mendengar nenek dan adiknya berbicara kepada Rian. 


"Jaga diri baik-baik yah cucu nenek Rian. Jadi anak yang pintar dan nurut sama ayah kamu.Nenek dan ibu serta adikmu sayang sekali sama kamu." Ucap nenek riyan dengan nada lembut.


"Iya jaga diri baik baik ya kak. Adek sayang Kaka." Ucap adik Rian.


Rian pun kebingungan dengan ucapan mereka.lalu ada ayah Rian yang mendatangi Rian lalu bertanya.


"Kamu ngomong sama siapa nak?." Tanya ayah Rian 


"Hah.ini ada nenek sama adik loh". Ucap rian. 


Pas berbalik ke arah pintu tidak ada siapa siapa dan Rian sangat kebingungan setelah itu ada telpon dari rumah sakit bahwa. Nenek dan adiknya Rian sudah meninggal dunia. Rian yang mendengar itu sangat bingung karna baru saja tadi bertemu. Lalu ia menyadari bahwa itu adalah arwah adik dan neneknya yang ingin berpamitan. 


Rian pun menangis setelah menyadari hal itu. 


bersyukur lah kalian karena bisa merayakan idul Fitri dengan kelurga. dan selalu sayangilah keluarga kalian. Bahkan banyak orang yang sulit bertemu keluarga mereka saat hari raya idul Fitri. Jadi bersyukur lah. Selamat hari raya idul Fitri mohon maaf lahir dan batin.


-TAMAT-

Tempat Aneh

 Tempat Aneh

Karya: Dhia Silmi

Kelas: 8e



Suatu hari Luna pulang sekolah dengan kondisi badannya tak berdaya karena hari ini disekolah sangat melelahkan. 


"Uhh nyebelin banget hari inii mending tidur ah." Ia pun tidur sambil membantingkan dirinya ke kasur. 


Luna tertidur pulas sampai ia terbangun di satu tempat aneh. Luna membuka matanya ia terkejut karena pakaiannya sudah berubah ia tadinya menggunakan pakaian sekolah tapi sekarang menjadi gaun putih kecil dan rambut blonde nya yang di pita, ia terbangun diatas rerumputan dan sandaran pohon. 


"Apa yang terjadi? dimana aku?." Tanya dirinya dengan kaget dan kebingungan.


"Hei kamu sepertinya bukan dari daerah sini nona." Ucap salah satu pria asing yang berada di depan Luna.


"EH EH SIAPA KAMU? JANGAN SENTUH AKU." Ucap Luna dengan keras. 


Pria itu hanya tertawa kecil dan berkata.


"Nona aku bukan orang jahat aku hanya penjaga kebun ayo ikut aku kita temui raja maka kamu akan tau jawabannya." Pria itu berjalan sedikit demi sedikit. 


Luna mengiyakan lalu ia mengikuti pria itu, mereka menyusuri banyak tempat dari mulai danau, kebun, bahkan hutan yang gelap. Setelah beberapa lama akhirnya mereka sampai dikerajaan. 


"Masuklah nona aku akan pergi kembali bekerja." Ucap pria itu lalu pergi.


"Eh tunggu dulu siapa namamu? agar aku mengingatnya." Tanya Luna.


Pria itu menoleh ke arah Luna.


"Namaku Riven nona." 


"Aku Luna terimakasih sudah mengantarkan diriku." Ucap Luna dengan membungkuk sebagai rasa hormat. 


Pria itu pergi akhirnya Luna memberanikan diri masuk kedalam kerajaan itu, saat Luna memasukinya disana terlihat raja yang sedang duduk dan beberapa pegawai di kerajaan itu mereka semua memandang luna dengan aneh seolah olah belum menemuinya. 


"Akhirnya kamu datang Luna." Ucap raja.


"B-bagaimana kamu tahu namaku?." Tanya Luna dengan penasaran.


Raja itu hanya tersenyum dan berkata.


" Pergilah ke hutan kegelapan disana kamu akan mengetahui jawabannya mengapa kamu bangun disini, tapi berhati hatilah karena ada sosok penjaga disana hanya orang tertentu yang bisa melewatinya." Ucap raja itu meyakinkan pada Luna. 


"Dimana hutan kegelapan itu?." Tanya Luna.


"Hutan kegelapan ada di samping kiri kerajaan ini." 


Luna langsung pergi tanpa mengatakan apapun lagi, ia mengikuti jalan sesuai yang diperintahkan oleh raja. Ia begitu terkagum-kagum karena ia belum pernah melihat tempat itu sebelumnya, tanpa basa basi akhirnya Luna memasuki dan menelusuri hutan itu ia merasa ada seseorang yang memperhatikan dirinya tapi ia tidak melihat siapapun, tiba tiba saja muncul sosok berbadan besar dan tinggi dihadapannya. 


"Siapa yang berani memasuki hutan ini?." Ucap sosok itu.


"Akuuu." Jawab luna dengan santai. 


"Apa tujuanmu?." Tanya sosok itu. 


"Aku hanya mencari ketenangan." 


"Kau tidak takut padaku?." Tanya sosok itu dengan kebingungan. 


"Mengapa harus takut?." Jawab Luna. 


"Kau!." Jawab sosok itu dengan tegas. 


"Apa? kamu mau ikut denganku?." Tanya Luna tanpa rasa takut. 


Sosok itu hanya bisa kebingungan dan bertanya-tanya. 


"Hei nona, disaat yang lain takut kepadaku kamu bisa bisanya santai." 


"Memangnya aku punya salah apa denganmu sehingga aku harus ketakutan? sudahlah aku ingin mencari ketenangan selamat tinggal , oh ya kalungmu bagus." Ucap Luna lalu pergi. 


Sosok itu ingin mencegah Luna pergi tapi ia menyadari sekarang bahwa dirinya adalah sosok misterius jadi salah besar kalau dia penasaran, tapi rasa penasarannya yang besar tak bisa ditahan akhirnya sosok itu mengikuti Luna dengan udara samar samar.

Our Memories

 Our Memories

Karya: Naira Hilmiyah 

Kealas: 9G 

Gerbang hitam itu terbuka lebar. Dengan hati yang berdebar-debar, aku memberanikan diriku untuk melangkahkan kakiku memasuki kawasan nesama. Sekolah menengah pertama yang menjadi sekolah ter favorit di kotaku. Dengan ratusan bahkan ribuan siswa dan siswi yang selalu meramaikan keheningan di sekolah ini. Fasilitas sekolah yang lengkap dan pendidikannya yang terjamin bahkan dengan lingkungannya yang positif membuat siapa pun yang berada di dalamnya merasa nyaman dan bangga.

Saat ini siswa dan siswi nesama kelas 9, tengah di sibukan oleh syuting bersama untuk menyambut kelulusan mereka. 

Tepatnya di hari kamis tanggal 20 Febuari 2025, para siswa dan siswi kelas 9 mengunakan seragam biru putih serta membawa baju hitam dengan kerudung berwarna hitam. 

"PENGUMUMAN KEPADA SELURUH SISWA DAN SISWI KELAS 9 MOHON SEGERA MENUJU KELAPANGAN UPACARA."

Mendengar pengumuman tersebut para siswa dan siswi segera menuju ke lapangan upacara.

Di saat aku memasuki lapangan upacara itu, entah mengapa ada perasaan tidak rela. Rasanya seperti ingin selalu berada di sekolah ini.

"Nai, ini beneran kita bakalan lulus? Nesama terlalu indah untuk kita tinggalkan."

Ucap salah satu teman ku sambil terus memandang deretan kursi yang sudah tersusun rapih di sana.

Pandanganku pun tak luput dari deretan kursi itu, membayangkan betapa hancurnya perasaan siswa dan siswi ketika harus berpisah dengan guru' hebat yang ada di sini.

Baru saja aku mendudukkan diriku di tepi lapangan, tiba' bapa kepala sekolah memberikan instruksi kepada seluruh siswa kelas 9 untuk berkumpul sesuai dengan kelasnya masing-masing.

Setelah memberikan pengumuman yang begitu penting, para siswa dan siswi di arahkan untuk membuat lingkaran. Di saat semua orang tengah asik dengan dunia mereka sendiri. Aku malah salfok dengan senyuman bapa dan ibu guru yang terukir indah di wajahnya, seketika hati ini berpikir apakah setelah kelulusan ini aku masih bisa melihat senyuman itu? Atau justru malah sebaliknya.

Tanpa aku sadari drone sudah berada di atas sana dengan lagu perpisahan yang sudah di putar. Seketika air mata ini luruh membasahi pipi. Terdengar suara Isak tangis dari kedua telinga ku.

Perasaan senang dan sedih menyelimuti seluruh siswa dan siswi kelas 9 di hari itu. 

" Kenangan kita akan tersimpan jelas di sini, suka dan duka kita lalui bersama di sini. Di masa putih biru ini, kita sudah banyak sekali menemukan kebahagiaan yang belum pernah kita temui di mana pun itu. Bersama nesama kita bahagia, bersama nesama juga kita berjaya."

Monologku sambil terus menatap drone yang berputar-putar di atas sana. Namun, suasana sedih itu berganti dengan gelak tawa dari para siswa yang menertawakan drone yang jatuh itu.

Singkat cerita, para siswa dan siswi sudah duduk di atas sana sesuai dengan posisi yang sudah di tentukan. 

Di mulai dari Poto bersama sampai membuat konten bersama, semuanya kita lalui dengan perasaan senang. 

Hingga terdengar suara sirine damkar, semua siswa dan siswi bersorak bahagia saat mendengar sirine damkar tersebut. 

"Woyy damkar datang!!! "

"HOREEEE!!!!!"

Sorak siswa dan siswi itu dengan begitu antusias. Huft.... Rasanya senang sekali saat melihat semua orang bahagia dan menikmati momen yang langka seperti ini. 

Dulu, aku hanya bisa melihat para siswa dan siswi kelas 9 yang tengah asik mempersiapkan perpisahannya, namun siapa sangka jika kini aku berada di posisi itu. 

Satu persatu para siswa dan siswi mulai turun dengan hati-hati. Kini para siswa sudah membuat lingkaran di tengah-tengah lapangan dengan menggunakan kaos hitam beserta kerudung hitam yang menutupi kepalanya. Genggam tangan mereka menjadi saksi bisu betapa bahagianya mereka bisa berada di momen ini.

Lagu perpisahan mulai di putar dan drone sudah berada di atas sana mengelilingi para siswa dan siswi nesama yang tengah asik menikmati alunan musik sambil menari kecil dan merangkul pundak satu sama lain.

Huftt.... Membuat kenangannya saja sudah sesakit ini, apalagi nanti saat hari kelulusan? Rasanya benar-benar mimpi bisa berada di fase terbaik di masa biru putih ini. Namun, apakah kami kuat melewati hari-hari kami tanpa dukungan serta partisipasi dari guru-guru hebat yang ada di sini? Membayangkannya saja sudah sesakit ini, harapan kami kedepannya bisa menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa serta bisa menyinarkan nesama agar semakin bersinar.

Kini firehose sudah mengeluarkan airnya yang siap untuk membasahi ratusan siswa dan siswi kelas 9. Kini suara gelak tawa dan kehebohan para siswa memenuhi lapangan di siang hari itu. Terlihat jika bapa dan ibu guru mengulum senyumnya. "Bahagia" hanya kata itu yang saat itu bisa aku ucapkan, entah harus dengan cara apa aku bisa berterima kasih kepada bapa dan ibu guru yang sudah sabar dalam mendidik dan mengajarkan kami ilmu-ilmu yang sangat berguna.

" Aku berharap kita semua bisa terus berbahagia, dimana pun dan bagaimana pun keadaannya. Hopefully we can meet again in a happier phase"

Empty

 Empty

Karya: Naira Hilmiyah 

Kelas: 9G 


" Iii maaa Eva beneran mau terawih kok."

Rengek ku dengan kedua tangan memeluk satu sajadah dan mukena. Mamah pun menghembuskan nafasnga gusar.

"Ck!! Yaudah sana, awas aja kalo kamu main petasan di jalan."

Ucapnya yang membuatku menggembangkan senyuman penuh kemenangan. Setelah berpamitan aku segera berlari ke jalanan untuk menemui teman-teman ku.

"Heii!!! Eva!! Ayooo kita main petasan."

Teriak Cahya sambil melambaikan tangannya. Dengan cepat aku berlari menghampirinya dan berbisik.

"Jangan kenceng-kenceng ngomongnya nanti kedengaran sama mama aku."

Mendengar itu Cahya segera menutup mulutnya menggunakan telapak tangannya.

"Yaudah ayoo kita beli petasan dulu, yang lain udah pada nunggu soalnya."

"Nunggu di mana mereka?"

"Di lapang depan rumah pa Endin."

Mendengar ucapan Cahya aku hanya mengganggukan kepalaku. 

Setelah membeli banyak petasan dan korek api. Aku dan Cahya segera menuju ke lapangan untuk bertemu dengan teman-teman yang lain.

Di sana sudah banyak sekali anak-anak yang tengah asik bermain dengan mainan yang mereka bawa.

"Eva, Cahya!!! Sini!!!"

Panggil putri sambil melambaikan tangannya ke arah aku dan Cahya. Dengan cepat aku dan Cahya segera menghampiri putri yang tengah berkumpul dengan tiga anak laki-laki.

"Eh, ada Alden, Hiro sama Rafi juga ternyata."

Sapaku pada mereka.

"Iya pasti lahhh!!! Aku ga mau ketinggalan satu pun momen di bulan ramadhan ini."

Ucap Hiro sambil merebut korek api yang ada di tanganku.

"Iii Hiro!!! Itu punya aku!!!!"

Pyurrrr

Bledug

"AAAAAAAAA, HIRO!!!!!"

pekik semua anak-anak yang ada di sana, saat Hiro menyalakan Beberapa petasan.

"Hehe, kaget kah?"

Tanyanya dengan wajah polos. Melihat Hiro yang tidak merasa bersalah sedikitpun. Aku, Cahya dan putri segera menyalakan tiga petasan sekaligus.

"Alden, Rafi pegangin di Hiro. Kita mau balas dendam!!"

Ucap putri sambil melemparkan tiga buah petasan itu ke arah Hiro.

"Huaaaa!! Lepasinnn!!! MAMA!!!"

PYURRR

BLEDUG

"MAMAA!!!!"

Teriak Hiro yang ketakutan setengah mampus. Semua orang tertawa terbahak-bahak saat melihat Hiro yang kencing di celana.

Menyadari hal itu, Hiro hanya bisa menutupi wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.

"Hahaha, Hiro pipis di celana huuuh."

Sorak anak-anak di lapangan itu sambil menertawakan hiro yang tengah menahan malu.

Byurrr

"PERGI KALIAN!!! BRISIK TAU GA!!"

Bentak pa Endin  sambil menyiramkan satu ember air ke arah anak-anak itu. Melihat pa endin yang mengamuk. Semua anak-anak itu langsung berlarian meninggalkan lapangan itu.

"Hos hos hos, duh cape banget."

Ucapku dengan nafas yang memburu. Begitupun dengan ke lima teman-temanku.

"Iya nih cape banget. Nyebelin banget sih pa Endin itu!!"

Kesal putri sambil memeras bajunya yang basah.

"Eh kalian ada yang cium bau aneh ga?"

Tanya Rafi sambil terus mengendus-endus. Melihat Rafi yang seperti itu, aku dan teman-teman ku yang lainya langsung mengikuti kelakuan Rafi.

"Lah iya anjir bau Pesing!!"

Ucap Alden sambil menutup lubang hidungnya menggunakan kerah bajunya.

"Huek!! Baunya kuat banget!!"

Pekik Cahya dan putri sambil menahan nafasnya. Sedangkan Hiro hanya bisa terdiam sambil tersenyum tipis. Menyadari hal itu, aku dan ke empat temanku yang lainnya langsung menatap ke arah Hiro dengan tatapan yang cukup tajam.

"Susu Hiro!! Kata gue mending lu ganti celana dulu deh. BAU PESING TAU GA!!"

Ucap Rafi yang membuat Hiro terkekeh.

"ehe, emang sebau itu yah? Btw aku juga cepirit tau."

Ucapnya tanpa rasa malu. Mendengar pengakuan dari Hiro aku dan temanku yang lain langsung melepaskan salah satu sendal yang kami gunakan dan melemparkannya ke arah Hiro.

"PANTES BAU CONGE!!!"

Pekik teman-teman ku dengan wajah yang memerah.

"KABURR!!!"

Pekik Hiro sambil berlari menghindari amukan dari teman-temannya.

"Sini Lo, gue pecel!!!"

"Gue jadiii ayam goreng lu Hiro!!"

Pekik anak-anak itu sambil berlari mengejar Hiro.

Flashback off 

Air mataku mengalir deras membasahi pipi, senyuman manis itu terukir indah di wajahku. Memori-memori dulu terus berputar-putar di dalam ingatan ku. Canda dan tawa terus memenuhi isi kepalaku.

Kenangan di masa itu, benar-benar sangat berharga. Rasanya aku ingin kembali ke masa itu, masa di mana semua anak-anak menghabiskan waktunya dengan bermain. 

"Di tahun ini, vibes ramadhannya ga terasa yah? Bahkan jalanan yang awalnya ramai dengan gelak tawa dari anak-anak kini hanya mengeluarkan suara jangkrik yang memenuhi suasana di setiap malam. Anak-anak di zaman sekarang sudah mulai fokus dengan handphone miliknya, suara petasan pun kini sudah tak lagi terdengar. "

Monologku sambil terus memandangi jalananan yang sepi itu.

Rintikan hujan terus membasahi bumi, seolah-olah ikut merasakan kesedihan yang aku rasakan. 

Sesampainya di masjid, aku segera menggelarkam sejadah milikku. Suasana kali ini terasa begitu hampa. Entah mengapa ramadhan di tahun ini rasanya begitu sangat berbeda.  Entah ini hanya perasaanku saja atau memang kenyataannya seperti ini.

"Semoga di ramadhan yang akan datang vibesnya jauh lebih terasa dari tahun ini. I really miss those memories."

Laut dan Kenangan

 Laut dan Kenangan



Karya: Dhia Silmi
Kelas: 8E


Laut, mengapa kamu begitu indah? suara ombak yang damai, hembusan angin yang merdu, dan senja yang cantik seperti dirinya. Aku hampir setiap minggu datang ke laut, hanya untuk menghilangkan rindu. Aku bersimpuh di bibir pantai, membiarkan pasir menyentuh jemariku, sembari menikmati keindahanmu.

Aku menyimpan banyak kenangan bersamamu. Dulu, aku tak pernah datang sendiri. Selalu ada seseorang di sampingku, seseorang yang begitu spesial bagiku.

"Wah, angin laut selalu segar ya! boleh fotoin aku di sana?." Katanya riang.

Aku tersenyum.

"Kamu minta apapun bakal aku kasih."

Haha, mengingatnya lagi terasa begitu menggemaskan. Aku ingin masa itu terulang. Aku ingin dia di sini, tertawa bersamaku. Tapi aku tahu, itu tidak akan terjadi. Karena dirinya,  sudah hilang, ditelan semesta.

Aku menyayanginya, tapi mungkin semesta lebih menyayanginya. Jika memang tak bisa bersama selamanya, setidaknya aku berterima kasih karena semesta pernah mempertemukan kami walau hanya sebentar.

— Cintaku hanya abadi untukmu, Kanaya.

Misteri Dibalik Hilangnya Ibuku

 Misteri Dibalik Hilangnya Ibuku


Karya: Naira Hilmiyah 

Kelas: 9G 



Jalanan gelap menemani diriku. Gelapnya malam di hari ini cukup membuat hatiku terpuruk. Dengan langkah kecil aku terus berjalan menyelusuri germelap di malam ini. 

Samar-samar aku mendengar suara seorang anak kecil dari jalanan yang ada di depan sana. Dengan rasa penasaran yang membara, aku pun berlari untuk menemukan sumber suara tersebut. 



Langkah kaki ini berhenti saat mendengar suara seorang wanita paruh baya yang memanggilku.


" Gadis kecil!! Jangan kesana."

Ucap wanita paruh baya itu. Aku mengerutkan kening ku, binggung akan perkataan dari wanita paruh baya itu.



" Pergi dari sini gadis kecil !!"


"Tapi nek, aku ga tau jalan pulangnyaa."

Ucapku sambil mendekatkan diriku pada nenek tua itu.


"Lantas mengapa kamu bisa berada di sini, Rena!!"

Terdengar jika nada suara dari nenek tua itu meninggi. Aku terdiam selama beberapa saat, belum akhirnya aku memberanikan diriku untuk memberitahukan tujuan ku ke sini.


"A-aku, aku sedang mencari seorang gadis yang telah membunuh ibuku."

Ucapku dengan raut wajah penuh dengan kesedihan. Nenek tua itu membelai lembut rambutku dan menggenggam jemari tangan ku.


"Kalo begitu mari ikut nenek, ini sudah malam."

Ucapnya yang ku balas anggukan. 




Selang beberapa menit akhirnya aku sampai di rumah nenek tua itu. Tak ku sangka jika nenek tua ini memiliki rumah mewah di tengah hutan seperti ini.


"Nek? Ini beneran rumah Nenek?"

Tanyaku memastikan, terlihat jika nenek tua itu mengukir senyuman manisnya. 


"Iya cu, ini rumah nenek."

Aku tersenyum saat nenek tua itu mempersilahkan aku untuk masuk ke dalam rumahnya.


Suasana sepi itu mengiringi setiap ruangan yang ada di dalam rumah nenek tua ini.



"Cuu, kalo kamu mau tidur kamu bisa tidur di dalam kamar ini yah?"

Aku menganggukkan kepalaku dan masuk ke dalam salah satu kamar yang cukup besar.



Suara pintu kamar tertutup. Pandanganku menatap rinci setiap penjuru kamar ini. Mataku terpaku saat melihat sebuah buku tua yang tersimpan rapih di atas lemari tua itu.


Dengan susah payah aku mengambil buku tua itu. Rasa penasaran terus melanda diriku, hingga pada akhirnya aku memberanikan diri untuk membaca setiap hal yang tertulis di dalam buku tersebut.


***


Tepatnya di pukul 00:00 malam, aku masuk kedalam kamar nenek tua itu. 


"Ngapain kamu di sini cu?"

Tanya nenek tua itu yang membuatku bergejolak kaget. Aku tersenyum tipis saat melihat nenek tua itu mendekat ke arahku.



Brak


"Aww, APA APAAN KAMU!!"

Bentak nenek tua itu saat aku membanting tubuh nenek tua itu ke lantai. Tanpa menjawab pertanyaan dari nenek tua itu, aku tersenyum sambil menampilkan satu buku tua yang aku temukan di malam tadi.


Nenek tua itu membelototkan matanya, saat melihat buku tua itu berada di tanganku.


"K-kenapa buku itu bisa ada di kamu? S-siapa kamu sebenarnya!!"



"Aku? Aku adalah anak dari wanita yang pernah kamu bunuh!!"



Flashback on 



Di saat aku tengah asik membaca buku tua itu, aku di kejutkan oleh beberapa lembar Poto yang tercantum jelas di sana. Dimana Poto tersebut menampilkan seorang wanita cantik yang tengah asik berbincang bersama nenek tua itu.


Lalu di gambar selanjutnya, terlihat jika nenek tua itu tengah berusaha untuk membunuh wanita cantik itu yang ternyata ia adalah ibuku. 


Amarahku semakin memuncak saat melihat nenek tua itu yang tengah tertawa puas melihat ibuku yang sudah tak bernyawa. 



" SELANJUTNYA ANAKMU LAH YANG AKAN MENJADI KORBAN KU, KIRANTI."


Tulisan itu lah yang terpampang jelas di bawah Poto itu. 



Flashback off 



"Hahaha, ternyata kamu adalah anak dari wanita kupu-kupu itu. Siap-siap saja kamu akan menjadi korbanku selanjutnya."

Ucap nenek tua itu sambil menampilkan sorot mata tajam penuh dendam.


Srettt



"Ga semudah itu, nenek tua!!"

Ucapku sambil menggoreskan satu sayatan di pipi wanita tua bangka itu.



"ARGH!! SAMPAI KAPAN PUN AKU GA BAKALAN BIARIN KELUARGA KALIAN LEPAS BEGITU SAJA!! KAMU HARUS MATI DI TANGANKU!!"


Aku berjalan mendekat ke arahnya dan mengcengkram kuat rahangnya.


"Apa salah ibuku sampai-sampai kamu tega melakukan ini semua!!"

Ucapku sambil terus mencekram erat rahang nenek tua itu.


"Karna wanita itu yang pandai dalam memfitnah seseorang, aku harus merasakan bagaimana rasanya di siksa dan di usir oleh satu kampung!! Ibumu bukan wanita baik-baik cu!! Dia ga pantas hidup!!!"



Dor



"KAMU GA PANTES BUAT HINA IBU AKU!!"

Bentak ku sambil melepaskan satu peluru yang langsung menembus wajahnya. 


"K-kamu akan menyesal cu."

Tekan nenek tua itu sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.



BRUG



"Awww"

Ringisku saat ada seseorang wanita yang memukul kepala ku dari belakang. Aku mengalihkan pandangan ku untuk bisa lihat siapa wanita yang ada di belakang ku.



"Hai anakku, terima kasih karna sudah membantu ibumu untuk membunuh wanita tua bangka ini. Berkat mu akhirnya ibu bisa terus berkeliaran di dunia ini. Ternyata kamu bodo Rena, kamu telah menghabisi seseorang yang tidak berdosa itu. Haha tapi aku bahagia akan hal ini."

 Ucap ibuku sambil tersenyum licik dan melemparkan beberapa benda tajam yang mengenai tubuhku.


"Aww, apa yang ibu lakukan? Bagaimana bisa ibu hidup kembali?"



"Haha, aku tidak pernah mati, Rena. Jiwaku hanya terkurung di dalam tubuh wanita tua bangka itu. Oh ya, yang wanita tua bangka itu katakan semuanya benar, aku bukan orang baik Rena. HAHAHA"


Seluruh tubuhku membiru saat melihat ibuku mengeluarkan beberapa ramuan berwarna biru itu dan nyembur kannya kedalam tubuhku. Lama kelamaan aku kehilangan kesadaranku dan kini aku udah pergi dari dunia ini.



Ternyata penjahat yang selama ini aku cari-cari adalah ibuku sendiri. Ia yang selama ini membuat kericuhan dan kegaduhan di kampung itu.



Setelah kematian Rena, kampung tersebut kembali menjadi sunyi dan damai. Namun, ada sesuatu yang berbeda. Ibu Rena, yang telah membunuh banyak orang, tidak pernah ditemukan lagi. Beberapa orang mengatakan bahwa dia telah melarikan diri ke tempat yang jauh, sementara yang lain mengatakan bahwa dia telah mati bersama dengan Rena.


Tahun-tahun berlalu, dan kampung tersebut kembali menjadi tempat yang indah dan damai. Namun, ada satu hal yang tidak pernah berubah. Cerita tentang Rena dan ibunya masih hidup di hati masyarakat kampung tersebut. Cerita tentang cinta, kebencian, dan pengorbanan.


Dan di tengah-tengah kampung tersebut, ada sebuah makam yang sederhana namun indah. Makam itu adalah makam Rena, anak yang telah mati untuk membela kampungnya. Di atas makam itu, terdapat sebuah prasasti yang bertuliskan:


"Rena, Semoga cintamu dan pengorbananmu tidak pernah dilupakan."

RAMADAN PERTAMA TANPA ABI

 RAMADAN PERTAMA TANPA ABI

By : Muhammad Fadhil Nurhikam

Kelas: 9K

Desember kelabu menyelimuti Jakarta. Hujan deras mengguyur kota, seolah ikut merasakan duka tiga bersaudara itu. Abu, Ari, dan Zaky duduk berdekatan di ruang keluarga, mata mereka terpaku pada foto Abi yang tersenyum hangat. Tepat di malam pergantian tahun, 31 Desember 2024, Abi mereka berpulang untuk selamanya.

"Ini Ramadan pertama tanpa Abi," bisik Abu, si sulung, suaranya tercekat. Ari, anak tengah, hanya mengangguk pelan, sementara Zaky, si bungsu, menunduk dalam, air matanya menetes tanpa bisa ditahan.

Kepergian Abi meninggalkan luka yang menganga, terutama bagi Zaky yang masih duduk di bangku SMP. Abi adalah pahlawan bagi mereka, sosok yang selalu ada di setiap langkah, memberikan semangat dan perlindungan. Kini, semua itu tinggal kenangan yang menyakitkan.

"Ingat, Umi selalu bilang, kita harus kuat," ucap Ari, berusaha tegar. Ia teringat pesan Umi yang telah lebih dulu berpulang enam tahun lalu. "Kita harus saling menjaga, seperti Abi dan Umi menjaga kita."

Ramadan kali ini terasa sangat berbeda. Tak ada lagi suara Abi yang membangunkan mereka untuk sahur, tak ada lagi canda tawa saat berbuka. Biasanya, Abi selalu mengajak mereka salat tarawih berjamaah di masjid dekat rumah. Kini, semua itu hanya bayangan yang berputar di kepala mereka.

"Kita harus tetap menjalankan Ramadan dengan sebaik-baiknya," kata Abu, berusaha menyemangati adik-adiknya. "Ini pasti berat, tapi kita tidak sendiri. Allah selalu bersama kita."

Malam pertama Ramadan, mereka bertiga salat tarawih di masjid. Suasana masjid yang ramai biasanya terasa menyenangkan, kini terasa sunyi dan hampa. Mereka merindukan kehadiran Abi di samping mereka, merindukan senyum teduh dan nasihat bijaknya.

Usai salat, mereka berziarah ke makam Abi dan Umi. Di sana, mereka berdoa, memohon ampunan dan rahmat bagi kedua orang tua mereka. Zaky tak kuasa menahan tangis, ia merindukan pelukan hangat Umi, senyum teduh Abi.

"Abi, Umi, kami merindukan kalian," bisiknya di antara isak tangis.

Sepanjang Ramadan, mereka berusaha mengisi hari-hari dengan kegiatan positif. Mereka membantu tetangga yang membutuhkan, berbagi takjil di masjid, dan membaca Al-Qur'an bersama. Mereka ingin membuat Abi dan Umi bangga di sana.

Di malam Lailatul Qadar, mereka bertiga bermunajat di kamar, memohon ampunan dan petunjuk dari Allah. Mereka berjanji akan menjaga amanah Abi dan Umi, untuk selalu rukun dan saling menyayangi.

Hari raya Idulfitri tiba. Mereka bertiga mengenakan baju baru, pemberian dari kerabat. Mereka saling bermaaf-maafan, berusaha memaafkan segala kesalahan.

"Ini Idulfitri pertama tanpa Abi," kata Abu, matanya berkaca-kaca. "Tapi kita harus tetap bersyukur, karena kita masih memiliki satu sama lain."

Mereka bertiga berziarah ke makam Abi dan Umi, lalu berkumpul bersama keluarga besar. Meski tanpa kehadiran orang tua, mereka tetap merasakan kehangatan dan kasih sayang dari keluarga.

Ramadan kali ini mengajarkan mereka tentang arti kehilangan, kesabaran, dan ketegaran. Mereka belajar bahwa hidup terus berjalan, dan mereka harus tetap kuat menghadapinya.

"Abi dan Umi selalu ada di hati kita," kata Aru, menatap kedua adiknya. "Kita akan selalu menjaga kenangan indah bersama mereka."

Mereka bertiga berpelukan, saling menguatkan. Mereka tahu, meski tanpa Abi dan Umi, mereka tidak sendiri. Mereka memiliki satu sama lain, dan mereka memiliki Allah yang selalu menyayangi mereka.

Enam tahun berlalu sejak kepergian Umi, dan kini Abi menyusulnya. Meski waktu telah berlalu, rindu mereka tak pernah padam. Kenangan tentang Umi dan Abi selalu hadir dalam setiap langkah mereka.

Abu, Ari, dan Zaky telah tumbuh menjadi pemuda yang mandiri dan bertanggung jawab. Mereka berusaha mewujudkan impian Abi dan Umi, untuk menjadi anak-anak yang saleh dan sukses.

Setiap Ramadan, mereka selalu mengenang kebersamaan mereka bersama Abi dan Umi. Mereka ingat bagaimana Umi selalu menyiapkan hidangan sahur dan berbuka yang lezat, bagaimana Abi selalu mengajak mereka salat tarawih berjamaah, dan bagaimana mereka selalu berkumpul bersama keluarga besar di hari raya Idulfitri.

"Umi selalu mengajarkan kita untuk selalu bersyukur dan berbagi," kata Abu, mengenang Umi.

"Abi selalu mengajarkan kita untuk selalu jujur dan bertanggung jawab," timpal Ari, mengenang Abi.

"Aku merindukan pelukan hangat Umi dan nasihat bijak Abi," kata Zaky, matanya berkaca-kaca.

Meski rindu, mereka tidak larut dalam kesedihan. Mereka berusaha mengisi hari-hari mereka dengan kegiatan positif, seperti yang diajarkan Abi dan Umi. Mereka aktif dalam kegiatan sosial, membantu sesama yang membutuhkan, dan menjaga silaturahmi dengan keluarga dan teman-teman.

Setiap malam, mereka selalu berdoa untuk Abi dan Umi, memohon ampunan dan rahmat bagi mereka. Mereka yakin, Abi dan Umi selalu mengawasi mereka dari sana, dan mereka ingin membuat Abi dan Umi bangga.

Ramadan kali ini, mereka bertekad untuk menjalankan ibadah puasa dengan sebaik-baiknya. Mereka ingin merasakan keberkahan Ramadan, seperti yang selalu diajarkan Abi dan Umi.

"Kita harus menjaga amanah Abi dan Umi," kata Abu, menyemangati adik-adiknya. "Kita harus menjadi anak-anak yang saleh dan sukses, seperti yang mereka harapkan."

Ari dan Zaky mengangguk setuju. Mereka berjanji akan selalu menjaga amanah Abi dan Umi, dan mereka akan selalu menyayangi satu sama lain.

"Kita akan selalu bersama, seperti Abi dan Umi selalu bersama," kata Zaky, tersenyum.

Mereka bertiga berpelukan, saling menguatkan. Mereka tahu, meski tanpa Abi dan Umi, mereka tidak sendiri. Mereka memiliki satu sama lain, dan mereka memiliki Allah yang selalu menyayangi mereka.

RINDU YANG BERTEMU TINJU

 RINDU YANG BERTEMU TINJU

By : Muhammad Fadhil Nurhikam

Kelas: 9K

Fadhil menatap nanar foto kakaknya, Faiz, yang terpajang di dinding kamar. Senyum Faiz di foto itu terlihat hangat dan bersahabat, sangat berbeda dengan wajahnya yang sering kali masam saat mereka bertengkar. Sudah tiga bulan Faiz di pesantren, dan Fadhil merasa rumah mereka terlalu sepi.

"Kak Faiz, kapan pulang?" gumam Fadhil sambil mengusap debu di bingkai foto. Ia merindukan Faiz, meskipun setiap kali kakaknya pulang, mereka selalu bertengkar.

Fadhil ingat, Faiz selalu mengganggunya. Menyembunyikan buku pelajaran, menarik selimut saat tidur, atau mengolok-oloknya di depan teman-teman. Tapi, di balik itu, Faiz selalu melindunginya dari anak-anak nakal di lingkungan rumah. Faiz juga yang mengajarinya bermain sepak bola, meskipun seringkali berakhir dengan Fadhil yang menangis karena kalah.

"Mungkin kalau Kak Faiz pulang, kita bisa main sepak bola lagi," pikir Fadhil. Ia membayangkan mereka berdua tertawa bersama di lapangan, tanpa pertengkaran.

Suatu sore, Ibu memberi kabar bahwa Faiz akan pulang akhir pekan ini. Fadhil melonjak kegirangan. Ia langsung membersihkan kamar mereka, menata buku-buku, dan menyusun mainan. Ia ingin kamar itu terlihat rapi dan nyaman saat Faiz pulang.

Hari kepulangan Faiz tiba. Fadhil menunggu di depan pintu dengan hati berdebar. Ketika mobil yang membawa Faiz tiba, Fadhil langsung berlari dan memeluk kakaknya erat-erat.

"Kak Faiz, aku kangen banget!" seru Fadhil.

Faiz tersenyum dan membalas pelukan adiknya. "Kakak juga kangen sama kamu, Fadhil."

Mereka masuk ke rumah bersama, dan suasana langsung berubah menjadi ramai. Fadhil menceritakan semua hal yang terjadi selama Faiz pergi, dari nilai ulangan yang bagus hingga pertandingan sepak bola yang dimenangkannya. Faiz mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali menyelipkan lelucon yang membuat mereka berdua tertawa.

Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Saat mereka sedang bermain video game, terjadi perbedaan pendapat tentang strategi permainan. Faiz menyalahkan Fadhil yang dianggapnya tidak becus, dan Fadhil membela diri.

"Kakak juga salah! Kenapa malah nyalahin aku?" bentak Fadhil.

"Kamu yang salah, Fadhil! Gak bisa main game aja belagu!" balas Faiz.

Pertengkaran pun pecah. Mereka saling dorong dan pukul, seperti yang sering mereka lakukan dulu. Ibu datang dan melerai mereka, lalu menyuruh mereka masuk ke kamar masing-masing.

Fadhil duduk di tempat tidur dengan perasaan kesal dan sedih. Ia merindukan Faiz, tapi kenapa setiap kali mereka bertemu, mereka selalu bertengkar?

Malam harinya, Fadhil tidak bisa tidur. Ia memikirkan Faiz, kakaknya yang selalu membuatnya kesal tapi juga selalu melindunginya. Ia ingat saat Faiz membelanya dari anak-anak nakal, saat Faiz mengajarinya naik sepeda, dan saat Faiz membelikannya es krim favoritnya.

Fadhil merasa bersalah. Ia tahu bahwa ia juga sering memancing pertengkaran dengan Faiz. Ia selalu ingin menang sendiri dan tidak mau mengalah.

Fadhil memutuskan untuk meminta maaf kepada Faiz. Ia keluar dari kamar dan mengetuk pintu kamar kakaknya.

"Kak Faiz, boleh aku masuk?" tanya Fadhil.

Faiz membuka pintu dan mempersilakan adiknya masuk. Mereka duduk di tempat tidur, saling berhadapan.

"Kak, maafin aku ya," kata Fadhil. "Aku tahu aku sering bikin Kakak kesal."

Faiz tersenyum dan mengangguk. "Kakak juga minta maaf, Fadhil. Kakak juga sering kelewatan."

Mereka berdua terdiam sejenak, lalu Fadhil berkata, "Kak, besok kita main sepak bola ya?"

"Boleh," jawab Faiz. "Tapi jangan nangis kalau kalah ya."

Fadhil tertawa dan memukul lengan kakaknya pelan. "Siapa takut!"

Mereka berdua tertawa bersama, dan Fadhil merasa lega. Ia tahu bahwa meskipun mereka sering bertengkar, Faiz tetaplah kakaknya yang ia sayangi.

Keesokan harinya, mereka bermain sepak bola di lapangan seperti yang mereka janjikan. Mereka tertawa, bercanda, dan saling menggoda. Tidak ada pertengkaran, hanya kebahagiaan.

Fadhil menyadari bahwa ia tidak perlu memilih antara merindukan Faiz dan bertengkar dengannya. Ia bisa merindukan Faiz dan tetap bertengkar dengannya, karena itulah dinamika persaudaraan mereka. Dan di balik semua pertengkaran itu, ada kasih sayang yang tulus dari seorang kakak kepada adiknya.

Mimpi yang terkubur

 Mimpi yang terkubur



Karya: Dhia Silmi Atiyah
Kelas: 8E


sudah lama aku bermimpi menjadi seseorang yang berprestasi. Aku memiliki banyak cita-cita yang tinggi, harapan yang besar, dan tekad yang kuat. Segala usaha telah kulakukan demi menggapai mimpi itu.

 Aku sering membayangkan betapa indahnya jika namaku disebut karena sebuah prestasi, bagaimana rasanya berdiri dengan bangga atas pencapaianku sendiri.


Namun, kenyataan berkata lain. Setiap hari, aku hanya bisa membayangkan semua itu tanpa benar-benar meraihnya. Tugasku lebih banyak di rumah, membantu orang tuaku. Terkadang, ketika teman-temanku berbicara tentang keluarga mereka, aku merasa iri. Aku ingin merasakan apa yang mereka rasakan, tetapi aku juga berusaha tetap bersyukur atas apa yang kumiliki.


Bukan berarti aku tidak bersyukur, tetapi mengapa takdirku seperti ini? aku tidak menyalahkan siapa pun, apalagi ayah dan ibuku. Justru, aku menyalahkan diriku sendiri. Mengapa aku tidak bisa menjadi seperti mereka? mengapa mimpiku terasa begitu jauh?.


Setiap pagi, aku mendengar tangisan orang tuaku. Mereka meratapi keadaan ekonomi yang sulit, tetapi tetap berusaha sekuat tenaga demi masa depanku. Aku tahu mereka selalu ingin memberikan yang terbaik untukku, meskipun aku tak pernah meminta mereka untuk mengorbankan segalanya.


Hal yang paling aku sesali adalah aku belum bisa membalas semua pengorbanan mereka. Mereka telah berusaha sebaik mungkin untukku, tetapi aku belum mampu menjadi yang terbaik untuk mereka.