Mading Digital

NESAMA
  • Sarana dan Prasarana

    Sarana dan Prasarana SMPN 1 Malangbong

  • Home

    Mading Digital SMPN 1 Malangbong

  • Informasi

    Info Grafis SMPN 1 Malangbong

  • Informasi

    Program Unggulan SMPN 1 Malangbong

The Allah Make Me Do It

 ​The Allah Make Me Do It


Karya: zahran 8c


​Dunia Raya adalah kehancuran yang bertubi-tubi. Ia mahasiswa hukum yang cerdas, namun dalam waktu singkat, ia kehilangan Ayahnya dan Kakak perempuannya, Laras. Kehilangan ini bukan hanya merenggut orang terkasih, tetapi juga jangkar spiritualnya. Raya merasa dikhianati oleh takdir, oleh Tuhannya sendiri.

​Ia memilih jalan terjauh dari imannya, meninggalkan salat dan nilai-nilai lama. Ia mencari pelarian yang ekstrem, hanya untuk terseret ke dalam kekacauan. Puncaknya, ia dituduh menyebabkan kematian seseorang saat mencoba melerai perkelahian.

​Di sel yang dingin, Raya diserang oleh bisikan kekufuran yang mencekik. Ia merasa seluruh kekuatan gelap di dunia bersatu untuk menekan dan menghakiminya. Setiap malam, ia berjuang melawan keinginan untuk menyerah total.

​Di luar, kasusnya disidangkan. Jaksa menggunakan masa lalu Raya yang kelam sebagai bukti karakternya yang buruk. Raya merasa tidak ada harapan.

​Namun, di tengah ketersesakan itu, sebuah Intervensi mulai bekerja.

​Pengacara umum Raya, Bu Ratna, menemukan kejanggalan dalam kasus ini. Bu Ratna, seorang wanita yang dikenal sangat logis, mulai merasa ada kekuatan asing yang mengarahkan penyelidikannya. Ia menemukan petunjuk yang datang secara misterius dan tepat waktu.

​Pertama, tanpa sengaja ia menemukan buku harian lama Laras yang berisi potongan ayat tentang kesabaran, yang juga menyebut nama seorang mantan ahli forensik digital. Kedua, ahli forensik digital itu, yang sudah pensiun dan hidup terisolasi, tiba-tiba merasa didatangi mimpi yang kuat yang membuatnya bersedia membantu kasus Raya. Pria itu berhasil memulihkan data dari CCTV yang sudah hancur total, menunjukkan bahwa Raya bertindak dalam kepanikan membela diri, bukan niat membunuh.

​"Ini gila, Raya," bisik Bu Ratna di ruang konsultasi. "Aku tidak percaya takhayul, tapi ada tangan tak terlihat yang bekerja. Ini seperti... seseorang ingin kau dibebaskan."

​Kalimat itu menampar Raya. Ia tersentak.

​Tangan tak terlihat.

​Ia menutup matanya dan akhirnya bersujud di atas lantai sel yang dingin. Saat itu, kebeningan Ilahi menembus jiwanya. Ia sadar, Allah tidak pernah meninggalkannya. Kematian Ayah dan Laras ternyata menjadi jalan untuk misi sosial besar yang Ayahnya persiapkan. Dan kasus hukum ini? Ini adalah benturan keras terakhir untuk menghentikan pelariannya menuju jurang.

​Semua kesulitan, semua kehilangan, semua petunjuk misterius yang menyelamatkannya di persidangan—semua adalah "The Allah Make Me Do It." Allah tidak membiarkannya binasa; Allah membuat serangkaian kejadian ekstrem untuk memaksanya kembali mencari Cahaya. Penjara dan kesakitan batin adalah proses pembersihan yang lebih cepat daripada jika ia dibiarkan bebas.

​Ketika Raya dinyatakan bebas dengan vonis bela diri, ia berjalan keluar dari gedung pengadilan dengan hati yang hancur namun tertambal oleh iman yang baru. Ia melihat ke langit, wajahnya dibasuh air mata syukur.

​"Aku mengerti," bisiknya pelan. "Ya Allah, terima kasih. Engkau membuatku melakukannya—membuatku kembali. Rencana-Mu memang lebih indah, karena ia menjamin kepulanganku."

​Raya tahu ia akan menggunakan hidupnya yang kedua ini sebagai seorang pembela keadilan, didorong oleh keyakinan bahwa di balik setiap kegelapan dan kehilangan, ada Rencana Ilahi yang sempurna yang selalu bekerja untuk menyelamatkan, bukan menghukum.


-TAMAT-

​Cahaya Terakhir di Kegelapan

 ​Cahaya Terakhir di Kegelapan


Karya: zahran 8c


​Angin malam itu selembut bisikan. Di halaman belakang rumah, kami tertawa. Aku, Kirana, dan Ibu. Ayah baru saja membawakan lampion kertas untuk kami. Kirana menatapku, senyumnya seperti kunang-kunang yang berpendar di tengah gelap. "Ayumi, tersenyumlah," bisiknya, "senyummu adalah hal terindah."

​Namun, di tengah tawa, kegelapan tiba-tiba merayap. Sebuah bayangan hitam, tinggi, dan mengerikan muncul dari balik pohon. Makhluk itu. Mata kami melebar, senyum di bibir kami membeku. Makhluk itu tak bersuara, hanya bergerak secepat kilat.

​Ayah muncul dari dalam rumah, tangannya mengayunkan pedang tua. Ia mencoba melawannya. Namun, pedang itu hanya menembus asap. Makhluk itu tak tersentuh. Ayah jatuh, tak bernapas.

​Ibu berteriak, air mata membanjiri wajahnya. Ia menarik tanganku, berusaha melindungiku. Tapi Kirana, kakakku, tak bisa diam. Ia melepaskan tanganku dan maju, mencoba mengalihkan perhatian makhluk itu. "Larilah, Ayumi!" teriaknya.

​Aku melihatnya. Aku melihat pedang yang ia pegang, mencoba melawan sesuatu yang tak bisa dilawan. Aku melihat darah membasahi bajunya, dan senyum terakhir yang ia paksa pertahankan di wajahnya. Makhluk itu mengayunkan cakar panjangnya, merobek tubuh Kirana. Kirana jatuh, dan cahaya kunang-kunang di matanya menghilang, berganti dengan kekosongan.

​Malam itu, dalam satu napas, aku kehilangan segalanya.

​Bukan rasa takut yang kurasakan. Tapi kemarahan yang membakar. Tangisku tak bersuara, tapi di hatiku, janji terukir: Aku akan membunuhmu. Makhluk yang membunuh keluargaku.

​Aku tidak memiliki kekuatan fisik seperti yang lain. Tubuhku kecil, dan pedang terasa terlalu berat. Tenagaku terlalu lemah untuk menebas kepala musuh. Tapi dendam adalah bahan bakar yang kuat. Aku belajar. Aku meracik racun. Aku mengubah kelemahan menjadi kekuatan, mengubah setiap gerakanku menjadi tarian maut yang menusuk tepat ke jantung musuh. Orang-orang lain bertarung dengan pedang, aku bertarung dengan akalku.

​Di tengah jalanku, aku bertemu Kiko, seorang adik angkat yang juga kehilangan segalanya. Aku melihat diriku di matanya yang kosong. Aku mengajaknya, memberinya harapan, dan menanamkan tekad di hatinya. Aku tahu, ia akan menjadi pedang yang menuntaskan dendamku.

​Pertarungan terakhir tiba. Makhluk bayangan itu menungguku. Aku menatap Kiko, wajahnya basah oleh air mata. Aku tersenyum, senyum terakhir yang akan kuberikan.

​Aku membiarkan makhluk itu merobek tubuhku. Racun yang telah kubangun selama bertahun-tahun kini mengalir ke dalam darahnya. Penderitaannya adalah kemenangan bagiku. Aku jatuh, tapi sebelum mataku terpejam, aku melihat Kiko. Ia mengayunkan pedangnya dengan sekuat tenaga, menuntaskan apa yang tidak bisa kulakukan.

​Kiko berhasil. Ia menang.

​Aku adalah kunang-kunang yang cahayanya dipadamkan. Aku tidak berjuang untuk hidup, tapi untuk mati dengan terhormat. Kematianku adalah bukti bahwa bahkan dari keputusasaan terdalam, bisa lahir kekuatan yang tak terkalahkan.

​Kisahku berakhir di sini. Namun, Kiko akan terus melangkah, membawa janji dan senyumku bersamanya. Dan itu sudah cukup bagiku.

​Ayumi.

_ _ _

​Bukan di medan perang, bukan di hadapan musuh terkuat, tapi di halaman rumah yang pernah hancur. Seorang gadis kecil kehilangan segalanya dalam satu malam.

​Dia tidak bawa pedang raksasa. Dia cuma bawa tubuh yang rapuh, senyum yang lembut, dan dendam yang tidak pernah padam. Orang-orang melihatnya tersenyum, seolah hidupnya ringan. Tapi di balik itu, ada tekad yang membakar.

​Tenaganya terlalu kecil, pedangnya terlalu tipis, tapi justru dari kelemahan itu, dia belajar meracik racun. Dia ubah setiap gerakannya jadi tarian, dia bikin kematian jadi terasa indah dan sunyi.

​Dia tidak pernah bilang dia kuat. Dia tahu dirinya rapuh, dia tahu tubuhnya terbatas, tapi justru itu yang bikin tekadnya jadi mutlak.

​Kalau orang lain bisa mengandalkan pedang, dia mengandalkan kecerdasannya. Dia bertarung dengan racun.

​Dia bukan cahaya terang, dia kunang-kunang di tengah gelap. Bukan benteng, tapi racun yang menusuk tepat ke inti.

​Dan itulah bukti kalau seorang pahlawan tidak selalu berdiri gagah. Kadang, pahlawan hadir dengan senyum paling lembut.


TAMAT

Menata Kembali Hidup

 Menata Kembali Hidup

Karya: Anisya Ramadhani

Kelas: 8H


   Berhari-hari Vio merasa dirinya kurang fokus dalam belajar. Entah dari segi manapun. Hanya raganya yang hadir, tapi tidak dengan hati dan pikirannya. Ia seperti hidup dalam kabut.


   "Kamu kenapa, Vio? Belakangan ini kamu kelihatan nggak fokus," tanya Qila, sahabat dekatnya.


   Vio terdiam, lalu bergumam dalam hati,


   "Iya juga, ya? Kenapa aku akhir-akhir ini nggak fokus sama sekali,"


   "Aku juga nggak tahu, Qil," jawab Vio,


   "Aku lihat kamu juga gampang capek. Ada yang kamu pikirin?" tanya Qila sekali lagi,


   "Nggak tahu," jawab Vio singkat,


   Bel istirahat berbunyi. Vio dan Qila langsung melipir ke kantin. Sesampainya di sana, mereka memesan makanan. Qila memilih sayur dan buah seperti biasanya. Sementara Vio mengambil semangkuk bakso super pedas, tanpa peduli perutnya yang sudah sering bermasalah.


   "Wah! Itu pedas banget, loh!" seru Qila,


   "Ah, ini mah nggak ada apa-apanya buat aku," sahut Vio santai,


   "Tapi itu nggak sehat, Vi. Kamu tuh harus jaga badan juga," ucap Qila mengingatkan,


   Tapi Vio tetap mengabaikannya dan mulai menyantap makanannya. Qila yang merasa diabaikan, hanya bisa menghela napas lalu fokus pada makanannya sendiri.



---


   Bel pulang berbunyi. Murid-murid berbondong-bondong meninggalkan sekolah. Vio merasa sangat lelah dan mengantuk. Badannya remuk, padahal jam olahraga hanya sebentar.


   Langit mulai gelap. Siang perlahan berganti malam. Vio yang seharusnya tidur justru sibuk bermain ponsel sambil tiduran. Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari, tapi ia tidak memedulikannya. Ia tak tidur semalaman, dan langsung berangkat ke sekolah.


   Saat pelajaran berlangsung, rasa kantuk menyerangnya hebat.


   "Vio! Apa-apaan kamu tidur di pelajaran saya? Keluar sekarang juga!" ucap Bu Lena dengan tegas.


   Vio tersentak dan meringis, lalu berjalan keluar kelas dengan lesu.


   Hari demi hari berlalu. Vio tetap sama. Tidak ada perubahan. Orang tuanya mulai kesal. Begitu juga Qila, yang hampir setiap hari menasihatinya. Tapi semua masuk telinga kiri, keluar telinga kanan.


   "Ini memang udah jalanku kali, Qil. Takdir aku kayak gini," ucap Vio suatu hari.


   Ucapan itu membuat Qila kecewa. Ia lelah. Ia pun berhenti mencoba, berhenti peduli.


---


   Beberapa hari setelahnya, saat di kantin..


    "Qila," panggil Vio dengan suara pelan,


    "Iya?" jawab Qila datar sambil menyuap makanannya,


    "Aku capek. Aku ingin berubah. Aku sadar… ini semua bukan takdir. Aku yang bikin semua ini jadi kebiasaan buruk,"


   Qila langsung menoleh, terkejut.


    "APA? Kamu serius, Vio?"


    "Iya, Qil. Tapi aku bingung harus mulai dari mana,"


   Qila tersenyum lega.


    "Kamu tinggal mulai dari Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat!" jawab Qila antusias.


    "Apa itu?" tanya Vio penasaran.


    "Yaitu bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur tepat waktu."


   Vio mengangguk ragu.


    "Tapi..., aku gak yakin bisa," ucap Vio,


    "Kamu pasti bisa! Aku percaya sama kamu. Yuk, mulai bareng-bareng!" ucap Qila sambil tersenyum.


   Hari itu, Vio pun berjanji untuk berubah. Ia mulai menerapkan tujuh kebiasaan itu dengan perlahan.



---


   Dua bulan berlalu...


   Fokusnya kembali. Semangatnya semakin menyala. Kebiasaan buruknya juga pelan-pelan mulai menghilang. Sekarang, ia menyadari bahwa perubahan itu nyata. Tujuh kebiasaan itu bukan hanya rutinitas, tapi fondasi yang penting untuk masa depan.


    “Aku sadar, kebiasaan baik bukan hanya membuatku sehat, tapi juga membuat hidupku lebih bermakna,” pikir Vio sambil tersenyum memandang langit pagi.

Karena Tembok Itu Terlalu Tinggi

 Karena Tembok Itu Terlalu Tinggi

Karya: zahran 

Kelas: 7f


Malam itu, langit mendung seolah tak ingin menampakkan sinarnya. Hujan pun mulai turun dengan pelan, membasahi jalanan kota kecil di pinggiran Jakarta yang sepi. Di sebuah sudut taman kota, di bawah pohon besar yang daunnya bergoyang lesu, iela dan Nathaniel duduk bersebelahan di bangku tua. Mereka pernah percaya bahwa hujan akan membawa kedamaian, namun malam ini, rintik hujan justru menghantam relung hati mereka yang rapuh.

iela, dengan jilbab melingkar anggun di kepalanya, menatap kosong ke arah genangan air di depan mereka. Di balik tatapan lembut itu, tersimpan luka yang tak kunjung sembuh—luka karena dua dunia yang terpisah oleh keyakinan, dan karena pilihan yang harus mereka ambil. Di sampingnya, Nathaniel memandangi langit yang remang, wajahnya menyimpan keputusasaan dalam hening yang mendalam.

"Kenapa ya, aku selalu merasa seolah ada sesuatu yang menghalangi kita, Niel?" tanya iela dengan suara pelan, hampir tersesat oleh suara hujan yang terus menetes.

Nathaniel menggenggam tangannya dengan erat, seolah mencoba menuliskan kata-kata agar tak segera hilang. "Aku pun sering bertanya pada diri sendiri. Tembok yang memisahkan kita bukan hanya sekadar perbedaan iman, tapi juga semua harapan yang pernah kita rajut bersama," jawabnya, air mata mulai menggenang di mata yang biasanya penuh semangat.

Mereka kemudian terdiam, seolah dunia berhenti berputar di sekeliling mereka. Dalam kesunyian itu, terbayang bayang kenangan masa lalu: tawa yang pernah mengisi hari-hari sederhana, canda yang terbang bersama angin, dan janji-janji yang dulu diucapkan di balik senyum. Kini, semua itu terasa bagai mimpi yang perlahan pudar.

iela menarik napas, mencoba menenangkan badai dalam hatinya. "Aku selalu berdoa, Niel. Berdoa agar Tuhan memberkati cinta ini, agar aku kuat menghadapi perpisahan yang mendekat. Tapi setiap kali aku berdoa, seakan ada bisikan halus yang bilang, 'Cinta kalian harus terpisah.'"

Nathaniel menggeleng perlahan. "Aku juga. Doa-doa itu tak hanya untuk menguatkan hati, tapi juga sebagai penyesalan karena kita harus hidup dalam dunia yang berbeda. Kadang aku merasa, meski cinta ini tulus, kita hanya bisa berharap pada keajaiban yang tak pernah datang."

Malam semakin larut. Hujan kian deras seolah ikut menambah kesedihan yang mereka rasakan. Di sela-sela rintik itu, mereka kembali teringat akan pertemuan pertama—di sebuah acara sosial untuk membantu korban bencana. Saat itulah, mereka merasa ada sinar yang mengusir kegelapan, meski hanya sekejap. Namun, jalan menuju kebahagiaan tersebut kini terhalang oleh tembok yang terlalu tinggi untuk dijinakkan bersama.

"Apakah kau masih ingat, saat kita pernah berbagi mimpi? Bahwa suatu hari, dunia akan mengerti, dan tak ada lagi perbedaan yang harus memisahkan kita?" bisik Nathaniel, seolah mencoba menggapai sisa-sisa keyakinan yang pernah ada.

iela menunduk, matanya menyimpan rintihan yang tak terdengar. "Aku ingat, dan aku ingin terus mengingatnya. Tapi kenyataan membuktikan bahwa kadang harapan itu harus digenggam sendiri, walaupun perih. Mungkin, cinta seperti kita memang hanya boleh terselip dalam kenangan yang penuh luka dan haru."

Dalam keheningan malam, kedua insan itu mengerti satu hal: meski mereka saling mencinta, takdir telah menetapkan jalan yang berbeda. Tembok perbedaan yang mereka bangun—atas dasar keyakinan, keluarga, dan tradisi—namun, meski tinggi dan berat, tak mampu menghapus jejak cinta yang pernah terukir. Ada harapan, kata mereka, meski harus berpisah secara fisik, cinta itu akan selalu hidup dalam doa dan kenangan.

Pada akhirnya, di bawah payung hujan dan sorot lampu temaram taman kota, mereka berpisah dengan pelukan yang mengandung janji—janji untuk terus mencintai meski dalam keheningan, untuk menyimpan sepotong harapan bahwa suatu hari, mungkin dunia akan membuka jalan bagi cinta yang dahulu terasa terlarang.




Penguntit Rahasia

 Penguntit Rahasia 

Karya: Dhia Silmi

Kelas: 8E

Aku adalah Zemora oranglain memanggilku Mora, aku murid baru di sekolah SMA ternama di tempat tinggalku sekarang dan aku menduduki bangku kelas 11. 

" Baik, anak-anak hari ini kita kedatangan murid baru silahkan masuk dan perkenalkan dirimu. " Ucap guru yang sedang mengajar di kelas baruku.

" Salam kenal semua, aku Zemora kalian bisa panggil aku Mora. " Ucapku sebari tersenyum tipis. 

    Semua murid langsung menatap ku, entah apa yang dibicarakan oleh mereka saat itu tapi, ada beberapa perempuan yang menyapaku. 

" Baik, terimakasih Mora silahkan duduk di sebelah meja Ethan ya. " Guru itu menunjuk kursi dan meja kosong di sebelah jendela. 

Tanpa menunggu waktu aku langsung duduk di kursi yang ditunjuk oleh guru itu dan jam pelajaran dimulai. Murid di sebelahku yang bernama Ethan, dia tampak sedikit berbeda aku merasa dia memperhatikanku tapi mungkin hanya sesaat memang sih, dari cara berpenampilannya sepertinya dia anak nakal aku kembali fokus pada pelajaran yang sedang berlangsung sampai waktu istirahat tiba beberapa perempuan datang pada mejaku. 

" Hai anak baru, kenalin aku Rara sebagai ketua kelas. " 

" Hai Mora, aku Viona sebagai sekretaris disini. " 

Mereka datang padaku sembari tersenyum, aku membalas senyum mereka. 

" Hai Rara, Viona, salam kenal juga. " Ucapku sembari tersenyum. 

Akhirnya mereka duduk di depanku dan berkata. 

" Eh kamu hati-hati ya sama Ethan. " Kata Rara.

" Iya, bener tuh jangan main-main sama dia. " Kata Viona. 

Aku bingung sebentar, kenapa mereka mengatakan hal itu? apa mungkin mereka tau isi pikiranku yang sebenarnya? 

" Memangnya dia kenapa?. " Tanyaku dengan sedikit ragu. 

Viona dan Rara menghela nafas seolah takut dan ragu untuk berkata yang sebenarnya. 

" Ya, pokonya dia anak nakal deh kamu kan murid baru cantik lagi saran kita berdua hati-hati kalo dia ada di dekat kamu ya. " Ucap Rara sembari menunjukan ketakutan di wajahnya. 

Aku hanya mengiyakan saja perkataan mereka, aku mengikuti pelajaran dengan aman dan damai sampai ketika bel pulang berbunyi aku berpamitan dengan teman-temanku yang baru tapi saat aku akan melangkah ke gerbang tiba-tiba Ethan muncul dari samping dan menyodorkan tangannya. 

" Salam kenal aku Ethan jangan dengerin kata mereka aku ga sejahat itu kok. " Ucap Ethan sembari tersenyum tipis. 

Aku merasa ada yang aneh tapi aku membalas dengan senyum dan berjabat tangan dengannya. 

" Aku Mora. " Singkatku. 

Entah mengapa Ethan tiba-tiba pergi begitu saja seperti sedang terburu-buru tapu aku menghiraukannya. Saat aku sampai di rumah ponselku memberikan notifikasi puluhan chat dari nomor yang tak di kenal. 

" Aih, siapa sih ini ganggu aja. " Malasku dan mengabaikannya. 

Aku melanjutkan aktivitas ku sehari-hari seperti biasanya memang tidak ada yang aneh, aku bertemu teman-temanku, bermain bersama, belajar bersama. 

Tapi, suatu malam ketika aku sedang tiduran di ranjangku dengan damai tiba-tiba nomor yang tidak di kenal mengirimkan pesan padaku. 

" Jangan mengabaikanku Mora, aku tidak sedang bermain-main denganmu. " Isi pesan itu. 

Aku belum ada rasa takut sama sekali mungkin itu hanya orang orang jahil saja pada nomorku. Sampai ketika dia mengirimkan sebuah foto saat aku buka fotonya ternyata itu fotoku yang sedang tiduran di ranjang detik itu juga. Aku terkejut dan mulai ada rasa takut aku mulai mencari dimana kamera kecil itu tapi, nomor itu mengirimkan pesan lagi padaku. 

" Kamera kecilku takkan bisa di temukan olehmu. " 

Seiring berjalannya waktu aku mulai tidak mempedulikannya lagi, meski sesekali nomor itu terus terusan mengirimkan foto pribadi ku dan mengirim pesan yang tidak jelas. 

Ketika aku sedang pulang sendirian di jalan yang gelap dan sunyi aku merasa ada seseorang yang mengikutiku. Aku terus mempercepat langkahku tapi anehnya langkah itu rasanya semakin dekat dengan diriku dan akhirnya aku memberanikan diri untuk melihat kebelakang, tapi di belakangku jelas tidak ada siapapun hanya ada pepohonan besar dan jalan yang sunyi aku memutuskan untuk lanjut jalan saja tapi tiba-tiba seseorang yang entah darimana asalnya menarikku kesamping.

Seseorang itu mengenakan pakaian serba hitam dan memakai topeng di wajahnya tapi, aku salah fokus ketika melihat salah satu tangannya memegang pisau tajam di tangannya aku bingung siapa dia? dan apa yang akan dia lakukan?. 

" S-siapa kamu?. " Ucapku dengan sedikit ragu dan takut. 

Seseorang itu tersenyum tapi terus menggenggam tanganku dengan erat seolah olah dia tidak akan membiarkanku untuk pergi. Tapi akhirnya dia membuka topengnya yang gelap betapa terkejutnya aku ketika melihat seseorang di balik topeng itu. 

" Ethan?. " Ucapku sembari takut. 

Ethan hanya tersenyum dia mengangkat tangan yang satunya yang memegangi pisau. 

" Tunggu! kamu mau ngapain?. " Aku berusaha menghindar. 

Ethan hanya tersenyum dan berkata. 

" Jangan kabur, aku cuma gasuka kalau kamu mengabaikanku terus. " Ucapnya dengan senyum jahat di wajahnya.

Aku semakin takut dan panik. 


" Ethan! maksudnya apa?." Tanyaku sembari gemetar. 


"Aku sudah bilang, banyak orang yang bilang aku berbahaya dan kamu mempercayainya? aku bakal bikin kamu tenang selamanya." 


Setelah Ethan mengatakan itu, mendadak suasana menjadi hening. dan kembali sunyi.

MELAMPAUI SENJA SMP: BUKU KENANGAN ENAM SAHABAT

 MELAMPAUI SENJA SMP: BUKU KENANGAN ENAM SAHABAT

By: Muhammad Fadhil Nurhikam

Kelas: 9K

Mentari pagi itu terasa lebih sayu dari biasanya bagi Fadhil. Sinar kekuningan yang biasanya membangkitkan semangat, kini justru menambah sendu hatinya. Ia menatap seragam putih birunya yang sudah sedikit lusuh, saksi bisu dari tiga tahun penuh cerita di bangku SMP Negeri 1 Malangbong. Sebentar lagi, seragam ini akan terlipat rapi di lemari, digantikan seragam putih abu-abu yang menandakan babak baru dalam kehidupannya. Namun, membayangkan perpisahan dengan teman-temannya membuat dadanya terasa sesak.

Di ruang makan, ibunya, seorang wanita paruh baya dengan senyum lembut, memperhatikan perubahan raut wajah Fadhil. "Fadhil, kok murung begitu? Sebentar lagi kan pengumuman kelulusan. Bukannya kamu senang?" tanyanya sambil meletakkan segelas susu hangat di hadapan putranya.

Fadhil menghela napas panjang. "Senang sih, Bu, tapi juga sedih. Sebentar lagi kan pisah sama Akbar, Ahmad, Fatimah, Faizhah, sama Syafira."

Ibunya tersenyum maklum. "Itu wajar, Nak. Enam tahun bukan waktu yang sebentar. Kalian sudah seperti saudara. Tapi, perpisahan bukan berarti akhir dari segalanya. Kalian masih bisa bertemu, kan?"

Kata-kata ibunya memang menenangkan, tapi tetap saja ada ganjalan di hati Fadhil. Kenangan-kenangan indah selama SMP berputar di benaknya seperti kaset rusak. Tawa riang saat bermain futsal di lapangan sekolah bersama Akbar dan Ahmad, diskusi seru tentang pelajaran di kantin bersama Fatimah dan Faizhah, hingga saling menyemangati saat menghadapi ulangan bersama Syafira. Semua itu akan segera menjadi kenangan.

Di sekolah, suasana terasa lebih ramai dari biasanya. Hari itu adalah hari terakhir mereka masuk sekolah sebelum pengumuman kelulusan. Di koridor, Fadhil melihat Akbar sedang bercanda dengan Ahmad. Mereka terlihat tertawa lepas, tapi Fadhil bisa melihat ada kesedihan yang tersembunyi di mata mereka.

"Fadhil!" seru Akbar, melambaikan tangan.

Fadhil menghampiri kedua sahabatnya itu. "Hai," sapanya dengan senyum tipis.

"Lo kenapa lesu gitu, Fad?" tanya Ahmad, menepuk pundak Fadhil.

"Gue... gue sedih aja bentar lagi lulus," jawab Fadhil jujur.

Akbar menghela napas. "Gue juga, Fad. Kayaknya baru kemarin kita MOS, ya? Sekarang udah mau lulus aja."

Mereka bertiga terdiam sejenak, larut dalam pikiran masing-masing. Kenangan akan masa-masa awal SMP, saat di lingkungan sekolah yang baru mereka hanya merasa nyaman dan akrab satu sama lain, membuat kebersamaan mereka terasa begitu lekat dan kini seolah sudah jauh berlalu.

Tak lama kemudian, Fatimah, Faizhah, dan Syafira menghampiri mereka. Wajah mereka juga terlihat murung.

"Hai semua," sapa Fatimah pelan.

"Kalian juga sedih?" tanya Ahmad.

Faizhah mengangguk. "Banget. Kayak mimpi aja gitu, udah mau pisah."

Syafira, yang biasanya paling ceria di antara mereka, kini terlihat lebih pendiam. Matanya tampak berkaca-kaca. "Gue nggak kebayang deh nanti nggak bisa ketemu kalian setiap hari lagi."

Suasana semakin terasa berat. Mereka berenam sudah seperti keluarga sejak kelas 3 SD. Mereka berbagi suka dan duka, saling mendukung dalam segala hal. Kebersamaan yang terjalin begitu lama inilah yang akan sangat mereka rindukan.

Bel masuk berbunyi, membuyarkan lamunan mereka. Mereka berjalan menuju kelas dengan langkah gontai. Pelajaran hari itu terasa hambar. Pikiran mereka melayang-layang, membayangkan hari-hari terakhir mereka bersama.

Saat jam istirahat, mereka berkumpul di taman belakang sekolah, tempat favorit mereka untuk berbagi cerita dan rahasia. Di bawah rindangnya pohon angsana, mereka duduk melingkar, mencoba mengusir kesedihan yang melanda.

"Kita harus tetap bersahabat ya, meskipun udah beda sekolah," kata Fatimah dengan suara bergetar.

"Iya! Kita harus sering-sering kumpul," timpal Faizhah penuh semangat, meskipun matanya masih terlihat sembab.

"Nanti kalau udah SMA, kita atur jadwal buat nongkrong bareng," usul Akbar.

"Main futsal bareng juga!" seru Ahmad.

Fadhil tersenyum mendengar ucapan teman-temannya. Ada sedikit kehangatan yang menyelimuti hatinya. Meskipun perpisahan itu pasti akan menyakitkan, ia tahu bahwa persahabatan mereka tidak akan berakhir begitu saja.

Syafira tiba-tiba mengeluarkan sebuah buku kecil dari tasnya. "Gue punya ide," katanya sambil tersenyum tipis. "Gimana kalau kita bikin buku kenangan? Setiap orang nulis pesan buat yang lain di sini."

Ide Syafira disambut dengan antusias. Mereka mulai menulis pesan di buku itu, mengungkapkan perasaan sayang dan harapan untuk masa depan persahabatan mereka. Setiap kata yang tertulis terasa begitu bermakna, menyimpan sejuta kenangan yang telah mereka lalui bersama.

Hari-hari menjelang pengumuman kelulusan terasa berjalan begitu lambat. Setiap momen di sekolah terasa begitu berharga, seolah mereka ingin mengabadikannya dalam ingatan mereka selamanya. Mereka menghabiskan waktu bersama sebanyak mungkin, mengenang tawa dan air mata yang telah mereka bagi.

Tibalah hari yang dinanti sekaligus ditakuti. Hari pengumuman kelulusan. Mereka berenam berkumpul di depan papan pengumuman dengan jantung berdebar-debar. Suasana di sekitar mereka dipenuhi oleh siswa lain dan orang tua yang juga merasakan ketegangan yang sama.

Satu per satu nama siswa dibacakan. Ketika nama Fadhil disebut, ia merasakan kelegaan yang luar biasa. Ia LULUS! Begitu juga dengan Akbar, Ahmad, Fatimah, Faizhah, dan Syafira. Mereka semua lulus!

Sorak sorai kegembiraan bercampur dengan isak tangis haru. Mereka berpelukan erat, meluapkan rasa bahagia dan lega. Namun, di balik kebahagiaan itu, terselip kesedihan yang mendalam karena mereka tahu, setelah ini, jalan mereka akan sedikit berbeda. Fadhil akan melanjutkan ke MA Ma'arif 1 Malangbong, Akbar ke SMA PGRI Malangbong, Ahmad ke SMK Al Ilyas, Faizhah ke SMA Negeri 9 Garut, dan Syafira ke SMK 7 Garut. Fadhil, Akbar, Ahmad, Faizhah, dan Syafira akan bersekolah di sekitar Malangbong dan Garut, meskipun di sekolah yang berbeda-beda. Hanya Fatimah yang akan melanjutkan sekolah jauh ke SMA Negeri 1 Ciawi Tasikmalaya.

Setelah pengumuman, mereka kembali berkumpul di taman belakang sekolah. Buku kenangan yang sudah penuh dengan pesan kini berpindah tangan dari satu ke yang lain. Mereka membacanya bersama-sama, sesekali tertawa dan tak jarang meneteskan air mata.

"Gue nggak nyangka waktu berlalu secepat ini," kata Fadhil sambil memeluk buku itu erat.

"Iya, kayaknya baru kemarin kita bingung nyari kelas," timpal Akbar.

"Semoga kita semua sukses ya di sekolah masing-masing nanti," ujar Ahmad dengan tulus.

Fatimah mengangguk. "Dan semoga kita bisa terus bersahabat sampai kapan pun, meskipun sekolah kita berjauhan. Apalagi aku yang di Ciawi."

Faizhah tersenyum. "Pasti! Kita kan sahabat selamanya."

Syafira menatap teman-temannya satu per satu. "Meskipun nanti kita nggak ketemu setiap hari lagi, tapi kenangan kita akan selalu ada di hati masing-masing. Dan kita harus janji buat tetap saling berkomunikasi."

Mereka terdiam sejenak, meresapi setiap kata yang terucap. Matahari sore mulai memancarkan warna jingga, menandakan akhir dari hari yang penuh emosi.

Fadhil berdiri, diikuti oleh teman-temannya. Mereka berjalan keluar dari gerbang sekolah bersama-sama, untuk terakhir kalinya sebagai siswa SMP Negeri 1 Malangbong. Di luar gerbang, mereka berpisah satu per satu, dengan janji untuk tetap menjaga komunikasi dan bertemu lagi di lain waktu. Fadhil, Akbar, Ahmad, Faizhah, dan Syafira akan melanjutkan pendidikan di berbagai sekolah di sekitar Malangbong dan Garut. Sementara Fatimah harus bersiap untuk pindah ke Ciawi, Tasikmalaya.

Saat Fadhil melangkah menjauhi sekolah, ia menoleh ke belakang. Gedung sekolah yang selama tiga tahun menjadi saksi bisu perjalanan hidupnya tampak berdiri kokoh di bawah langit senja. Ia menghela napas panjang. Perpisahan ini memang menyakitkan, tapi ia tahu bahwa kenangan indah bersama teman-temannya akan selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari dirinya. Dan di lubuk hatinya, ia yakin, persahabatan mereka akan tetap abadi, melampaui senja SMP ini, tersimpan dalam buku kenangan enam sahabat mereka.

YANG KATANYA CEMARA

 YANG KATANYA CEMARA

By: Muhammad Fadhil Nurhikam

Kelas: 9K

Di sebuah perumahan asri dengan pepohonan rindang yang menaungi jalanan, berdiri kokoh sebuah rumah bercat putih gading dengan taman depan yang selalu tertata rapi. Bunga-bunga berwarna-warni bermekaran silih berganti, seolah tak pernah lelah menyambut pagi. Rumah itu adalah kediaman keluarga Wijaya, sebuah keluarga yang di mata tetangga dan kerabat tampak begitu sempurna. Mereka adalah representasi dari keluarga cemara yang tenang, teduh, dan selalu tampak baik-baik saja.

Di balik fasad rumah yang menawan itu, tinggallah seorang gadis remaja bernama Anya. Dari luar, Anya adalah potret seorang anak yang beruntung. Parasnya ayu dengan mata bulat yang berbinar, selalu berpakaian sopan, dan tutur katanya lembut. Ia adalah murid berprestasi di sekolah, aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler, dan selalu tersenyum ramah kepada siapa saja yang berpapasan dengannya. Orang-orang selalu memujinya, menyebutnya anak yang manis, sopan, dan tentu saja, berasal dari keluarga yang harmonis.

Namun, di balik senyum manis Anya dan keharmonisan semua keluarganya, tersimpan sebuah rahasia besar yang perlahan-lahan menggerogoti hatinya. Orang tuanya, Risa dan Arya Wijaya, yang di mata publik adalah pasangan ideal, ternyata menyimpan bara perselingkuhan yang siap membakar habis rumah tangga mereka.

Anya pertama kali menyadari ada yang aneh beberapa bulan yang lalu. Saat itu, ia terbangun tengah malam karena haus. Langkah kakinya menuju dapur terhenti di depan pintu ruang kerja ayahnya yang sedikit terbuka. Samar-samar, ia mendengar suara ibunya yang meninggi, diikuti oleh suara ayahnya yang berusaha meredam emosi.

"Kamu pikir aku tidak tahu apa yang kamu lakukan di luar sana, Arya?" desis Risa dengan nada penuh amarah dan kekecewaan.

"Risa, jangan bicara seperti itu. Kamu salah paham," jawab Arya, suaranya terdengar tegang.

"Salah paham katamu? Sudah cukup lama aku memendam ini. Aku melihat sendiri pesan-pesan itu, panggilan-panggilan itu!"

Anya membeku di tempatnya. Jantungnya berdebar kencang. Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi, tetapi nada bicara ibunya dan pembelaan ayahnya membuatnya merasa ada sesuatu yang sangat buruk sedang terjadi. Malam itu, untuk pertama kalinya, Anya merasakan retakan halus dalam bangunan kokoh yang selama ini ia sebut keluarga.

Sejak malam itu, Anya menjadi lebih peka terhadap perubahan suasana di rumahnya. Ia memperhatikan tatapan kosong ibunya saat sarapan, kesibukan ayahnya yang semakin larut malam dengan alasan pekerjaan, dan komunikasi dingin yang terjalin di antara keduanya. Mereka masih berbicara, masih melakukan rutinitas keluarga seperti biasa, tetapi ada jarak tak kasatmata yang semakin melebar di antara mereka.

Di sekolah, Anya tetaplah Anya yang ceria dan berprestasi. Ia pandai menyembunyikan kegelisahan hatinya di balik senyum dan tawa. Teman-temannya tidak pernah curiga bahwa di balik tembok rumahnya, sedang terjadi badai yang siap menghancurkan segalanya. Mereka hanya melihat Anya sebagai anak yang beruntung, yang memiliki segalanya.

Namun, semakin lama, beban rahasia ini terasa semakin berat bagi Anya. Ia merasa seperti sedang memainkan peran dalam sebuah drama yang tidak pernah ia pilih. Ia benci kepura-puraan ini, tetapi ia juga takut untuk menghancurkan ilusi sempurna yang selama ini dijaga oleh orang tuanya.

Suatu sore, saat Anya sedang mengerjakan tugas sekolah di kamarnya, ia tidak sengaja mendengar percakapan telepon ibunya. Suara ibunya terdengar lirih dan penuh keputusasaan.

"Aku tidak tahu lagi harus bagaimana, Mira. Aku sudah tidak tahan lagi dengan semua ini," kata Risa kepada seseorang yang Anya yakini adalah sahabatnya. "Dia terus berbohong, terus menyakitiku. Rasanya aku ingin menyerah saja."

Anya terdiam. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Jadi, dugaannya benar. Orang tuanya tidak baik-baik saja. Mereka sedang berada di ambang kehancuran. Kenyataan ini menghantamnya dengan keras, membuatnya merasa sesak dan tak berdaya.

Malam harinya, saat makan malam bersama, suasana terasa begitu tegang. Ayah dan ibunya hanya berbicara seperlunya, menghindari tatapan satu sama lain. Anya hanya bisa menunduk, memainkan makanannya tanpa selera. Ia ingin bertanya, ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, tetapi lidahnya terasa kelu.

Setelah makan malam, Anya memberanikan diri mengetuk pintu kamar ibunya. Risa membukakan pintu dengan wajah yang tampak lelah.

"Ada apa, Sayang?" tanya Risa lembut, berusaha menyembunyikan kesedihannya.

Anya menatap mata ibunya, mencari kejujuran di sana. "Ibu... apa Ibu baik-baik saja?" tanyanya pelan.

Risa terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. Ia menarik Anya ke dalam pelukannya. "Ibu tidak apa-apa, Nak. Hanya sedikit lelah," jawabnya, meskipun suaranya terdengar bergetar.

Anya tahu ibunya berbohong. Ia bisa merasakan ketegangan di tubuh ibunya, bisa melihat kesedihan yang terpancar dari matanya. Namun, ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia merasa kecil dan tidak berdaya di tengah masalah besar yang sedang dihadapi keluarganya.

Hari-hari berikutnya terasa semakin berat bagi Anya. Ia melihat ibunya semakin sering melamun, tatapannya kosong dan penuh kesedihan. Ayahnya semakin sering menghabiskan waktu di luar rumah dengan alasan pekerjaan. Rumah yang dulunya terasa hangat dan nyaman, kini terasa dingin dan sunyi.

Di sekolah, Anya berusaha tetap tegar. Ia tidak ingin teman-temannya tahu tentang masalah keluarganya. Ia tidak ingin citra keluarga cemara yang selama ini mereka jaga hancur berantakan. Ia takut akan tatapan kasihan atau bisikan-bisikan di belakang punggungnya.

Namun, kepura-puraan ini semakin menguras energinya. Ia merasa seperti sedang membawa beban yang terlalu berat untuk pundaknya yang kecil. Ia merindukan kehangatan dan kebahagiaan yang dulu selalu ada di rumahnya. Ia merindukan tawa dan canda orang tuanya saat makan malam bersama. Ia merindukan keluarga yang utuh dan harmonis.

Suatu malam, Anya tidak bisa lagi menahan air matanya. Ia bersembunyi di balik selimutnya dan menangis terisak-isak. Ia merasa sendirian dan tidak tahu harus berbuat apa. Ia bertanya-tanya, mengapa semua ini harus terjadi pada keluarganya? Mengapa orang tuanya yang selama ini tampak begitu mencintainya, kini saling menyakiti?

Di tengah keputusasaannya, tiba-tiba terlintas di benaknya sebuah ide. Ia ingat pernah membaca sebuah artikel tentang bagaimana komunikasi yang jujur dan terbuka dapat menyelesaikan banyak masalah dalam keluarga. Mungkin, jika ia berbicara dengan orang tuanya, jika ia mengungkapkan perasaannya, mereka akan menyadari betapa hancurnya ia melihat keluarga mereka berada di ambang kehancuran.

Dengan tekad yang bulat, Anya memutuskan untuk berbicara dengan kedua orang tuanya. Ia memilih waktu yang tepat, yaitu pada hari Minggu pagi saat mereka biasanya berkumpul di ruang keluarga.

Saat Anya masuk ke ruang keluarga, ia melihat ayah dan ibunya sedang duduk berjauhan di sofa, membaca koran masing-masing. Suasana di ruangan itu terasa dingin dan canggung.

Anya menarik napas dalam-dalam dan memberanikan diri untuk berbicara. "Ayah, Ibu... boleh Anya bicara sebentar?"

Risa dan Arya menoleh ke arah Anya dengan ekspresi terkejut. Mereka jarang melihat Anya berbicara dengan nada seserius ini.

"Tentu, Sayang. Ada apa?" tanya Arya lembut.

Anya duduk di karpet di depan mereka dan menatap kedua orang tuanya bergantian. "Anya tahu... Anya tahu ada sesuatu yang tidak baik sedang terjadi di antara Ayah dan Ibu."

Risa dan Arya terdiam. Mereka saling bertukar pandang dengan ekspresi khawatir.

"Anya mendengar percakapan Ibu waktu itu... dan Anya juga melihat bagaimana Ayah dan Ibu jadi berbeda," lanjut Anya dengan suara bergetar. "Anya tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, tapi Anya sedih melihat Ayah dan Ibu seperti ini. Anya rindu keluarga kita yang dulu... yang selalu tertawa bersama, yang selalu bahagia."

Air mata mulai menetes di pipi Anya. Ia tidak bisa lagi menahan emosinya. Ia mengungkapkan semua kesedihan dan kekecewaan yang selama ini ia pendam.

Risa dan Arya terkejut melihat Anya menangis. Mereka tidak menyangka bahwa putri mereka yang selama ini tampak tegar ternyata menyimpan begitu banyak kesedihan.

Risa menghampiri Anya dan memeluknya erat. "Maafkan Ibu, Sayang. Maafkan kami karena membuatmu sedih," ucap Risa dengan suara tercekat.

Arya ikut mendekat dan mengusap lembut rambut Anya. "Kami juga minta maaf, Nak. Kami tidak bermaksud membuatmu khawatir."

Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, Anya merasakan kehangatan dan perhatian dari kedua orang tuanya secara bersamaan. Ia membalas pelukan ibunya dan menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca.

"Anya hanya ingin Ayah dan Ibu baik-baik saja. Anya tidak ingin keluarga kita hancur," ucap Anya lirih.

Setelah mendengar ucapan Anya, Risa dan Arya saling bertukar pandang. Mereka melihat kesungguhan dan ketakutan di mata putri mereka. Mereka menyadari betapa besar dampak masalah mereka terhadap Anya.

Dengan berat hati, Risa dan Arya akhirnya memutuskan untuk mengungkapkan kebenaran kepada Anya. Mereka menceritakan tentang perselingkuhan Arya, tentang rasa sakit dan kekecewaan Risa, dan tentang rencana mereka untuk berpisah.

Anya mendengarkan cerita orang tuanya dengan hati hancur. Air matanya terus mengalir tanpa bisa ia tahan. Kenyataan bahwa keluarganya yang selama ini ia banggakan akan segera hancur terasa seperti mimpi buruk yang menjadi kenyataan.

Namun, di tengah kesedihannya, Anya juga merasakan sedikit kelegaan. Setidaknya, ia tidak perlu lagi hidup dalam kepura-puraan. Setidaknya, ia tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Setelah orang tuanya selesai bercerita, Anya kembali berbicara. "Apakah... apakah tidak ada cara lain? Apakah Ayah dan Ibu tidak bisa mencoba lagi? Anya mohon..."

Risa dan Arya saling bertukar pandang lagi. Mereka melihat harapan di mata putri mereka. Mereka menyadari bahwa mereka tidak hanya bertanggung jawab atas kebahagiaan mereka sendiri, tetapi juga atas kebahagiaan Anya.

Setelah berpikir sejenak, Arya akhirnya berbicara. "Nak, ini adalah masalah yang sangat sulit. Ayah dan Ibu sudah sangat terluka. Tapi... demi kamu, demi keluarga kita, kami akan mencoba. Kami akan mencoba untuk memperbaiki semuanya. Tapi, ini tidak akan mudah dan membutuhkan waktu yang lama."

Risa mengangguk setuju. "Iya, Sayang. Kami akan berusaha. Tapi, kamu juga harus mengerti bahwa mungkin saja kami tidak berhasil. Mungkin saja kami memang harus berpisah."

Mendengar ucapan orang tuanya, Anya merasa sedikit lega. Setidaknya, mereka bersedia mencoba. Setidaknya, masih ada harapan untuk keluarganya.

Sejak hari itu, suasana di rumah keluarga Wijaya perlahan-lahan mulai berubah. Risa dan Arya mulai berkomunikasi lebih terbuka. Mereka mulai menceritakan perasaan dan kekhawatiran mereka satu sama lain. Mereka juga mulai meluangkan waktu lebih banyak untuk Anya, mendengarkannya, dan memberikan perhatian yang selama ini hilang.

Anya melihat perubahan itu dengan hati-hati. Ia tahu bahwa jalan di depan masih panjang dan sulit. Ia tahu bahwa luka yang ada di hati orang tuanya tidak akan sembuh dalam semalam. Namun, ia juga melihat adanya keinginan yang kuat dari keduanya untuk memperbaiki hubungan mereka.

Anya belajar untuk menerima kenyataan bahwa keluarganya tidak sesempurna yang terlihat dari luar. Ia belajar bahwa setiap keluarga pasti memiliki masalahnya masing-masing. Ia juga belajar bahwa kejujuran dan keterbukaan adalah kunci untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Meskipun proses pemulihan hubungan orang tuanya berjalan lambat, Anya tetap sabar dan memberikan dukungan semampunya. Ia menjadi pendengar yang baik bagi ibunya saat ia merasa sedih dan marah. Ia juga mencoba untuk memahami ayahnya dan memberikan semangat agar ia bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

Waktu terus berjalan. Badai yang sempat mengancam keluarga Wijaya perlahan-lahan mulai mereda. Risa dan Arya mulai menemukan kembali kehangatan dan kebersamaan yang sempat hilang. Mereka belajar untuk saling memaafkan dan membangun kembali kepercayaan yang retak.

Anya melihat perubahan itu dengan hati yang bahagia. Ia bersyukur karena keluarganya tidak jadi hancur. Ia bersyukur karena orang tuanya mau berjuang demi dirinya dan demi keutuhan keluarga mereka.

Kini, keluarga Wijaya memang tidak lagi tampak seperti keluarga cemara yang sempurna di mata orang lain. Mereka tidak lagi berusaha menyembunyikan masalah mereka di balik senyum dan kepura-puraan. Mereka belajar untuk menjadi keluarga yang jujur dan terbuka, yang saling mendukung dan menguatkan dalam suka maupun duka.

Anya menyadari bahwa keluarga cemara yang sebenarnya bukanlah keluarga yang tidak pernah memiliki masalah, tetapi keluarga yang mampu menghadapi masalah bersama-sama, dengan kasih sayang dan pengertian. Dan keluarganya, meskipun pernah hampir hancur, kini sedang berusaha untuk menjadi keluarga cemara yang sesungguhnya. Keluarga yang akarnya kuat, batangnya kokoh, dan daunnya rindang, meskipun pernah diterpa badai yang hebat.

AYAH, INI ARAHNYA KE MANA, YA?

 AYAH, INI ARAHNYA KE MANA, YA?

By: Muhammad Fadhil Nurhikam

Kelas: 9K

Mentari pagi menyapa lembut dari balik jendela, menerobos celah tirai usang dan jatuh tepat di wajah Arya. Ia menggeliat kecil, merasakan sengatan hangat yang perlahan membuyarkan sisa kantuknya. Aroma kopi dan gorengan samar-samar menusuk hidungnya, pertanda Ayah sudah beraktivitas di dapur. Sebuah rutinitas yang selalu menenangkan bagi Arya, seperti melodi familiar yang mengawali setiap harinya.

Dengan malas, Arya bangkit dari ranjangnya yang sederhana. Kamar berukuran tiga kali tiga meter itu terasa pengap meski jendelanya terbuka sedikit. Poster-poster band rock lawas dan coretan-coretan lirik lagu memenuhi dindingnya, saksi bisu imajinasinya yang kerap melayang jauh di tengah keterbatasan ruang.

Langkah Arya tertuju ke dapur, tempat Ayah – lelaki paruh baya dengan rambut mulai menipis dan kerutan di sudut mata yang menyimpan segudang cerita – tengah sibuk di depan kompor. Aroma kopi hitam pekat bercampur dengan bau harum tempe mendoan yang baru diangkat.

“Pagi, Le,” sapa Ayah tanpa menoleh, suaranya serak khas bangun tidur. “Sudah bangun rupanya anak lanang.”

“Pagi, Yah,” jawab Arya sambil menguap. Ia menghampiri meja makan kecil di sudut dapur dan duduk di salah satu kursi kayu yang sudah sedikit goyang. Di atas meja, sepiring nasi goreng sederhana dan beberapa potong tempe mendoan hangat sudah tertata rapi.

Ayah meletakkan secangkir kopi di hadapan Arya, lalu duduk di kursi seberangnya. Keheningan singkat menyelimuti mereka, hanya dipecah oleh suara gemericik minyak di wajan dan desahan napas Ayah yang terdengar sedikit berat.

Arya memperhatikan Ayahnya lekat-lekat. Ada guratan lelah yang lebih dalam dari biasanya di wajah itu. Pundaknya tampak sedikit membungkuk, seolah memikul beban yang tak terlihat. Arya tahu, kehidupan sebagai buruh pabrik tekstil tidaklah mudah. Upah yang pas-pasan seringkali membuat Ayah harus memutar otak untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

“Yah?” panggil Arya pelan, memecah keheningan.

Ayah mendongak, alisnya sedikit terangkat. “Ada apa, Le?”

Arya menunduk, memainkan ujung sendoknya. “Aku… bingung, Yah.”

“Bingung kenapa?” tanya Ayah lembut, meletakkan kembali koran yang baru dibacanya.

“Soal kuliah,” jawab Arya lirih. “Pengumuman SBMPTN sebentar lagi. Aku… tidak yakin.”

Ayah menghela napas pelan. Ia meraih tangan Arya dan menggenggamnya erat. “Kamu sudah berusaha semaksimal mungkin, Le. Soal hasil, kita serahkan saja pada Yang di Atas.”

“Tapi, Yah…” Arya mengangkat wajahnya, menatap mata Ayahnya yang penuh kasih. “Kalau aku tidak diterima… lalu bagaimana?”

Ayah tersenyum tipis. “Lalu kita cari jalan lain. Hidup ini panjang, Le. Banyak jalan menuju Roma, bukan?”

Arya tahu Ayahnya berusaha menenangkannya, tetapi ia tetap merasa gamang. Impiannya untuk kuliah di jurusan desain grafis terasa semakin jauh. Ia sadar betul, biaya kuliah tidaklah sedikit. Penghasilan Ayah sebagai buruh pabrik едва cukup untuk kebutuhan sehari-hari.

“Aku tidak ingin membebani Ayah,” ucap Arya jujur.

“Kamu tidak pernah menjadi beban, Le,” sanggah Ayah dengan nada tegas namun lembut. “Kamu adalah semangat Ayah. Kamu adalah harapan Ibu.”

Ibu. Nama itu selalu menghadirkan kehangatan sekaligus kesedihan di hati Arya. Ibunya telah meninggal dunia tiga tahun lalu karena sakit. Kepergiannya meninggalkan luka yang mendalam bagi Arya dan Ayah. Sejak saat itu, mereka berdua menjadi lebih dekat, saling menguatkan dalam kesunyian rumah kontrakan mereka.

“Ibu pasti ingin aku kuliah,” gumam Arya pelan.

Ayah mengangguk. “Ibumu selalu percaya pada potensi kamu, Le. Dia selalu bilang, kamu punya bakat menggambar yang luar biasa.”

Arya tersenyum getir. Bakat menggambar. Dulu, ia selalu menghabiskan waktu luangnya untuk mencoret-coret kertas, menciptakan dunia fantasinya sendiri melalui garis dan warna. Namun, seiring berjalannya waktu, kesibukan sekolah dan keterbatasan biaya membuatnya semakin jarang menyentuh pensil dan kuas.

“Tapi, Yah… kuliah itu mahal,” ulang Arya, keraguan masih menggelayuti hatinya.

Ayah terdiam sejenak, pandangannya menerawang jauh. “Ayah akan berusaha sekuat tenaga, Le. Mungkin Ayah bisa menambah jam kerja, atau mencari pekerjaan sampingan.”

Arya merasa terenyuh mendengar ucapan Ayahnya. Ia tahu betul, Ayahnya sudah bekerja keras selama ini. Menambah beban lagi rasanya tidak adil.

“Jangan, Yah,” tolak Arya pelan. “Aku bisa mencari pekerjaan setelah lulus SMA. Mungkin aku bisa bekerja di percetakan atau studio desain.”

“Itu juga pilihan yang baik, Le,” sahut Ayah. “Yang penting kamu tidak patah semangat. Apapun jalan yang kamu pilih, Ayah akan selalu mendukungmu.”

Percakapan mereka terhenti saat suara ketukan pintu terdengar. Ayah beranjak membukakan pintu, dan seorang lelaki paruh baya dengan wajah ramah menyapa dari ambang pintu.

“Pagi, Pak Slamet,” sapa lelaki itu.

“Pagi, Pak Jono,” jawab Ayah. “Ada apa gerangan?”

“Ini, Pak Slamet,” Pak Jono menyodorkan sebuah amplop cokelat kepada Ayah. “Ada sedikit rezeki dari proyek kemarin. Kebetulan, Arya juga ikut membantu.”

Arya mengerutkan kening, merasa bingung. Proyek apa? Ia tidak ingat pernah membantu Pak Jono dalam proyek apapun. Pak Jono adalah tetangga mereka yang memiliki usaha kecil di bidang desain grafis.

Ayah menerima amplop itu dengan tatapan heran. Ia membuka amplop tersebut dan mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah. Matanya membulat terkejut.

“Ini… banyak sekali, Pak Jono,” ucap Ayah terbata-bata.

Pak Jono tersenyum lebar. “Tidak seberapa, Pak Slamet. Arya kemarin sempat membantu saya membuat beberapa desain logo. Hasilnya lumayan bagus. Saya pikir, sudah sepantasnya ia mendapatkan bagiannya.”

Arya terkejut. Kapan ia membantu Pak Jono membuat desain logo? Ia sama sekali tidak ingat.

“Maaf, Pak Jono,” Arya angkat bicara. “Sepertinya ada kekeliruan. Saya tidak pernah…”

“Lho, Arya,” sela Pak Jono sambil menatap Arya dengan tatapan penuh arti. “Kamu lupa? Waktu itu kamu datang ke rumah saya malam-malam, membawa beberapa sketsa desain. Kamu bilang, itu ide-ide untuk proyek saya.”

Arya mencoba mengingat-ingat. Ia memang sering menghabiskan waktu malamnya untuk menggambar, tetapi ia tidak pernah menunjukkan sketsanya kepada siapapun, apalagi Pak Jono.

Ayah menatap Arya dengan tatapan penuh tanya. Arya menggelengkan kepalanya, mencoba memberi isyarat bahwa ia tidak tahu apa-apa.

“Sudahlah, Pak Slamet,” kata Pak Jono sambil menepuk pundak Ayah. “Anggap saja ini rezeki nomplok. Siapa tahu bisa membantu Arya untuk biaya kuliah.”

Ayah masih terlihat bingung, tetapi ia akhirnya mengangguk pelan. “Terima kasih banyak, Pak Jono. Kami sangat berterima kasih.”

Setelah Pak Jono pergi, Ayah menatap Arya dengan tatapan menyelidik. “Le, apa benar kamu membantu Pak Jono?”

Arya menghela napas. Ia tahu ia harus mengatakan yang sebenarnya. “Tidak, Yah. Aku tidak pernah membantu Pak Jono.”

Ayah mengerutkan kening. “Lalu… kenapa Pak Jono bilang begitu?”

Arya terdiam sejenak, mencoba merangkai kata-kata yang tepat. Ia ingat betul, beberapa minggu yang lalu, ia menemukan beberapa sketsa desain logo di meja belajarnya. Sketsa-sketsa itu bukan miliknya. Ia sempat bertanya kepada Ayah, tetapi Ayah juga tidak tahu menahu.

“Yah,” Arya memulai dengan hati-hati. “Beberapa minggu yang lalu, aku menemukan beberapa sketsa desain di kamarku. Sketsa-sketsa itu… bukan buatanku.”

Ayah terkejut. “Lalu… milik siapa?”

Arya mengangkat bahunya. “Aku tidak tahu. Tapi… gayanya mirip dengan desain-desain Pak Jono.”

Ayah terdiam, mencoba mencerna ucapan Arya. Tiba-tiba, matanya membulat, seolah ada sesuatu yang baru saja terlintas di benaknya.

“Tunggu sebentar, Le,” ucap Ayah sambil beranjak dari duduknya. Ia berjalan menuju lemari pakaiannya yang usang dan membuka laci paling bawah. Ia mengeluarkan sebuah buku gambar yang sudah terlihat lusuh.

Ayah membuka buku gambar itu dengan hati-hati dan menunjukkan sebuah halaman kepada Arya. Di halaman itu, terdapat sebuah sketsa desain logo yang sangat familiar bagi Arya. Itu adalah salah satu desain logo yang Pak Jono tunjukkan padanya tadi.

“Ini…” Arya menunjuk sketsa itu dengan jari gemetar. “Ini kan… desain yang Pak Jono bilang buatanku?”

Ayah mengangguk pelan. “Ini… ini gambarmu waktu kamu masih kecil, Le. Kamu pasti lupa.”

Arya menggelengkan kepalanya kuat-kuat. “Tidak, Yah. Aku ingat betul semua gambar-gambarku. Aku tidak pernah menggambar logo seperti ini.”

Ayah terdiam lagi, raut wajahnya menunjukkan kebingungan yang mendalam. Ia membolak-balik halaman buku gambar itu, seolah mencari jawaban di antara coretan-coretan masa lalu.

“Tapi… kalau bukan kamu yang menggambar… lalu siapa?” gumam Ayah lebih kepada dirinya sendiri.

Tiba-tiba, Arya teringat sesuatu. Beberapa bulan yang lalu, ia pernah melihat Ayah diam-diam menggambar di ruang tamu saat malam sudah larut. Ketika Arya bertanya, Ayah hanya tersenyum dan mengatakan bahwa ia sedang mengisi waktu luang.

Arya menatap Ayahnya dengan tatapan penuh kecurigaan. “Yah… apa Ayah yang menggambar desain-desain itu?”

Ayah tersentak kaget. Ia menatap Arya dengan mata memelas. “Le… sebenarnya…”

Ayah menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan. “Ayah… Ayah ingin membantu kamu, Le. Ayah tahu kamu sangat ingin kuliah. Ayah tidak punya banyak uang, jadi… Ayah mencoba membantu Pak Jono membuat desain logo di waktu luang.”

Arya terkejut mendengar pengakuan Ayahnya. Ia tidak menyangka Ayahnya akan melakukan hal sejauh itu demi dirinya.

“Tapi, Yah… kenapa Ayah tidak bilang padaku?” tanya Arya dengan nada tercekat.

Ayah menunduk, merasa bersalah. “Ayah… Ayah malu, Le. Ayah tidak pandai menggambar. Ayah takut kamu kecewa.”

Arya menghampiri Ayahnya dan memeluknya erat. Air mata tiba-tiba mengalir di pipinya. Ia merasa terharu dengan pengorbanan Ayahnya.

“Ayah…” ucap Arya dengan suara bergetar. “Terima kasih, Yah. Terima kasih banyak.”

Ayah membalas pelukan Arya dengan erat. “Ayah hanya ingin kamu bahagia, Le. Itu saja.”

Keheningan kembali menyelimuti mereka, namun kali ini keheningan yang penuh haru dan kehangatan. Arya menyadari betapa besar cinta Ayahnya padanya. Ayahnya rela melakukan apapun demi mewujudkan impiannya, bahkan sesuatu yang di luar kemampuannya.

Beberapa hari kemudian, pengumuman SBMPTN tiba. Dengan jantung berdebar-debar, Arya membuka hasil pengumuman di layar komputernya. Matanya terpaku pada satu kalimat yang tertera di sana: “Selamat! Anda dinyatakan lulus seleksi masuk program studi Desain Grafis, Universitas Negeri Jakarta.”

Arya tidak bisa menahan pekikan kegembiraan. Ia berhasil! Ia diterima di jurusan impiannya. Ia segera berlari menghampiri Ayahnya yang sedang membaca koran di ruang tamu.

“Yah! Aku diterima! Aku diterima!” seru Arya sambil memeluk Ayahnya erat.

Ayah tersenyum lebar, matanya berkaca-kaca. “Ayah sudah menduganya, Le. Kamu memang anak pintar.”

Namun, di tengah kebahagiaan itu, Arya kembali teringat pada pengorbanan Ayahnya. Ia tahu, perjuangan mereka belum berakhir. Biaya kuliah pasti akan sangat besar.

“Yah…” Arya melepaskan pelukannya dan menatap Ayahnya dengan tatapan serius. “Soal biaya kuliah… bagaimana?”

Ayah menghela napas pelan. “Ayah masih punya sedikit tabungan. Uang dari Pak Jono juga lumayan. Kita akan berusaha semaksimal mungkin, Le. Kamu jangan khawatir.”

Arya menggelengkan kepalanya. “Tidak, Yah. Aku tidak ingin Ayah berjuang sendirian. Aku akan mencari beasiswa sambil kuliah. Aku juga akan mencari pekerjaan paruh waktu.”

Ayah menatap Arya dengan bangga. “Kamu memang anak Ayah yang hebat. Ayah percaya kamu bisa.”

Hari-hari berikutnya dipenuhi dengan persiapan kuliah. Arya sibuk mencari informasi tentang beasiswa dan lowongan kerja paruh waktu. Ayah juga semakin giat bekerja di pabrik. Mereka berdua saling mendukung dan menguatkan.

Saat Arya mulai kuliah, ia merasakan dunia baru yang penuh dengan tantangan dan peluang. Ia bersemangat belajar dan mengembangkan bakatnya. Ia juga berhasil mendapatkan beasiswa yang sedikit meringankan beban biaya kuliah. Selain itu, ia juga bekerja paruh waktu sebagai desainer lepas.

Waktu terus berjalan. Arya semakin mahir dalam bidang desain grafis. Ia mendapatkan banyak proyek dan penghasilannya pun semakin meningkat. Ia tidak pernah melupakan pengorbanan Ayahnya. Setiap bulan, ia selalu menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membantu Ayah.

Suatu malam, Arya duduk berdua dengan Ayahnya di ruang tamu sederhana mereka. Arya baru saja menyelesaikan sebuah proyek besar dan mendapatkan bayaran yang cukup lumayan. Ia menyodorkan sebagian uang itu kepada Ayahnya.

“Ini, Yah,” kata Arya sambil tersenyum. “Untuk Ayah.”

Ayah menatap uang itu dengan mata berkaca-kaca. “Tidak perlu, Le. Kamu simpan saja untuk masa depanmu.”

“Ini juga untuk masa depan Ayah,” sanggah Arya lembut. “Ayah sudah bekerja keras selama ini. Sekarang saatnya Ayah sedikit beristirahat.”

Ayah menggenggam tangan Arya dengan erat. “Terima kasih, Le. Kamu memang anak yang berbakti.”

Arya tersenyum. Ia merasa bahagia bisa membahagiakan Ayahnya. Ia tahu, perjalanan mereka masih panjang. Akan ada banyak tantangan dan rintangan di depan sana. Namun, ia yakin, bersama Ayahnya, mereka bisa melewati semuanya.

Malam itu, sebelum tidur, Arya kembali melihat buku gambar lusuh milik Ayahnya. Ia membuka halaman yang berisi sketsa logo buatannya saat kecil. Ia tersenyum dalam hati. Ia menyadari, arah hidupnya mungkin tidak selalu lurus dan jelas. Ada belokan-belokan tak terduga, bahkan pengorbanan-pengorbanan yang tersembunyi. Namun, selama ada cinta dan dukungan dari orang-orang terdekat, terutama dari seorang ayah yang luar biasa, arah itu pasti akan membawa ke tempat yang lebih baik.

Arya memejamkan mata, mengingat pertanyaan yang pernah ia lontarkan kepada Ayahnya dulu: “Ayah, ini arahnya ke mana, ya?” Kini, ia tahu jawabannya. Arah hidupnya adalah ke mana pun cinta dan pengorbanan membawanya. Dan di setiap langkahnya, ia akan selalu mengingat sosok Ayah – pahlawan tanpa tanda jasa yang selalu menjadi kompas dalam hidupnya.

Lelah

 Lelah

Karya: Naira Hilmiyah 

Kelas: 9G 


Hujan turun membasahi bumi.

Aku mendongakkan Kapala ku,

untuk melihat langit - langit yang gelap.

Aku tersenyum lirih, saat mengingat 

banyak sekali hal yang sudah aku lewati

sejauh ini.


Namun nyatanya, aku malah terperangkap di 

antara banyaknya maslaah yang aku hadapi.

Ibarat kata, aku tengah berada di dalam 

lautan luas yang aku sendiri tidak tau bagaimana cara

keluar dan bahkan aku juga tidak tau dimana letak ujungnya.


Ya tuhan, sekuat itu kah diri ku?

Mengapa engkau memberikan aku ujian

yang seberat ini? Aku  benar-benar lelah ya tuhan.

Tolong, tolong peluk lah hamba mu ini walau hanya sebentar.


Ya tuhan, dimana letak kebahagiaan itu?

Aku benar-benar kehilangan arah, aku hanya ingin bahagia.

Aku hanyalah seorang gadis kecil yang terperangkap di tubuh ini.

Tolong, tolong berikan aku kebahagiaan itu untuk yang kesekian kalinya.


Ya tuhan, tolong, tolong bantu aku untuk berdiri.

Aku benar-benar binggung harus bagaimana.

Ya tuhan, apa hikmah dari semua ini? Tolong yakinkan aku jika aku

bisa melewati semua ini, tolong genggaman tangan ku dan peluklah hamba mu yang penuh dosa ini.

 

Aku berharap jika suatu saat nanti aku bisa menemukan kebahagiaan yang selalu aku ucapkan di setiap doa doaku.


Terimakasih sudah bertahan sejauh ini. I am proud of myself.

Cermin Luka yang Tak Kuinginkan

 Cermin Luka yang Tak Kuinginkan

Karya: Anisya

Kelas: 8H


   Gudang yang gelap, sunyi, dan tak terurus itu seolah menjadi rumah keduaku. Bukan karena aku menginginkannya, tapi karena Ibu selalu mengurungku di sana meskipun aku tidak melakukan kesalahan apa pun.


   "A-aku gak seperti itu, Bu," Seolah menulikan telinganya, ia malah menarik lenganku dan kembali mengunciku di gudang.


   Hiks..., hiks..., hiks...,


   Hanya isak tangisku yang menggema di ruangan pengap itu. Aku tak tahu kenapa Ibu membenciku. Apa salahku? Pertanyaan itu terus mengitari benakku dan tak pernah mendapat jawaban.


   Hingga pada akhirnya aku tumbuh bersama luka-luka yang ditorehkan oleh belahan jiwaku sendiri. Bahkan hanya mendengar suaranya, tubuhku langsung bergetar hebat. Telingaku refleks kututupi karena takut akan teriakan, makian, atau lemparan benda yang bisa datang kapan saja.


   "Nala! Apa yang kamu lakukan di sekolah, hah?" bentaknya,


   "Aku hanya membela diriku sendiri, Bu," jawabku pelan, seraya menahan tangis.


   "Alah! Itu juga kamu yang salah! Memang paling benar kalau kamu gak usah sekolah! Percuma sekolah kalau bisanya cuma ngelawan!"


 _Deg!_ 

   Hatiku serasa ditusuk ribuan pisau. Kenapa? Kenapa baginya aku selalu salah? Aku hanya mencoba bertahan, melindungi diriku dari para pembully yang tak segan-segan berlaku kasar. Apa itu salah?


   Pada suatu hari, aku nekat kabur dari rumah karena tak kuasa menahan luka yang terus-menerus tergores. Hingga akhirnya aku kalah, aku kembali lagi hanya karena tak tahu ke mana harus pergi. Tapi saat kutemukan Ibu tertidur di ruang tamu, kulihat satu album foto lama di tangannya yang terbuka. Di sana ada foto seorang laki-laki, dia adalah laki-laki yang tak sama sekali aku kenal. Anehnya, wajahnya sangat mirip denganku.


   "Apa itu, Ayah?" ucapku dengan bergetar,


   Aku pun mendengar suara Ibu mengigau lirih.


   "Kenapa harus wajah? Kenapa harus kamu yang lahir? Kalian sangat amat mirip,"


   Esok hari yg cerah, aku menatap Ibu dan memberanikan diri bertanya, 

   

   “Bu... kenapa Ibu membenciku?”


   Dia menatapku dengan mata merah. Untuk pertama kalinya, jawabannya keluar.


   "Karena kau terlalu mirip dia. Ayahmu. Laki-laki brengsek yang menghancurkan hidupku dengan perselingkuhannya... berkali-kali. Dan kau... kau hadir dengan wajah yang persis dengannya. Kau membuatku mengingat semua sakit itu lagi dan lagi."


   Aku tak bisa berkata apa-apa. Tubuhku seakan membeku.


   Ternyata, aku bukan anak yang dibenci karena salah. Tapi anak yang dibenci karena menjadi cermin dari masa lalu yang tak pernah bisa Ibu sembuhkan. Aku adalah luka berjalan, dalam bentuk daging dan darah.

Luka Sesungguhnya

 Luka Sesungguhnya

Karya: Dhia Silmi

Kelas: 8e


Entah rumah mana yang benar benar milikku, aku tidak memiliki rumah yang nyaman rumah yang seharusnya aku gunakan untuk berteduh dan bersandar nyatanya aku harus menjadi garda terdepan untuk rumah itu. 


"Mora, kamu sudah besar tolong rubah sikap kamu ibu tidak suka kalau sikapmu terus menerus seperti ini kamu harus menjadi contoh yang baik bagi adik adikmu." Ucap seorang ibu kepada anak perempuan pertamanya.


"Ibu, Mora sudah berusaha sebaik mungkin untuk adik tapi terkadang juga Mora lelah." 


"Lelah darimana? Seharusnya kamu lihat perjuangan ayah dan ibu terlebih dahulu baru kamu mengeluh." Bentak seorang ayah pada putri pertamanya


Kata-kata itu begitu menyakitkan untukku. Memang, seharusnya anak pertama terlihat kuat untuk adiknya tetapi terkadang anak pertama juga butuh sandaran entah mereka yang tidak tahu atau tidak ingin tahu kalau seorang anak juga butuh untuk di dengar, butuh diperhatikan, butuh sandaran, bukanlah kritikan atau ancaman dari keluarganya sendiri.


"Mora, ibu sudah cukup kecewa padamu kenapa kamu kemarin pulang telat?." Ucap ibu.


"Pergi kemana kamu?Kamu harus menjadi contoh yang baik untuk adik adikmu yang lain Mora." Bentak seorang ayah. 


Mora yang sedang sarapan tiba-tiba dibentak itu sudah menjadi makanan sehari-harinya. Mora hanya bisa terdiam tanpa ada sepatah kata apapun. 


"Kalau orang tua berbicara atau menasehati jawab Mora jawab jangan diam saja!." Ucap ayahnya dengan amarah.


"Kamu ini memang berbeda, pantas saja kalau keluarga membicarakan tentang dirimu, kamu berbeda dengan adikmu dia pintar dan dia cantik tidak seperti dirimu apa yang kamu pikirkan selama ini Mora?." Teriak ibunya. 


Mora menelan makanannya dengan gemetar dan mata yang berkaca-kaca. 


"Ayah, Ibu, Mora sudah bilang terkadang Mora lelah menjaga sesuatu tapi Mora sudah berusaha sebaik mungkin untuk adik-adik Mora, apa kalian lupa kalau kalian juga yang membuat Mora seperti ini?." Ucap Mora dengan tatapan kosong tanpa melihat kearah orangtuanya sama sekali. 


"Kamu ini Mora, selalu mengatakan hal itu apa kami kurang memberikan semuanya?Kamu terlalu egois Mora." Tegas ayahnya dengan memukul meja makan.


Sontak, Mora terkejut akhirnya mora berdiri dihadapan mereka dan meluapkan segalanya yang dipendam.


"Kalian terkadang selalu menjadikan Mora sebagai garda terdepan untuk keluarga, tapi apa kalian lupa? Mora sebagai anak pertama juga butuh sandaran dan perhatian dari orangtua, kalian terlalu sibuk dengan pekerjaan, dan terlalu sibuk menyekolahkan adik sementara Mora? Mora rela tidak sekolah agar adik Mora bisa belajar bersama temannya dan bisa bersekolah, Ibu juga selalu membandingkan Mora dengan yang lain itu sudah cukup sabar untuk Mora setidaknya kalian jangan memandang mora dengan sebelah mata tapi lihatlah perjuangan Mora, Mora tau mora memang tidak pintar dan cantik karna Mora merelakan semuanya untuk adik-adik Mora jadi apa kalian pantas menyebut Mora egois?." 


Suasana rumah menjadi hening, Mora kembali ke kamarnya dan mengunci sementara orangtuanya merasa bersalah walau sedikit tapi orangtuanya kembali menghiraukan segalanya. 


Malam hari sudah tiba, Mora pergi keluar lewat jendela kamarnya ia mendatangi suatu hutan gelap yang jauh dari rumahnya. Kemudian ia bersimpuh di bebatuan besar, ia menatap langit malam dan menikmati udara yang sejuk ia merenungi semua yang ia pendam selama ini. 


Ditengah-tengah kesunyiannya itu, Mora mengeluarkan pisau dan mengarahkan pisau itu ke kepalanya. 


"Maafkan aku, aku sangat lelah." Lirihnya. 


Pada akhirnya, Mora menghabisi hidupnya di hutan gelap itu.


— Jika semua bersandar padaku, lalu aku bersandar pada siapa? 


–```silmi```

Meja makan

 Meja makan

Karya: Dhia Silmi

Kelas: 8E


Pagi hari, rumah terasa sepi ayah dan ibu pergi bekerja hanya ada temanku yang menginap sejak 2 hari yang lalu. 


Aku terbangun dan memerintahkan temanku. Yusuf untuk pergi ke ruang makan.


"Yusuf, jangan lupa cuci muka dulu ya baru ke meja makan." Ucapku sambil berjalan mempersiapkan sarapan. 


Yusuf tak menjawab apapun, ia hanya mengangguk lalu pergi ke kamar mandi dengan tatapan kosongnya. Aku hanya berfikir mungkin dia sedang sakit? Dan mungkin ia sedang tidak ingin bicara padaku? Baiklah, itu bukan masalah besar bagiku aku sebagai teman harus menghargainya.


Aku kembali mempersiapkan makanan untuk sarapan, tapi hawa kali ini berbeda sangat suram dan mencekam padahal cuaca diluar sedang bagus. Akhirnya Yusuf datang ke meja makan lalu duduk, tatapannya sama masih tetap kosong dan wajahnya pucat. 


"Yusuf? Kamu gakpapa?." Tanyaku dengan sedikit khawatir.


"Aku gakpapa kok Reza." Jawabnya dengan suara serak. 


Aku hanya bisa kebingungan dan memaklumi hal itu mungkin dia hanya tidak ingin berbicara pada siapapun hari ini akhirnya kami makan bersama tapi tiba tiba handphone ku memberikan notif telfon panggilan dari temanku, namanya Ari. 


Karena merasa ini penting jadi aku pergi mendekati kompor dapur agar percakapan ku tidak terlalu didengar oleh Yusuf. 


"Yusuf, sebentar ya." Ucapku lalu pergi menjauh sedikit. 


"Kenapa Ari? ada apa?." Tanyaku dengan penasaran. 


"Reza, tolong Reza ini gawatt ini gawatt." Suara temanku Ari dengan gelisah. 


"Apasih? Gawat kenapa Ari? Yang jelas dong." Rasa penasaran mulai muncul di otakku. 


"Yusuf, Yusuf meninggal 2 hari yang lalu dia bunuh diri." Ucap Ari dengan terburu-buru. 


Tiba-tiba suasana semakin mencekam, hawa disekitar semakin merinding apa yang dikatakan Ari itu benar?. 


"Tunggu! Ari! Kamu jangan bercanda jelas jelas Yusuf ada disini dari 2 hari yang lalu dia nginep dirumah aku sejak 2 hari yang lalu." Ucapku dengan tegas tapi ada rasa takut. 


"Gawat, gawat itu bukan Yusuf itu mungkin hantu." Suara temanku Ari dengan ketakutan. 


Karna aku kurang percaya aku berbalik arah melihat kearah Yusuf yang sedang duduk, lalu aku membungkuk sedikit melihat kakinya dan ternyata benar kakinya tidak menyentuh lantai sama sekali. Suasana semakin merinding dan mencekam bagaimana ini? Apa yang harus ku lakukan? Apa aku harus lari? Atau diam saja? Akupun berbalik arah dan mematikan telfon dari temanku. 


Tiba-tiba saja Yusuf menepuk pundakku dan berkata. 


"Jadi, kamu udah tau semuanya?."

"Sekadar Manusia"

 "Sekadar Manusia"


Karya: Zahran 

Kelas :7f 


Chapter 1: Bayangan yang Hilang



Keesokan harinya, saat Lia tiba di sekolah, suasana terasa begitu berbeda. Nadia dan teman-temannya yang sering menertawakannya, kali ini hanya diam. Mereka melihatnya dengan tatapan kosong, seperti sesuatu yang hilang. Tidak ada tawa, tidak ada ejekan.


Lia merasa aneh. Sesuatu yang tak biasa. Tapi entah mengapa, ia merasa tak ada bedanya. Bangku tempatnya duduk selalu kosong, dan dunia di sekelilingnya seperti berhenti berputar.


Hari-hari berlalu. Lia tak pernah lagi mendengar suara tertawa atau ejekan yang dulu selalu mengisi hari-harinya. Namun, yang membuatnya lebih hancur, adalah ketidakpedulian yang lebih dalam. Tak ada yang mencari tahu, tak ada yang merasa kehilangan. Seakan-akan, kepergiannya tak pernah berarti apapun.


Sampai pada suatu pagi, Lia tidak datang ke sekolah. Semua orang menganggapnya biasa saja, seperti hari-hari sebelumnya. Tapi hari itu, Lia tak hanya menghilang dari sekolah, dia juga menghilang dari dunia.


Di rumah, ibunya hanya merespon dengan acuh ketika mendengar bahwa Lia tak pergi ke sekolah. Ayahnya bahkan tak mempedulikannya. Semua orang sibuk dengan hidup mereka sendiri, tanpa peduli pada kesunyian yang terus berkembang di dalam diri Lia.


Pada malam itu, Lia menulis surat terakhirnya, sebuah catatan yang mungkin tak akan dibaca oleh siapapun, namun bagi Lia, ini adalah cara untuk mengakhiri semua beban yang dipikulnya.


"Aku sudah berusaha. Aku sudah mencoba untuk terlihat kuat. Tapi aku tak bisa lagi. Aku terlalu lelah, dan dunia ini tak memberi ruang untuk orang-orang sepertiku. Aku tak berharap siapapun akan menangis, karena aku tahu tak ada yang benar-benar peduli. Aku hanya ingin pergi. Sekadar manusia yang lelah, yang akhirnya berhenti mencari tempat untuk bertahan."


Lia menutup surat itu dengan tangan gemetar. Ia menatap keluar jendela, melihat langit malam yang gelap, seolah mewakili hatinya yang sudah lama suram. Dengan perlahan, Lia mengakhiri semuanya.



---


Pesan Moral:


Kita tak pernah tahu seberapa berat beban yang dipikul seseorang. Satu kata kasar bisa menjadi pisau. Satu ejekan bisa menjadi luka yang tak sembuh. Jangan anggap sepele perasaan orang lain. Kadang, yang paling diam... adalah yang paling terluka.


Jangan menilai seseorang hanya dari penampilannya, karena kita tidak tahu cerita yang mereka bawa dalam hidup mereka. Jangan hanya melihat apa yang tampak di depan mata. Setiap orang memiliki perjuangannya sendiri, dan kadang, mereka hanya membutuhkan sedikit pengertian, bukan penilaian.



---

TAMAT


Buta Huruf

 Buta Huruf 


Karya : Naira Hilmiyah

Kelas : 9G 



Di salah sahiji sakola sd. Aya hiji budak awewe anu can bisa maca nya eta Dede.  Budak eta teh pagawean na teh bobogohan wae, nepi kan kolotna oge pusingen.


Di sakolaan



Bu Sukma :  "Dede ari mnh teh naha tara daek nulis? Niat ka sakola te? "

( Tanya bu Sukma bari ngadeketan si Dede anu ker malaweng)


Rina : " Dede itu saur Bu Sukma ."

(Bari nepak pundak si Dede)


Dede : "eh aya naon atuh Bu?"


Bu Sukma : " Ari maneh Dede Kaden melaweng wae atuh, lain mah nulis. Tuh tinggali buku mnh meli kararosong kieu"

(Bari mukaan buku si Dede)


Dede : " atuh wios we Bu da abi." 

( Bari ngageplak meja terus ngaleos kaluar kelas )


Bu Sukma : " Kade nya barudak ulah kos di Dede kalakuan teh meni jiga jalu pisan."



Pas nuju istirahat si Dede teh nuju calik sareng kabogohna di kantin sakola.



Agus : " Abi rek nyarios ka Dede. "


Dede " nyarios naon atuh ayang bubup? "

( Bari ngagulantung di panangan Agus )


Agus : " urng nggesan we nya, Abi mah alim bobogohan."

 ( Bari ngalepasken panangan si Dede ti si Agus )



Dede : " Ari kamu kunaon Agus? Kenapa kamu pengen putus sama aku?"


Agus :  " nya da Abi mah alim gaduh kabogoh anu belet jiga Dede, nya Dede mah buta huruf terus bahasana di hijiken deui jeng bahasa Indonesia. "


Dede : " ih ayang bubup Dede janji bakal berubah jadi pinter demi ayang bubup ." 


Agus : " nya sok tapi Dede janji kudu pinter "

( Si Dede ngaitken jari kelingking na jeng nu si Agus )




Pas balik sakola na si Dede teh  datang ka Imah bari sumanget. Bu Etty salaku indung si Dede ngarasa aneh Kana parubahan si Dede.




Bu Etty : " Dede ari mnh kunaon meni sumanget Kitu."


Dede : " nya mah Dede teh nuju sumanget bade di ajar maca."


Bu Etty: " inalillahi!! Nu bener mnh teh Dede."



Dede : " ih Ari mama nya kunaon? Bener Dede mah Bade di ajar maca mulai poe ayena mah. "



Bu Etty: " Alhamdulillah ya Allah, hatur nuhun tos nyadarken budak Abi "

( Bari sujud sukur )


Dede: " Ari mama teh kunaon sih? Meni nepiken sujud sukur kos kitu. Ges lah mah ayena mah mama ajarken Dede maca."



Bu Etty: " nya sok ku mamah di ajarken maca nepika Dede bisa. Sok ayena mah Dede emam hela tos Kitu ku mama di ajarken maca."


Dede : " siap komandan "

( Bari hormat terus lumpat ka dapur )




Sa entos emam si Dede teh datang ka ruang tamu nyamperken indung na anu kerngalajo tv.



Dede : " ma buru atuh, Dede tos siap "

( Bari nyodorkan buku ka indung na )



Bu Etty : " nya sok "

( Bari muka buku si Dede )



Bu Etty: " sok de, iyeuh di baca naon. P - i - s - a - n - g "


Dede : " naon nya mah, te apal atuh."


Bu Etty: " eh Ari mnh sok sok pan ngaran na oge di ajar."


Dede : " atuh mah da te apal Dede mah"


Bu Etty: " nya sok atuh tah cobaan nu iyeuh ayena mah. B-u-k-u di baca?"


Dede : "buku"


Bu Etty: " Tah pinter, sok deui d-i-b-e-l-i "


Dede : "di beli"


Bu Etty: "pinter, sok lamun iyeuh a-g-u-s "


Dede : "Agus"


Bu Etty: " pinter sok coba hijiken jadi naon."


Dede : "buku di beli ayang bubup."



Plak


Bu Etty: " Ari maneh Dede Kaden jadi ayang bubup atuh."


(Bari nenggel si Dede make buku)



Dede : " ih nya bener mama teh pan Agus teh ayang bubup Dede"



Bu Etty: " kumaha maneh we ah Dede"

( Bari ngaleos )



Dede : " eh mama rek kamana, hayu di ajar deui."




Tah salami saminggon eta teh si Dede giat pisan Kana di ajar maca na. Komo ayena mah si Dede teh tos tiasaan maca lancar.



 Isukan di sakolaan 



Bu Sukma : " barudak ayena mah urang baca Carita anu Aya Dina buku iyeuh we nya tapi maca na sa orang saorang ."


Dede : " wah asli Bu? Rame pisan atuh iyeuh mah."


Bu Sukma : " Dede emng maneh ges bisa maca Kitu?"


Dede : " eh nya atos atuh ibu, da Dede mah pinter."


Bu Sukma : " nya sok atuh cobian baca Ken eta carita."

( Si Dede langsung nyandak buku terus di baca ku maneh na )



Dede : " si kancil makan buaya."


( Bu Sukma sareng sadayana murid di Dina rarewas pas si Dede bisa maca judul Carita eta)



Dede : " naon iyeuh meni karaget kieu ngadangu Dede maca? Pasti maraneh irinya ka Dede anu tiasaan maca?"


( Ngadangu ucapan si Dede, babaturan sakelasna langsung seserian anu Matak si Dede bingung.)




Rina : " Dede ari mnh ngalindur?  Piraku kancil makan buaya atuh, sok Aya Aya wae Dede mah."


Dede : " eh Ari mnh Rina, tinggali tuh Dina bukuna emng Kitu judulna."


(Bari ngedengken buku na)


Rina : " Ari maneh Dede sok baca deui sing bener "


( Si Dede ngajenghok pas ninggali judul aslina)



Dede : " si kancil yang pandai? Alah ih Rina naha da tadi mah tulisana kancil makan buaya lain kancil yang pandai."


Rina : " ah mnh mah Dede ngeraken."



Dede : " teuing ah Rina, era urg mah"

( Bari nutupan rarayna ngagunaken bukuna)




Pas istirahat na si Dede ketemuan deui jeng si Agus di kantin sakola.



Dede : " aguss, Dede ayena mah tos tiasaan maca."



Agus : " alah piraku Dede? Cing mana Agus hoyong ngadangu."


( Si Dede teh maca buku we ku lancarna)



Agus : " alah kabogoh Abi ayena mah tos pinter maca, jadi beki sayang Agus ka Dede"



Dede : " nya enya atuh da Dede mah pinter, ayena mah ayang bubup Agus ulah menta putus deui ka Dede nya."


Agus : " nya atuh da cuman Dede yang ayang Agus punya."



Ti saprak si Dede bisa maca, Kahirupan si Dede jadi Beki hade. Ayena mah si Dede teh sok asup wae Kana rangking ka 5 ti tukang. Ti drama iyeuh urang sadayana bisa nyimpulken Kana penting na di ajar maca, karna di generasi urang ayena man tos serba modern.


Senja

 Senja

Karya : Salwa Noer Madzid

Kelas : 8E


   Hai namaku sherli, saat sore hari, aku selalu pergi ke pantai. Aku duduk di sana dan menatap langit yang indah berwarna merah dan oranye. Rasanya aku telah menemukan dunia kedamaian di tengah sulit nya kehidupan. Namun aku harus belajar dari senja bahwa yang indah di dunia itu hanyalah sementara.


   Aku menghela nafas dan meninggalkan pantai yang indah itu. Aku harus melanjutkan hidup ku, menghadapi tantangan dan cobaan yang sulit. Dunia nyata tidak selalu indah dan damai seperti senja di pantai kota ini.


   Aku berjalan meninggalkan pantai namun, aku merasakan ada seseorang yang memegang bahuku. Aku melihat kebelakang, tetapi tidak ada siapa–siapa yang memegang bahuku. Mungkin itu hanyalah halusinasi ku sendiri yang hanya hidup sendiri. Aku melanjutkan langkah ku dan pergi dari pantai itu. Saat aku sedang berjalan kaki aku melihat seorang nenek yang sedang kesusahan membawa barang bawaan banyak, aku membantu nya, nenek itu sangat senang, aku mengantarkan barang bawaan nya nenek itu sampai ke rumah nya. Nenek itu tiba–tiba memberikan kucing peliharaan nya kepadaku, aku sangat senang dan aku merasa bahwa aku memiliki seorang teman di rumah ku sendiri.

Tidak bertambah

 Tidak bertambah

Karya: Dhia silmi

Kelas: 8E

Hari ini, april tanggal 12. besok, april tanggal 13. Umurku menginjak 18 tahun. Aku sudah dewasa, tapi aku tidak merasa ada yang berbeda sama sekali. Semuanya terasa sama. mungkin kedengarannya aneh—umurku sudah 18 tahun, tapi belum pernah sekalipun dirayakan sejak kecil. Tapi itu hal yang nyata bagiku.


Aku hanya bisa merayakan ulangtahunku sendiri. Tanpa teman, tanpa sahabat, tanpa keluarga, tanpa seseorang yang spesial. Kemana mereka semua? entahlah. Aku juga tidak tahu. Kurasa mereka sibuk dengan urusan masing-masing.


Sore harinya, aku mendengar ibuku berteriak dari dapur.


"Astaga! siapa yang menyimpan kue di kulkas?!."


"Ahh, itu punya luna, bu." ucapku santai sambil terus makan.


"Buat apa kamu beli kue?." tanya ayahku.


"Luna kan besok ulangtahun. Emang kenapa?."


Mereka semua tertawa bersamaan ayah, ibu, dan kakakku. Tawa yang membuatku kebingungan, sekaligus terasa menyakitkan.


"Kamu bercanda?." Ucap kakakku dengan nada mengejek.


"jangan berharap dirayain deh, haha," kata ayah sambil tertawa.


"ibu buang kue ini ya," ucap ibu sambil mengambil kue dari kulkas.


sontak aku berdiri, terkejut, dan cepat-cepat merebut kue itu dari tangan ibu.


"Ibu! jangan lakuin itu!."


Apa yang mereka lakukan? mereka cuma menertawakanku, seolah-olah aku ini konyol. Seolah aku nggak pantas dapet semua itu. Aku masuk ke kamar, mengunci pintu, dan air mataku mulai jatuh.


"Kenapa aku selalu dianggap sepele sama mereka semua?." bisikku sambil menangis, suara tangisanku kututupi dengan bantal.


Malam harinya, saat semua sudah tertidur lelap, aku keluar diam-diam dari rumah. Tanpa pamit. Tanpa suara. Hanya aku dan langkah kaki. Aku pergi ke tempat yang paling sering aku datangi saat aku lelah yaitu laut.


Angin malam berhembus kencang. Ombak menggulung, tapi rasanya damai. Aku duduk di bibir pantai, membuka tas, dan mengeluarkan kue kecil. Lilinnya kutancapkan. Aku coba menyalakannya, meski angin terus memadamkannya. Tapi aku sudah terbiasa dengan dingin. Aku sudah terbiasa dengan rasa sakit.


Tepat pukul 00.00. aku resmi 18 tahun.


"Selamat ulangtahun, diriku. Terima kasih, sudah kuat menjalani semua ini. Sekarang semua yang kutakuti sudah berakhir."


Lilin kecil itu kutiup. Lalu aku keluarkan kertas kecil, kutuliskan satu kalimat yang sudah lama ingin aku katakan.


“Jangan pernah mencari diriku hanya untuk menyakiti. aku sudah tenang bersama alam.”


Surat itu kutaruh di samping kue. Setelah itu, aku berdiri. Berjalan pelan ke arah laut yang dalam. Airnya dingin. Anginnya kencang. Hanya suara tangis, suara ombak, dan desir angin yang terdengar malam itu.


Perlahan-lahan aku masuk ke air. Dan saat aku merasa semuanya sudah cukup, aku tenggelamkan diriku sendiri di laut itu.

Tiada

 Tiada


Karya: Naira Hilmiyah 

Kelas: 9G 


"selamat ulang tahun putri kecil mama"

Ucap seorang wanita paruh baya sambil memegang satu loyang kue ulang tahun dengan api lilin yang menyala di atasnya.

Rena terdiam dengan air mata yang membasahi pipinya. Gadis itu berjalan menghampiri sang ibu dengan tatapan yang sulit di artikan. Bu vemi selaku ibu dari Rena terdiam akan ekspresi sedih yang Rena tampilkan.

" Rena kamu kenapa sayang? Kamu ga seneng yah mama beliin kue buat Rena? Apa Rena mau beli yang lain?"

Rena menggelengkan kepalanya pelan dan melangkahkan kakinya keluar dari rumah. Vemi yang minat gelagat aneh dari Rena hanya bisa terdiam sambil memikirkan apa yang sebenernya putrinya pikirkan.

Sementara itu Rena terduduk di taman belakang rumahnya sambil memegangi satu tangkai bunga mawar. Kini di pikirannya begitu banyak pertanyaan yang dirinya tau jika pertanyaan itu tidak akan pernah mendapatkan jawaban. 

"Rena, kamu kenapa?"

Tanya zio yang merupakan sahabat kecil Rena. Rena menggelengkan kepalanya dan tersenyum lirih. Zio yang tau jika suasana hati Rena sedang tidak baik-baik saja hanya bisa menemani Rena di dalam keheningannya.

"Aku mau pulang dulu, makasih"

Zio tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Rena berjalan memasuki rumahnya di sana vemi masih setia menunggu kepulangan Rena. 

"Kamu udah pulang sayang?"

Rena menganggukkan kepalanya dan berjalan melewati vemi.

"Rena, kamu kenapa sayang?"

Ucap vemi sambil mencengkram lembut pergelangan tangan Rena. Seketika Rena menangis sejadi-jadinya di hadapan vemi. Vemi yang melihat itu langsung membawa Rena duduk di sampingnya dan memeluknya dengan erat.

" Apa yang sebenernya terjadi padamu sayang? Ceritakan semuanya pada mama."

Rena melepaskan pelukannya dari vemi. Gadis itu menghapus air matanya dan menatap datar ke arah vemi.

"Kamu bukan ibu ku."

Deg

Vemi membulatkan matanya terkejut akan ucapan yang Rena berikan kepadanya.

" Mama sudah tiada!! Kenapa mama tega ninggalin Rena?"

Vemi meneteskan air matanya. Vemi menggenggam kedua tangan Rena dengan erat.

"Jadi kamu beneran bisa melihat arwah sayang?"

Rena menganggukkan kepalanya dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.

"Maaf, mama benar-benar tidak tau jika nasib mama akan berakhir seperti ini."

"D-dimana jasad mama sekarang?"

Vemi menarik nafasnya dalam-dalam dan hembuskannya dengan gusar. 

"Mama ada di rumah sakit ****, sebentar lagi pihak rumah sakit akan segera menelepon dirimu dan menyuruh mu untuk datang ke sana. Mama harap kamu tidak membenci mama sedikitpun."

Rena hanya menangis tanpa menjawab sepatah kata pun itu. Vemi memeluk tubuh sang putri dengan begitu erat.

"Sayangg, jangan nangis lagi. Mama selalu ada di hati kamu, oke?"

Rena menganggukkan kepalanya dan melepaskan pelukan itu.

"Mama harus pergi sekarang, i love you rena putri."

Ucap vemi sambil pergi meninggalkan Rena. 

🤍🕊

Setibanya di rumah sakit Rena langsung memeluk jasad sang ibu yang berada di atas berlangkar rumah sakit.

"Kenapa harus secepat ini ma? Rena udah ga punya siapa-siapa lagi di sini."

Ucap Rena di sela-sela tangisanya. Zio yang melihat itu hanya bisa terdiam sambil menatap sendu ke arah Rena. Di usia rena yang masih menginjak 14 tahun dirinya sudah harus kehilangan segalanya. 

" Aku bakal selalu ada buat kamu Rena."

Monolog zio sambil pergi meninggalkan rena di ruangan itu untuk mencari makanan. Setelah membeli beberapa makanan zio datang menghampiri Rena.

"Ren, kapan Tante vemi di makam kan?"

Rena menatap ke arah zio dan berkata " besok pagi" 

Zio menganggukkan kepalanya pelan dan mendudukkan dirinya di samping Rena.

"Makan lah"

Rena menatap berbagai jenis makanan di hadapannya.

"Aku ga nafsu makan zio"

Zio tersenyum dan membukakan satu bungkus roti.

"Makan lah, Tante vemi bisa marah jika kamu mogok makan seperti ini."

"T-tapi"

"Sudahi tapi tapi mu itu dan makan lah, kamu butuh energi untuk menghadapi dunia ini."

Rena menganggukkan kepalanya dan memakan makanan yang zio berikan kepadanya.

Di keesokan harinya jasad vemi sudah di makam kan di salah satu pemakaman di sana. Suara tangisan memenuhi sunyinya di pagi hari itu.

Pria yang berusia 15 tahun itu berusaha untuk menenangkan rena yang masih menangis sambil memeluk batu nisan milik Bu vemi.

"Sudah lah, jangan menangis. Aku tau ini berat untuk mu, tapi kamu jangan terlalu larut dalam kesedihan ini. Masih ada aku dan keluarga ku yang akan selalu bersama mu, Rena."

Jelas zio yang membuat Rena tersenyum.

"M-makasih buat semua kebaikan yang kamu dan keluarga kamu berikan."

Bu ana berjalan menghampiri Rena dan memeluk gadis itu dengan erat.

"Jangan menangis lagi Rena, kamu masih punya ibu dan ayah di sini, kamu bisa anggap kita keluarga kamu"

Ucap Bu ana selaku ibu dari zio. Rena tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan.

"Makasihh buat semuanya, Rena janji akan membalas semua kebaikan ibu dan ayah di suatu saat nanti." 

"Mama, papah, bahagia terus yah di sana. Rena di sini baik-baik aja kok. I love you forever mama, papa."

Membentuk Cahaya Kasih

 Remang Bayang Cinta


Di bawah selimut malam

Nadi berbisik lirih dalam sunyi

Detaknya mengusik jiwaku

Membangunkan relung hati


Suaranya sederhana saja

Lontaran kata dari bibirnya

Mengalun menjadi melodi

Membentuk Cahaya Kasih

karya: Putri Dwi Indriyani

kelas: 8A




Namanya terlintas dalam benakku

Apakah dia yang ku rindu?


Parasnya tak perlu tampan

Untuk membuatku terlena

Senyuman yang manis

Melengkapi keindahan dunia


Cara bicaranya

Menunjukan hati yang lembut


Aku sadar, aku mengagumi nya

Suara Takbiran di Malam Sunyi

 Suara Takbiran di Malam Sunyi

 

Karya: Zahran

Kelas: 7f 


Malam takbiran telah tiba. Rian duduk di teras rumahnya, mendengarkan suara takbir yang berkumandang dari masjid. Ia merasa sedih karena tahun ini adalah Idul Fitri pertama tanpa kehadiran ibu dan neneknya.


Ibu Rian telah meninggal beberapa bulan lalu, dan neneknya pindah ke kota lain untuk merawat saudara laki-lakinya yang sakit. Rian merasa kesepian dan merindukan kehangatan keluarganya.


Ayah Rian, yang menyadari kesedihan anaknya, duduk di sebelah Rian dan memeluknya. "Ayah tahu kamu merindukan ibu dan nenek, tapi kita bisa membuat malam takbiran ini spesial dengan cara kita sendiri."


Rian tersenyum sedikit. Ayahnya mengajaknya untuk memasak makanan favorit ibunya, ketupat dan sambal. Mereka bekerja sama di dapur, dan Rian merasa sedikit lebih baik.


Setelah selesai memasak, mereka pergi ke masjid untuk melakukan salat tarawih. Rian merasa bahagia karena bisa merayakan Idul Fitri bersama ayahnya dan komunitas Muslim lainnya.


Ketika kembali ke rumah, Rian dan ayahnya menikmati makanan yang mereka masak bersama. Rian merasa sedikit lebih bahagia, karena ia tahu bahwa ibu dan neneknya selalu bersamanya dalam hati.


"Terima kasih, Ayah," kata Rian sambil memeluk ayahnya. "Malam takbiran ini memang spesial."


Ayah Rian tersenyum dan memeluknya erat. "Saya juga cinta kamu, anakku. Selamat Idul Fitri."


Rian dan ayahnya menghabiskan malam takbiran dengan penuh kebahagiaan dan rasa syukur. Mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian, karena mereka memiliki Allah dan kehangatan keluarga mereka.


Keesokannya setelah solat idul Fitri Rian dan ayahnya pergi ziarah ke makam ibu Rian. Dan mendoakan yang terbaik untuk ibu Rian agar tenang di sana dan rian berharap bahwa suatu saat nanti dia bisa berkumpul lagi bersama ibunya. 


Saat, Rian sedang duduk bersantai dia melihat nenek dan adiknya sudah pulang. Rian sangat senang lalu langsung memeluk mereka berdua.


"Akhirnya kalian berdua pulang juga. Aku kangen kalian kenapa sangat lama sekali." Ucap Rian dengan nada gembira 


Mereka pun berpelukan lalu Rian mendengar nenek dan adiknya berbicara kepada Rian. 


"Jaga diri baik-baik yah cucu nenek Rian. Jadi anak yang pintar dan nurut sama ayah kamu.Nenek dan ibu serta adikmu sayang sekali sama kamu." Ucap nenek riyan dengan nada lembut.


"Iya jaga diri baik baik ya kak. Adek sayang Kaka." Ucap adik Rian.


Rian pun kebingungan dengan ucapan mereka.lalu ada ayah Rian yang mendatangi Rian lalu bertanya.


"Kamu ngomong sama siapa nak?." Tanya ayah Rian 


"Hah.ini ada nenek sama adik loh". Ucap rian. 


Pas berbalik ke arah pintu tidak ada siapa siapa dan Rian sangat kebingungan setelah itu ada telpon dari rumah sakit bahwa. Nenek dan adiknya Rian sudah meninggal dunia. Rian yang mendengar itu sangat bingung karna baru saja tadi bertemu. Lalu ia menyadari bahwa itu adalah arwah adik dan neneknya yang ingin berpamitan. 


Rian pun menangis setelah menyadari hal itu. 


bersyukur lah kalian karena bisa merayakan idul Fitri dengan kelurga. dan selalu sayangilah keluarga kalian. Bahkan banyak orang yang sulit bertemu keluarga mereka saat hari raya idul Fitri. Jadi bersyukur lah. Selamat hari raya idul Fitri mohon maaf lahir dan batin.


-TAMAT-

Tempat Aneh

 Tempat Aneh

Karya: Dhia Silmi

Kelas: 8e



Suatu hari Luna pulang sekolah dengan kondisi badannya tak berdaya karena hari ini disekolah sangat melelahkan. 


"Uhh nyebelin banget hari inii mending tidur ah." Ia pun tidur sambil membantingkan dirinya ke kasur. 


Luna tertidur pulas sampai ia terbangun di satu tempat aneh. Luna membuka matanya ia terkejut karena pakaiannya sudah berubah ia tadinya menggunakan pakaian sekolah tapi sekarang menjadi gaun putih kecil dan rambut blonde nya yang di pita, ia terbangun diatas rerumputan dan sandaran pohon. 


"Apa yang terjadi? dimana aku?." Tanya dirinya dengan kaget dan kebingungan.


"Hei kamu sepertinya bukan dari daerah sini nona." Ucap salah satu pria asing yang berada di depan Luna.


"EH EH SIAPA KAMU? JANGAN SENTUH AKU." Ucap Luna dengan keras. 


Pria itu hanya tertawa kecil dan berkata.


"Nona aku bukan orang jahat aku hanya penjaga kebun ayo ikut aku kita temui raja maka kamu akan tau jawabannya." Pria itu berjalan sedikit demi sedikit. 


Luna mengiyakan lalu ia mengikuti pria itu, mereka menyusuri banyak tempat dari mulai danau, kebun, bahkan hutan yang gelap. Setelah beberapa lama akhirnya mereka sampai dikerajaan. 


"Masuklah nona aku akan pergi kembali bekerja." Ucap pria itu lalu pergi.


"Eh tunggu dulu siapa namamu? agar aku mengingatnya." Tanya Luna.


Pria itu menoleh ke arah Luna.


"Namaku Riven nona." 


"Aku Luna terimakasih sudah mengantarkan diriku." Ucap Luna dengan membungkuk sebagai rasa hormat. 


Pria itu pergi akhirnya Luna memberanikan diri masuk kedalam kerajaan itu, saat Luna memasukinya disana terlihat raja yang sedang duduk dan beberapa pegawai di kerajaan itu mereka semua memandang luna dengan aneh seolah olah belum menemuinya. 


"Akhirnya kamu datang Luna." Ucap raja.


"B-bagaimana kamu tahu namaku?." Tanya Luna dengan penasaran.


Raja itu hanya tersenyum dan berkata.


" Pergilah ke hutan kegelapan disana kamu akan mengetahui jawabannya mengapa kamu bangun disini, tapi berhati hatilah karena ada sosok penjaga disana hanya orang tertentu yang bisa melewatinya." Ucap raja itu meyakinkan pada Luna. 


"Dimana hutan kegelapan itu?." Tanya Luna.


"Hutan kegelapan ada di samping kiri kerajaan ini." 


Luna langsung pergi tanpa mengatakan apapun lagi, ia mengikuti jalan sesuai yang diperintahkan oleh raja. Ia begitu terkagum-kagum karena ia belum pernah melihat tempat itu sebelumnya, tanpa basa basi akhirnya Luna memasuki dan menelusuri hutan itu ia merasa ada seseorang yang memperhatikan dirinya tapi ia tidak melihat siapapun, tiba tiba saja muncul sosok berbadan besar dan tinggi dihadapannya. 


"Siapa yang berani memasuki hutan ini?." Ucap sosok itu.


"Akuuu." Jawab luna dengan santai. 


"Apa tujuanmu?." Tanya sosok itu. 


"Aku hanya mencari ketenangan." 


"Kau tidak takut padaku?." Tanya sosok itu dengan kebingungan. 


"Mengapa harus takut?." Jawab Luna. 


"Kau!." Jawab sosok itu dengan tegas. 


"Apa? kamu mau ikut denganku?." Tanya Luna tanpa rasa takut. 


Sosok itu hanya bisa kebingungan dan bertanya-tanya. 


"Hei nona, disaat yang lain takut kepadaku kamu bisa bisanya santai." 


"Memangnya aku punya salah apa denganmu sehingga aku harus ketakutan? sudahlah aku ingin mencari ketenangan selamat tinggal , oh ya kalungmu bagus." Ucap Luna lalu pergi. 


Sosok itu ingin mencegah Luna pergi tapi ia menyadari sekarang bahwa dirinya adalah sosok misterius jadi salah besar kalau dia penasaran, tapi rasa penasarannya yang besar tak bisa ditahan akhirnya sosok itu mengikuti Luna dengan udara samar samar.